Langsung ke konten utama

Kontak Jodoh

Kontak Jodoh Puisi Jejak Jejak Manyar Situs Puisi dan Karya Sastra Terbaik

Sudut yang sering tak kuperhatikan. Entah mengapa mataku kali ini begitu tak ada kerjaan. Kontak Jodoh, begitu dituliskan dan memajang sebuah iklan membangunkan kantukku pada kehidupan:

Sedang mencari pria atau wanita. Usia berapa saja, asal masih bernyawa. Badan sehat, otot kuat, tapi tak bertulang baja (Khawatir kiriman dari 'sebelah'). Bisa mengetik dengan sebelas jari dan membaca dengan mata hati. Mahir berdebat dengan siapa saja dan tema apa saja, kecuali agama (Khawatir diprotes sama 'sebelah'). Penampilan menarik, syukur-syukur membuat gidik. Tidak melodrama, tidak melankolia, dan tidak gemar mengumbar air mata. Menaruh hati dengan iklan ini? Sampaikan riwayat hidup melalui redaksi.

Demikian kata rubrik itu menunjuk alamat proposal perjodohan: Jalan Tuli Nomor Satu Kecamatan Bisu, Kabupaten Dungu. Untuk Penerima: Jodohmu, Jika Mau.

Cilegon, 06 September 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The End of The Holiday ^.^

Menyambut Esok Yup. Saya pikir inilah saat terakhir saya ngabisin hari libur. Masa reses. Masa menenangkan diri dan menjauhkan diri dari aktivitas perkuliahan dan tugas-tugas yang naujubillah banyak banget. Ini hari terakhir, meskipun masih kesisa sehari besok, buat memikirkan rencana masa depan. Kenapa hari terakhir? Ya karena mulai Senin besok lusa nggak ada lagi rencana. It's time to action! Setuju? ^.^ Senin, jam 7 pagi, sejarah semester 4 studi saya dimulai. Dosen baru, suasana baru. Target-target baru. Saya yakin, sepanjang hati kita yakin, kita bisa melakukan apa aja. Kebaikan apa aja. Kesuksesan apapun meski terlihat rumit dan mustahil. Dan hal ini yang akan saya lakukan: Agraria harus dapat nilai A!!!! Itu tekad saya buat si dosen killer yang bakal jadi dosen di kelas yang saya ambil semester ini. Semoga ini bukan keputusan goblok saya. Tuhan, Ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, berikan petunjuk dan kemudahan bagi hamba. Aamiin... So, bagaimana denga

Aku Tertawa

Bayi pun Turut Menertawakanmu Aku tertawa Melihatmu Berebut gundu dengan bibir berlumas gincu Tapi, Aku lebih tertawa lagi Melihatmu sendiri Tergugu dan nyeri Ketika biji gundu itu melesat ke dahi ..... Bekas dan jelas Sumber Gambar : Google

Wahai... (Akhir Mimpi)

Nestapa Bunga-bunga layu Daun-daun Runtuh dalam pelukan kelabu Wahai , Sepi Mengapa musim begitu keji? Sepasang mata Tegak menyongsong derita Jemari mungil penuh luka Memeluk tangkai si kuncup dahlia Yang mulai kering dan punah Wahai, Dingin Seberapa panjang membaluti serbuan angin? Lembah itu Semakin kusam dan berdebu Matahari bisa mengingatnya Di atas batu Ya! Di atas batu itu Semusim lalu Seekor jantan asyik mencumbui betinanya Ya! Di atas batu itu Sang betina pasrah menerima kekasihnya Dan langit Dan bumi Dan semesta raya Ikhlas menerima mereka Mengalirlah gairah dalam cinta Semusim yang lalu... Wahai, Waktu Mengapa dengki nian kau berlaku? Halilintar Suatu hari datang dan mengantar Sepucuk kabar Bahwa cinta harus merepih dan buyar Merepihlah mimpi-mimpi Memuinglah rimbun kasih Air mata . Apakah guna? Cucur darah. Bisakah mengubah? Dan mereka berpisah di antara linang tangisan senja Merantau dalam galau Merundung dalam kabung San