Langsung ke konten utama

Bunda

Meratap Dalam Sepi
(Merangkak di Bias Sunyi)

Siapa yang mengerti
Sosok lelah di muka cermin
Memandang sayu di keheningan malam dingin?
Siapa yang mengerti
Dia menutur pinta dalam diam
Meski mata memaksa pejam?

Siapa yang mengerti
Wanita yang letih di sana
Menumbal lelah dan memeras dahaga tanpa berkesah?
Siapa yang mengerti?

Kau bertutur tentang masa depan
Merancang tujuan
Menyusun gagasan penuh keyakinan
Di sudut rumah yang beratus kilometer jaraknya
Wanita itu merukuk dalam pasrah
Renjana jumpa. Senyum bahagia memandang yang didamba
Ia haturkan kepada sepi. Kepada sunyi
Karena tak ada lagi yang mengerti
Selain dinding bisu tembok kamar
Dan teras beranda yang kian hambar

Kau bermimpi tentang tahta
Dan berlian indah di pucuk mahkota
Di sudut rumah yang terpencil di sana
Dia tak henti mengamini impiamu
Dan kau semakin tak mengerti
Semakin tak mengerti
Semakin tak peduli...

Wanita itu terus meminta:
"Tuhan...
Ijinkan ku pandangi wajah lembut putraku
Sekali ini lagi
Sebelum ku pasrahkan diri
Kembali ke pangkuanMu"
Dan entah. Tuhan yang tak mengabulkannya
Atau kau yang menelapaktangani bisikan firman di dalam hati
Wanita itu terus menanti
Menanti. Menanti
Hingga senja memasung duka warna kesumba
Dia terus menanti

Suatu malam
Ketika mata terasa begitu rindu terpejam
Dan keletihan
Bagai seribu bongkahan membebani badan
Bunda
Atau apalah kau memanggilnya
Menatap lampu kamar dengan gemetar
Bayangan wajahmu. Senyummu. Tawa yang terakhir ia dengar dari bibirmu
Pelukanmu. Angguk patuhmu. Kehadiran terakhir kalimu di beranda rumahnya
Bagai gambar silam
Satu per satu hadir
Satu per satu mengalir
Satu per satu menyingkir

Dengan lunglai yang teramat lunglai
Bunda
Menatap hampa awang yang purba
Perlahan sinar matanya redup
Redup
Redup
...
...
Dan kuncup
Disusul kelopak yang rapat tertutup
Alam seketika hening
Sementara kita
Di kota asyik dengan bising
Tak sadar. Dan takkan pernah sadar
Nafas perempuan paling berharga di dunia
Terbang ke langit raya
Menyatu bersama surga
Yang tak lagi asing
Dan takkan pernah mengasingkannya: seperti dirimu...

Inspirasi             : Bunda Tercinta, dipopulerkan Chrisye, album Aku Cinta Dia
Sumber Gambar : Sang Mujahid Pena... Insya Allah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Thalia

Musnah Damba Bagai impian Hadirmu menyorot pandang kekaguman Tak ada kemilau cahaya selain kau Tak ada kesejukan selain nafas keabadianmu Tak ada kedamaian tutur berdayu di aliran waktu. Kecuali kau Thalia Kau menjadi damba seluruh desa Bunga dan gulma Bersuka cita menyongsong setiap langkah Kau tebar wangi aroma senja Dan gemilang rona sinaran surya Sayang Lamunan kota membawaku beranjak ke sana Dengan mimpi selebar ufuk Jalanan penuh kutuk Kau titi tanpa merutuk Walau kini                        Kau kusam hilang bentuk Tak ada yang tahu Suaramu dimana tersisa Tak ada yang tahu Wajahmu dimana berada Di sebuah lorong kelam Sosok gadis sisa-sisa Menunggu entah di balik sepi Ku pandang dari kejauhan Ku nikmati dari titik sudut Mungkinkah engkau di sana? Sumber Gambar: Baltyra.com

The End of The Holiday ^.^

Menyambut Esok Yup. Saya pikir inilah saat terakhir saya ngabisin hari libur. Masa reses. Masa menenangkan diri dan menjauhkan diri dari aktivitas perkuliahan dan tugas-tugas yang naujubillah banyak banget. Ini hari terakhir, meskipun masih kesisa sehari besok, buat memikirkan rencana masa depan. Kenapa hari terakhir? Ya karena mulai Senin besok lusa nggak ada lagi rencana. It's time to action! Setuju? ^.^ Senin, jam 7 pagi, sejarah semester 4 studi saya dimulai. Dosen baru, suasana baru. Target-target baru. Saya yakin, sepanjang hati kita yakin, kita bisa melakukan apa aja. Kebaikan apa aja. Kesuksesan apapun meski terlihat rumit dan mustahil. Dan hal ini yang akan saya lakukan: Agraria harus dapat nilai A!!!! Itu tekad saya buat si dosen killer yang bakal jadi dosen di kelas yang saya ambil semester ini. Semoga ini bukan keputusan goblok saya. Tuhan, Ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, berikan petunjuk dan kemudahan bagi hamba. Aamiin... So, bagaimana denga...

Aku Ingin Cinta

Aku ingin cinta Suguhkan aku cinta! Biarkan ku teguk manisnya Biarkan ku jilati lukanya Biarkan ku rasai semua Patah Hati Aku ingin sentuhan Aku ingin cumbuan Berikan aku pelukan! Dan lemparkan padaku senyuman Ketika dingin meningkapi badan Ku takkan merasa kesepian Aku ingin Kau menjadi ingin Inginkan aku. Inginkan hatiku Sayang. Kau tak begitu Maka. Aku ingin cinta Pada siapa ku dapatkan dia? Sumber Gambar: Cerita Cinta - 4 Tanda Cinta Bertepuk Sebelah Tangan