Langsung ke konten utama

Matahari di Kaki Budi*

Ada matahari di kaki Budi
yang mengintip di mula pagi
ketika bibir jelita perempuan dini hari
meniupkan asap rokok yang letih menanti si tuan tak datang lagi

Ada matahari di kaki Budi
sekali-kali memendarkan sinar ambisi
Akan tetapi, cahaya itu mati
ketika seorang bayi menangis tak dikenali

Ada matahari di kaki Budi
yang kini sudah setinggi mimpi
Lihat! Jidat Budi diembat!
Pekat, berkeringat. Budi lunglai di simpang empat

Ada kaki Budi di matahari
yang perlahan menenggelamkan diri
dalam sunyi kota hewani
yang ditaburi remah kata puisi

*Terinspirasi Sore Tugu Pancoran, dipopulerkan Iwan Fals.

Komentar