Selasa, Maret 20, 2012

I Can Still Recall... - Mengenang Duka Setahun Lalu

Kenangan yang Tak Tergantikan
"WAKTU terus berjalan... Sejarah telah hilang..."

Sebuah lirik manis yang berkesan bagi saya. Deddy Mizwar. Melihat Dengan Hati. Meskipun berbeda konteks dengan apa yang mau saya tulis, penggalan awal lagu soundtrack Nagabonar itu membuat saya mengulang kembali "sejarah kelam" setahun yang lalu. Ya. Persis setahun yang lalu. 20 Maret 2011. Pukul 9.15 Waktu Indonesia Barat. Tanpa tanda dan prasangka, semuanya terjadi begitu... begitu cepat.

Saya masih ingat dengan detail kejadian pagi itu. Meski sudah satu tahun berlalu, trauma itu masih ada. Berbekas. Menjadi semacam phobia yang tak berkesudahan. Menjadi wabah. Menjadi virus prasangka pada orang-orang yang berkeliaran di sekitar saya. Sorot mata mereka selalu saya artikan sebagai sorot mata kemunafikan. Sorot mata pura-pura. Langkah mereka menjadi tanda tanya bagi saya: "Mau apa?" Saya bisa merasakannya. Benar-benar bisa.

Kronologi yang samar. Pagi itu, persis di hari Minggu yang cerah, saya mengawali pagi dengan bangun setengah 8 pagi. Setel musik, mengalun suara Iwan Fals mengisi kamar kos ukuran (sekitar) 3x2,5 meter. Matahari tersenyum. Suasana sepi. Entah kemana tetangga-tetangga kamar sebelah sejak semingguan terakhir tak ada batang hidungnya. Paling-paling cuma penghuni sebelah yang datang menengok kamar lalu balik lagi ke kontrakan. What's the matter? It's not my bussiness, is it? Dan saya mengagendakan berbagai macam rencana. Travel to Batu, mencari inspirasi, dan memenuhi target menulis beberapa puisi untuk melengkapi koleksi puisi saya di folder antologi puisi yang ke-6 (seingat saya segitu).

Jam menunjukkan pukul 9. Pas. Dengan tak memiliki beban sedetik pun, saya sanggah handuk di jendela lalu keluar menuju kamar mandi dengan sabun botol dan sebuah sikat gigi berpasta gigi. Pintu saya tutup. Saya tutup! Tak saya kunci. Di sini petaka terjadi...

15 menit. Ya. Sekitar 15 menit saya menghabiskan waktu di kamar mandi. Suara air yang jatuh ke lantai menghapus jejak-jejak bajingan yang mengintip dari suatu sudut yang tak terketahui. Saat pintu kamar mandi saya buka, deg! Firasat mencuat. Pintu kamar saya terbuka 45°. Langkah terburu. Cepat-cepat saya menengok ke dalam, dan dompet saya sudah terbuka! Innalillahi... Saya buka isi dompet dan yang tersisa hanya recehan sekitar Rp. 9.000,00. Dan tiba-tiba saya merasakan sesuatu yang aneh. Laptop saya mana??!!
Hari Minggu yang cerah. Hati saya gundah...
***
Saya persis orang tolol clingak-clinguk di jalan kampung hanya dengan modal handuk cekak menutupi badan saya. Pikiran kemana-mana. Do'a persis seperti banjir. Mengalir tiada henti. Berharap laptop saya ketemu, berharap pencurinya dengan rela hati mengantarkan dan mengembalikan benda berharga saya itu. Tapi, saya mimpi terlalu tinggi. Saya lemas melangkah kembali ke kamar kos. Menerima telepon dari ayah, ibu, dan pacar tercinta dan membombardir dengan pertanyaan yang sama: "Kok bisa sih?" Dan saya hanya diam dalam gema suara mereka. Hampa kata...
***
Persis setahun peristiwa itu terjadi. Bayang-bayang empat bulan masa kebahagiaan saya dengan laptop pertama buyar persis dua hari sebelum ulang tahun saya. Malam ini, saat tulisan ini saya buat, saya terus berpikir: "Siapa yang memegang laptop saya sekarang?"

Saya masih terus berpikir dan berpikir tentang segala hal yang saya habiskan bersama laptop pertama saya itu. Gubahan puisi. Koleksi album tembang lawas dan chart lagu terbaru yang saya download berjam-jam di kampus bahkan rela pergi ke samping gedung Rektor malam-malam hanya untuk dapat sinyal wifi gratis. Semuanya ada di sana. Pengalaman saya untuk kali pertama menginjakkan kaki di bumi Ngantang. Semuanya sudah saya tulis menjadi puisi di sana. Begitu pula dengan Panderman. Batu. Semuanya saya tumpahkan menjadi kata-kata di sana. Siapa yang membaca tulisan saya di sana sekarang? Siapa yang mendengarkan lagu-lagu yang saya peroleh dengan susah payah itu sekarang? Dan, siapa yang memiliki laptop saya sekarang? Siapa?

Saya, jujur, tidak 100% memang memberikan maaf yang lapang kepada orang yang dengan tanpa hati merampas hak saya. Laptop pertama saya. Tapi, saya juga tidak 100% menyimpan dendam dan sakit hati saya kepada yang bersangkutan. Saya hanya berdo'a kepada Allah swt. agar apa yang menimpa saya memberikan suatu ganjaran positif bagi saya, setidaknya senilai dengan apa yang hilang dari saya. Saya pun berdo'a, andaikata pencuri laptop saya melakukan semua ini karena dendam pada saya, barangkali saya pernah berbuat salah kepadanya, semoga Allah swt. mencukupkan apa yang saya derita senilai dengan dosa yang saya buat kepadanya. Impas.

