Senin, Juni 17, 2013

Nasehat Chrisye Untuk Para Aktivis : Refleksi Lagu "Hilangnya Sebuah Pribadi"

Sindiran Ala Chrisye Jejak Manyar
Selentingan Sang Legenda
CHRISYE (alm.), sosok musisi legendaris yang meledak dan masuk ke kancah musik nasional dengan debut Badai Pasti Berlalu tahun 1977 dikenal sebagai sosok penyanyi solo pria yang anteng (Jawa : diam, tenang, tidak banyak tingkah). Publik mengenal beliau dengan lagu-lagu yang secara umum bernafaskan cinta. Dan, memang itulah yang terkenal dari beliau.

Tapi, tahukah di antara Sahabat Manyar sekalian jika beliau juga "aktif" menembangkan lagu-lagu yang humanis dan ada kalanya mengusung tema kritik sosial?

Tulisan kali ini akan membedah salah satu lagu Om Chrisye yang cukup kental nuansa kritik sosialnya. Dan yang lebih penting, cukup relevan dengan situasi kita saat ini.
***
Di tahun 1984 (setidaknya demikian dalam folder album yang saya miliki), Om Chrisye bersama-sama dengan dua sosok musisi kawakan lainnya, yaitu Om Eros Djarot dan Om Jockie S., melahirkan sebuah karya musik baru yang menjadi album lagu kesekian Om Chrisye. Album tersebut berjudul NONA, dengan label Musica Studio. Di antara sekian track yang terdapat dalam album tersebut, telinga saya begitu tertarik dengan sebuah lagu berjudul Hilangnya Sebuah Pribadi. Dalam tulisan Indolawas, lagu tersebut diciptakan oleh Om Eros Djarot. Nah, kalau soal penciptanya saya tidak terlalu kaget berhubung saya sudah kenyang dengan lagu Kembalikan Masa Depanku yang dinyanyikan Om Eros Djarot. Masalahnya, Om Chrisye? Om Chrisye menyanyikan lagu kritik seperti ini? Saya sempat tidak percaya. Kalau tembang yang bernuansa humanisme saya sudah cukup akrab sebelumnya. Sebut saja antara lain Adakah di album SABDA ALAM atau Bunda Tercinta di album AKU CINTA DIA. Lha, ini?

Buat Sahabat Manyar yang ingin tahu liriknya, monggo diwaos rumiyin! (Jawa: silahkan dibaca dulu!)
HILANGNYA SEBUAH PRIBADI
Dipopulerkan oleh Chrisye (Album "Nona", 1984)

Kemanakah 'kan kau cari
Hilangnya sebuah pribadi
Perubahan yang engkau alami
Dalam dirimu sekarang?

Waktu yang cepat berlalu
Tak pernah engkau sadari
Pergaulan di s'kelilingmu
T'lah menghapus segalanya

Dulu pernah kau bercita-cita
Berjuang untuk mereka
Kaum lemah yang menanti
Uluran tangan darimu

Tapi kini... Kau t'lah lupa...
Gaya hidupmu jauh berbeda
Tak seperti... pejuang muda...
Yang kukenal dulu

Oh apakah yang terjadi
Hingga tega kau ingkari
Cita-cita yang teramat mulia
T'lah kau tukar dengan tahta?

Ku teringat...
Janji kita...
Di masa sekolah...

-Intro-

Kemanakah 'kan kau cari
Hilangnya sebuah pribadi
Perubahan yang engkau alami
Dalam dirimu sekarang?

Dulu pernah kau bercita-cita
Berjuang untuk mereka
Kaum lemah yang menanti
Uluran tangan darimu

Tapi kini... Kau t'lah lupa...
Gaya hidupmu jauh berbeda
Tak seperti... pejuang muda...
Yang kukenal dulu

Hei, Kawan!
Mengapa semua ini harus terjadi?
Bagaimana? Sudah baca? Kelihatan jelas bukan suasana kritik lagu tersebut? Lalu, kaitannya dengan keadaan saat ini apa?

