Copyright © Jejak-Jejak Manyar
Design by Dzignine
Kamis, Oktober 01, 2020

Kemarau Oktober (Koran-koran)

Koran-koran menyembunyikan diri
Pagi ini, angin muson membatasi diri
dan memanggil kawannya lagi
meniupkan amarah ke penjuru bumi

Koran-koran mengkhalwatkan diri!

Kolom-kolom mereka menguping mati
yang baru semalam terjadi
di Lubang Buaya yang sunyi

Aroma nyawa masih terasa
menyelinap ke kaki Patung Dirgantara
dan tembus ke Istana
Darah! Darah meresap ke dalam tanah
menuju air bawah
menuju sumber segala gelisah
menuju palung gulita
dari sejarah yang tak kita kenali wajahnya

Koran-koran menghentikan tubuhnya ditulisi
Mereka mengintip gersang yang mulai datang
dari pepohonan jalang
yang hanya bisa memandang
satu, dua cecunguk berlagak melangkah tanpa tunduk
menuju gerbang riwayat
yang akan dibuat
yang akan diralat
yang akan diserbahebatkan
Koran-koran tahu diri untuk tak bersuara kini

Mereka sadar
ada yang akan menjerat
mereka punya tulang belikat
Hingga hampir separuh abad
Hingga hampir cerita negeri ini tamat

Maka, koran-koran membatasi napasnya
Mereka biarkan kemarau mengusir hujan yang didamba
dan mendung yang dipuja
Mereka biarkan sepatu-sepatu kejumawaan
tinggalkan jejak di landasan
Jalanan kota ini akan mengerti
belum saatnya hari itu mereka bersaksi

Kota ini sudah cukup tahu diri
untuk mengerti
kapan harus memaki

Tak untuk setengah abad setelah ini

Maka, koran-koran hibernasi
Sesuai instruksi

Cilegon, 13 September 2020
Rabu, September 30, 2020

Malam Kudeta

Dulu, setiap malam begini,
aku selalu dipaksa membelalakkan mata
di depan layar kaca
untuk berjam-jam lamanya
Apalagi jika bukan menyaksikan lagi
reka drama sejarah bangsa
yang mulai dipertanyakan lagi
siapa yang bertanggung jawab di balik darah mereka semua

Dulu, setiap malam begini,
Bapak dan Ibu memaksa aku yang belum tahu
berapa satu ditambah satu
dan mengapa mendung itu kelabu
untuk menonton lagi, lagi,
dan berkali-kali
propaganda yang paling jeri
Mengalahkan iklan paling jeli

Dulu, setiap malam begini,
orang-orang mulai berdongeng lagi
bagaimana perwira-perwira itu dihabisi
dengan lelucon yang tak kutemui
bahkan dalam lautan puisi
Soal silet-menyilet
atau perkara orgy tak bersinglet:
segalanya begitu obsolet
Aku bertanya pada paklikku
dimana pujangga pengarang kisah itu bisa kutemui
Kepalaku malah dijotosi

Kini, setiap malam begini,
aku mulai duduk menepi
Di pojokan paling misteri
di sudut yang tak diketahui,
kutinggalkan istri yang sudah kubuai ke dalam mimpi
Lantas aku mulai menemui istriku lainnya
bernama Rima dan Dik Iksi
Kami bertiga lantas mulai bertakziah
ke dalam puisi
dan menemui lagi
seratus juta manusia tak berdosa
yang mulutnya dilapukkan sejarah
dan matanya diremukkan amarah
dan seluruh tubuhnya diamukkan gelisah

sebuah rezim yang membuatku muntah

Cilegon, 13 September 2020
Minggu, September 27, 2020

Corona Tamasya

Konon kabarnya
Dia bosan menunggu saat kehadiran mereka:
Ya'juj dan Ma'juj
di tepian telaga
dari persembunyian yang sudah direncana
Konon sebagian mereka desersi dari kompi
Berjaket atau rompi
sebagian tak beralas kaki
dan sebagian tak berpikir lagi
siapa yang kali ini akan mereka habisi
Ya, mereka tak peduli

Konon katanya
Dari masa depan yang menjemukan,
mereka meminjam Pintu Semau Gue
untuk mencicipi seporsi kare
tanpa sentuhan panel dan ponsel
yang membuat mereka diare
Dari masa depan mereka bermaksud mengingatkan:
Ini belum prahara akhir jaman
Jangan mengeluh kebanyakan, Kawan!

