Langsung ke konten utama

Lintas Ruang (Tlogowaru - Comboran - Tlogojoyo)

Jarak Tak (Akan) Pernah Jadi Halangan
Sebuah Perjalanan Kecil di Siang Hari...

Mendung
Mengapa kau selalu murung?
Aku tak pernah melihatmu:
Tersenyum merentangkan tudung
Pun jua hari ini
***
Aku menyusuri jalanan
Sendiri
Di antara lingkup nafas keheningan

Aku pandangi tepian
Tak ada pendar keyakinan
Aku melangkah di atas kaki sendiri
Sementara sorot mata meragu
Menghujani, memalu, memaku
Aku terus melaju:
Menuju titik temu

Aku tak peduli
Betapa panas sengat sinar membakar
Aku pun tak peduli
Betapa deras hujan nanti menghajar
Aku hanya mau berkejar
Bersama waktu
Berlomba: siapakah yang akan tertawa lebih dahulu
Di ujung jalan sana...

Ya. Terus! Terus!
Jarak mil demi mil aku gerus
Terus!
Tak ku hiraukan kecam awan menghunus
Aku terus melaju. Melaju. Di depan perhentianku menunggu
***
Aku tertawa 
     –tersenyum tepatnya
     dalam perjalanan kembali

Aku tak peduli
Pada gemuyur hujan yang beku
Dan aku lebih tak peduli
Pada genangan dan kesemrawautan jalanan
Fly over, persimpangan, dan Comboran
Mereka saksi sunggingan bahagia di wajahku
Ku tuntaskan keraguan hati
Ku libas tebas kegentaran pada waktu
Aku sampai di ujung semai
Esok. Ku pasang janji pada udara untuk kembali
Apapun yang terjadi
Aku akan kembali
Akan kembali!
***
Malam menyergap. Dalam
Hitam
Aku lelap
Mimpi sunyi menyergap
Tlogowaru - Comboran - Tlogojoyo
Inspirasiku esok hari...

Sumber Foto: Ri32 Weblog

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The End of The Holiday ^.^

Menyambut Esok Yup. Saya pikir inilah saat terakhir saya ngabisin hari libur. Masa reses. Masa menenangkan diri dan menjauhkan diri dari aktivitas perkuliahan dan tugas-tugas yang naujubillah banyak banget. Ini hari terakhir, meskipun masih kesisa sehari besok, buat memikirkan rencana masa depan. Kenapa hari terakhir? Ya karena mulai Senin besok lusa nggak ada lagi rencana. It's time to action! Setuju? ^.^ Senin, jam 7 pagi, sejarah semester 4 studi saya dimulai. Dosen baru, suasana baru. Target-target baru. Saya yakin, sepanjang hati kita yakin, kita bisa melakukan apa aja. Kebaikan apa aja. Kesuksesan apapun meski terlihat rumit dan mustahil. Dan hal ini yang akan saya lakukan: Agraria harus dapat nilai A!!!! Itu tekad saya buat si dosen killer yang bakal jadi dosen di kelas yang saya ambil semester ini. Semoga ini bukan keputusan goblok saya. Tuhan, Ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, berikan petunjuk dan kemudahan bagi hamba. Aamiin... So, bagaimana denga

Aku Tertawa

Bayi pun Turut Menertawakanmu Aku tertawa Melihatmu Berebut gundu dengan bibir berlumas gincu Tapi, Aku lebih tertawa lagi Melihatmu sendiri Tergugu dan nyeri Ketika biji gundu itu melesat ke dahi ..... Bekas dan jelas Sumber Gambar : Google

Wahai... (Akhir Mimpi)

Nestapa Bunga-bunga layu Daun-daun Runtuh dalam pelukan kelabu Wahai , Sepi Mengapa musim begitu keji? Sepasang mata Tegak menyongsong derita Jemari mungil penuh luka Memeluk tangkai si kuncup dahlia Yang mulai kering dan punah Wahai, Dingin Seberapa panjang membaluti serbuan angin? Lembah itu Semakin kusam dan berdebu Matahari bisa mengingatnya Di atas batu Ya! Di atas batu itu Semusim lalu Seekor jantan asyik mencumbui betinanya Ya! Di atas batu itu Sang betina pasrah menerima kekasihnya Dan langit Dan bumi Dan semesta raya Ikhlas menerima mereka Mengalirlah gairah dalam cinta Semusim yang lalu... Wahai, Waktu Mengapa dengki nian kau berlaku? Halilintar Suatu hari datang dan mengantar Sepucuk kabar Bahwa cinta harus merepih dan buyar Merepihlah mimpi-mimpi Memuinglah rimbun kasih Air mata . Apakah guna? Cucur darah. Bisakah mengubah? Dan mereka berpisah di antara linang tangisan senja Merantau dalam galau Merundung dalam kabung San