Kita sudah menjalani masa Reformasi yang cukup panjang, sekitar 15 tahun terhitung tahun 1998, walau dibandingkan umur kemerdekaan Indonesia, yang genap 68 tahun di bulan Agustus 2013 ini, "hanya" sekitar 1/4 lebih sedikit saja. Tuntutan pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (baca : KKN) yang sangat lantang di tahun 1998 dan beberapa tahun setelahnya ternyata sampai detik ini menunjukkan keadaan yang memilukan. Tanpa bermaksud melanggar presumption of innocent principle alias asas praduga tak bersalah serta tanpa bermaksud mencemarkan nama baik yang bersangkutan, penetapan Mas Anas Urbaningrum sebagai tersangka korupsi Hambalang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (baca : KPK) membuat kita harus sedikit banyak mengamini lagu Om Chrisye di atas.

Aktivis : Jangan Terpaku Pada Gelarnya Jejak Manyar
Perangkap Nama
Dalam tulisan ini, saya tidak menilai Mas Anas Urbaningrum sebagai tokoh politik dan keberadaan suara-suara miring tentang usaha menumbalkan beliau di kancah perpolitikan nasional demi kepentingan pihak-pihak tertentu. Yang saya singgung di sini adalah status Mas Anas Urbaningrum sebagai seorang aktivis kawakan dengan segudang prestasi yang membanggakan dikomparasikan dengan kasus yang membelit. Andai, kita berandai-andai saja, Mas Anas Urbaningrum secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana korupsi megaproyek Hambalang dan memang demikian sesungguhnya di hadapan hukum (semoga saja tidak. Aamiin), kita harus bertanya : Dimanakah idealisme yang diusung dahulu saat aktif menjadi seorang aktivis?

Untuk diingat : saya tidak mendiskreditkan Mas Anas Urbaningrum sebagai sosok yang benar-benar terlibat secara sah dan meyakinkan terlibat dalam kasus korupsi megaproyek Hambalang. Alinea di atas hanya sebagai ilustrasi kajian dalam artikel ini mengingat pemberitaan beliau dan latar belakangnya yang cukup relevan dengan pembahasan kali ini.
***
Nah, kembali pada masalah Reformasi. Kita sudah menjalani hari-hari yang cukup panjang. 15 tahun hidup di alam Reformasi. Sekilas, ada kesan zaman kali ini "lebih menyakitkan" dibandingkan Era Orde Baru. Dari sisi ekonomi, mungkin iya. Dari sisi pengakuan hak asasi manusia (baca : HAM) dan aspek kehidupannya, sebenarnya masa Reformasi adalah masa harapan. Di Era Orde Baru manusia dipaksa berkutat dengan kenyamanan sandang-papan-pangan, walau menjadi buruk dengan Krisis Moneter 1997. Di iklim Reformasi, setiap orang berhak memperoleh hak-hak konstitusionalnya di bawah payung demokrasi. Tidak ada lagi absolutisme, tidak ada lagi otoritarianisme. Namun, mengapa ada begitu banyak ketimpangan di zaman kebebasan ini?

Di sinilah lagu Hilangnya Sebuah Pribadi memberikan jawaban atas masalah yang ada...
***
Tak bermaksud menuduh, sekali lagi patut kita pikirkan : kemana para aktivis yang berjuang di tahun 1997-1999 untuk memperjuangkan Reformasi? Secara logika, saat ini, mereka bukan lagi mahasiswa dalam arti formal. Secara logika, umumnya, merekalah yang menduduki jabatan-jabatan yang ada di pemerintahan. Mereka, sebagian, menjadi polisi, barangkali. Atau, sebagian dari mereka duduk di kementerian-kementerian atau lebih "keren" lagi, sebagian dari mereka dengan sukses menjadi anggota dewan, baik Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (baca : DPRD) di tingkat provinsi atau kabupaten/kota, atau Dewan Perwakilan Daerah (baca : DPD), atau Dewan Perwakilan Rakyat (baca : DPR). Sebagian lain menjadi pengajar di kampus-kampus di tanah air kita. Barangkali. 15 tahun sejak lahirnya Reformasi, sampai saat ini, dimanakah Reformasi itu sendiri?

