Kamis, Januari 19, 2012

Bunda

Meratap Dalam Sepi
(Merangkak di Bias Sunyi)

Siapa yang mengerti
Sosok lelah di muka cermin
Memandang sayu di keheningan malam dingin?
Siapa yang mengerti
Dia menutur pinta dalam diam
Meski mata memaksa pejam?

Siapa yang mengerti
Wanita yang letih di sana
Menumbal lelah dan memeras dahaga tanpa berkesah?
Siapa yang mengerti?

Kau bertutur tentang masa depan
Merancang tujuan
Menyusun gagasan penuh keyakinan
Di sudut rumah yang beratus kilometer jaraknya
Wanita itu merukuk dalam pasrah
Renjana jumpa. Senyum bahagia memandang yang didamba
Ia haturkan kepada sepi. Kepada sunyi
Karena tak ada lagi yang mengerti
Selain dinding bisu tembok kamar
Dan teras beranda yang kian hambar

Kau bermimpi tentang tahta
Dan berlian indah di pucuk mahkota
Di sudut rumah yang terpencil di sana
Dia tak henti mengamini impiamu
Dan kau semakin tak mengerti
Semakin tak mengerti
Semakin tak peduli...

Wanita itu terus meminta:
"Tuhan...
Ijinkan ku pandangi wajah lembut putraku
Sekali ini lagi
Sebelum ku pasrahkan diri
Kembali ke pangkuanMu"
Dan entah. Tuhan yang tak mengabulkannya
Atau kau yang menelapaktangani bisikan firman di dalam hati
Wanita itu terus menanti
Menanti. Menanti
Hingga senja memasung duka warna kesumba
Dia terus menanti

Suatu malam
Ketika mata terasa begitu rindu terpejam
Dan keletihan
Bagai seribu bongkahan membebani badan
Bunda
Atau apalah kau memanggilnya
Menatap lampu kamar dengan gemetar
Bayangan wajahmu. Senyummu. Tawa yang terakhir ia dengar dari bibirmu
Pelukanmu. Angguk patuhmu. Kehadiran terakhir kalimu di beranda rumahnya
Bagai gambar silam
Satu per satu hadir
Satu per satu mengalir
Satu per satu menyingkir

Dengan lunglai yang teramat lunglai
Bunda
Menatap hampa awang yang purba
Perlahan sinar matanya redup
Redup
Redup
...
...
Dan kuncup
Disusul kelopak yang rapat tertutup
Alam seketika hening
Sementara kita
Di kota asyik dengan bising
Tak sadar. Dan takkan pernah sadar
Nafas perempuan paling berharga di dunia
Terbang ke langit raya
Menyatu bersama surga
Yang tak lagi asing
Dan takkan pernah mengasingkannya: seperti dirimu...

Inspirasi             : Bunda Tercinta, dipopulerkan Chrisye, album Aku Cinta Dia
Sumber Gambar : Sang Mujahid Pena... Insya Allah



Anda Sedang Membaca: Bunda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...