Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

Ketika Malam

Gambar
Jangan pedulikan lagi Lolong anjing di lorong sepi
Jangan hiraukan lagi Dingin sunyi menikam hati
Jangan lagi... *** Jangan tulisi lagi  Gelap langit dengan untaian puisi
Dan. Jangan kau hiasi lagi Bintang bulan dengan asa yang nisbi
Sebab Kita mampu melakukannya sendiri
Kita masih mampu:
... Ketika malam menyapu ...
Sumber Foto: Depot Seni Grafis

Lepas Angan dan Asa

Mari. Kita berjalan ke sana
Mencari apa saja dan bertemu dengan siapa saja
Kita susuri apa yang bisa kita lalui
Dan mari kita jejaki
Segala yang mampu kita hadapi
Kembali

Tak perlu kepalan tangan yang kuat
Atau mungkin selera tinju yang hebat
Pun. Tak perlu suara yang lantang
Demi tumbang di karang jalang

Cukup kau sediakan: tutur lembut bak tembang
Begitu rancu menghadang
Dengan mesra bisikkanlah padanya: binasa!
Seketika ia kan sungkur di tanah
Kalah...

Kita, sudah saatnya kita:
Berpikir dengan otodidak
Berhentilah terpaku dengan buku-buku
Dan ceramah semu yang makin menjemu

Kita, sudah saatnya kita:
Bergerak di jalanan
Mengulurkan senyum kepada bisu
Dan menanam ilham di jidat yang lesu
Agar mereka tahu
Apa gunanya tangan
        Apa gunanya kaki
Apa gunanya lidah
        Apa gunanya wajah
Apa gunanya kepala
        Apa gunanya telinga
Dan. Apa gunanya kita

Jika kau telah menemukannya
Lepaslah kau dari perangkap angan dan asa
Karena kaulah sang penciptanya
Bagaimana Tuan terkurung ole…

Gugusan Rindu

Gambar
Mengenali lekuk rindu
Warna. Aroma
Dan sosok yang kini menggugus
Tak terumus

Ada sekeping asa
Melayang di puncak damba:
"Apa itu? tanyamu ku jawab gelengan bisu
Kau tahu apa itu

Lalu
Seuntai tembang mengalun membayu
Mencabik sepi
Menikamkan benih di ceruk-ceruk hati
Kau kembali bertanya: "Apakah itu?"
Dan masih: ku jawab dengan geleng dan bisu

Kau sudah tahu...
***
Sepayung sajak melagu
Mendarat di jalan setapak
Yang kering. Yang gersang dihajar terik tadi siang

Ia lalu turun
Anggun
Memijak kerontang rerumputan ilalang

Lalu
Kau bertanya: "Apakah itu?"
Dan ku jawab dengan lugu: "Kau tahu itu"
***
Maka
Kau pun termangu sendiri
Memandangi lengkung lembayung senja
Menikmati pesona nan rasa tak beriba

Maka
Kau pun lantas merunduk
Menerka isi bentuk
Gejolak. Gemolak di sudut kalbu

Dan. Maka
Kau teringat pertanyaanmu tadi
Dan. Sekali lagi: maka
Kau tahu apa jawabnya itu

Rindu...


Kita takkan merdeka dari 'kutukan' itu...

Sumber Foto: Catatan Indah

98,2 Kilometer

Gambar
Sendiri
Dan memang itu yang ku sukai
Menjelajah dari sudut ke sudut
Melewati batas kabut
Menyeberang ke titian lembah zamrud

Dan hari ini
Ketika mentari tersenyum sendiri
Sesuatu memancing nurani: apakah gerangan?
Dan tiba-tiba
Gairah kembara mengalir begitu saja
***
-Tajinan-

Aku tak melihatmu berbeda: Sama
Seperti pedesaan di kotaku dulu
Pencil. Mungil
Tersudut dari hingar-bingar kota yang dekil

Kelok melata. Hijau merata
Aku terperangkap dalam euforia jiwa
Menikmati gilasan roda dalam suara
Dipadu pepohonan: nyiur, cemara, dan pinus di kejauhan
Bersaksi: inilah hari terindah musim ini
Lalu. Ku pacu kuda mesinku
Melesat ke perbatasan
***
-Tumpang-

Sekilas kunjung
Wajahmu tak pernah murung
Semarak dalam gemuruh suara jejak
Diam dalam ayunan alam perak
Tiada ada derita menyayat
Atau murka menebas, membabat
Kau: tampil seperti kisanak
Berbaju putih dengan tatap yang bijak
Sembari menunjuk arah: "ke sana jalan yang kalian tuju"
Tanpa merasa cemburu: kau sekedar lintasan semu
Ba…

Matahari Kelabu

Gambar
Menyesak
Duka mendalam, mendegam. Menghantam
Di bawah kemucur sinar pagi
Lelaki itu
Sendiri menanggung sepi
Si sulung termangu memandang sekitar
Tanpa sadar: Adiknya mati di lantai gerobak
Milik sang Bapak

Tak ada yang mendengar jerit hatimu
Maka. Kau berjalan
Berjalan
Kembali berjalan
Memintasi lirih dan luka nyeri
Melintasi gigil kerdilnya kota yang culas
Bayang-bayang damba
Memunah menjadi ringkas: nelangsa
Sesal yang menggumpal
Membuatmu terus berjalan
Berjalan
Terus berjalan
Menembangkan derita dan kematian
Menuju Stasiun Kereta