Pemberantasan KKN sebatas institusionalisasi semata. Lahirnya KPK tidak serta-merta menjamin KKN lenyap. Bukan salah KPK juga. Akar masalah pada watak. Ya. Watak. Tengok sekitar kita. Kepolisian? Kejaksaan? Kehakiman? Berapa oknum di ketiga institusi tersebut yang tertangkap tangan atau dimejahijaukan karena tersangkut korupsi? Bapak Djoko Susilo? Bapak Urip Tri Gunawan? Bapak Setiyabudi? Saya berharap mereka bukan aktivis yang memperjuangkan Reformasi 15 tahun yang lalu. Atau, setidaknya mereka bukan ayah atau saudara dari para aktivis Reformasi.

Diakui atau tidak, aktivis Reformasi atau aktivis PascaReformasi, saat ini atau nanti, mereka akan kembali ke masyarakat. Idealisme yang mereka punya adalah bekal yang menunjukkan identitas diri mereka sebagai mujahid. Ya, orang yang jihad di jalan kebenaran. Dulu berteriak "Berikan makanan bagi orang yang kelaparan! Berikan minuman bagi orang yang kehausan! Berikan pakaian pada orang yang bertelanjangan!", apakah pantas saat ini atau nanti mereka membiarkan orang-orang yang kelaparan menjadi kelaparan, yang kehausan semakin kehausan, dan yang telanjang semakin ditelanjangi?

Aktivis Harapan Bangsa Jejak Manyar
Pertahankan Juangmu, Bung!
Aktivis tak sekedar sosok gagah di dalam perjuangan sebagai civitas academica, umumnya. Aktivis adalah mereka yang telah memutuskan jalan sebagai mujahid di jalan kebenaran, baik saat menjadi mahasiswa maupun hingga nanti tubuh berkalang tanah. Memang susah. Bukankah itu yang menjadikan aktivis dipuja puji seperti dewa? Nyatanya, gelar aktivis di kampus-kampus disaranakan sebagai jalan untuk membuka jejaring-jejaring bisnis, politik, ekonomi, dan hal-hal pragmatis. Saya bukannya sok tahu. Tulisan ini lahir dari pengamatan saya atas keberadaan mereka di sekitar kita. Status aktivis tak diikuti dengan sikap nyali, toleransi, dan kejujuran yang positif. Nyali demo, mengapa bolos kuliah masih TA? Katanya toleransi. Mengapa bertegur sapa dengan kubu lain saja begitu berat? Soal kejujuran? Renungkanlah sendiri.

Memilih menjadi aktivis secara pragmatis untuk kepentingan pribadi dan golongan menodai nilai-nilai keaktivisan itu sendiri. Aktivis seperti "nabi" yang membawa pelita bagi kegelapan pikiran umat. Pernahkah mendengar Nabi Ibrahim A.S. menjadi Raja Namrud? Atau, pernahkah mendengar legenda Nabi Muhammad SAW. seketika menjadi Abu Jahal? Naudzubillahimindzalik.

Aktivis adalah sosok yang mulia. Sayangnya, masyarakat kita hanya mengenal aktivis sebagai sosok yang gemar demonstrasi, mengobrak-abrik dan merusak fasilitas umum, membakar ban bekas, membuat kemacetan, berteriak-teriak di keramaian. Masyarakat, lebih-lebih orang tua kita, hanya mengenal aktivis sebagai sosok yang brutal ketika menyuarakan aspirasi, dan ada kalanya bersifat mainstream dengan gejala yang ada. Ada demo BBM, ikut nunut demo BBM. Sepanjang memahami maksud, tujuan, dan esensi kegiatan mereka, it's okay. I appreciate it with all of my heart. Really! Masalahnya, mengapa hanya begitu saja?

