Jumat, Juli 12, 2013

Hari-Hari Yang Mulia - Jum'at Pertama Ramadhan 1434 H

Hari-Hari Mulia Jejak Manyar
Peluang Terbaik
APA kabar, Sahabat Manyar? Bagaimana ibadah puasa Sahabat sekalian? Lancar? Alhamdulillah jika demikian. Tahun ini, Ramadhan kali ini memberikan kurang lebih lima hari Jum'at yang bisa kita manfaatkan untuk memaksimalkan nilai puasa Ramadhan kita. Sudah tahu 'kan keutamaan-keutamaan yang diberikan Allah SWT. di hari Jum'at? Nah, tunggu apa lagi? Manfaatkanlah selagi masih ada waktu.

Saya dalam posting-an kali ini mau sedikit berbagi inspirasi Ramadhan untuk kita semua, dan terkhusus bagi diri saya sendiri. Kira-kira, apa yang menarik untuk diketahui seputar bulan Ramadhan yang bisa meningkatkan kualitas ibadah kita? Lalu, ada sebagian da'i dan ulama yang mengatakan bahwa hari-hari di bulan Ramadhan adalah hari-hari yang penuh kemuliaan. Pertanyaannya : kenapa?

Saya sudah membuat sebuah daftar yang bisa kita renungkan bersama seputar keistimewaan bulan Ramadhan dan latar belakang mengapa bulan ini disebut-sebut sebagai bulan dengan kemuliaan pada hari-harinya. Mau tahu? Lanjut...!
***
Kita mulai dari sisi ibadah. Puasa. Sudah paham bukan ibadah yang paling melekat dengan kata 'Ramadhan'? Apa lagi? Ya puasa Ramadhan. Islam mengenal tiga jenis puasa wajib : Ramadhan, kafarat, dan nazar. "Lucu"nya, puasa wajib tersebut-Ramadhan-jatuh pada nama salah satu bulan, tidak acak atau berganti-ganti. Masalahnya, kenapa harus di bulan Ramadhan? Mengapa bukan di bulan Rajab, Sya'ban, atau mungkin Jumadil Awal? Wallahua'lam. Tapi, ini bukan berarti kita tidak bisa berlogika.

Sejarah Jahiliyah dalam situs DPD MDI PROV. RIAU menyebutkan bulan Ramadhan berarti "sangat panas" dimana para kaum Arab biasa "memanggang" senjata di bawah terik matahari untuk menyiapkan perang saat diserang di bulan Syawal. Hal ini dilakukan sebelum memasuki bulan haram. Dari sisi historis pra-Islam sudah ditampakkan hakikat Ramadhan sebagai "bulan persiapan." Dengan kata lain, kita bisa menangkap bahwa bulan-bulan setelah Ramadhan adalah bulan-bulan penuh perjuangan, peperangan, kecuali bulan-bulan haram. Di sini kurang lebih alasan Allah SWT. menetapkan kewajiban puasa di bulan Ramadhan untuk mempersiapkan jihad memeranngi hawa nafsu di bulan Syawal sampai dengan Sya'ban.

Masih kaitannya dengan ibadah, sebutkan dua ibadah yang tidak akan pernah ada di bulan-bulan selain Ramadhan? Atau, yang tidak dapat dikerjakan selain bulan Ramadhan. Sudah tahu? Great! That's right. Shalat tarawih dan zakat fitrah. Shalat tarawih hanya akan ada di bulan Ramadhan. Terlepas dari kontroversi soal bilangan rakaat, shalat tarawih berdasarkan bacaan dan tausiyah sepanjang bulan Ramadhan yang telah lalu dihukumi sunnah dengan kesangatan atau sunnah muakkad. Bahkan ada yang mengatakan shalat tarawih menjadi sarana untuk semakin meng-afdhal-kan puasa Ramadhan kita di subuh sampai dengan saat berbuka. Hikmahnya? Menurut saya lebih pada wujud syukur kita atas ibadah puasa yang telah kita jalani serta sarana untuk memperkuat ukhuwah islamiyah. Kapan lagi shalat jamaah di masjid kalau tidak saat shalat tarawih? Saat shalat lima waktu? Bah. Mimpi sajalah. Hahahaha...

Zakat fitrah pun demikian. Selain sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan mustahiq atau golongan berhak menerima zakat, zakat fitrah bermanfaat sebagai sarana untuk mensucikan diri kita. Tentu saja yang jauh lebih penting lagi adalah tanda syukur dan taqwa kita atas perintah yang difirmankan Allah SWT. Zakat fitrah pun dihimpun dan disalurkan pada bulan Ramadhan dengan keutamaan sebelum imam shalat Idul Fitri naik ke atas mimbar. Tujuannya? Ingat lagu Bimbo? "Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin..." Itulah akibat dari zakat fitrah.

Ibadah tak lepas dari pahala atau ganjaran. Apa saja ganjaran yang menggiurkan keimanan kita untuk beribadah sebanyak-banyaknya di bulan ini? Secara rinci, banyak-banyaklah Sahabat Manyar surfing berbagai situs dakwah Islamiyah terkait pahala di bulan Ramadhan. Republika dalam salah satu artikelnya mengutip hadits Nabi Muhammad SAW. sebagai berikut : "Rasulullah SAW bersabda, “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipatgandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan." (HR Muslim)" Kurang menggiurkan apa lagi? Terbayang shalat munfarid "hanya" dengan 1 pahala menjadi 70 pahala? Untuk shalat isya berjama'ah saja sebelum shalat tarawih kita bisa mendapat 27 x 70 = 1.890 pahala. Hanya satu shalat wajib berjama'ah. Kalikanlah lima shalat wajib dikalikan 30 hari di bulan Ramadhan. Hanya orang bodoh yang mengatakan bulan Ramadhan hanya mendapat pahala puasa saja.