Tapi. Entah apa maksud Tuhan
Belum habis sayatan kau sembuhkan
Karang terjang menghadang, menghalang. Menjengkang
Bapak Polisi: "Belum cukupkah nanah ini?"
Tapi ia tak pernah mengerti. Takkan cukup memahami
Dan. Dengan beban kau ikuti langkah mereka
Tertundalah tidur damai si Bunga Jelita

Namun
Lorong hitam yang kau datangi tak jua memancing duli
Engkau: dengan ikhlas mereka lepas
Lagi. Kau. Kembali berjalan kaki
Kembali menghitung: berapa ratu…

2012 (Makin Banyak Saja)

Gambar
Makin banyak saja Kegilaan di sekitar kita:
Kebobrokan sang Pengayom rakyat
Hingga keborokan para Wakil rakyat

Makin banyak saja
Keanehan di sekitar kita:
Si jongos baru mendadak jadi majikan
Atau Pahlawan Seberang yang mati tanpa kepedulian

Makin banyak saja
Teka-teki di sekitar kita:
Belum habis skandal bobolnya uang rakyat
Kini muncul kepalsuan wajah Tuan yang (Tak Lagi) Rahmat

Makin banyak saja
Ketimpangan di sekitar kita:
Si kaya dimana-mana
Kenapa kemiskinan makin menggila?

Makin banyak saja
Keculasan di sekitar kita:
VIP jelas bagi hartawan. Tapi...
Kenapa kami dinomor-sejutakan?

Makin banyak saja
Kutukan di sekitar kita:
Jembatan batu yang runtuh
Hingga darah di Andalas Tercinta

Dan. Makin banyak saja
Kedunguan di sekitar kita
Tanda-tanda senyala ini
Kenapa kita lalai begini?

Sepertinya
Sangkaan kiamat 2012 benar adanya
Maka. Bersiaplah sekoci dan sampan
Barangkali kau bisa terselamatkan
Seperti dalam impian

Sumber Tulisan: Various Resources
Sumber Foto: Ir. Coronk

Menggenggam Tangan Tuhan

Gambar
Ya. Ketika tidak tak mampu lagi berharap
Dan hari-hari begitu gelap dan pengap
Maka. Cobalah kau raih jemariNya
Barangkali. Di sana masih ada cinta...

Menggenggam tangan Tuhan
Ya. 'Pabila impian selalu dikebirikan
Dan kedukaan ditumpuk di laci kekuasaan
Maka. Cobalah kau sentuh ruas telapakNya
Barangkali. Masih tersisa duli padaNya...

Menggenggam tangan Tuhan
Kenapa tidak?
Ketika darah dan pelor menjadi sahabat karib,
Dan kelaliman menggantung harap di tiang salib,
Dan Tragedi: September 65. Tanjung Priok Jakarta.
Palagan Hitam Salemba. Santa Cruz yang Luka
Hingga Mesuji Gulana, menjadi banyolan dan dikebirikan
Maka. Cobalah kau rengkuh Dia
Barangkali
Ia mau menjatuhkan dakwaNya
Seperti Sodom dan Gomora
Atau cerita luka umat Saleh yang binasa

Saat itu
Kita baru bisa tertawa

Karma telah tiba...

Sumber Foto: Seaners Indonesia

Kontroversi

Gambar
Sontak
Langit terbelalak
Matahari, Bulan, Bintang. Beku. Kehilangan jernih suara

Burung-burung tercenung
Air danau tertenung. Siapa mengira? Siapa menduga?
Siapa menerka?

Berjuta pasang mata manusia baru saja terbuka
Ketika lembaran koran langganan
Melayang, menimpuk pintu teras rumah mereka
Headline: Pembantaian Puluhan Warga, Mesuji Berdarah
Sorot kamera menggantikan tatapan Tuhan
Bergerak ke seberang; berharap temukan kebenaran
Kontan
Kita lupa pada gejolak di Senayan
Kontan
Kita lupa akan gaduhnya Istana
Seketika itu kita terbelah: antara percaya dan memustahilkannya


Angin bercerita
Niskala tragedi berdarah
Membenih tujuh belas tahun silam
Ketika Bento Keparat masih bertahta
Dan Tuhan dilipat-lipat di laci meja

Angin juga berkata
Niscaya anyir prahara
Terpahati di atas rimba
Ketika mesin-mesin culas pertama kali menggegas
Dan pribumi dikebiri menjauh dari bumi kelahiran mereka
Maka itu juga
Seratus juta manusia bertanya:
Kulminasikah?


