Kamis, Desember 15, 2011

Di Bawah Tembeliung Hujan

Deras Hujan Melibas
Ku arungi jalan
Sendiri
Di bawah ganas kasarnya tembeliung hujan
Langit Comboran setengah pekat
Mendung gemumpal menambat
Aku nyaris tercekat

Genangan tenggelami hati
Kekacauan seperti kawan
Disapa meskipun datang dan pergi
Wajah-wajah pasrah memandangi dahaga
Bertanya:
Kapan kemarau tiba?

Setapak demi setapak
Ku lalui impian tanpa beranjak
Kuakui: hujan semakin mendahak
Kusadari: kau pun mulai terdesak
Tapi, percayalah!
Cerah menyapa di ujung sana
Kenapa harus menyerah?

Sunyi memikat, menjerat
Hening mengusap ke lubuk jiwa memucat
Aku menepi sejenak
Menengok ke belakang
Mendapati seratus juta orang terbenam tak bisa berenang
Maaf. Aku tak bisa berbuat apa
Karena aku bukan siapa-siapa
Aku hanya bisa mendulang suara
Dan ku pahat menjadi kata
Sayang. Kau tak mendengarnya
Kau tak menyimaknya
Kau tak membacanya!
Maka. Maaf. Ketika kau berjuang di arus derita
Aku tak mampu mencegah
Karena ku sudah mencoba. Dan kau tak suka...

Ku arungi jalan
Sepi. Hanya tubuhku sendiri
Di akhir perjalanan cekam
Tembeliung hujan meredam dan silam
Ku tatapi langit
Dalam hati ku tanya dengan sengit:
Apakah kau guyurkan lagi suatu saat nanti?
Dan bias sang surya
Mengerling meng-iya
Aku diam mendesah...

Catatan: Tembeliung hujan adalah istilah Penulis untuk hujan deras yang disertai angin kencang

Sumber Foto: Okezone.com



Anda Sedang Membaca: Di Bawah Tembeliung Hujan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...