Langsung ke konten utama

Postingan

Ketika Malam

Gelap Malam Jangan pedulikan lagi Lolong anjing di lorong sepi Jangan hiraukan lagi Dingin sunyi menikam hati Jangan lagi... *** Jangan tulisi lagi  Gelap langit dengan untaian puisi Dan. Jangan kau hiasi lagi Bintang bulan dengan asa yang nisbi Sebab Kita mampu melakukannya sendiri Kita masih mampu: ... Ketika malam menyapu ... Sumber Foto: Depot Seni Grafis

Lepas Angan dan Asa

Mari. Kita berjalan ke sana Mencari apa saja dan bertemu dengan siapa saja Kita susuri apa yang bisa kita lalui Dan mari kita jejaki Segala yang mampu kita hadapi Kembali Tak perlu kepalan tangan yang kuat Atau mungkin selera tinju yang hebat Pun. Tak perlu suara yang lantang Demi tumbang di karang jalang Cukup kau sediakan: tutur lembut bak tembang Begitu rancu menghadang Dengan mesra bisikkanlah padanya: binasa! Seketika ia kan sungkur di tanah Kalah... Kita, sudah saatnya kita: Berpikir dengan otodidak Berhentilah terpaku dengan buku-buku Dan ceramah semu yang makin menjemu Kita, sudah saatnya kita: Bergerak di jalanan Mengulurkan senyum kepada bisu Dan menanam ilham di jidat yang lesu Agar mereka tahu Apa gunanya tangan         Apa gunanya kaki Apa gunanya lidah         Apa gunanya wajah Apa gunanya kepala         Apa gunanya telinga Dan. Apa gunanya kita Jika kau telah menemukannya Lepa...

Gugusan Rindu

Takkan Mampu Kau Halau Rindu Mengenali lekuk rindu Warna. Aroma Dan sosok yang kini menggugus Tak terumus Ada sekeping asa Melayang di puncak damba: "Apa itu? tanyamu ku jawab gelengan bisu Kau tahu apa itu Lalu Seuntai tembang mengalun membayu Mencabik sepi Menikamkan benih di ceruk-ceruk hati Kau kembali bertanya: "Apakah itu?" Dan masih: ku jawab dengan geleng dan bisu Kau sudah tahu... *** Sepayung sajak melagu Mendarat di jalan setapak Yang kering. Yang gersang dihajar terik tadi siang Ia lalu turun Anggun Memijak kerontang rerumputan ilalang Lalu Kau bertanya: "Apakah itu?" Dan ku jawab dengan lugu: "Kau tahu itu" *** Maka Kau pun termangu sendiri Memandangi lengkung lembayung senja Menikmati pesona nan rasa tak beriba Maka Kau pun lantas merunduk Menerka isi bentuk Gejolak. Gemolak di sudut kalbu Dan. Maka Kau teringat pertanyaanmu tadi Dan. Sekali lagi: maka Kau tahu apa jawabnya itu Rindu... ...

98,2 Kilometer

Jalani Saja. Tanpa Bertanya! Sendiri Dan memang itu yang ku sukai Menjelajah dari sudut ke sudut Melewati batas kabut Menyeberang ke titian lembah zamrud Dan hari ini Ketika mentari tersenyum sendiri Sesuatu memancing nurani: apakah gerangan? Dan tiba-tiba Gairah kembara mengalir begitu saja ***        -Tajinan- Aku tak melihatmu berbeda: Sama Seperti pedesaan di kotaku dulu Pencil. Mungil Tersudut dari hingar-bingar kota yang dekil Kelok melata. Hijau merata Aku terperangkap dalam euforia jiwa Menikmati gilasan roda dalam suara Dipadu pepohonan: nyiur, cemara, dan pinus di kejauhan Bersaksi: inilah hari terindah musim ini Lalu. Ku pacu kuda mesinku Melesat ke perbatasan ***        -Tumpang- Sekilas kunjung Wajahmu tak pernah murung Semarak dalam gemuruh suara jejak Diam dalam ayunan alam perak Tiada ada derita menyayat Atau murka menebas, membabat Kau: tampil seperti kisanak Berbaju putih dengan tatap...

