Kamis, September 06, 2012

Renungan : Belajar dari Sang Musafir (Bagian 02-HABIS)

Misi Manusia
(Udah baca kan yang bagian satu? Kalo belum, nih klik link ini en met baca ya. Biar nyambung. Hehehehe...)

JUJUR, niat hati cuma pengen bikin cerita yang ringkas. Tapi, apa daya jadi begitu panjang sehingga terpaksa dipecah jadi dua begini. Nggak apa-apa kan?

Sering kali kita punya cita-cita yang besar. Pingin jadi musisi. Pingin jadi arsitek. Pingin jadi saintis. Pingin jadi anggota DPR (Maaf nih. Apa nggak ada cita-cita lain selain yang satu ini? >.<). Macem-macem.

Ada juga yang bercita-cita pingin jadi polisi. Tentunya polisi sejatinya yang nggak kemakan popularitas terus cabut dari kesatuan dan buntutnya nggak laku lagi di layar tivi. I think you know who he/she is. Selain itu. Ada juga yang pingin jadi blogger tercanggih yang pernah ada. Semua itu cita-cita. Nggak peduli muluk atau nggak, itu cita-cita. Dan setiap orang harus punya cita-cita mereka sendiri walaupun sekedar pingin jadi jukir (Bayangin nggak ada jukir! Mau mundurin mobil aja kudu nginceng ke belakang sampe encok).

Yang jadi persoalan. Kadang kala kita lupa untuk memperjuangkan cita-cita kita. Ada calon dokter tapi males ikutan praktik di laboratorium. Ada calon arsitek tapi males bikin desain. Ada calon sarjana hukum, eh enak-enakan nongkrong di kantin sementara dosen getol banget nge-share ilmu di kelas. Barangkali, cita-cita mereka tetap bisa teraih dengan "jalan tertentu" (ya bisa "jalan belakang" atau pun sekedar mengandalkan keberuntungan). Tapi, do you think they can to be the best one who they are become? Apakah mereka bisa menjadi dokter yang baik, arsitek yang baik? Apakah mereka bisa menjadi pengacara, jaksa, hakim, atau "sekedar" pengamat hukum yang baik dengan sikap mereka?

Kisah musafir yang saya tulis sebelumnya (Mohon maaf jika terdapat banyak sekali ketidakpasan) adalah gambaran manusia dalam proses menemukan apa yang mereka cita-citakan. Menjadi sarjana hukum tak cukup dengan melewati benteng perkuliahan semata. Tata dari tingkat paling dasar : niat. Anggaplah dari masa SMA dimana kedewasaan mulai dituntut. Pada masa itu setiap remaja "dipaksa" waktu untuk mulai menentukan sikap mau kemana. Jika di SMP mereka masih sibuk berpikir tentang puber pertama, pacar pertama, kencan pertama, dan putus pertama travelling bersama pertama, tak begitu di SMA. Tetek bengek penjurusan, ancang-ancang prodi kuliah, dan ruwetnya memilih universitas menjadi beban pikiran kedua mereka setelah UAN.

Kisah musafir yang saya tulis sebelumnya lebih pada analogi bagaimana kita kehilangan arah dalam merintis kemajuan kita. Karena godaan kanan dan kiri atau sekedar iming-iming atas dan bawah, kita lupa tujuan kita di depan dan musuh kita di belakang : kesuksesan dan kegagalan. Kita sibuk bercanda sampai lupa berapa banyak waktu yang tersia. Kita sibuk bercanda sampai lupa berapa banyak bekal yang kita punya terbuang begitu saja. Ketika kita tersadar, kita tertegun dan bingung.

Saat itu, kita akan tergesa-gesa mengumpulkan sisa-sisa bekal kita dan berusaha keras meluruskan kembali niat kita. Sementara itu, ujian demi ujian terlanjur mendekat. Kita, dalam kondisi seperempat siap, mencoba menghadapi. Sekali dibentur, dua kali dibentur, tiga kali dibentur. Sesekali kita coba belajar, mengevaluasi kegagalan dan kesalahan yang ada. Dan sang musafir adalah simbolisasi mereka yang lalai lalu dengan tangkas mencoba berbenah dan bisa memperbaikinya walau tak sempurna. Kepada mereka, kesuksesan masih menyapa dengan wajah yang manis.

Musafir adalah lambang diri kita. Gadis sang putri ketiga tetua desa, dengan kecantikannya bak bianglala, adalah lambang hasil akhir dari setiap sesi perjuangan kita. Musafir dengan perjuangan dadakannya menjadikan ia berhak memperoleh hadiah berupa anak ketiga tetua desa. Andai kata ia lebih jeli dan mempersiapkan lebih dini, matang, dan baik lagi, barangkali sang dewi luna-lah yang akan bersanding dengannya.

Begitu juga kita. Sejauh ini, apa yang kita peroleh? Apa yang berhak kita peroleh dengan perjuangan keras kita? Jika tabiat kita masih sama dengan sang musafir, atau barangkali lebih buruk darinya, maka jangan menyesal jika nasib kita persis seperti Gayus Tambunan, Nazaruddin, dan beberapa contoh kegagalan yang berangkat dari kesuksesan.

Atau, jika ingin melihat contoh polos, lihat saja mereka yang sejauh ini menyia-nyiakan fasilitas pendidikan, akomodasi materi, dan keleluasaan waktu secara percuma. Jadi apakah mereka? Di pasar-pasar, pangkalan becak, ojekan, dan sudut-sudut lain kita temukan mereka menjelma menjadi hama. Bukan karena kesalahan negara yang tak sanggup menyediakan lapangan kerja. Karena mereka tak sanggup menjadikan diri mereka layak mendapatkan pekerjaan. Ingat itu!

Sekarang, keputusan di tangan Sahabat Manyar. Masihkah menginginkan masa depan yang manis? Maka, kejarlah! Raihlah! Insya Allah Tuhan selalu bersama kalian.

See you!

NB : Demi menghindari kesalahpahaman sebagaimana dialami saudara Denny Indrayana, harus saya tegaskan kembali bahwa Bahasan Ini Hanya Ditujukan Kepada Mereka yang Menyia-nyiakan Kesempatan Dengan Berbagai Fasilitas yang Dimiliki. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan masyarakat lapisan menengah bawah yang Strata Ekonominya Menengah-Bawah disebabkan Faktor Keadaan Di Luar Diri Mereka. Sebagai contoh, Keterbatasan akses pendidikan, kemiskinan, penyakit, dan persoalan sosial lainnya. Demikian.

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi


Anda Sedang Membaca: Renungan : Belajar dari Sang Musafir (Bagian 02-HABIS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...