Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Shalat

Se dalam niat Hening jiwa yang taat Mantra tak ada guna Gentar tak punya rupa Kembali, Hai! Kembali damai ! Sujudlah sujud Pasrahlah pasrah Shalat lah. Khusyuklah Dan. Sirna letih memusnah

Selamat

Hari ini kamu menang lotre Sebagai manusia berjiwa kere Selamat !

Tentang Sebuah Kata

Dia datang dari entah Kita hanya bisa menerka Kita hanya bisa meraba Pertanyaan tak memuaskan dalam jawaban Kita pun pasrah Kita pun tunduk menerima Kita tidak pernah benar-benar mengerti     bagaimana sebuah kata kita miliki Ejaan gagu manusia jaman batu    atau kejeniusan orang modern dengan kepekaan yang semu? Kita hanya tahu Kata    dan segala perangkatnya yang ada    hidang di piring kita :     sebuah lembaran bergaris,    berlatar putih dan berwajah manis    dengan sebuntung pena jadi sendoknya Selamat makan ! Selamat mengunyah kata! Semoga kau tak mual dibuatnya!

Di Suatu Jum’at

"Teringat" Oly teringat semalam demikian nikmat dan seolah tak perlu rehat. Pagi ini ia seperti menemukan muslihat. Suamikukah bersama Iche itu? "Target" Hari ini deadline baginya untuk menjual puluhan botol oli itu. Namun, ia memilih memenuhi target dari Majikannya. Di shaf depan sekali ia tengah ber doa . "Pulang Jumatan" Seperti kata wahyu Tuhan , Doni bertebaran ke muka bumi usai shalat Jumat tadi. Matanya sibuk memilih. Siapa yang bisa ia copet lagi? "Batal Rujuk" Ia mengira Yuli masih marah karena kata kasarnya tadi pagi. Ketika ia pulang untuk minta maaf, di ruang tamu penuh orang . Siapa itu dibungkus kafan? "Sedekah" Pak tua mengayuh becak dengan cuma-cuma. Sedekah , katanya. Saat petang, ia duduk di teras mushala dengan senyum lelahnya. Lalu menutup mata . Selamanya.

Membual

Aku adalah orang besar di antara mereka yang besar : si kepala besar si perut besar si mulut besar Dan aku adalah orang benar di antara mereka yang benar : benar-benar minta dianggap benar benar-benar dipaksa berpura benar benar-benar tak tahu bagaimana bertindak benar Demikian aku membual yang ku harap tak membuatmu mual

Lima Cerita di Minggu Ketiga September Kita

"Promosi" Tak seperti layaknya, ia murung setelah dipromosikan. “Nitip ya Om. Anak baru. Masih malu,” ujar si wanita menor. Melia hilang pergi . Entah bila kembali. "Iri" Anto iri pada Nursaka yang diberi presiden sepeda. Bukankah ia juga selalu melintas ke negeri Jiran setiap hari? Ah, ya. Bukankah ia hanya kurir ganja? "Sakit" Riky sungguh kesakitan usai kecelakaan kemarin. Bukan karena patah tulang di kaki, melainkan karena tak ada seorang pun yang peduli. "Adzan" Jii ingin sekali menyahut kumandang adzan itu, namun ia teramat lemah dalam ini bungkusan kain kafan. "Bisa" Uci dengan girang mengacungkan belati berdarah pada ayah nya yang tersentak. “Hore! Uci bisa Yah seperti Ayah kemarin ke Mang Agil!”

Born from the Grave!

Setelah sekian lama vakum, tidak seharusnya saya membiarkan blog  pribadi ini menjadi dedemit di antara jutaan situs di belantara dunia maya. Sekalipun tidak rutin, insya Allah  masih ada waktu luang yang bisa saya berikan untuk menghidupkan kembali  salah satu media yang menjadi ladang saya mengasah dan mengolah kata . Finally , this is the time! I comeback. Born from the Grave !