Jika tidak? Ya, barangkali karena terpaksa, karena kemiskinan yang memaksa membuatnya melakukan ini semua, semoga laptop saya menjadi perantara kesuksesan bagi yang bersangkutan. Tapi, jika ia melakukan semua ini karena kedengkian, bentuk-bentuk teror bagi saya, Allah swt. Maha Tahu segalanya toh. Biarkan Dia memberikan garis karma tersendiri. Saya hanya bisa menanti keadilan itu datang suatu hari nanti.
***
Ya. Setahun yang lalu. Let the past fly away. Biarkan yang lalu berlalu. Sepahitnya masa lalu dan semanisnya masa itu, kita tak pernah hidup darinya. Kita adalah hari ini dan esok hari. Nikmati saja apa yang kita miliki hari ini dan yang akan kita miliki esok hari. Apapun itu. Air mata dan tawa sudah ada waktunya. Allah swt. tidak pernah salah menciptakan segala sesuatunya. Sekali berpasangan, selamanya akan tetap sama. Mustahil menakdirkan seseorang selalu menangis tanpa pernah tertawa. Dan mustahil pula menakdirkan seseorang selalu tertawa tanpa pernah mengeluarkan air mata duka. Takkan pernah.

Tepat setahun ini, lewat artikel ini, saya menitipkan salam buat teman-teman sekalian untuk selalu berhati-hati dimanapun dan kapanpun. Berhati-hatilah dengan siapapun! Kita tidak pernah tahu kapan teman selamanya menjadi teman dan kapan ia berbalik menjadi lawan. Waspada. Itu satu-satunya pertahanan kita di dunia yanga abstrak ini. Berusahalah mengamankan benda-benda berharga kalian semaksimal mungkin. Letakkan dompet, laptop di tempat yang tak terjangkau jika situasi darurat terjadi. Lemari setidaknya menjadi tempat terbaik selain di bawah kasur. Atau kalian punya tempat persembuyian teraman lainnya? Manfaatkanlah! Segera sebelum kalian menyesalinya.

Kedua, jangan bodoh meninggalkan kunci kamar melekat di gagang pintu. Kunci rapat-rapat dan bawa kunci itu bersama kalian. Jika diperlukan, perkokoh pengamanan kamar dengan membuat gembok. Bahaya dimana-mana, Kawan. Jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi?

Terakhir, perbanyak berdo'a. Tuhan tak pernah tidur. Ia tak pernah mengeluh meskipun harus lembur siang dan malam. Dialah sandaran kita. Setidaknya ketika kita terlengah masih ada yang mengingat kita.

Untuk orang yang mencuri laptop saya, barangkali kamu membaca tulisan saya, semoga kamu puas dengan apa yang kamu lakukan. Apapun alasan yang kamu gunakan untuk membenarkan tindakanmu, sama sekali nggak ada manfaatnya buat aku. Laptopku tetap hilang toh? Semoga kamu berbahagia dengan itu semua. Satu lagi, saya sungguh menyesali perpisahan yang begitu cepat dengan laptop pertama saya itu. Sebuah hubungan yang singkat sejak saya memegangnya pertama kali. Empat bulan. Ya. Hanya empat bulan umur kebersamaan kami. Dan, saya jauh lebih menyesali kehilangan atas semua kenangan berharga saya yang sudah kamu rampas dalam laptop saya. Puisi saya. Cerita pendek. Lagu-lagu lawas yang saya dapatkan dengan susah payah. Semua. Saya sesalkan semua itu. Tapi, asal kamu tahu, SAYA SANGAT-SANGAT MENYESALI tindakan bodoh kamu mencuri laptop saya. Selain kamu membalurkan dosa ke badan dan hatimu sendiri (atau bahkan seluarga kamu), aku mau bertanya: kenapa kau tinggalkan charger dan baterainya di lantai, hah? Bukankah sudah "aku sediakan"? Terburu kah? Semoga harga perbuatan dan beban dosamu sampai kamu mati senilai dengan harga laptop tanpa baterai dan charger serta rasa waswas dan gemetaran saat itu, Kawan. Semoga saja.
Dan buat orang yang saat ini memiliki sebagian atau seluruh data-data dari laptop pertama saya, entah foto saya dan pacar, hasil ketikan saya, koleksi puisi saya, arsip undang-undang yang nyaris lengkap. Lagu-lagu saya. Video kesayangan saya. Semoga bermanfaat buat kamu. Harap disimpan ya? Hehehe...

Finally, itu saja yang saya bisa katakan saat ini. Semoga peristiwa setahun lalu menjadi tragedi penutup bagi saya dan anak keturunan saya. Semoga tidak berulang menimpa saya, pacar saya, keluarga kami, teman-teman Manyar dan keluarga kita semua. Karena kita tidak akan pernah rela mengalami hal sedemikian rupa apalagi untuk kedua kalinya. Bukan begitu?

Hari baru menanti. Penuh janji. Semoga mentari esok hari jauh lebih bersahabat daripada kemarin dan hari ini. Aamiin.

Sekian dari saya.. 

PS: Merk laptop pertama saya Acer Aspire type 4738. Dan laptop kedua saya pun merk dan typenya hampir sama. Acer Aspire 4738Z. Semoga nasibnya tidak akan pernah sama. Aamiin.


Sumber Gambar: IndiaServer.com - Acer Aspire 4738



Anda Sedang Membaca: I Can Still Recall... - Mengenang Duka Setahun Lalu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...