Kamis, Februari 09, 2012

Sayap Hitam Sang Senja

Pekat Gemurat
Ada gemuruh warna
Menyorak dari dalam gulana
Ada sebingkis suara
Hinggap dari gurun yang hampa

Pepohonan tumbuh
Rumput kering. Tumbuh
Janggut pak tua yang masai
Bertarian kini di lembah damai
Kaki tak lagi beku
Begitu girang langkahmu
Pagi yang semula pekat bagai ajal
Sekarang terang menusuk bebukitan terjal
Bisa kau rasakan angin surga
   yang turun menyusup di mata
Bisa kau rasakan percikan telaga
   yang sejuk singgahi jiwa
Ketika kau jatuh dan luka
Takkan pernah lagi ada air mata
Karena ia hanya sementara
Saja...
***
Musim
Kau kenali dia?
Yang selalu datang dengan godam berlumur darah
Dan sesekali saja dengan benih yang siap ditanami?
Apa kau mengenali?
Apakah kau mengingatnya?

Kini. Aku heran menatapnya kini
Kemana huma yang jejal oleh umbi?
Kemana sawah yang sesak oleh padi?
Kemana ikan-ikan?
Kemana pepohonan?
Atau...
Dimana...?

Ketika anakku, dengan kakinya yang rapuh,
   datang di ujung jalan
Ia bertanya:
"Apa ini, Ayah?"
Aku terdiam. Mataku merah
Mataku basah
Istriku menggugu mengenang gubuk hijau tempat kami bercinta
"Apa ini, Ayah?"
Tanya anakku lagi
Tetap saja aku kehilangannya
Aku harus menjawab apa?
"Ayah...
... ini semua... apa?"
Aku menunduk dan...
Renta

Bulan purnama
Legenda tanah pusaka
Kurasa...
Di sinilah pusara kampung Atlantis kita...
***
Hoi, Musim...
Hoi, Jisim...
Kutukan ini teramat lalim
Berapa lama kami menanggung dusta?
Berapa lama kami menyimpan trauma darah?
Berapa lama desa kami ditindas galau,
   risau, parau meng-kusta?
Ini semua bukan salah kami
Anak-anak sundal di tepian sana yang mengundang badai
Mengapa kami yang terburai?

Sayap hitam
Menelikung di ambang senja
Kita tak bisa berbuat apa-apa
Kita tak mampu bicara
Kita tak mampu berjalan
Kita terperangkap di semu harap
Kita terjerembab...

Kini
Tak ada guna kau pelototi:
   televisi, warta kota harian pagi,
   kusut masai diskusi,
   atau bincang konsolidasi dan negosiasi
Apa yang kau simak di ruang sidang sana
Tak akan pernah mengubah jalan cerita:
Nusantara versus Bahala
Kalah 0-3
***
Ini bukan drama
Apalagi sinetron busuk layar kaca
Andai kata kau lelap dan pulas
Ketika nanti kau buka mata
Ku do'akan kau tak peranjat dan lemas
Negerimu sudah dilego
Oleh kepinding dan coro kroco
Antek kampret...

Sumber Gambar: Ore No Genjutsu, dengan perubahan seperlunya



Anda Sedang Membaca: Sayap Hitam Sang Senja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...