Saya bermimpi, suatu hari nanti, aktivis dengan penuh nyali, toleransi, dan penuh kejujuran mengamalkan idelisme mereka di bangku kuliah di perusahaan-perusahaan asing tempat mereka bekerja. Atau, mereka mengamalkan kemurnian idealisme mereka di balik meja persidangan, di ruang-ruang pemeriksaan tersangka di kepolisian, di dalam kepandaian mereka menyusun surat dakwaan dan tuntutan, di dalam kelihaian mereka menjadi seorang pengacara. Mereka menelorkan idealisme mereka dalam peraturan perundang-undangan yang secara utuh mewakili kebutuhan masyarakat.

Saya bermimpi suatu hari nanti, sahabat-sahabat saya yang menjadi aktivis, atau adik-adik saya yang akan menjadi aktivis nanti, menjadi pegawai, karyawan, wirausahawan, pejabat, atau sosok-sosok lain yang idealis. Mereka hidup dan bekerja tak sekedar untuk makan atau memastikan anak istri mendapat kesenangan, tapi mereka berjuang agar pikiran positif mereka sebagai aktivis menular pada istri mereka, anak mereka, keluarga mereka, tetangga mereka, dan jutaan orang-orang di sekitar mereka. Saya yakin, ada lebih dari seribu perguruan tinggi di Indonesia dengan berbagai organisasi yang diakui di dalamnya (baca : Organisasi Mahasiswa Intra Kampus, OMIK). Di luar alias Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (baca : OMEK)? Lebih banyak lagi, mungkin. Dengan berbagai tujuan, bentuk, dan golongan. Minimallah orang-orang yang terlibat aktif di dalam organisasi tersebut. Apakah mereka tidak bisa mempertahankan idealisme yang mereka punya di dunia nyata setelah mereka melepaskan status mahasiswa mereka? Anggap saja setiap tahun kita mempunyai seribu aktivis dalam artian formil, yaitu mereka yang berkecimpung dalam OMIK dan senantiasa memiliki idealisme dalam memperjuangkan nasib bangsa (dibuktikan dengan kegiatan demonstrasi, orasi, dan sebagainya) di seluruh Indonesia. Keseribu mahasiswa ini lulus setiap tahun dan selalu demikian setiap tahunnya. Dihitung sejak tahun 1998 sampai saat ini, 15 tahun atau setara 15.000 "mantan" aktivis mahasiswa yang dijebolkan berbagai kampus yang ada di Indonesia. Tidak bisakah mengembalikan tujuan Reformasi kita? Yang menumbangkan kakak-kakak kita di Trisakti dan aktivis ProReformasi lainnya?

Hukum Karma Ironis Jejak Manyar
Jangan Sampai Terjadi!
Saya tidak mengatakan keadaan kita yang buruk saat ini sepenuhnya disebabkan "mantan" aktivis kampus yang tidak dapat mengamalkan idealisme mereka. Selain faktor baksil Orde Baru yang masih bercokol di berbagai segi kehidupan manusia dan masih mewariskan budaya KKN pada generasi muda, tarik ulur progresifitas Reformasi di tingkat atas menjadikan agenda Reformasi kurang progres, jika tak boleh disebut stagnan a.k.a macet di tengah jalan. Tapi, andaikata "sindiran" Om Chrisye di lagu Hilangnya Sebuah Pribadi itu tidak ada di tengah-tengah kehidupan kita saat ini, masih mungkinkah keadaan seburuk ini? Satu orang berakhlak baik di tengah sekumpulan bajingan masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Kurang lebih seperti itu.
***
Aktivis adalah pribadi yang independen. Mereka adalah orang yang bebas dari mainstream zaman yang culas. Iwan Fals mencoba mem-Bongkar. Haruskah kita, khususnya sahabat dan adik aktivis kita menghalanginya?