Cemara-cemara berkisah
Seratus juta do'a b…

Sonata Malam Pertama

Gambar
Suara tawa: dimana ia?
Senandung biduan: kemana mereka? Sunyi menyergap. Sunyi memerangkap Sunyi mendekap. Gelap...
Di sini tak ada suara piring bertumbukan dengan sajian Atau tapak kaki beradu berebut antrian
Di sini tak ada bincang nostalgi Pun juga reuni silam yang lirih
Di sini tak perlu lagi pelaminan Dan seragam pengantin yang mengagumkan
Di sini hanya ada segumpal sepi Dan sepasang tubuh yang beradu, berkasih Di bawah kejora malam abadi
Mereka tak perlu suguhan tembang cinta Karena mereka telah menggubah: dengan sonata bah'gia dan sedawai desah Mereka tak perlu teguk segelas madu Karena mereka telah meramu: dengan pagut dan rayu
Dan. Suara serangga bernyanyi di luar sana Mencoba meredam suara amuk hasrat sepasang anak manusia Yang hanyut dibuai nuansa
Bulan tersenyum dan memandangi angkasa Tuhan, telah kau ikatkan lagi benang asmara Ujarnya sembari beredar sepanjang waktu Sementara itu Cerita masih mengalir Entah di ujung mana menubir Aku tak peduli. Dan takkan peduli
Wahai,…

Semarak Citra (Kepada Para Pemuda)

Gambar
(Kepada Petualang Baru dan Rencana di Kepalamu)

Tak perlu meragu
Tetaplah di jalanmu
Sementara seratus juta orang tua meludah
Tampunglah semua!
Barangkali suatu hari nanti: mereka kan menjilatinya lagi

Tak perlu bimbang Setialah menerjang dalam lenggang Mars gemertak yang risau bertembangan di awang Kenapa harus ditakutkan? Larutlah! Menari, bernyanyilah! Barangkali suatu hari nanti: lagu sepicis itu yang redup dalam derap sepatumu
Tak perlu gentar
Memang jalan kita papar dan bakar
Onak. Duri. Sepi
Berkombinasi dengan panas caci maki
           menjadi portal luka hati
Tak ada obat untuknya
Selain terus berjalan
Berjalan
Dan berjalan
Sampai menggumpal keberanian

Dan, Kawan Tak perlu risau Singkirkan pucat buram raut yang galau Matahari masih jadi sandaran burung-burung berkicau Dan bulan Masih menyelam tambatan kekasih pahati janji dalam kerinduan Ini hidupmu! Ini waktumu! Kenapa harus lunglai di ujung dakwa? Mereka bukan siapa-siapa Dan takkan pernah menjadi siapa-siapa Kenapa kau har…

Cemara & Ilalang

Gambar
Kau cemara. Aku ilalang
Kau gemulai menyongsong fajar. Aku tersenyum menjaring sinar
Kau sipu kepada awang. Aku malu kepada ruang
Kau diam di tepi malam. Aku beku di pintu degam

Kau cemara. Aku ilalang
Kau menjulang. Di bumi tubuhku membentang
Kau gemuruh. Aku teduh
Kau biru. Aku membisu
Kau bicara. Aku juga
Dalam bahasa do'a

Ketika burung-burung pulang ke sarang
Kau cemara. Aku ilalang
Burung manyar singgah di dahanmu. Membawa setangkai bagian tubuhku
Di cabangmu sarangnya sembunyi. Di situ pula tubuhku menyelubungi

Maka. Ketika sejuta manusia berdebat soal besar dan kecil
Atau si necis dan yang dekil
Lalu mereka pun berlomba untuk membudaki saudaranya
Tepat di bawah tumit mereka
Kau cemara. Aku ilalang. Kita bertanya:
Bagaimana bisa?
***
Raut senja menyumba
Kau cemara. Aku ilalang
Di pintu malam kita berdendang
Tentang damai yang tenang...


Sumber Foto: Trip Advisor

Dansa Ceria

Gambar
Mari!
Ulurkan tanganmu kemari!
Kita belenggu dulu: kelesuan hati
Ini saatnya menari
Berdansa riang hati
Maka: menarilah!

Mari kemari!
Ketukkan langkah kaki dan jemari!
Kita vakumkan dulu: segala dendam dan dengki
Ini saatnya tertawa
Bergelak tentang apa saja
Maka: tertawalah!

Marilah, Kawan!
Dendangkan semarak jiwa!
Kita tutup dulu: telinga dan mata. Dari sorot keji dunia
Lupakan dulu prasangka
Dan kepenatan pada nestapa
Ini saatnya bernyanyi
Tentang kedamaian hati
Maka: bernyanyilah!

Dalam dansa ceria...

Sumber Foto: Just Another Stories

Di Bawah Tembeliung Hujan

Gambar
Ku arungi jalan
Sendiri
Di bawah ganas kasarnya tembeliung hujan
Langit Comboran setengah pekat
Mendung gemumpal menambat
Aku nyaris tercekat

Genangan tenggelami hati
Kekacauan seperti kawan
Disapa meskipun datang dan pergi
Wajah-wajah pasrah memandangi dahaga
Bertanya:
Kapan kemarau tiba?

Setapak demi setapak
Ku lalui impian tanpa beranjak
Kuakui: hujan semakin mendahak
Kusadari: kau pun mulai terdesak
Tapi, percayalah!
Cerah menyapa di ujung sana
Kenapa harus menyerah?

Sunyi memikat, menjerat
Hening mengusap ke lubuk jiwa memucat
Aku menepi sejenak
Menengok ke belakang
Mendapati seratus juta orang terbenam tak bisa berenang
Maaf. Aku tak bisa berbuat apa
Karena aku bukan siapa-siapa
Aku hanya bisa mendulang suara
Dan ku pahat menjadi kata
Sayang. Kau tak mendengarnya
Kau tak menyimaknya
Kau tak membacanya!
Maka. Maaf. Ketika kau berjuang di arus derita
Aku tak mampu mencegah
Karena ku sudah mencoba. Dan kau tak suka...

