Langsung ke konten utama

Postingan

Bintang Malam Lalu

Menunggu Gelap Suatu Hari Nanti Manusia pongah. Langkah menggagah, seakan hidup 'kan selamanya. Suara menuai resah orang-orang lemah. Dan, mereka semakin tertawa menatap rintih tuah wajah -wajah tak berdaya. Pamflet merdeka mengudara. Menuding. Mendenging dari celah-celah ranting. Protes terbuka menyesaki jalan raya. Kata-kata, air mata membasahi telinga. Dan, darah pukulan di jidat mereka tetap tak mengubah derita. Luka masih mendunia. Tak ada yang menolong kita... Kedamaian , kejayaan, ketentraman hidup yang yang kau impikan : bagai bintang malam lalu . Singgahnya di atas rambutmu, tak jamin serupa di gulita waktumu kini. Rotasi. Revolusi. Gerak berontak. Bukan soal masa, bukan soal garis nasibnya. Ini soal aku , kamu, dia pada mereka : kutu busuk di tangga puncak rantai kebuasan . Harus kita diam kan, atau kita musnahkan? Padamu, kutanyakan! Sumber Gambar : Nikicomic - Wallpaper Star Night

Dusun Persinggahan

Tanah Impian Mendaki Perjalanan ku susuri Hening alam Sunyi diam Langit tersenyum dalam mendung yang mendegam Gentar hujan ku telan Ragu bayu ku singkirkan Petualangan ini menakjubkan Bagaimana mungkin harus ku tinggalkan? Dan kampung perhelaan menyapaku Tubuhnya merentang panorama Biru. Teduh menyeluruh Adakah kata mewakilinya selain 'pesona'? Adakah kesan memujinya selain 'indah'? Dan ku biarkan tubuhku,     hati ku,    pikirku,    dijajahnya hingga senja menenggelamkanku Di dalam rindu Di dalam jingga perhentianku Khusyuk menasbih wajah mu,    Duhai, Dusun Persinggahan     Sudikah kau menerimaku lagi nanti?    Setelah pengembaraan ini? Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Sepeda Tua

Berapa Harga Jasa Mereka? Sepeda tua Teronggok di dinding kumuh Menatap beku Di antara kebisingan sudut kota ku Beribu waktu ia habiskan di situ Menunggu sang Tuan Letakkan tumpukan koran Atau usai lunasi setoran Dan. Ia 'kan kembali berkelana Menerjang kebisuan jalanan Di kepungan janji tanpa perbincangan Kepungan asap adalah sahabat Percikan hujan karib yang erat Ketika saatnya tiba,     ia percaya Ia menutup hari di pasar desa Entah dalam barisan barang nostalgi Atau merepih setiap jengkal diri. Terjagal Apakah yang harus disesali? Bukankah karena dirinya sebuah keluarga tak kelaparan? Bukankah karena dirinya sejuta mimpi tergapaikan? Bukankah karena Tuhan melaluinya? Alasan apa 'tuk menyesali? Ia hanya sepeda tua Begitulah selamanya... Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Mengintip Dunia

Hambatan Malu -malu Sesosok manusia mengintip dunia Dari balik jendela Dari persembunyian hijau muda Sesekali mata nya perangah; Sesekali gelisah Sesekali mulutnya terbuka; Sesekali katup gulana Hatinya ingin ke sana : padang sabana yang tak terjamah olehnya Suara-suara memanggilnya, Suara-suara mengajaknya Dan. Gentar mengalahkan nyalinya Malu-malu Sesosok manusia melongok semesta Setiap hari Setiap kali bisik jiwa melambaikan tangan padanya Dan setiap itu pula : ia tak pernah bisa menyongsongnya Takkan pernah... Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Serdadu Tanah Airku

Darma Mulia Pada Bangsa & Negara Gegap langkah kakimu Bak irama merdeka Mengundang tawa nusantara jaya Hai, Serdadu ! Kemana kini kau menuju? Lantang suara. Tajam sorot mata Bak harimau sabana Menebar gentar serigala padang bulan Hai, Serdadu! Dimana kau labuhkan kokang senjata mu? Tekadmu ksatria Demikian kakek nenekku dulu ber kisah Laksana gelombang samudera Menyapu senyap kepengecutan bela bangsa Hai, Serdadu! Bagaimana kau dendangkan bisik hati mu? Serdadu tanah airku Serdadu ibu pertiwiku Haruskah kau sembunyikan jiwamu    di balik hasutan nafsumu? Haruskah kau kerdilkan sejarah    di tumpukan bangsatnya dunia ? Ah. Tak terlalu murahkah? Kepadamu, aku percaya Semoga... Sumber Gambar : TNI AD Official Website , TNI AU Official Website , TNI AL Official Website , dan Merdeka.com   dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar

Elegi Evolusi Tragedi

Masihkah Kita Tak Menyadari? - Dunia senjata, belasan musim di belakang kita Dulu. Ke mati an berawal dari kegilaan akalmu. Beranjak menjadi orasi. Berangkat menjadi pasukan besi. Invasi. Bumi terbelah; langit memerah. Samudera menjadi danau amarah. Telaga menjadi kolam simbahan darah. Mayat-mayat : tak terbungkus berkalang tanah . Tangis. Dendam meritmis. Krisis. - Dunia maya, seperempat detik di depan , balik, atas, bawah, dan celah ketiak kita Kini. Kematian berawal dari kebodohan akalmu. Beralih menyulap teknologi . Bergerak menyihir kemurnian hati. Kematian tradisi. Cinta terpisah; hasrat menuah. Jiwa menjelma padang   mazmumah . Dada merekah menampung petaka. Zombi-zombi : berlintas waktu di depan kaca . Pasrah. Menenggelamkan diri sendiri tanpa murka. Ironis. Elegi evolusi tragedi mematik. Miris menitik... Sumber Gambar : Berbagi Ilmu dan The Epoch Times dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar

Improvisasi

Improv! Tak perlu kaku Berjalanlah dengan iramamu! Kata siapa bising itu sinting? Kata siapa berdebu itu kelabu? Tengoklah riuh rendah di depan kepalamu! Keindahan mana yang seperti itu? Tak perlu kaku Berjalanlah! Berjalanlah! Dan, Tak perlu bisu! Bernyanyi lah dengan hatimu! Kata siapa sumbang itu jalang? Kata siapa buta nada memaksamu kehilangan suara ? Kata siapa, hah? Dengarkan sahut bunyi di balik telingamu! Kemerduan mana memersis itu? Tak perlu bisu! Bernyanyilah! Bernyanyilah! Improvisasilah! Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi