Penjara Ironi (Elegi Kaum Epigon)

Langkah manusia tertatih
Merunduk dalam sepi; tertunduk dalam perih
Ambisi selawas mimpi
Angan-angan? Terbuang di lorong dengki

Akhir Epigonisme Jejak Manyar
Akhir Epigonisme

Mereka melihat dengan mata
   sayang, tak bijak menarik hikmah
Mereka dengar dengan telinga
   sayang, tak peduli realita
Mereka meraba dengan jiwa
   dan sayang : mereka tak lagi punya jiwa!

Fajar menjadi gelora
Sinar langit jadi pertanda
Mereka, manusia-manusia gila, berhamburan ke udara
Mereka raih apa saja yang ingin diraih :
   batu. api. udara. debu. bahkan jejak kaki.
Bayang-bayang iri melesak bagai janji
Selalu. Selalu saja begitu
Setiap hari
Setiap waktu
Mereka tak pernah mau mengerti
Tak akan pernah mengerti

Kini. Tengoklah!
Di padang sesal berlaksa manusia merengek binal
Mereka menangisi tangan mereka yang hampa
Mereka meratapi kaki mereka yang sia
Mereka mengutuki usia tersisa
   "Apa ku dapat?"
   "Apa ku buat?"
   "Apa ku pahat?"
   dan segudang tanya tentang sejarah hidup mereka
Sayang. Tak ada yang menjawabnya

Langkah manusia tertatih
Merunduk dalam sepi; tertunduk dalam perih
Mereka bagai zombi
Merangkak di penghujung senja hari

Dan di cakrawala
Remang siluet itu datang lagi
   "Ah, mengapa kami harus meniru mereka?"
Bertanya terakhir kali
Di balik penjara ironi
Sebelum tersapu tsunami sedetik tadi

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengisi Detik-Detik Perginya Ramadhan - Jum'at Terakhir Ramadhan 1434 H

OST My Way : Andrea Bocelli - To Find My Way

Renggang : Tentang Sebuah Hubungan