Langsung ke konten utama

Sekuncup Mawar di Batas Fajar

: Teresa from Calcuta

Malam teramat panjang, Sayang
Mengapa begitu panjang dirimu bertualang? 
Tidak dulikah engkau pada ranjang
yang merindukan dirimu berbaring dengan tenang?

Senyum purnama dari rimba kota
menjelma matahari di ubun benua
Ya, bungamu, Sayang
dan dataran yang memandang sebelah mata
pada nyanyian lambung dan senandung dahaga  yang mendung
Kelopak bungamu memancing kumbang
dan kupu bertandang
Kalian berbincang lalu tiba-tiba menjadi terang
Seakan purnama melipat ganda dan gelap seketika sirna
Se-a-kan

Hampir pagi
Fajar menjelang sesaat lagi
Musim semi. Musim sunyi
Angin berlari membawamu menepi
Wajahmu tua, Sayang
Wajahmu lelah
Kemarilah, Sayang
Ini ranjang sudah berdentang
Ini jarum jam sudah berdendang
Hampir pagi, Sayang
Fajar menjelang sesaat lagi
Kemari
Mari hadir di dalam puisi
Maka kau abadi
Maka kau lestari
Meski bau kakimu sudah tak tercium lagi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Balada Modem Smart(un)fren

Proses Talak 2 1/2(ノಠ益ಠ)ノ KALI ini, secara tegas, secara nyata, dan dengan kesadaran diri yang penuh saya harus mengatakan hal ini : Jangan terbujuk iklan dan jangan terpaku harga! Banyak produk-produk berharga murah bertebaran di sekitar kita. Sepatu, baju, tas, perkakas. Belum lagi ponsel, laptop. Terakhir, Modem . Wow! Di -bold , kek. Hehehe... Yup. Kali ini saya akan mengangkat sebuah realita yang cukup serius. Sebuah contoh nyata (indikasi) kejahatan korporasi yang (sepertinya) tengah terjadi dan saya alami. What is it? Sejarah dengan kesaksiannya yang ada mencatat (cieeeee..... Hehehe...), usaha cek pulsa yang saya lakukan berkali-kali pada 19 Juni 2012 sejak pukul 20.57:42 baru membuahkan hasil pada pukul 22.16:24 dengan sebuah SMS balasan dari 999 yang berisi : "Pulsa Anda Rp. 15,000 berlaku s/d 06/06/2013. Dgr lagu top, hub 357. Rp6rb/30hr." Alhamdulillah. Masih ada. Kirain udah habis atau apa gitu soalnya Modem Smartfren yang katanya anti lelet kok malah ...

Thalia

Musnah Damba Bagai impian Hadirmu menyorot pandang kekaguman Tak ada kemilau cahaya selain kau Tak ada kesejukan selain nafas keabadianmu Tak ada kedamaian tutur berdayu di aliran waktu. Kecuali kau Thalia Kau menjadi damba seluruh desa Bunga dan gulma Bersuka cita menyongsong setiap langkah Kau tebar wangi aroma senja Dan gemilang rona sinaran surya Sayang Lamunan kota membawaku beranjak ke sana Dengan mimpi selebar ufuk Jalanan penuh kutuk Kau titi tanpa merutuk Walau kini                        Kau kusam hilang bentuk Tak ada yang tahu Suaramu dimana tersisa Tak ada yang tahu Wajahmu dimana berada Di sebuah lorong kelam Sosok gadis sisa-sisa Menunggu entah di balik sepi Ku pandang dari kejauhan Ku nikmati dari titik sudut Mungkinkah engkau di sana? Sumber Gambar: Baltyra.com

Duka dan Luka

Siapa sangka :                         di balik surya tak ada mega? Siapa duga :                        malam purnama kan selamanya? Yang mampu kita cerna :                        kisah hari ini takkan sama esok hari                        Bersiaplah untuk tawa                        Siagalah 'tuk air mata Karna takkan ada yang sanggup menerka.                                                      ...