Sabtu, November 26, 2011

Dari Sebuah Nama

 Ploceus philippinus Manyar Tempua
Aneh memang dengan nama blog aku: JEJAK-JEJAK MANYAR. Kenapa 'Manyar'? Kenapa bukan Rajawali, Elang, atau mungkin nama hewan lainnya?
Sebuah pemikiran yang agak panjang untuk nentuin nama sebuah blog. Awalnya, aku terispirasi dengan kata 'Mayang' yang memiliki arti sebuah perahu pukat. Aku bayangin sosok sebuah perahu pukat yang menjadi tumpuan harapan bagi nelayan dan keluarganya untuk mencari nafkah. Aku membayangkan kegagahannya menerjang badai dan ganasnya samudera. Tapi, di sisi lain, bukankah 'Mayang' identik dengan nama orang? Nah! Itulah kenapa aku nggak pake nama itu. Daripada multitafsir dan menyulut api kemarahan (note: cewek gue cemburuan. Dikiranya blog-ku special for someone nantinya. Bisa berabe -_~), saya putuskan dengan weight heart (baca: berat hati. Xixixixixi) untuk mencari nama lain. Bye-bye, Mayang... Hehehe (Ngalay!)

Lalu, nama apa yang pantas?

Setelah bersemedi selama 3 jam (semedi apaan tuh!!O~O. Hehehe..), akhirnya terpilih sebuah nama: 'Manyar', jenis burung yang selalu aku kagumi setiap kali aku menghabiskan sore hari di alun-alun kota.

Burung Manyar adalah burung yang solidaritasnya tinggi banget. Liatin aja! Tiap sore kalo nggak mau dibilang rombongan, ya sebut aja keroyokan. Yup! Tiap sore burung-burung ini terbang menuju sarang secara berkelompok. Nggak jarang burung walet harus menyingkir waktu kawanan manyar datang dari depan. Burung ini juga paling nyaring kalo disuruh berkicau. Tiap kali kita masuk hutan atau asyik jalan-jalan di pematang sawah, burung-burung inilah yang sering menyapa kita dengan kicauan mereka.

Burung Manyar nggak pernah menyerah buat "ngambil" sedikit saja butir padi buat jatah makan mereka setiap hari. Bukan simbol korupsi, Burung Manyar nggak pernah ngabisin bulir padi dalam satu tangkai. Dia hanya ambil sebagian lalu terbang lagi. Burung Manyar juga paling pintar kalo disuruh nyari batang rumput atau jerami buat bangun sarang. Bagaimana dengan kita? Manggil tukang kan? ^o^

Burung Manyar bebas nentuin kemana dia mau terbang. Nggak ada beban. Begitulah seharusnya kita. Jangan setiap langkah dan tarikan nafas kita selalu dibayangi perasaan takut dan gelisah. Jalani saja seperti si Manyar dan kawanan mereka. Kenapa mereka bisa sebebas itu? Karena mereka menuruti KODRAT mereka. Mereka nggak nolak djadikan burung dan tuh masih asyik saja kelayapan ke sana ke sini. Bagaimana dengan kita?

Manusia memang makhluk paling komplit. Akal punya (hewan?), hati yang beriman punya (kayak malaikat cuma 50% aja. Sisanya cari sendiri. Hahahahaha... n_n). Ketinggalan satu: nafsu, perangkat yang diandalin setan buat njerumusin kita. Semuanya ada manfaatnya. Dengan akal kita bisa mempertimbangkan tindakan kita. Dengan hati kita bisa berintrospeksi diri. Dengan nafsu, kita punya ambisi yang membuat Bumi saat ini
180 derajat dibandingkan 100 tahun yang lalu. Setuju?

Pertanyaannya: apa kita sudah make ketiganya dengan sinkron? Tetot! Jawabannya pasti nggak.

Karena itu, JEJAK-JEJAK MANYAR datang untuk mengajak kita semua kembali mengenali siapa kita. Untuk apa kita ada di dunia. Mengapa. Dan kemana kita harus melangkah.

JEJAK-JEJAK MANYAR nggak lebih dari sebuah blog yang ditulis manusia yang pasti nggak pernah lepas dari khilaf dan salah. Kalo nggak diingetin, gimana mau sadar atau tahu kalo udah ngelakuin kekeliruan. So, let's share about Us. Give your coment kalo tulisanku ada "sesuatu" yang keliru. Itung-itung nambahin stok pahala kita. Iya gak?

Sumber Foto: All Bird Photos



Anda Sedang Membaca: Dari Sebuah Nama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...