Langsung ke konten utama

Postingan

Ada Siapa Di Punggung Kita?

Aku merasa ada sesuatu di punggungmu dan punggungku. Sesuatu yang membuat bahu memikul dan tulang belakang terpukul-pukul, sedangkan kita bukan tukang pikul yang terbiasa dipukul-pukul oleh jarum jam, pentul menit, atau pendulum detik Kita hanya manusia yang biasa pelik Aku merasa sungguh ada sesuatu di punggung mu dan punggungku. Sesuatu itu sesekali merayap di kepala lalu singgah di daun telinga lalu rebah di antara logika dan rasa. Ya, rasa yang wabah oleh katanya atau sepertinya . Lantas kita menjadi kuli kebun-kebun Deli yang diingat sebagai alas kaki jongos kompeni atau mungkin priyayi berkasut kulit sapi yang bersolek menjadi sang maharaja senyatanya budak paling nyata Aku merasa tidak ayal lagi ada sesuatu di punggung kita yang tiba-tiba ia bertangan lalu berkaki lalu berlidah lalu bergetah lalu berludah atau bersperma. Basah yang dibuatnya begitu amat perkasa melahirkan jarak dan jejak yang jamak membuat kita semakin tampak menjadi pengembara...

Jusuf Memungut Rembulan

: B.J.H Jusuf bersijingkat melangkah ke dapur dengan lambat Ia lihat : rembulan terdamprat! Wajahnya retak sangat Matanya merah; menangis sia-sia Ia sembunyi di balik pintu ; menunggu sepuluh, dua puluh lelaki dungu itu berlalu dan meninggalkan si rembulan sendiri dan tersedu Ia masih sembunyi di balik pintu ketika lelaki-lelaki itu perlahan menjauh dan tawa mereka sumbang berlalu Jusuf mendekat malu-malu Ia menutup mata; tak tega melihat rembulan compang-camping di baju Ia memejam mata. Tak kuasa melihat rembulan berdarah di muka, di bahu, di dada, dan di di di di .... Jusuf menjingkat membawa gumpalan kain belacu Ia rentangkan lebar-lebar. Ia bentangkan dan berkibar Menjelma bendera. Menjelma sang saka Ia kudungkan ke pundak rembulan yang masih sendu Selepas itu, perlahan ia menjauh lalu berlalu tapi tak seperti sepuluh, dua puluh lelaki dungu lalu Ia tak tertawa. Pun tak menebar tuah dan ludah seperti mereka Ia meninggalkan punggung yang menjadi cermin r...

Matahari di Kaki Budi*

Ada matahari di kaki Budi yang mengintip di mula pagi ketika bibir jelita perempuan dini hari meniupkan asap rokok yang letih menanti si tuan tak datang lagi Ada matahari di kaki Budi sekali-kali memendarkan sinar ambisi Akan tetapi, cahaya itu mati ketika seorang bayi menangis tak dikenali Ada matahari di kaki Budi yang kini sudah setinggi mimpi Lihat! Jidat Budi diembat! Pekat, berkeringat. Budi lunglai di simpang empat Ada kaki Budi di matahari yang perlahan menenggelamkan diri dalam sunyi kota hewani yang ditaburi remah kata puisi *Terinspirasi Sore Tugu Pancoran , dipopulerkan Iwan Fals.

Shalat

Se dalam niat Hening jiwa yang taat Mantra tak ada guna Gentar tak punya rupa Kembali, Hai! Kembali damai ! Sujudlah sujud Pasrahlah pasrah Shalat lah. Khusyuklah Dan. Sirna letih memusnah

Selamat

Hari ini kamu menang lotre Sebagai manusia berjiwa kere Selamat !

Tentang Sebuah Kata

Dia datang dari entah Kita hanya bisa menerka Kita hanya bisa meraba Pertanyaan tak memuaskan dalam jawaban Kita pun pasrah Kita pun tunduk menerima Kita tidak pernah benar-benar mengerti     bagaimana sebuah kata kita miliki Ejaan gagu manusia jaman batu    atau kejeniusan orang modern dengan kepekaan yang semu? Kita hanya tahu Kata    dan segala perangkatnya yang ada    hidang di piring kita :     sebuah lembaran bergaris,    berlatar putih dan berwajah manis    dengan sebuntung pena jadi sendoknya Selamat makan ! Selamat mengunyah kata! Semoga kau tak mual dibuatnya!

Di Suatu Jum’at

"Teringat" Oly teringat semalam demikian nikmat dan seolah tak perlu rehat. Pagi ini ia seperti menemukan muslihat. Suamikukah bersama Iche itu? "Target" Hari ini deadline baginya untuk menjual puluhan botol oli itu. Namun, ia memilih memenuhi target dari Majikannya. Di shaf depan sekali ia tengah ber doa . "Pulang Jumatan" Seperti kata wahyu Tuhan , Doni bertebaran ke muka bumi usai shalat Jumat tadi. Matanya sibuk memilih. Siapa yang bisa ia copet lagi? "Batal Rujuk" Ia mengira Yuli masih marah karena kata kasarnya tadi pagi. Ketika ia pulang untuk minta maaf, di ruang tamu penuh orang . Siapa itu dibungkus kafan? "Sedekah" Pak tua mengayuh becak dengan cuma-cuma. Sedekah , katanya. Saat petang, ia duduk di teras mushala dengan senyum lelahnya. Lalu menutup mata . Selamanya.