Ku arungi jalan
Sepi. Hanya tubuhku sendiri
Di akhir perjalanan ce…

Lintas Ruang (Tlogowaru - Comboran - Tlogojoyo)

Gambar
Sebuah Perjalanan Kecil di Siang Hari...

Mendung
Mengapa kau selalu murung?
Aku tak pernah melihatmu:
Tersenyum merentangkan tudung
Pun jua hari ini
***
Aku menyusuri jalanan
Sendiri
Di antara lingkup nafas keheningan

Aku pandangi tepian
Tak ada pendar keyakinan
Aku melangkah di atas kaki sendiri
Sementara sorot mata meragu
Menghujani, memalu, memaku
Aku terus melaju:
Menuju titik temu

Aku tak peduli
Betapa panas sengat sinar membakar
Aku pun tak peduli
Betapa deras hujan nanti menghajar
Aku hanya mau berkejar
Bersama waktu
Berlomba: siapakah yang akan tertawa lebih dahulu
Di ujung jalan sana...

Ya. Terus! Terus!
Jarak mil demi mil aku gerus
Terus!
Tak ku hiraukan kecam awan menghunus
Aku terus melaju. Melaju. Di depan perhentianku menunggu
***
Aku tertawa
     –tersenyum tepatnya–
dalam perjalanan kembali

Aku tak peduli
Pada gemuyur hujan yang beku
Dan aku lebih tak peduli
Pada genangan dan kesemrawautan jalanan
Fly over, persimpangan, dan Comboran
Mereka saksi sunggingan bahagia di wa…

Saksi Gerobak Tua

Gambar
Tanpa keluh
Dalam cinta mereka mengayuh
Gerobak tua saksi cinta
Ketika surup sinar senja membara
Mereka tenang dalam kisah asmara
Dan. Berbungkus nasi kuning terhidang merata
Bersaing penjaja dan bisingnya Ibukota

Mungkin tak ada yang memerdulikannya
Ketika kapitalisme menjadi Raja
Dan bisnis menjadi Tuhan yang terpercaya
Maka. Hadirmu adalah kutu di antara gemulainya surga
Adamu adalah ketiadaanmu
Dan suara pabrik menggilasmu dalam hilang
Lekang tanpa bayang

Dalam kesendirian menunggu anak dan istri
Di beranda sepi
Ku kenang lagi rapuh ringkih sang Suami
Dan tegar pasrah wajah sang Istri
Aku bertanya:
Tak adakah cahaya?
***
Gerobak tuamasuk di mimpiku
Tuhan. KaruniaMu...

Terinspirasi dari Gerobak Nasi Kuning Biasa

Sumber Foto: Fotografer.Net

30 Menit

Gambar
Dan ia menunggu
Menunggu
Menunggu kapan saat itu
Ia hitung. Sungguh. Ia sudah menghitung
Lembaran uang di tangannya hampir genap
Dan ia hanya perlu menunggu
Sekali lagi, menunggu
Maka: genaplah lembaran uang itu

Ayah. Betapa sosok yang ia damba
Tegar hati kecilnya berkata:
"Ayah menyayangi aku"
Atau
"Ayah merinduiku"

Setiap kali dingin mencibir
Dan kegelapan malam bertubir
Ia berteriak dalam hati: "Ayah mencintaiku"
Kepada sepi...


Kini. Ia hanya perlu menunggu
Setelah itu, semuanya akan tahu:
Kamar tidurnya yang hampa. Bantal guling berwarna
Hingga sepatu yang menghina kesendiriannya
Semua akan tahu:
Ia akan bercanda dengan Ayahnya. Sebentar lagi!

Deru mobil merayap di pelataran
Senyumnya kembang. Bagai bulan pecah di malam panjang
Ia mengintip dari jendela
Menunggu hadir sang Ayah tercinta
Dan menyambutnya dengan pelukan cinta

Ketika sepasang mata mungilnya bersitumbuk dengan mata sang Ayah
Ia berkata:
"Ayahku sayangku,
Boleh ku meminjam uangmu?"

Bai Fang Li, Cahaya di Redup Senja

Gambar
.....Cahaya di Redup Senja.....

Aku tak tahu
Atas dasar apa Tuhan meledek kami lewat dikau
Aku juga tak tahu
Atas dasar apa Tuhan memungut engkau dari kami
Yang kami pahami: kami tak mampu seperti dikau
Meskipun dikau lebih sanggup menjadi seperti kami: Tak berhati...
***
Bai Fang Li
Nyaris otakku menyangka namamu
Seperti nama jajanan
Atau toko penyedia nisan

Nyaris otakku
Mengira dirimu bukan sesuatu
Hingga akhirnya aku tahu:
Kamilah yang bukan sesuatu!

