Senin, November 28, 2011

Muka Parut dan Nyanyian Butut

Di mata kalian: ia begitu tampan
Tapi. Kenapa tidak di mataku?

Ia begitu gemilang di depan microphone
Kata  menjadi nada. Dari sana bertransformasi menjadi album perdana
Toko kaset memajangnya dengan segan
Dan perusahaan rekaman pajang muka setengah badan
Kenapa begitu terburu?
Dan. Mengapa pengamen bersuara merdu di luar jendela itu kalian tinggalkan, hah?

Aku, sungguh, tak bermaksud mengebiri bakat siapapun
Tapi. Ibarat ranting penyangga daun
Kenapa harus menjadi cagak?
Bukankah ada sang dahan?

Sungguh, ya. Aku bersungguh-sungguh
Aku tak bermaksud menghalangi cita-cita
Atau bakat menurut bahasamu
Tapi. Untuk apa memetik gitar dan bersenandung
Sementara di balik punggung: 
         Seribu orang mati membusung. Lapar
         Seribu orang lenyap tergulung. Terdesak mall dan waralaba cemar
        Seribu orang buntung dan murung. Memikirkan jembatan masa depan yang tak membelukar
Sanggupkah nadamu membenahi?

'Muka Parut dan Nyanyian Butut'
Sebingkis sajak ku cipta dalam larut
Tentang kegemaran seorang pembesar
Dan penyakit negeri yang akut. Coba ia sembuhkan dengan lagu kalang kabut
Lalu. Aku bertanya, ketika karya kesekiannya muncul lagi:
"Berapa orang yang memasang ringtone-mu?"
Ah. Sial.
Pasti mereka orang-orang yang malang...



Anda Sedang Membaca: Muka Parut dan Nyanyian Butut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...