Matahari Kelabu

Hutang Negara Menyesak Duka mendalam, mendegam. Menghantam Di bawah kemucur sinar pagi Lelaki itu Sendiri menanggung sepi Si sulung termangu memandang sekitar Tanpa sadar: Adiknya mati di lantai gerobak Milik sang Bapak Tak ada yang mendengar jerit hatimu Maka. Kau berjalan Berjalan Kembali berjalan Memintasi lirih dan luka nyeri Melintasi gigil kerdilnya kota yang culas Bayang-bayang damba Memunah menjadi ringkas: nelangsa Sesal yang menggumpal Membuatmu terus berjalan Berjalan Terus berjalan Menembangkan derita dan kematian Menuju Stasiun Kereta Tapi. Entah apa maksud Tuhan Belum habis sayatan kau sembuhkan Karang terjang menghadang, menghalang. Menjengkang Bapak Polisi: "Belum cukupkah nanah ini?" Tapi ia tak pernah mengerti. Takkan cukup memahami Dan. Dengan beban kau ikuti langkah mereka Tertundalah tidur damai si Bunga Jelita Namun Lorong hitam yang kau datangi tak jua memancing duli Engkau: dengan ikhlas mereka lepas Lagi. Kau. Ke...

2012 (Makin Banyak Saja)

Menghitung Hari... Makin banyak saja Kegilaan di sekitar kita: Kebobrokan sang Pengayom rakyat Hingga keborokan para Wakil rakyat Makin banyak saja Keanehan di sekitar kita: Si jongos baru mendadak jadi majikan Atau Pahlawan Seberang yang mati tanpa kepedulian Makin banyak saja Teka-teki di sekitar kita: Belum habis skandal bobol nya uang rakyat Kini muncul kepalsuan wajah Tuan yang (Tak Lagi) Rahmat Makin banyak saja Ketimpangan di sekitar kita: Si kaya dimana-mana Kenapa kemiskinan makin menggila ? Makin banyak saja Keculasan di sekitar kita: VIP jelas bagi hartawan. Tapi... Kenapa kami dinomor-sejutakan ? Makin banyak saja Kutukan di sekitar kita: Jembatan batu yang runtuh Hingga darah di Andalas Tercinta Dan. Makin banyak saja Kedunguan di sekitar kita Tanda-tanda senyala ini Kenapa kita lalai begini? Sepertinya Sangkaan kiamat 2012 benar adanya Maka. Bersiaplah sekoci dan sampan Barangkali kau bisa terselamatkan Seperti dalam impia...

Menggenggam Tangan Tuhan

Tangan Tuhan Ya. Ketika tidak tak mampu lagi berharap Dan hari-hari begitu gelap dan pengap Maka. Cobalah kau raih jemariNya Barangkali. Di sana masih ada cinta... Menggenggam tangan Tuhan Ya. 'Pabila impian selalu dikebirikan Dan kedukaan ditumpuk di laci kekuasaan Maka. Cobalah kau sentuh ruas telapakNya Barangkali. Masih tersisa duli padaNya... Menggenggam tangan Tuhan Kenapa tidak? Ketika darah dan pelor menjadi sahabat karib, Dan kelaliman menggantung harap di tiang salib, Dan Tragedi: September 65. Tanjung Priok Jakarta. Palagan Hitam Salemba. Santa Cruz yang Luka Hingga Mesuji Gulana , menjadi banyolan dan dikebirikan Maka. Cobalah kau rengkuh Dia Barangkali Ia mau menjatuhkan dakwaNya Seperti Sodom dan Gomora Atau cerita luka umat Saleh yang binasa Saat itu Kita baru bisa tertawa Karma telah tiba... Sumber Foto: Seaners Indonesia