Sedekah? Surat Al-Baqarah (2):261 yang artinya berbunyi : "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." Dalam situs Muslim.Or.Id, "'Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.' Kemudian Rasulullah menjelaskan: 'Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna.  Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.'" (HR. Muslim no.1955)" Inilah yang akan kita terima "hanya" dari sedekah kita di bulan Ramadhan. Mengingat kemuliannya, Allah SWT. bisa melipatgandakan pahala sedekah kita dengan rahmatNya.

Persembahan Agung di Bulan Ramadhan Jejak Manyar
Berkahnya Ramadhan
Mau pahala yang lebih ekstrim? Tidur. Ya. Tidur di bulan Ramadhan mendapat pahala. Sampai saat ini hanya hal yang satu ini membuat saya selalu ingin tertawa ketika ingat bulan Ramadhan. Allah SWT. benar-benar membuka peluang "bisnis" pada kita. Kita rajin beribadah, kita lancar mendapat pahala. Ini konsep ibadah sederhana kebanyakan dari kita, begitupun saya. Sungguh sayang kalau kita melewatkannya begitu saja.

Satu lagi yang lebih dahsyat. Lailatur Qadar. Malam dengan kebaikan serupa dengan 1.000 bulan atau 83,33 tahun. Bayangkan bagaimana dahsyatnya pahala yang dijanjikan Allah SWT. di malam tersebut bagi manusia yang beruntung mendapatkannya.

Apa masih ada lagi? Masih. Mari kita lihat dari sisi sosial. Puasa adalah bentuk pendadaran diri atas sikap toleransi sosial dan kedisiplinan. Dipacu kewajiban puasa, didorong kewajiban shalat, diiming-imingi pahala ibadah ini dan itu, manusia, muslim khususnya, diajak secara aktif memanfaatkan peluang. "Bahasa kotor"nya, insting kewirausahaan kita dipancing. Bagaimana bisa-logikanya-kita memanfaatkan bisnis riil di dunia yang berbiaya jika ibadah cuma-cuma dari Allah SWT. dengan imbalan dunia akhirat tak kita gunakan? Bagaimana bisa-logikanya-kita solider terhadap rekan dan saudara kita yang tak mampu di bulan Syawal sampai dengan Sya'ban jika sedekah dengan ganjaran 700 pahala saja kita enggan? Terbayang sedekah Rp. 1.000,00 (seribu rupiah) dibalas Rp. 700.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah)? Itulah nilai ganjaran pahala sedekah kita yang disediakan Allah SWT. Di sinilah latihan kepribadian kita dipacu.

Ramadhan adalah bulan kepekaan sosial. Sedekah, zakat fitrah? Masih kurang? Shalat tarawih? Menyediakan makanan dan minuman berbuka untuk orang lain? Masih kurang? Di sinilah kemuliaan Ramadhan.

Dari sisi historis ada dua hal besar yang saya gunakan sebagai justifikasi Ramadhan sebagai bulan dengan hari-hari mulia di dalamnya. Khusus saya batasi setelah Islam datang. Pertama, peristiwa turunnya Al-Qur'an atau Nuzulul Qur'an yang konon turun di bulan Ramadhan. Kedua, kemenangan perang Badr. Ketiga, peristiwa Fathul Mekkah. Menurut saya, ketiga hal inilah yang paling mendasari alasan mengapa hari-hari di bulan Ramadhan begitu mulia.
***
Tulisan ini lahir semata-mata dari gagasan opini saya pribadi dengan mengombinasikan pada beberapa sumber yang ada dan ter-link pada rujukan dalam artikel ini. Segala informasi lain yang lebih lengkap dan valid, insya Allah, Sahabat Manyar bisa temukan dalam berbagai artikel di dunia maya. Yang jelas, uraian di atas telah menunjukkan betapa Allah SWT., Dzat Yang Maha Tunggal, Dzat Yang Rahman dan Rahim, Dzat Yang Maha Penerima Taubat menyediakan begitu ruang bagi kita untuk memperbaiki diri. Dan di hari Jum'at di minggu pertama bulan Ramadhan tahun 1434 H ini, mari kita sambut Ramadhan tahun ini dengan semangat kemerdekaan dari penjara hawa nafsu dan kesia-siaan. Sia-sia karena mengabaikan peluang kebaikan yang begitu banyaknya.

Akhirul kalam, selamat menjalankan ibadah puasa, Sahabat Manyar...

The Funniest Moment of Ramadhan ^^ Jejak Manyar
Berapa Menit Lagi Yaaaa?
Referensi :
  1. Muhammad Fakhri M.Ag, Tanpa Tahun, Keistimewaan Ramadhan (Online), DPD MDI PROV.RIAU, (Diakses tanggal 20 Juni 2013).
  2. Ustadz Raswan M.Pd, 25 Agustus 2011, Matematisasi Pahala Ramadhan (Online), Republika Online, (Diakses tanggal 20 Juni 2013).
  3. Yulian Purnama, 12 Agustus 2010, Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan (Online), Muslim.Or.Id, (Diakses tanggal 20 Juni 2013).

Sumber Gambar :
  1. Dokumentasi Pribadi
  2. Republika Onlien - Hukum Ibadah Puasa untuk Anak-Anak

*READ MORE PLEASE :
Silahkan cek label RAMADHAN untuk membaca artikel seputar bulan Ramadhan dan label ISLAM untuk artikel terkait seputar Islam. Selamat membaca! ^^



Anda Sedang Membaca: Hari-Hari Yang Mulia - Jum'at Pertama Ramadhan 1434 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...