Jumat, Desember 09, 2011

TIPS 02 - Ada Apa Dengan Kritik?

Kalau ada survey yang melibatkan 100 remaja cewek+cowok plus 100 wanita dan pria dewasa tentang pendapat mereka soal kritikan orang terhadap mereka pasti mayoritas mereka jawab: sewot. Hahaha... Andakah salah satunya? merajuk

Kritik. Jujur, saya sih juga pasti bakal dongkol kalau ada orang ngritik saya. Apalagi si tukang kritik nggak kenal-kenal amat. Rasanya kayak pengen ngelempar botol aja ke muka tuh orang. Setuju? Hehehe... Masalahnya, penting nggak sih kritik itu?

Jangan Antri-Kritik!
Kritik, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline (unduh dari ebsoft. Hehehe,,,), adalah "kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk thd suatu hasil karya, pendapat, dsb." Lain KBBI Offline, lain lagi si WikiPedia mendefinisikan "hama" satu itu. Lebih halus, WikiPedia menjelaskan bahwa kritik adalah "masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan." Dari dua definisi saja sebenarnya bisa ketemu kenapa kita ogah banget dapet kritikan.

Pertama, versi KBBI Offline. Setuju ato tidak dengan definisi tersebut, kenyataan memang menunjukkan bahwa seringkali makhluk bernama kritik selalu memberikan sesuatu yang tidak sedap pada kita. Coba aja liat komentar juri acara penjaringan bakat di televisi. Pastilah kita tau salah satunya penyanyi cowok yang comment-nya minta ampuuuun pedes banget pas lagi ngritik kontestan yang tampil. Di sini menjadikan obyek kritik down begitu dapat "berkah" yang satu ini.



Kedua, versi WikiPedia. Penggunaan "pengevaluasian" menunjukkan bahwa dalam suatu hal is uncompletely. Nggak sempurna. Dan memang begitu adanya. Kaitannya dengan manusia anti kritik, lahirnya suatu "suara sumbang" atas kinerja, karya, ato apalah tentang tindakan mereka menunjukkan, entah realita ato sekedar prasangka si penerima kritik, ada sesuatu yang salah dengan mereka. Kontan keadaan ini memicu pikiran bahwa "kita gagal!" Keadaan ini kemudian dapat berdampak pada justifikasi yang berlebihan karena penerima kritik menerima kritikan tersebut sebagai suatu vonis terhadap diri mereka. Hal ini kemudian menjadi "obat pemusnah karir" bagi mereka karena fokus berlebihan terhadap kritik tersebut.

Ketiga, ego dan gengsi. "Enak aja disalahin. Emang dia bisa kayak gue?!" ato "Sialan! Ngomong aja dia pinter. Coba aja lakuin. Pasti sama kayak gue." Itu sekilas cuplikan reaksi manusia ketika mendapat kritik. Sisi ego dan harga diri adalah alasan tersembunyi mengapa mereka tidak mau dan tidak suka atas kritik. Dicarilah kemudian pembenaran-pembenaran yang sejatinya tidak benar sebagai upaya menjauhkan kritik tersebut atas mereka. Inilah awal kehancuran karir di kemudian hari.

Kritik, diakui ato tidak, adalah obat dan racun. Bukan pengkritik yang memberikan (baca: menentukan) obat dan racunnya, tapi sang penerimalah yang memutuskan menjadikan kritik itu sebagai obat ato racun. Sebagai obat, kritik diposisikan sebagai cermin untuk merefleksikan diri. Benar atau tidak hal yang dikritik dan pemecahan atau solusi perbaikan yang tepat adalah fokus utama mereka yang legowo terhadap kritik.

Sebaliknya. Kritik akan menjadi racun ketika kritik yang datang pada mereka dianggap sebagai penghinaanlah, pelecehan, sikap tidak menghargai, ato paling parah anggapan kritik sebagai bentuk dengki terhadap usaha kita. Akibatnya, penerima kritik bisa menjadi frustasi atas kritik yang mereka terima atau bentuk kedua mereka tidak memperdulikannya dengan konsekuensi mengulang kesalahan yang sama berkali-kali dan menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk lepas dari kekeliruan. Hal ini tentu menurunkan image atau citra diri mereka sendiri pada akhirnya.

