Kamis, Juni 21, 2012

Sedikit Sindiran & Segudang Pelajaran

Menggiurkan : Harta dan Dosa
DUNIA wirausaha sering disebut dunia yang paling menyenangkan. Bill Gates dari dunia software, Mark sang empu Facebook atau Soichiro Honda sang bisnismen otomotif terkemuka dan tersohor akan jatuh bangunnya usaha yang ia rintis. Semuanya orang-orang yang berkecimpung di dunia enterpreneur, apapun spesifikasi bidang mereka. Mereka mengubah dunia dengan pikiran, ucapan, dan tindakan mereka. Dan, apakah mudah menjadi seperti mereka? Jawabannya : TIDAK!

Butuh kerja keras dan komitmen yang tegas terhadap kepuasan konsumen untuk menjadi pelaku usaha yang sukses. "Pembeli adalah Raja." Saya pikir itu terlalu baik untuk pembeli yang seleranya seperti angin : sekarang ke Utara, besok pasti hilang entah kemana. Jika, "Penjual adalah Raja"? Heloooo, siapakah yang paling membutuhkan siapa? Secara emosional, lebih baik memperoleh sesuatu yang mahal dibandingkan mempertahankan sesuatu yang murah dengan resiko kita bakalan mati muda karena terus-menerus dikecewakan. Buat saya, Pembeli adalah Mitra. Pembeli adalah Saudara. Selayaknya kepada mitra kita, kepada saudara kita sendiri, kita harus menunjukkan sikap respek kita yang tinggi dan penghargaan yang sebesar-besarnya dan setulus-tulusnya dengan memberikan yang terbaik dari apa yang mampu kita berikan.

BAGAIMANA JIKA TIDAK MAMPU MELAKUKAN ITU?
***
Butuh mental yang sehat (rasionya) ketika kita ingin menginjakkan kaki di belantara bernama 'Rimba Enterpreneur.' Tak berlebihan. Rimba itu, di dunia, adalah sebuah sudut kehidupan yang gersang dan tak pernah mau dijamah. Ketika seseorang terjun ke dalamnya, pikirannya kalut oleh dua hal : keuntungan dan kerugian. Berbagai cara pun dilakukan untuk meningkatkan margin keuntungan dan menekan celah kerugian. Apapun. Itulah naluri alamiah dari manusia ataupun "manusia" (baca : badan usaha).

Ironis memang. Ketika tuntutan bertahan hidup mendesak pikiran setiap pelaku usaha, maka jalan utama yang harus ditempuh adalah menyelamatkan perusahaan dengan mengorbankan mereka yang berada di luar lingkaran kecil pelaku usaha. Mulai buruh hingga konsumen. Model tumbalisasi bermacam-macam. Sebut saja PHK massal tanpa pesangon, out sourcing cap kucing, hingga tindakan misirepresentation ads demi mendapatkan animo yang berlebih para konsumen baru. Segala macam slogan diusung ke depan. Gembar-gembor iklan, lempar harga, banting bonus semuanya menjadi daya tarik yang seksi. Namun, sudah siapkah dengan persaingan yang sesungguhnya?

Kemarin, khususnya, kita banyak belajar dari sebuah perilaku usaha yang buruk. Kepercayaan, trust, adalah berlian termahal yang pernah ada dalam sejarah kehidupan dunia. Karena trust Tuhan menciptakan para nabi dan rasul yang mengagumkan. Dan karena trust pula Tuhan menghabisi umat-umatNya, yang dengan tololnya, mencabut kepercayaan Tuhan akan ketaatan mereka.

Kemarin kita sudah belajar bagaimana sebuah kebohongan, serapat apapun disembunyikan, pasti akan terkuak pada akhirnya. Hanya saja, yang patut disayangkan, terlalu banyak hati yang terlanjur tersakiti. Terlalu banyak kepercayaan yang dimusnahkan, dan teramat banyak pengorbanan yang dilakukan. Orang-orang di luar sana, semacam kepala negara multitalent kita atau kaum-kaum gagak berkicau yang kita pilih tiga tahun lalu untuk mewakili kita di gedung miring sana, takkan punya waktu untuk mengurusi pulsa Rp. 15.000,00 yang hilang atau koneksi internet yang melet-melet. Waktu mereka lebih berharga untuk menyusun rencana pemilu 2014 nanti sekalian mengundi kira-kira proyek apalagi yang sedap untuk dinikmati nanti.

Dan hari ini, lewat sedikit sindiran dan segudang pelajaran, kita sudah menemukan sebiji kesadaran. Ketika negara berlomba-lomba menyuarakan gelombang kewirausawaan dan celetukan era enterpreneur generations, kita harus ingat : negara lupa menyuarakan badai kewarasan industri dan upgrading of public's trust. Yang ada di telinga kita-soal impian menangani pajak secara serius kepada pelaku usaha, monitoring investasi dan perhatian terhadap lingkungan sosial-hanyalah angin pagi yang memberikan janji bahwa industri bukanlah hama di negeri ini.

Masalahnya, negara lupa bagaimana menegakkan hukum di negeri ini kepada setiap industri yang terindikasi mengerdilkan bangsa ini. Mengelabui bangsa sendiri demi buncitnya perut mereka sendiri. Negara lupa memberikan wejangan kepada pelaku usaha bahwa usaha didirikan di atas pengabdian kepada konsumen. Ketika negara melupakan keduanya, dan industri mengelilingi kita dengan teror-teror yang tak kasat mata, bersiap-siaplah : Kita terkepung dalam kiamat korporasi.
***
Perlu waktu bertahun-tahun untuk mencetak aset usaha hingga bermilyar-milyar rupiah. Namun, butuh berjuta-juta tahun untuk mengembalikan kepercayaan konsumen yang terlanjur dikhianati demi keuntungan sesaat. Ketika trust hilang, yang tersisa tinggal slogan di setiap iklan layar kaca. Dan saat para penonton tanpa sengaja melihatnya, tangan mereka segera menjumput remote di sampingnya dan menekan channel sebelah dan melalui iklan menarik itu begitu saja.

Saat itulah mereka, para enterpreneur, di negeri ini akan tahu : pelanggan adalah kawan. Sayang, sesal kemudian hanyalah umpatan. Tak lebih.

NB: Tulisan ini hanya untuk menjadi referensi bagi tunas-tunas enterpreneur muda Indonesia. Industri tak hanya soal kaya, tapi juga bagaimana bisa membentuk masyarakat kaya dengan produk yang kalian cipta. Ketika merasakan kepuasan dengan apa yang kamu buat dan kamu lakukan, percayalah: itu momen paling berharga kalian selain malam pertama dan pengumuman kalian dapat lotre masuk surga. ≧✯◡✯≦✌

Selamat pagi, Sahabat...!! 乂⍲‿⍲乂




Anda Sedang Membaca: Sedikit Sindiran & Segudang Pelajaran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...