Keringatmu masih bisa kucicipi di udara
Renta, ringkih, membungkuk badanmu yang layu
Mencetak asa kau di atas becak kayuhan yang bisu
Tak ada kata putus asa
Tak ada rasa sesal
Sementara kami dari sini mencekal. Miris

Dan pundi-pundi emas mengalir dari jemari keriput
Tak ada dengkimu memagut. Tak ada irimu cerabut
Tak ada kutukmu memagut
Mengalir. Ya! Tulus hatimu mengalir
Tanpa sadar: embun sudah menjadi banjir
Membasahi jiwa kami yang kikir

Dan. Ketika kau mulai payah
Dan. Ketika becak tua tak sanggup lagi melayah
Kami sentak merasa:…

Perjalanan ke Bukit Damai

Gambar
Menapaki jalanan sepi Sendiri Berpayung mentari dan kejernihan hati *** Aku melenggang di bawah bayang-bayang langit Ditemani angin yang sengit Dan debu-debu yang melesak, menggigit
Aku merangkak tanpa arah Berharap: menemukan sedikit cahya
Dan. Aku memang t'lah temukan ia ***

Sendiri Perjalanan ke bukit damai Aku tak lagi peduli: Pada dengki yang membantai Dan aku lebih tak peduli: Pada hujat yang membingkai Karena Aku telah terkurung dalam Surga Surgaku!
Ketika dunia disesaki tangan-tangan kotor berebut nanah Aku hanya tertawa Dalam hati aku bertanya: Bagaimana bisa Nanah berebut nanah? Sembari tertawa dan tenggelam di peraduan senja Di pelukan Pelabuhan Jingga...
Sumber Foto: Malang Tour for Fun

Bermain Kata-Kata

Gambar
Seperti pujangga ternama
Melempar kata seenak jidat kepala
Tak kau timbang makna?
Tak kau hitung hikmahnya?
Maka. Tak heran dunia sambat membaca

Bermain kata-kata
Menyusun tanpa rencana
Bergantung pada intuisi yang tumpul
Dan jadilah tumpukan sajak modal dengkul

Bermain kata-kata
Bukan maksud aku menghina
Atau melecehkan daya upayamu menggubah
Tapi, tak mampukah kau memikirkannya sejenak:
tentang tema,
tentang diksi dan makna

tentang rima,
tentang klausa,
atau jejak pesan yang kau tinggalkan di dalamnya

Kauluputkan itu semua
Begitu titik terakhir tercipta
Kontan. Langit menangis darah

"Satu lagi orang bodoh lahir ke bumi," katanya

Aku hanya diam. Diam
Mendegam...

Sumber Foto: Poetry Irwin

Kerjapan di Silam Pagi

Gambar
Mengerjap di silam pagi
Mengenang. Me-reka ulang dambaan yang lengang
Suaraku membungkus di gusar waktu
Terjerumus. Terjerebab di gelap gugus
Tiap kali aku bertanya:
Dimana Cahaya?
Selalu saja:
Tidak ada, jawabnya
Aku lalu diam. Diam
Dan... Diam

Maka. Ketika untuk sekian kali aku terpaku sendiri
Maka itu pula: aku putuskan untuk berdiri
Perlahan berjalan. Perlahan merangkak lepas dari kegelapan
Perlahan aku berlari. Berlari!
Lari! Lari! Lari!
Dan, LARIIIII!!!!
Ku terjang kebekuan itu!
Bah. Apa pula keperkasaan? Semu!
Kini. Dapat ku rasakan hangat mentari membakar isi hati
Dapat ku terima birama jiwa yang menyatu bersama simponi angin
Dapat segalanya!

Lalu. Aku dengar kamu bertanya:
Bagaimana dengan kerjapan itu?
Aku diam. Sesaat. Ku pandangi langit yang birunya semakin berat
Dan. Ku lempar senyum padamu. Aku berkata:
Yang lalu, biarkan berlalu
Sambil ku terus berlari. Berlari
Dan berlari...

Menuju Gerbang Hari Depan

Sumber Foto: Cyput-Rhyzae

Sembelit

Gambar
Dengan wajah sembelit
Kau berpidato di atas mimbar
Janji, keprihatinan. Sekali lagi kau tebar
Berharap menjadi sinar di saat sulit

Dan, sayang. Kami tak tulalit
Kami mengerti dengan pasti: ada apa di balik ini
Konspirasi. Dalang jalang dan script yang membajang
Semuanya kami sadari: menghantui kehidupan kami

Lalu. Ketika wajahmu semakin melilit
Dalam diam, dengan bisu, kami tengadah:
"Tuhan, sembelitkanlah pemimpin kami
Hingga ia sadar: langkahnya semakin kasar. Menginjaki wajah kami"

Amin!

Sumber Foto: itempoeti

Terpasung Cinta

Gambar
Aku. Terpasung cintamu Terkurung di jeruji hati Tak mampu terbang bebas Lepas. Seperti kawanan unggas

Aku. Terpenjara kasihmu Mendekam dalam rindu Sepanjang waktu tersiksa mengenangmu Ini ku cumbu
Aku. Benar-benar Menyendiri di sudut hatimu Tak 'da yang tahu: sampai kapan aku di situ Tak juga aku. Tak juga kamu Atau mereka yang mendengki di lorong itu Yang aku tahu: Aku sungguh menikmati. Sungguh-sungguh ku nikmati
Sumber Foto: Diary Hati Seorang Gadis

Ku Panggil Nama Mu dalam Diam

Gambar
(Ketika Manusia Dijebak Dilema Antara Dunia dan Tuhannya)

Ya. Karena dunia terlalu bising
Dan suara puja-puji
Bersitumpuk dengan semangat memaki
Maka. Ku panggil namaMu dalam diam
Haruskah ku panggil Engkau bersamanya?

Ku panggil namaMu dalam diam
Ya. Karena hidup sesak penuh dendam
Dan suara ketulusan
Murtad diaduk pengkhianatan dan kecurigaan
Haruskah ku panggil Engkau di dalamnya?

Ku panggil namaMu dalam diam
Ya. Karena waktu semakin kejam
Dan menepi meski sekelebat pejam
Menuai cekal dan hantam
Haruskah ku panggil Engkau di baliknya?

