Langsung ke konten utama

Jalanan Pun Bersaksi

Bahwa. Keringat itu basah
Dan baunya menjadi wabah
Namun. Ketika itu tubuhmu yang demikian
Kenapa menjadi gairah?

Jalanan pun bersaksi
Bahwa. Pengabdian itu luka
Terjerat sangka dan durjana
Namun. Ketika itu kau yang terjun ke dalamnya
Kenapa ulasan senyum yang ku temukan?

Jalanan pun bersaksi
Bahwa. Roda tak selamanya berputar
Ada kalanya ia bertahan di atas; sering pula terpahat di bawah
Namun. Kenapa kau justru tertawa: saat kau terjerebab di sana?

Dan. Jalanan pun bersaksi
Putaran laju becak membawamu pergi
Mengisi malam yang sunyi. Menebar impian
Menilasi jejak rezeki 'tuk anak terkasih
Wahai. Begitu juang dirimu, Kawan!

Terinspirasi dari Sugeng, guru honorer yang mengisi waktu luang sebagai penarik becak

Sumber Foto: JPNN.Com
Berita Terkait: Gaji Guru Tak Cukup, Sugeng Merangkap Jadi Tukang Becak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Balada Modem Smart(un)fren

Proses Talak 2 1/2(ノಠ益ಠ)ノ KALI ini, secara tegas, secara nyata, dan dengan kesadaran diri yang penuh saya harus mengatakan hal ini : Jangan terbujuk iklan dan jangan terpaku harga! Banyak produk-produk berharga murah bertebaran di sekitar kita. Sepatu, baju, tas, perkakas. Belum lagi ponsel, laptop. Terakhir, Modem . Wow! Di -bold , kek. Hehehe... Yup. Kali ini saya akan mengangkat sebuah realita yang cukup serius. Sebuah contoh nyata (indikasi) kejahatan korporasi yang (sepertinya) tengah terjadi dan saya alami. What is it? Sejarah dengan kesaksiannya yang ada mencatat (cieeeee..... Hehehe...), usaha cek pulsa yang saya lakukan berkali-kali pada 19 Juni 2012 sejak pukul 20.57:42 baru membuahkan hasil pada pukul 22.16:24 dengan sebuah SMS balasan dari 999 yang berisi : "Pulsa Anda Rp. 15,000 berlaku s/d 06/06/2013. Dgr lagu top, hub 357. Rp6rb/30hr." Alhamdulillah. Masih ada. Kirain udah habis atau apa gitu soalnya Modem Smartfren yang katanya anti lelet kok malah ...

Thalia

Musnah Damba Bagai impian Hadirmu menyorot pandang kekaguman Tak ada kemilau cahaya selain kau Tak ada kesejukan selain nafas keabadianmu Tak ada kedamaian tutur berdayu di aliran waktu. Kecuali kau Thalia Kau menjadi damba seluruh desa Bunga dan gulma Bersuka cita menyongsong setiap langkah Kau tebar wangi aroma senja Dan gemilang rona sinaran surya Sayang Lamunan kota membawaku beranjak ke sana Dengan mimpi selebar ufuk Jalanan penuh kutuk Kau titi tanpa merutuk Walau kini                        Kau kusam hilang bentuk Tak ada yang tahu Suaramu dimana tersisa Tak ada yang tahu Wajahmu dimana berada Di sebuah lorong kelam Sosok gadis sisa-sisa Menunggu entah di balik sepi Ku pandang dari kejauhan Ku nikmati dari titik sudut Mungkinkah engkau di sana? Sumber Gambar: Baltyra.com

Duka dan Luka

Siapa sangka :                         di balik surya tak ada mega? Siapa duga :                        malam purnama kan selamanya? Yang mampu kita cerna :                        kisah hari ini takkan sama esok hari                        Bersiaplah untuk tawa                        Siagalah 'tuk air mata Karna takkan ada yang sanggup menerka.                                                      ...