Kamis, September 06, 2012

Renungan : Belajar dari Sang Musafir (Bagian 01)

Belajar Memahami Waktu
UNTUK kesekian kali sang musafir berjalan meninggalkan persinggahannya. Seperti yang sudah-sudah, ia berangkat dengan punggung unta sarat muatan dan segudang rencana yang telah disiapkannya. Tekad ia bikin bulat. Berkali-kali ia dalam hati berjanji : Aku harus berjalan jauh. Maka, ketika matahari baru saja membuka mata sedetik di ufuk timur, sang musafir bergegas dengan unta kesayangannya berjalan ke Barat. Menuju Kota Emas yang dicarinya selama ini.

Tapi, sayang seribu sayang. Manusia adalah manusia. Dan musafir adalah manusia. Kali ini, ia lalai dengan misinya untuk mempercepat perjalanan agar dapat menempuh jarak lebih jauh. Arus waktu memaksanya sedikit lagi mempercepat picu, tapi sial ia tak mau. Ia lebih suka berjalan perlahan... perlahan... sambil menikmati eloknya pemandangan dan nikmatnya pendengaran oleh nyanyian burung dan kidung-kidung biduan-biduan istana.

Musafir bertualang dengan tenang. Dan, seperti perjalanan lainnya. Bekal mulai menipis sementara perjalanan yang tersisa hingga tiba di desa berikutnya masih cukuplah jauh. Musafir sedikit tersentak dan mencoba meluruskan kembali niatnya. Walau susah.

Hingga, ketika ia tiba di sebuah desa yang akan mengantarnya ke perjalanan berikutnya, ia tercengang. Ia kaget. Ia bingung. Ia lupa sesuatu : Apa yang harus dilakukannya di desa ini? Apa yang harus diperbuatnya?

Seperti yang lalu, setiap kali sang musafir hendak singgah di suatu desa, maka sang musafir harus mengikuti tata perilaku dan norma-norma yang ada di desa persinggahannya. Sebelumnya, jelas ia harus mempelajari karakter warga desa dan tata nilai yang ada. Ia juga harus mengabdikan dirinya selama masa perhentian. Tapi, apa yang sejauh ini telah dipelajarinya tentang desa di depan ini?

Alhasil. Ketika sang musafir memasuki gerbang desa, para warga yang berada tak jauh darinya memandangnya dengan tak suka.

"Hei, Bodoh! Turun! Dasar tak tahu adat!" maki seorang warga.
"Ya! Turunlah! Jangan bersikap angkuh di desa kami!" teriak warga lainnya. Sang musafir kaget dan ia buru-buru turun lalu menuntun untanya seperti perintah warga desa. Tapi, ini bukan apa-apa. Akibat ia lalai mempelajari sikap, kebiasaan, dan tata nilai yang berlaku di desa persinggahannya ini, ia harus mengalami banyak kejadian pahit selama di masa persinggahannya. Sebut saja ia ditolak makan hampir di semua warung makan gara-gara ia selalu lupa melepaskan terompahnya ketika memasuki warung-warung tersebut.

Ada juga ia nyaris disiram air comberan oleh seorang nenek-nenek renta karena mendahuluinya tanpa permisi. Kehadirannya meresahkan banyak warga. Ia sadar semua ini kesalahannya. Ia sadar ia tak pandai menempatkan diri. Perlahan-lahan, ia coba mengubah sikapnya dan mempelajari situasi yang ada di desa ini. Walau cukup terlambat.

Walhasil. Selama tiga hari di desa ini, ia belajar banyak tata adat yang ada di persinggahannya ini. Masyarakat desa mulai berpikir baik padanya dan tak segan-segan mereka kerap kali memaksa musafir singgah ke rumah mereka untuk sekedar berbincang atau mendaulatnya untuk berbagi cerita tentang perjalanannya setiap kali ada pertemuan warga.

Berkat kerja kerasnya dan kesungguhannya beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada, tetua desa yang dengan senang hati menawarkan hadiah yang wajib diterima oleh sang musafir. Sebuah hadiah yang istimewa. Jauh berbeda dengan hadiah-hadiah lain yang telah ditterima musafir di empat desa sebelumnya. Apakah itu? Seorang istri...