Ku panggil Dikau dalam diam
Dalam sajak temaram
Ku sanjungi namaMu dalam-dalam
Wahai. Tiadakah jalan damai ku langsungkan penghambaanku padaMu?

Sumber Foto: Baltyra.com

Mencari Pagi

Gambar
Mencari pagi
Mengikuti jejak yang berganti
Aku mengais. Aku telusur di bawah gerimis
Dilapuki mimpi. Diguyur kesinisan langit dan bumi
Tapi. Bukan aku kalau hirau
Maka: aku pun terus berjalan tanpa galau
Sampai nanti. Sampai nanti
Ketika senja menghampiri
Aku terus mencari:
Pagi yang kusesali...

Sumber Foto: Ruang Kata Doni Al Siraj

Rindu

Gambar
Menunggu. Ditunggu
Dicari. Mencari
Selalu saja alur kisah semacam itu
Orang terpaku di hening sepi: menanti rembulan menelan sunyi
Orang berlarian ke segala penjuru: mengejar cinta yang tak kunjung tertemu
Maka. Jadilah prosa-prosa
Maka. Jadilah sajak dan irama
Bising di antara rima nafas manusia

Aku dan kamu
Kita sepakat: diam
Hati dan pikiran terlalu gemuruh
Hingga. Sulit bagiku mengucap kata
Hingga. Susah bagimu menyusun nada
Hingga. Senja datang, pergi, dan datang lagi
Kita masih seperti ini: di lingkup bimbang yang lirih

Aku tahu kau rindu menatap hatiku
Pun. Kamu tahu aku mendamba sapa cintamu
Tapi: tak mungkin ku turuti syahwati. Bisik rayu sanubari
Karena. Dunia kita masih menganga dalam jurang petaka
Alam pikiran kita masih terpancang jarak yang luka
Dan. Cambuk takdir menari mengejeki
Bertanya: Kau lawan tembok tirani?

Maka.Kau dan aku
Kita sepakat: menunggu. Mencari
Menjalani dulu kehampaan yang memalu-memaku
Menikmati dulu kegersangan waktu
Barangkali. Suatu saat nanti
Tu…

Roda Sejarah

Gambar
Tak perlu berkata
Tak perlu bersuara. Diam saja
Sejarah di tangan mereka
Menurut sajalah
Atau kau akan ditembaknya jua

Tak perlu mengeluh
Apalagi berniat meneluh
Kita tak punya senjata. Atau sekedar belati tua
Mereka punya kuasa
Wajar kalau seenaknya

Tak perlu geram
Apa pula hendak menghantam
Tunggulah saja
Ketika legenda berkutat di atas kawah kebenaran
Bumi akan guncang. Hati akan terang
Dan. Kenyataan kembali pada singgahsana
Ketika itu: semua membisu
Kebohongan baru saja dimusnahkan

Dan. Kawan kita tertawa menangis di Surga sana
Keadilan akhirnya datang juga. Akhirnya...

*Didedikasikan kepada seluruh korban manipulasi sejarah. Keadilan akan datang, Kawan!

Sumber Foto: Dita's Pensieve

TIPS 02 - Ada Apa Dengan Kritik?

Gambar
Kalau ada survey yang melibatkan 100 remaja cewek+cowok plus 100 wanita dan pria dewasa tentang pendapat mereka soal kritikan orang terhadap mereka pasti mayoritas mereka jawab: sewot. Hahaha... Andakah salah satunya?
Kritik. Jujur, saya sih juga pasti bakal dongkol kalau ada orang ngritik saya. Apalagi si tukang kritik nggak kenal-kenal amat. Rasanya kayak pengen ngelempar botol aja ke muka tuh orang. Setuju? Hehehe... Masalahnya, penting nggak sih kritik itu?
Kritik, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline (unduh dari ebsoft. Hehehe,,,), adalah "kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk thd suatu hasil karya, pendapat, dsb." Lain KBBI Offline, lain lagi si WikiPedia mendefinisikan "hama" satu itu. Lebih halus, WikiPedia menjelaskan bahwa kritik adalah "masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan." Da…

Kawan Datang, Kawan Pergi

Gambar
Kawan datang, kawan pergi
Seperti angin. Seperti dingin sepi malam hari

Mereka seperti hantu
Hadir merapat tak pandang waktu
Ketika dunia riuh: mereka mengulurkan tangan untuk bersuka
Ketika hening: kemana wujudnya?

Kawan datang, kawan pergi
Aku tak pernah memaki
Pun sekedar menyesali
Aku hanya, selalu, maksudnya, bertanya:
"Mengapa?"

Dan. Aku takkan pernah peduli
Ketika mereka datang dengan senyuman
Berharap keniscayaan cinta dariku
Karena. Hatiku beku
Dan tak ada ruang bagi tegur sapa itu
Maka. Ketika kawan datang lalu mereka pergi
Aku takkan pernah menghalangi

Dan. Dalam puisi aku bersaksi:
Aku kan hidup sendiri. Damai di atas kakiku sendiri!

Langit. Bumi. Hati. Merekalah saksi...

