Langsung ke konten utama

Fajar Timur Raya

Tuhan Masih Ada
Ada goyangan rindu di kepala
Ketika nyanyian culas memenuhi dinding kota
Dan serigala-serigala serakah
Merobek jantung bumi dengan lalimnya
Taring-taring menyeringai sisa bulan
Dan kuku-kuku tajam
Merontokkan jejak-jejak jalan

Murka menanti gerhana

Tak akan guna panasnya peluru
Apalagi runcingnya potongan bambu
Tak pernah guna semangat bongkar
Apalagi keluhan di tengar kapar
Hanya menunggu halilintar
       Turun, di ujung kaki kilas menyambar

Ketika otakmu yang penuh ragu meleleh
Dan api harapan redup tak lagi mengoceh
Sebiji atom iman
       Melesat ke titik cerah
Ada sekuncup jalan yang belum diujicobakan

Wajahmu mulai tengadah
Dan tanganmu coba menyapu angkasa
Tak kau hiraukan ledek mega hitam yang hampir hujan
Dan kangkangan tirani yang muram dan mendendam
Kau terus tengadah
Kau terus berdo'a
Kau terus pasrah
Kau terus percaya
      Terus...

Segurat fajar timur raya
Mengusir gulita menjadi warna
Setan-setan berjejalan mencari kakus
Bersembunyi bagai kawanan tikus
Kita mulai berani tersenyum
Sementara mimik mereka patah dan alum
Semakin mereka berlari
Mentari semakin tinggi
Ketika tak ada lagi celah tuk dihinggapi
Mulut-mulut mereka terbuka
Mata-mata mereka pecah
Seketika
Seketika
        Saat itu juga...

Hari lengkap senja
Malam kembali tiba
Kini tak perlu lagi kita gentar
        pada bayangan busuk yang mengejar
SosokNya mengintai bagai pendar
Jika kepinding-kepinding itu kembali dan menebar
Ingatlah Titik yang Pijar
Jalanku seketika binar
Di damba sang fajar

Sumber Gambar: KuFoto.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Thalia

Musnah Damba Bagai impian Hadirmu menyorot pandang kekaguman Tak ada kemilau cahaya selain kau Tak ada kesejukan selain nafas keabadianmu Tak ada kedamaian tutur berdayu di aliran waktu. Kecuali kau Thalia Kau menjadi damba seluruh desa Bunga dan gulma Bersuka cita menyongsong setiap langkah Kau tebar wangi aroma senja Dan gemilang rona sinaran surya Sayang Lamunan kota membawaku beranjak ke sana Dengan mimpi selebar ufuk Jalanan penuh kutuk Kau titi tanpa merutuk Walau kini                        Kau kusam hilang bentuk Tak ada yang tahu Suaramu dimana tersisa Tak ada yang tahu Wajahmu dimana berada Di sebuah lorong kelam Sosok gadis sisa-sisa Menunggu entah di balik sepi Ku pandang dari kejauhan Ku nikmati dari titik sudut Mungkinkah engkau di sana? Sumber Gambar: Baltyra.com

The End of The Holiday ^.^

Menyambut Esok Yup. Saya pikir inilah saat terakhir saya ngabisin hari libur. Masa reses. Masa menenangkan diri dan menjauhkan diri dari aktivitas perkuliahan dan tugas-tugas yang naujubillah banyak banget. Ini hari terakhir, meskipun masih kesisa sehari besok, buat memikirkan rencana masa depan. Kenapa hari terakhir? Ya karena mulai Senin besok lusa nggak ada lagi rencana. It's time to action! Setuju? ^.^ Senin, jam 7 pagi, sejarah semester 4 studi saya dimulai. Dosen baru, suasana baru. Target-target baru. Saya yakin, sepanjang hati kita yakin, kita bisa melakukan apa aja. Kebaikan apa aja. Kesuksesan apapun meski terlihat rumit dan mustahil. Dan hal ini yang akan saya lakukan: Agraria harus dapat nilai A!!!! Itu tekad saya buat si dosen killer yang bakal jadi dosen di kelas yang saya ambil semester ini. Semoga ini bukan keputusan goblok saya. Tuhan, Ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, berikan petunjuk dan kemudahan bagi hamba. Aamiin... So, bagaimana denga...

Aku Ingin Cinta

Aku ingin cinta Suguhkan aku cinta! Biarkan ku teguk manisnya Biarkan ku jilati lukanya Biarkan ku rasai semua Patah Hati Aku ingin sentuhan Aku ingin cumbuan Berikan aku pelukan! Dan lemparkan padaku senyuman Ketika dingin meningkapi badan Ku takkan merasa kesepian Aku ingin Kau menjadi ingin Inginkan aku. Inginkan hatiku Sayang. Kau tak begitu Maka. Aku ingin cinta Pada siapa ku dapatkan dia? Sumber Gambar: Cerita Cinta - 4 Tanda Cinta Bertepuk Sebelah Tangan