Minggu, Desember 18, 2011

Matahari Kelabu

Hutang Negara
Menyesak
Duka mendalam, mendegam. Menghantam
Di bawah kemucur sinar pagi
Lelaki itu
Sendiri menanggung sepi
Si sulung termangu memandang sekitar
Tanpa sadar: Adiknya mati di lantai gerobak
Milik sang Bapak

Tak ada yang mendengar jerit hatimu
Maka. Kau berjalan
Berjalan
Kembali berjalan
Memintasi lirih dan luka nyeri
Melintasi gigil kerdilnya kota yang culas
Bayang-bayang damba
Memunah menjadi ringkas: nelangsa
Sesal yang menggumpal
Membuatmu terus berjalan
Berjalan
Terus berjalan
Menembangkan derita dan kematian
Menuju Stasiun Kereta

Tapi. Entah apa maksud Tuhan
Belum habis sayatan kau sembuhkan
Karang terjang menghadang, menghalang. Menjengkang
Bapak Polisi: "Belum cukupkah nanah ini?"
Tapi ia tak pernah mengerti. Takkan cukup memahami
Dan. Dengan beban kau ikuti langkah mereka
Tertundalah tidur damai si Bunga Jelita

Namun
Lorong hitam yang kau datangi tak jua memancing duli
Engkau: dengan ikhlas mereka lepas
Lagi. Kau. Kembali berjalan kaki
Kembali menghitung: berapa ratus partikel sunyi yang mesti kau pangguli
Kau bimbang: "Kemana harus ku sandangkan beban?"
Dan negara satu-satunya makhluk yang sembunyi lebih dulu. Saat itu

Lalu. Bagai pengemis tua
Derma demi derma turun menjadi kilatan cahaya
Dengannya kau kembali menuntun langkah
Menuju entah kemana
Mencari entah siapa
Berharap Tuhan (masih) menolongnya
***
Maka. Memang
Demikianlah elegi anak bangsa enam tahun lalu
Juni-lima-dua ribu lima
Ketika negara dengan gagah "Kobarkan semangat para Pemuda!"
Maka dengan gagah pula ia sembunyi ketika satu anak rahimnya:
Telungkup mati tak ada yang mau peduli

Ketika negara dengan perkasa berkata: "Mari kita membangun negeri!"
Seketika itu pula ia berlari
Lantaran ngeri mencium aroma busuk mayat yang mati
Sang penerus cilik
Mati tanpa kafan menjarik

Di istana sana
Di pencakar langit pemegang trah
Dan. Kantor-kantor sohor para patih
Senopati
Mahapatih
Di rumah siput Tuan yang arif bijaksana
Apa kabar, Kawan?
Trenyuh kah kau mendengarnya?

Kini
Memang semusim telah lalu
Dan kini
Memang semusim telah membisu
Namun: luka hati takkan pernah lalu
Tragedi ini tetap akan menjadi mimpi terburuk kami
Menyusup dari celah pintu
Merayap ke dalam selimut dan mencekik harapan kami
Ketika kalian-Para Pemegang Tampuk-tak lagi mengerti: seberapa remuk hati kami tanpa bentuk
Saat itulah kami merajang namamu dalam pena
Dan mengumbarnya pada udara
Lantas berharap: halilintar mendengar
Agar bisa ia menyambar wajah kalian. Dengan kemarahan

Kuyakin Tuhan (akan) sepemikiran
***
Menyesak
Duka mendalam, mendegam. Mengelam
Di bawah kemucur sinar pagi
Lelaki itu
Sendiri berkawan sunyi
Ia pandangi daun kecipir di teras tetangga
Lalu. Lirih perih ia berkata:
"Nak,
Maafkan Bapak 'mengorbankan' dirimu..."
Sembari menyeka air mata yang tumpah

Langit pun berduka...


*Didedikasikan kepada Supriono dan orang-orang yang serupa dengannya. Tuhan tak pernah tidur...

Sumber Tulisan: Republik Madura, Tempo Online

Sumber Foto: Republik Madura



Anda Sedang Membaca: Matahari Kelabu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...