Konon kiranya
Lihat! Mereka asyik bercawat
berjajar di khatulistiwa kita
Menertawakan kesambatan kita
mengalahkan kedongkolan kita

Cilegon, 13 September 2020
Jumat, September 25, 2020

Pandemi

Kita sudah seharusnya berpasrah diri
lalu berkumpul di lingkaran diksi
dan bertukar tanda baca
koma demi koma
hingga tiba di titik jua
Toh banyak merangkai kata tak terbaca juga
oleh mata yang lelah begadang dalam amarah
dan sibuk bertanya:
Tuhan, salah kami apa?

Sudahlah, kita berkumpul saja begini
Kau, aku, dan dia dan mereka
-dan entah siapa lagi nantinya-
kita mulai menulis wasiat keramat
Kita simpan itu amanat
pada reranting batang langsat kawat
Barangkali suatu kali angin lewat
dan pandemi ini tamat,
maka pesan purba kita terbaca
entah oleh ahli warismu, ahli warisku,
atau ahli warisnya
atau ahli waris mereka
atau entah ahli waris siapapun jua
bahwa telah mati meninggalkan puisi
seratus ribu batalyon pemimpi
yang berharap bernyawa lagi
jika pandemi pergi
Ah, pun jika tidak setidaknya mereka tak sedungu ini
merajut mimpi
ketimbang memilih pergi

Cilegon, 13 September 2020
Rabu, September 23, 2020

Lowongan

Pandemi membuat koran susut dan sepi
dari tangan para pencari jati diri
dan seragam sementas kuliah kemarin pagi

Job fair menyisakan job unfair
yang mana mimpi-mimpi melumer
dan dendam kelam meluber
menjadi pengangguran,
menjadi pengantri di barisan kematian:
jika tak kelaparan,
ya wabah ini yang memuakkan

Tangan-tangan tak pernah benar mencoba peduli
Mereka perlahan kian menepi
dan makin perlahan menyepi
ke dalam puisi
yang hanya bunyi di dalam lirih
Ya, lirih
Itu pun di bibir sumbing yang sumbang
bersambung-sambung tak berujung lagi

Maka, janganlah kau bertanya kepadaku:
'adakah lowongan hari ini?'
Karena bagiku hanya ada dua pekerjaan
yang disediakan dalam musim bajingan ini:
negosiator pandemi
atau tukang gali
Dan kau bisa dikenal sejarah paling wangi
sebagai pemenang negosiasi damai dengan wabah abad ini
Atau pilihan kedua:
kau gantikan mereka
yang mati lelah mengubur saudara sendiri

Cilegon, 13 September 2020
Minggu, September 20, 2020

Senyampang

Senyampang mumpung selagi karya Anggarian Aras Andisetya Jejak Jejak Manyar tentang penemuan kembali relasi antara penulis dan konteks tulisan serta hal-hal terkait sastra lainnya

Senyampang hati kita masih lapang
dan pikiran kita demikian terang,
sudikah bila malam ini aku datang
lalu membujukmu ke ranjang
lalu kita biarkan segalanya menjelang
untuk kemudian mengerang
untuk kemudian mengejang
untuk kemudian terjatuh dalam mimpi panjang?

Senyampang waktu kita masih belum jelang
dan lonceng kapal belum meradang,
sudikah bila pagi esok kan kuulang
segala yang semalam kau tangisi
dan kau jambaki
dan tak kau sesali
untuk kita kenang sebagai tanda pisah paling sunyi?

Sudikah kau demikian, Kasih?

Cilegon, 06 September 2020
Kamis, September 17, 2020

Euforian

euforian obat anti depresan penghilang depresi karya anggarian aras andisetya Jejak jejak manyar tentang penemuan arti cinta dan tujuan hidup

Belasan tabib aku datangi
setelah mantri tak sanggup lagi
dan dokter sudah gigit jari
Mereka bilang
-entah sudah berbincang sebelumnya atau memang demikian adanya-
bahwa kegilaanku sudah tak bisa diobati
Tak ada terungku yang mampu menahanku
dan tak ada pasungan yang bersedia mengurungku

Maka aku berkeliaran ke seluk-beluk tubuhmu
lalu asyik-masyuk ke rongga-ronggamu
dan tunduk amuk di lorong-lorong jati dirimu

-yang dengan sabar menimangku di dadamu-
tak pernah mengeluh atas keliaranku
atau kebingaranku
atau kesialanku
Kamu
-yang dengan gegar membalurkan ciuman di heningku-
tak pernah sesal atas keinginanku
atau kekhilafanku
atau kesengajaanku

Ya, dirimu
-yang aku tahu menjelma penuh dalam aku-
adalah peluru yang kutunggu
menembus tembok nurani

Ah, ternyata kamu euforianku

Cilegon, 06 September 2020