Ya. Tetua desa akan memberikan ia seorang calon istri. Tak tanggung-tanggung. Tetua desa menawarkan salah seorang anak gadisnya dan beberapa budaknya untuk dipersunting sang musafir. Sang musafir awalnya menolak mengingat ada kalangan budak yang bisa saja akan dijadikan istrinya. Namun karena desakan tetua desa tersebut akhirnya musafir itu menyerah. Ia menyanggupi tawaran sang tetua desa. Pada hari yang telah ditentukan ia diminta datang ke rumahnya untuk melamar anak gadisnya secara langsung.
***
Dan hari itu tiba. Dengan pakaian terbaik yang dimilikinya, musafir datang menghadap tetua desa untuk melamar anak gadisnya. Ketika menunggu di ruang tamu, tetua desa menjamu musafir dengan lemah lembut lagi ramah. Ia juga berkata bahwa ia memiliki empat anak gadis yang saat ini sedang menunggu di kamar. Sedangkan empat budak yang ia ceritakan tempo hari adalah dayang keempat anak gadisnya. Mereka semua juga ada di kamar bersama anak-anak gadisnya.

Tanpa menerangkan lebih lanjut untuk apa, tetua desa itu pun bertanya banyak hal pada sang musafir tentang perjalanannya ke desa ini. Tentang apa yang dilakukannya, dirasakannya, ditemuinya, tentang apa saja. Termasuk pengalamannya selama di desa ini. Sang musafir pun menjawabnya dengan apa adanya. Tanpa kebohongan atau sekedar kepura-puraan. Tak lama, tetua desa meminta izin untuk ke belakang sejenak. Sang musafir mengizinkannya.

Selang beberapa saat, tetua desa itu muncul lagi dengan sebuah senyum. Ia berkata kemudian : "Di antara empat anak gadisku dan keempat budakku, ternyata ada enam orang yang menyukaimu dan bersedia untuk dinikahi olehmu sekalian ia tak pernah tahu siapa dirimu. Namun, hanya satu di antara mereka yang benar-benar kurelakan untuk kau nikahi."

Sang musafir bingung. Bagaimana ceritanya?

"Kau tak usah bingung, Anak Muda. Mereka sedari tadi mendengarkan pembicaraan kita dari kamar mereka. Dan mereka menilai dan menimbang seperti apa calon suami mereka. Jawaban dan semua perkataanmu tadi menjadi cara bagi mereka untuk menilai apakah dirimu berhak atau tidak menjadi suami mereka." Sang musafir terdiam mendengar tutur tetua desa.

Tak lama, keempat anak gadis tetua desa pun keluar dan berdiri di hadapan musafir. Musafir terpukau akan kecantikan keempatnya. Anak gadis yang tertua kecantikannya persis seperti purnama. Anak gadis yang kedua kecantikannya menyerupai bintang kejora. Anak gadis ketiga kecantikannya seperti pelangi ssehabis hujan. Dan anak gadis keempat kecantikannya seperti bunga mawar yang baru mekar. Mereka berdiri dengan pandangan tertunduk dan wajah tersipu-sipu.

Lalu, muncul keempat budak yang sungguh buruk rupa. Yang satu masih muda seperti bunga anggrek yang hampir layu. Yang satu beranjak dewasa seperti kembang petai. Yang satu lagi telah matang seperti daun ilalang. Dan yang terakhir, yang paling buruk, begitu tua seperti arang lapuk terkena hujan.

"Tahukah kau, dari mereka semua siapa yang bersedia menjadi calon istrimu?" tanya tetua desa. Sang musafir diam. Ia tak tahu harus berkata apa. Selain ia tak tahu, ia takut membayangkan salah satu di antara keempat budak itu yang akan menjadi istrinya. Sungguh sebuah musibah, pikirnya.

"Musafir, tahukah kamu siapa yang akan menikah denganmu?" tanya tetua desa. Musafir semakin kalut. Hatinya carut-marut. Ia gemetaran tak kuasa membayangkan apa yang akan menimpanya. Lalu...

"Inilah yang akan kuamanahkan kepadamu dan bersedia menerimamu sebagai suaminya..." ujar tetua desa. Musafir mendadak lemas.

Namun, ia sadar. Ia tamu di sini dan ia harus membalas budi atas kebaikan para warga desa, termasuk tetua desa yang dengan penuh keyakinan mempercayakan seorang di antara anak gadis dan budak-budaknya untuk dinikahinya. Bagaimana bisa ia menolak? Dengan menguatkan hati, ia berusaha menegakkan wajah. Sesenti... sesenti... dan sesenti. Lalu, terjadilah...
***
Berkali-kali musafir memejam dan membelalakkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ya. Untuk kesekian kalinya ia melihat sosok perempuan ranum yang kecantikannya seperti selendang bidadari sehabis hujan. Seperti pelangi! Ia melihat sosok gadis menyerupai putri ketiga dari tetua desa. Apakah ini...?

"Kau jangan bingung, Anak Muda. Inilah dia yang menyukai, bersedia, dan kurelakan ia untuk menjadi istrimu. Di antara mereka berempat, anak gadis pertama dan keduaku yang tak menyukaimu. Selebihnya, mereka mendambakan dan bersedia kau nikahi. Namun, aku tak merelakan dirimu menikah dengan mereka kecuali putri ketigaku."