Kritik, utamanya yang datang dari cyberworld, sesungguhnya adalah berkah yang paling besar. Tanpa mengeluarkan uang kita sudah menerima penilaian orang atas tindakan dan perbuatan kita. Yang kita butuhkan hanya dua: kesediaan hati menerima kritik plus kejernihan nalar untuk mengkritisi. Dua syarat ini mutlak untuk menjadikan kritik sebagai manisan paling enak sealam raya.

Kita pasti bertanya, bagaimana cara menjadikan kritik tidak menyakiti kita? Hm... Gampang-gampang susah jawab pertanyaan begini karena: 1) kadar kepekaan tiap orang beda-beda, terutama yang namanya PEREMPUAN. Hati-hati mengkritik makhluk yang satu ini :D!, dan 2) situasional pikiran manusia dan tingkat kedewasaan akal. Maka, saya coba ngasih beberapa tips yang sifatnya universal aja. Selebihnya, pas-pasin n modif dikit lah sesuai kehidupan teman-teman sekalian.


Pertama, jangan emosi. Kenapa? Karena dengan emosi cenderung kita bertindak reaktif dan kampungan ketika kritik datang pada kita. Siapa yang malu? Kita, bukan?


Kedua, bagaimana supaya nggak emosi? Gampang. Anggap kritik seperti angin. Eits, jangan lama-lama. Cukup lima menit pertama (maksimal kalo bisa) ketika kritik itu mampir ke kita. Menit berikutnya gunakan kritik itu sebagai bahan evaluasi. Jangan lupa kombinasi di awal: hati yang lapang and pikiran yang matang.


Ketiga, tanamkan sugesti di pikiran kita bahwa kritis=nasehat master feng shui, pakar astrologi dan tarot, akuntan ternama, pengacara handal, ato sekalian aja bisikan malaikat. Hehehe... Lebay kan? Tapi perlu. Kenapa? Karena kritik itu penting. Udah gratis pol, kita bisa tau sisi kelemahan kita dengan terang-terangan. Jadi, kita bisa mengubahnya ato merenovasi kekurangan kita dengan terang-terangan juga. Iya gak?


Keempat, simbol perhatian. Kita harus menyadari bahwa orang yang mengkritik kita adalah sosok yang perhatian pada kita. Kalo nggak, mana mungkin dia mengkritik? Artinya, eksistensi kita sudah diakui walau hanya sisi negatifnya. It's okay. Alon-alon asal kelakon. Nggak mungkin candi semalam jadi n Jalan Daendles sebulan kelar. Semua ada proses. Kalo kita mau diakui secara utuh, mulailah bagian demi bagian hingga menjadi utuh dengan sendirinya. Nggak akan ada samudera kalo nggak di awali dari tetesan air. Nggak percaya? Buka aja guru geografi SMP situ. Hehehe...


Terakhir, cari momen yang pas buat menganalisa kritik. Usahakan nggak menanggapi kritik waktu kritik itu datang, kecuali respon-respon sewajarnya, misal ucapan terima kasih. Alasannya karena psikologis manusia cenderung reaktif begitu datang "serangan dari luar." Untuk itu, tidak disarankan menanggapi saran dan kritik serta-merta karena dapat berekses buruk pada si penerima kritik.


So, kritik sejatinya adalah jembatan pembangun kualitas diri kita. Dari sana kita tau sisi kelemahan kita dan menguji kedewasaan kita terhadap respon lingkungan pada kita. Jika kita adaptif, pribadi yang matang akan tercermin pada diri kita. Sebaliknya, jika kita reaktif, sok kebal kritik, dan menutup mata dan telinga dari kelemahan kita sendiri, jadilah kita katak dalam tempayan. Dicap kekanakan, bahkan kampungan. Ckckckckck... Mau dicoba?


Akhir tips kali ini dari saya, sedikit "petuah" sepertinya pas menjadi renungan kita semua: Dunia tidak mungkin lepas dari kritik. Tuhan pernah melalukan kritik atas Nabi Daud, Musa, Yunus, dan Muhammad SAW. Jika sang Utusan saja pernah mendapat kritik, mengapa kita sebagai ummat justru memusuhi kritikan?


Demikian tulisan saya. Tunggu posting tips berikutnya! See you next time!


_____>>>Orang yang Gila adalah Orang yang Tidak Pernah Dikritik, tapi Orang yang Paling Gila adalah Orang yang Tak Pernah Mendengarkan Kritik<<<_____

Referensi:
*WikiPedia
*ebsoft
*Kucoba.Com

Sumber Foto: Andaners



Anda Sedang Membaca: TIPS 02 - Ada Apa Dengan Kritik?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...