Sumber Foto: PuspitaDee, See My Little World

Ku Cari Bunga yang Lain

Gambar
Ku cari bunga yang lain
Bunga yang tulus
Memandang cinta tanpa rumus

Ku cari bunga yang lain
Bunga yang suci
Menatap kasih tanpa materi

Ku cari bunga yang lain
Bunga yang bijak
Memilih kumbang tak sekedar menebak

Akan. Ku cari bunga yang lain
Bunga yang indah
Menerima cinta tanpa sandiwara. Tanpa dusta...

Sumber Foto: IndonesiaIndonesia.com

Ku Cintai Kamu

Ku cintai kamu tak seperti lagu
Menderap. Mendayu. Lalu hilang di ujung waktu
Cintaku seperti alunan nafas
Mengalir tanpa batas. Kau rasa kah?

Ku cintai kamu tak seperti bunga
Harum di muka. Kuncup layu di pintu senja
Cintaku seperti surya
Menerangi langkah ketika resah. Kau sadari kah?

Dan. Ku cintai kamu tak seperti dia
Memujimu sepenuh jiwa. Namun, di balik punggung ia goreskan luka sedalam kawah
Cintaku seperti air. Rasalah alir!
Rasalah! Rasakanlah alir!
Ia hidangkan damai tanpa dusta
Kenapa kau tak menyambutnya?

Ku cintai kamu sepanjang waktu. Selalu...

Sang Manyar & Langit yang Lapar

Gambar
Sang manyar tak peduli
Beribu kali. Berjuta kali maut hampir mengungguli
Ia tetap melayang. Melayang
Di udara ia terbang

Sang manyar makhluk yang gagah
Ketika mendung cemar dan halilintar bergelegar
Ia tak pernah gentar
Ia melintas dalam gegas
Mengisi sela rongga ruang tersisa
Mengisi jalan hidup yang digariskan Dewata padanya

Dan. Ketika langit yang lapar
Semakin lapar! Semakin sangar!
Semakin ambyar!
Manyarku terus berburu dengan waktu
Debu benci disikutnya; kerikil dengki dipendam
Ditinggalkan tanpa dendam
Ia terus melaju. Melaju! Melaju!
Mengukir kisah dan merekatkannya sebagai sejarah
Yang, mungkin, bagi anak cucu manusia nanti:
Dianggap legenda
Atau mitos pahlawan imajiner
Khayalan yang luber
Karena. Satu dalam semesta. Langka...

Manyarku!
Teruslah kepakkan sayapmu!
Merdekalah!!

Sumber Foto: WikiPedia

Selamat Malam!

Gambar
Usah kau hiraukan ancaman pagi
Dan teriakan sombong siang hari

Usah kau pandangi cibir bibir matahari
Dan binalnya debu kalahari

Usah kau dengarkan angkuhnya jalanan
Dan keganasan mesin-mesin kendaraan

Usah kau benci tatap dengki
Dan lusinan timpang yang kau sesali

Usah kau kutuki nasib yang berganti
Dan jalan takdir yang tak kunjung pasti

Dan.
Usah kau cemaskan kehidupan
Selagi masih ada kesempatan

Selamat malam!
Mimpilah yang dalam!

Sumber Foto: Pinxbombyxmori

Koneksi

Gambar
Kepada mereka yang keliru mengartikan persahabatan...













Dan
Semua sibuk menjalin koneksi:
Mulai networking hingga bokong njengking
Semua dibangun secara sistematis.
Praktis. Dan miris.

Ketika jalan menyempit dan takdir seakan menjepit
Tatkala kehidupan serasa begitu menggigit
Tak ada jalan selain bergantung
Payahnya, dunia tak mengenal ketulusan
Pamrih menjadi bayangan yang tersembunyikan
Maka. Bukan aku menyumpahi persahabatan
Tapi. Aku mengutuki mereka yang menyusun persaudaraan demi kemuslihatan
Ketika semesta membutuhkan uluran
Mereka menengok dan berkata:
"Kamu siapa? Aku tak mengenalnya."
Sembari menjauh menggandeng kenalan sejati

Maka. Dunia pun terbelah
Kubu-kubu menjadi sekutu
Sekutu menjadi hama bagi sekutu lainnya
Dan. Perang tinggal menunggu waktu:
Ketika koneksi lemot dan copot.

Sumber Foto: Rudisumariyanto Blog

Ketika Tuhan Diperebutkan

Gambar
Dalam dalil. Dalam taklid yang labil

Tuhan pun diseru dengan kampak. Pedang.
Dengan pistol dan tank-tank baja

Semua siap mengibarkan bendera prahara
Demi pengakuan:
Tuhanku-lah yang paling benar

Sementara itu. Ketika kita sibuk berkubu-kubu
Membangun camp pengungsi dan bunker perlindungan
Lalu menyiapkan taktik membela nama Tuhan...

...Kita lupa. Kita baru saja menyembelihNya
Dengan kemunafikan dan kedustaan
Yang mengundang darah. Membanjiri sepatu kita
Pagi ini...

Didedikasikan bagi kelompok-kelompok anarkis-fanatistik. Berkacalah sebelum bertingkah!

*Sebaik-baiknya Tuhan adalah Dia yang mampu memberikan keyakinan bagi umatNya bahwa: Dia ada!-SANG MANYAR*

Sumber Foto:Bethany IHAKA

Lonceng Gereja

Gambar
Dentang sang lonceng
Tepat ketika bias surya hilang dari lereng
Semesta diam
Aku pun diam
Langit merah
Aku marah. Kenapa pedih begini?

