Senin, Januari 16, 2012

Melepas Nostalgi

Badai Harus Berlalu!
Berjalan
Mengenang silam yang rindu dan dendam
Aku. Sepasang sepatu. Dan ransel biru yang sama
Menyusuri tanjakan
Mengikuti suara hati yang gelisah
Menerka: dari mana datangnya warna
Dan: kemana ia sirna
Hingga

                Aku kelabu dan membisu

Tak ada anak tangga. Hanya jalan mendaki
Mulus, meski kerap mengundang haus
Dan dulu. Kita tak pernah peduli
Kita hanya terus mendaki. Mendaki
Berharap pucuk-pucuk cemara

Melemparkan senyum semanis surga. Di atas sana

Kini. Hening bagai lagu yang sunyi
Biru
Terasa sayat, hitam, dan belenggu
Di puing puri yang sama
Aku memandangi kumpulan mega
Membayangkan selustrum lalu
Dan kenikmatan kecup yang bertumbuh
Kasih,
                Tak inginkah kau mengulanginya lagi?

Ah. Apa guna ku reka luka lama?
Apa guna ku sesali air mata jiwa
                dan gemuruh marah yang buncah?
Mengapa harus menahan dendam tak berpias?
Kenapa harus menyimpan dengki membekas?
Kenapa?

Di belakangku
Gundukan bukit membisu
Ceruk hijau berganti tanah kecoklatan
Dan ilalang subur di pendakian
Aku memandangi mereka
Aku berbisik padanya
                Bolehkah aku melangkah lagi?
Dan jingga tiba-tiba menyapa
Mengajakku pulang ke rumah
Menyusun rencana:
                Bandit kantoran mana yang akan ku giring ke penjara...



Sumber Gambar: Black Shiny Bird



Anda Sedang Membaca: Melepas Nostalgi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...