Langsung ke konten utama

Togata* Derita Anak Manusia

Rona Wajah Hidup Manusia Jejak Manyar
Raut Wajah Kota
Suara kota memekik. Suara ambisi lantang meringkik. Seribu wajah. Seribu langkah. Pucat pasrah melupa tengadah. Tuhan tak bisa diandalkan hari ini. Kata mereka dalam hati.

Suara kota menjerit. Suara desak menajam ke langit. Sejuta kata. Sejuta babak cerita mengalur bak hulu sungai menuju samudera. Tumpang gelimpang telanjang. Kebaikan bukan saatnya terpajang. Kata mereka di kepala.

Di gedung-gedung; di meja-meja. Di jalanan buas dan serakah. Di trotoar yang meniupkan angin jengah. Mereka tak pernah puas menghambakan diri. Tunduk pada siapa, rutuk pada siapa. Detik jam serasa kejam. Detik jam laksana lubang nasib yang suram. Yang kusam...

Togata derita anak manusia. Fabula mereka tercatat dalam peliknya sejarah. Tak ada yang menyadarinya. Atau, tak ada yang mengakuinya? Tuhan datang dengan kemerdekaanNya. Agama hadir dengan kebebasannya. Dan manusia hadir dengan membelenggukan dirinya. Entah sampai bila lelucon ini begini.

Catatan :
*) Jenis fabula (istilah dari berbagai bentuk drama) komedi yang menggambarkan adegan kehidupan realitas di perkotaan.

Sumber Gambar : Nur Abdillah Siddiq (Alchemist) - Macet (Lalu Lintas), Anugerah Bukan Bencana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Thalia

Musnah Damba Bagai impian Hadirmu menyorot pandang kekaguman Tak ada kemilau cahaya selain kau Tak ada kesejukan selain nafas keabadianmu Tak ada kedamaian tutur berdayu di aliran waktu. Kecuali kau Thalia Kau menjadi damba seluruh desa Bunga dan gulma Bersuka cita menyongsong setiap langkah Kau tebar wangi aroma senja Dan gemilang rona sinaran surya Sayang Lamunan kota membawaku beranjak ke sana Dengan mimpi selebar ufuk Jalanan penuh kutuk Kau titi tanpa merutuk Walau kini                        Kau kusam hilang bentuk Tak ada yang tahu Suaramu dimana tersisa Tak ada yang tahu Wajahmu dimana berada Di sebuah lorong kelam Sosok gadis sisa-sisa Menunggu entah di balik sepi Ku pandang dari kejauhan Ku nikmati dari titik sudut Mungkinkah engkau di sana? Sumber Gambar: Baltyra.com

The End of The Holiday ^.^

Menyambut Esok Yup. Saya pikir inilah saat terakhir saya ngabisin hari libur. Masa reses. Masa menenangkan diri dan menjauhkan diri dari aktivitas perkuliahan dan tugas-tugas yang naujubillah banyak banget. Ini hari terakhir, meskipun masih kesisa sehari besok, buat memikirkan rencana masa depan. Kenapa hari terakhir? Ya karena mulai Senin besok lusa nggak ada lagi rencana. It's time to action! Setuju? ^.^ Senin, jam 7 pagi, sejarah semester 4 studi saya dimulai. Dosen baru, suasana baru. Target-target baru. Saya yakin, sepanjang hati kita yakin, kita bisa melakukan apa aja. Kebaikan apa aja. Kesuksesan apapun meski terlihat rumit dan mustahil. Dan hal ini yang akan saya lakukan: Agraria harus dapat nilai A!!!! Itu tekad saya buat si dosen killer yang bakal jadi dosen di kelas yang saya ambil semester ini. Semoga ini bukan keputusan goblok saya. Tuhan, Ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, berikan petunjuk dan kemudahan bagi hamba. Aamiin... So, bagaimana denga...

Aku Ingin Cinta

Aku ingin cinta Suguhkan aku cinta! Biarkan ku teguk manisnya Biarkan ku jilati lukanya Biarkan ku rasai semua Patah Hati Aku ingin sentuhan Aku ingin cumbuan Berikan aku pelukan! Dan lemparkan padaku senyuman Ketika dingin meningkapi badan Ku takkan merasa kesepian Aku ingin Kau menjadi ingin Inginkan aku. Inginkan hatiku Sayang. Kau tak begitu Maka. Aku ingin cinta Pada siapa ku dapatkan dia? Sumber Gambar: Cerita Cinta - 4 Tanda Cinta Bertepuk Sebelah Tangan