Musafir masih bingung. Ia seperti anak burung yang baru terjatuh dari sarangnya di cecabang ranting pohon. Linglung.

"Andai kata kau mempersiapkan dirimu menjadi musafir dan tamu yang agung, lalu singgah di desa kami, menjadi panutan bagi kami, niscaya anak gadis pertamaku pasti menyukaimu. Begitupun aku."

Musafir terdiam. Ia menelan ludah. Ada sebuah penyesalan di hatinya.

"Atau. Seandainya menjadi manusia yang berkepribadian agung begitu susah bagimu, jadilah sosok yang dapat kami teladani. Menjadikan kami segan dengan akhlakmu, ilmumu, dan kesantunanmu. Maka, dia," tetua desa menunjuk anak gadis keduanya, "merasa beruntung mendapatkan kamu."

Musafir itu kembali menelan ludah.

"Ada pun dengan kepribadianmu saat ini, kedua anak gadisku lainnya berikut para hamba sahaya mereka yang pantas untukmu. Dan mereka pun menyukaimu. Hanya, aku tak mungkin memberikan si bungsu untukmu apalagi salah budakku untuk kau nikahi. Akhlak dan ilmu yang kau miliki saat ini menjadikanmu pantas berdampingan dengan putri ketigaku. Andai kata kau tak cukup baik lagi, akan ku nikahkan engkau dengan putri bungsuku. Andai kata kau lebih buruk lagi, budakku yang paling muda akan ku nikahkan denganmu."

Musafir menelan ludah. Ngeri memandang budak berwajah dingin di depannya itu.

"Andai kata kau lebih buruk lagi, budakku yang beranjak dewasa. Andai kata kau lebih buruk lagi, maka budakku yang telah dewasa inilah yang akan ku nikahkan denganmu. Dan andai kata..."

"Cukup, Tuan! Cukup! Hamba paham maksud Tuan. Hamba paham..." sela musafir tak ingin mendengar kelanjutan ucapan tetua desa. Tetua desa hanya tertawa mendengar jawaban lelaki muda yang akan menjadi menantunya itu. Begitupun keempat anaknya.

"Dan kau, apakah kau benar-benar bersedia menikah dengan musafir ini?" tanya tetua desa pada putri ketiganya. Sejenak sang gadis melirik ke arah musafir. Musafir pun menatap gadis itu. Keduanya bertatap sekian detik sebelum gadis itu kembali menunduk lalu... mengangguk.

Tetua desa tertawa. Sang musafir tersenyum. Tapi, siapa tahu dalam hatinya berjingkrak dan bersorak?
***
 Pesta pernikahan pun digelar tepat hari ketujuh musafir itu singgah di desa itu. Begitu meriah dan penuh dengan kegembiraan. Di pelaminan, wajah musafir dan putri ketiga tampak begitu berseri dan berguratkan kebahagiaan yang tak habis-habis. Mereka tak sabar menyempurnakan ruang kebahagiaan mereka yang selanjutnya. Dimana hanya mereka yang tahu dan hanya mereka yang bisa mengetahuinya. Hanya mereka.

Dan tepat tengah malam pesat pun usai. Musafir dan putri ketiga pun berjalan beriringan menuju kamar pengantin mereka.

"Putri, terima kasih kau telah bersedia menjadi istriku..."

Putri bersandar manja pada sang musafir. "Aku pun berterima kasih kau telah merelakan dirimu menjadi suami bagiku. Semoga kau tak kecewa melihat kecantikanku yang tak sebanding dengan kedua kakakku."

"Aku takkan pernah kecewa, Sayang. Syukurku kepada Tuhan yang telah memberikan gadis terbaik bagiku sebagai istri. Semoga Tuhan merahmati kita. Aamiin..." do'a musafir diamini serempak sang putri.

Dan malam pun berlalu dengan potongan-potongan kebahagiaan yang memenuhi langit malam. Mereka berdua telah menemukan apa yang pantas atas apa yang mereka miliki. Kedamaian, keceriaan, dan surga macam apa yang mereka temukan, hanya mereka berdua yang tahu.

Dan aku pun tak pernah tahu kisah ini berakhir seperti apa malam itu, di kamar itu. Yang ku tahu pasti, di hari keempat belas persinggahan musafir, sang putri tetua desa meninggalkan desa itu bersama suaminya, sang musafir. Kini mereka bersama-sama menuju Kota Emas yang diburu sang musafir. Perjalanan masih panjang. Dan pelajaran hari ini, ditutup sampai di sini...

(BERSAMBUNG)

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi



Anda Sedang Membaca: Renungan : Belajar dari Sang Musafir (Bagian 01)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...