Orang-orang berjalan menunduk
Ketika hari hilang bentuk
Dan musim berlanda dalam kutuk

Orang-orang menangis dalam hati
Menyesali: tangan, kaki. Lidah yang tajam menggores nurani
Tapi. Kenapa kau ulangi lagi?

Jutaan detik berganti. Kau pasti menyadari
Dan. Jutaan kesempatan terlewati. Kenapa tak kau halangi?
Jalan kembali terbuka-tertutup berulang kali
Kenapa mesti kau ketuki ketika ia terkunci?

Maka. Ketika lonceng gereja berdentang lima kali
Malam turun menjadi sunyi
Langit makin merah. Aku makin marah
Orang-orang semakin parah:

Membingkai hidup dalam payah

Sumber Foto: Panoramio

Usah Kau Dengar Keledai Bernyanyi

Gambar
Berjalanlah!
Teruskanlah berjalan!
Tak perlu kau risaukan
Dentuman dengki menggedor dinding hati
Tak perlu kau simak
Ranjau maki. Ke dalam mimpi bersarang dan menari
Karena. Merekalah yang akan menangis nanti

Usah kau dengar keledai bernyanyi
Berlarilah!
Teruskanlah berlari!
Tak perlu kau cemaskan
Kutukan dan himpitan pandang yang menyakitkan
Sebab. Kita lebih lapang: menatap horison di sudut ruang dengan hati yang nyalang
Sedang mereka begitu sibuk
Meneliti satu, dua, tiga juta tapak kakimu di Bumi yang ambruk
Tanpa melihat senyuman abadi sang Matahari
Bangga kau hiasi Dunia dengan pesona

Hai! Kawanku!
Usah kau dengar keledai berpuisi
Di pajang lewat mimbar dan pamflet cemar
Memenjarakan dikau dalam isu yang galau
Kau gubah saja sajakku ini
Dan kau bumbui dengan petikan gitar dan harmoni
Lalu. Kau dendangkan kepada pagi ketika mata mereka mulai terjaga
Dan. Di kelebatan sinar surya
Mereka akan menyadarinya:
Pagi. Dan kelembutannya hanya untukmu semata,
         Wahai, Sang Tangguh...

TitianKu Rapuh & Mati

Gambar
(Ketika Persahabatan Menguji Sisi Nurani Kita)

Merangkak. Menyusuri lautan onak. Suara-suara begitu nyaring berteriak. Aku. Kamu. Berjalan dalam cita yang berbeda. Aku kemari. Kamu kesana. Aku menjalani darma. Kau berkejaran dengan dunia. Akal dan tujuan menuntun kita menuju kiblat yang tak sama.

Suatu hari. Tuhan. Atau apalah Kau menyebutNya. Tanpa disangka Ia pertemukan Kita di sudut jalan. Di persimpangan. Di antara bimbang dan keraguan. Kita lalu sempat bercerita. Tentang rantau. Tentang tanah asing yang memancing galau. Tentang tatapan miring dimana hati kontan terbanting. Berpusing. Dan bising.
Kita bercerita: Kita berada di arena yang sama dengan sisi ring yang berbeda. Ada kerisauan ketika suara Langit memintaKu mencabut pedang dan menghunus mulutMu dengan tegas. Ada keresahan ketika Matahari menunjukkan sinarNya untuk membakarMu dengan pidana dan sejuta nelangsa. Ada kegelisahan ku rasa.
Maka. Aku berlarian di padang sunyi. Maka. Aku mendayung di hilir yang kekar dan cemar. Maka. Aku b…

Petualangan Baru

Gambar
Ya!
Nahkoda sudah bertopi
Jangkar diangkat; Kapal berangkat
Ke lautan hati tertambat
Menuju temanjung sepi

Dan
Seribu curiga mengarah
Bagai anak panah
Melesat tiada suara
Di sela badai; Di antara kepingan damai
Mengapa begitu telak Nahkota bertahta?

Tapi,
Kita tak boleh bertanya
Karena pasokan misteri yang kita miliki
Sudah banyak. TERAMAT banyak
Mulai asal-muasal PKI dibantai,
Darah dan nyawa di ujung milenia,
Sejarah Munir dan lentera noda,
Hingga kini: mengapa kita papa di negeri yang kaya
Semuanya tak terjawab dengan mudah
Haruskah menambah dengan bertanya:
"Mengapa Nahkoda terpilih begitu mudah?"

Tolong. Jangan...

Selamat Datang! Ini Perjalanan Baru kita
Simpanlah dulu tanda tanya yang menggudang di jiwa
Biarkan waktu. Ya. Biarkan saja dia:
Membuka apa yang seharusnya terbuka
Dan mengumumkan
Kebenaran mana yang tersembunyikan
Kelak. Ketika semua rahasia bicara
Langit akan tersenyum
Seberkas sinar turun
Dan hanguskan kepala si mulut binasa
Maka. Tak akan ada lagi dusta
T…

Malu

Gambar
Ku pikir: Wajahku satu dalam seribu Ternyata. Tujuh di antara sepuluh
Ku pikir Hatiku sekepal di antara titik Ternyata. Debu di antara bongkah
Ku sangka: Kau. Dia. Mereka
Jauh di bawah kaki Nyatanya. Aku lah yang terinjak sepi Mungil di dalam kerdil
Ah. Malu ku mengakui...
Sumber Foto: Sampaikan Walau Satu Ayat