Om Chrisye dalam lagunya mengingatkan kita, terutama para aktivis, untuk selalu ingat perjuangan kita. Memang, berjuang itu melelahkan. Tapi, hal itu jauh lebih menyenangkan daripada harus tunduk pada kemunafikan dan keegoisan. Hal itu jauh lebih baik daripada larut dalam keserakahan dan keacuhan.

Lagu Hilangnya Sebuah Pribadi mengingatkan kita untuk senantiasa mereorientasikan diri. Mengembalikan tujuan dan maksud kehidupan kita. Lagu Hilangnya Sebuah Pribadi menasehati kita untuk tidak menodai kebajikan yang kita suarakan, yang kita rasakan, yang kita pikirkan, yang kita perjuangkan dulu. Lagu Hilangnya Sebuah Pribadi menampar kesadaran diri kita : haruskah menjilat ludah sendiri?

Oh ya, barangkali sebagian dari kita bertanya mengapa ada, jika tak boleh dikatakan banyak, aktivis yang melanggar atau menarik lagi kepekaan sosial mereka? Menodai perjuangan mereka saat gelar aktivis masih murni mereka miliki? Bait terakhir Om Chrisye bertanya hal yang sama : "Hai, Kawan... Mengapa semua ini harus terjadi?" Jawabannya sederhana : karena kita bukan "aktivis" lagi. Mungkin. Hehehe...

Buat Sahabat Manyar yang sudah stres baca tulisan saya, khususnya buat sahabat dan adik aktivis yang mungkin "panas" dengan tulisan saya, mohon jangan diambil hati. Anggap tulisan ini sebagai wanti-wanti. Tanda peringatan sebelum hal buruk terjadi dan membuat kita masuk tahanan. Lebih buruk lagi, sebelum masyarakat "meludahi" status aktivis kalian. So, I want to give a streaming of Hilangnya Sebuah Pribadi to all of you. Saya akan bagikan streaming lagu Hilangnya Sebuah Pribadi buat Sahabat Manyar dimanapun berada. Semoga lagu ini memberikan motivasi dan menginspirasi kita untuk menjadi lebih baik lagi. Semoga. Aamiin.

Spoiler for : Lagu Hilangnya Sebuah Pribadi by Chrisye (Album NONA, 1984):

Sekian tulisan saya kali ini. Sampai jumpa di ulasan menarik yang akan datang!

NB : Di beberapa bagian ada istilah "aktivis dalam arti formil." Yang dimaksud istilah tersebut adalah orang-orang yang secara aktif memperjuangan kepentingan masyarakat tertentu dengan melibatkan diri dalam suatu wadah organisasi yang baku, semisal lembaga otonom di perguruan tinggi, organisasi lingkungan hidup, organisasi kesehatan, dan lembaga swadaya masyarakat. Di luar itu, ada pula "aktivis dalam arti materiil," yaitu mereka yang memperjuangkan kepentingan masyarakat tanpa harus terikat pada keanggotaan suatu organisasi formil. Lebih sederhana, aktivis dalam arti materiil adalah setiap orang yang memiliki kehendak dan perbuatan yang bertujuan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Menurut saya, golongan ini bisa juga disebut sebagai aktivis. Demikian.

Sumber Gambar :
  1. Dokumentasi Pribadi
  2. Indolawas : Chrisye - Nona

Sumber Lirik : Meloners : Hilangnya Sebuah Pribadi - Chrisye dengan revisi Jejak-Jejak Manyar


Anda Sedang Membaca: Nasehat Chrisye Untuk Para Aktivis : Refleksi Lagu "Hilangnya Sebuah Pribadi"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...