Teropong Aku

Sang Manyar di Pesisir Papuma
Kalian mungkin mengira aku manusia pada umumnya: suka kumpul-kumpul, nge-gank sama anak-anak sehobi, atau mungkin mengira aku maniak game online (ada yang bilang gitu :)). Aku pastikan: that's wrong!

My name is Anggarian Andisetya. Lahir di sebuah kota kecil di Jawa Timur bernama BONDOWOSO yang oleh (beberapa) orang Nganjuk, Madiun, dan beberapa rekan mahasiswa asal kabupaten-kabupaten di sebelah barat Kota Malang disangka sebuah tempat di Jawa Tengah -_-!

Aku datang dari kota yang dikenal karena tape dan video uka-uka di Kawasan Taman Makam Ki Bagus Assra Ki Ronggo dan Tempat Pemandian Tasnan. Apa hanya itu isi Bondowoso? Bagaimana dengan potensi wisata Kawah Ijen, Singo Ulung, dan Program PAUD yang (katanya) menjuarai tingkat Nasional? Beginilah jika jajaran pemerintah tidak sigap mengembangkan kotaku. So, just tape and the ghost story that people knows about my city. Capek banget bayanginnya.

Hari Jum'at tanggal 22 Maret 1991 tepat jadi saksi kelahiranku di Bumi. Thanks a lot for Ayah dan Ibuku yang bersedia menerimaku lahir di Bumi dan menerimaku dengan cinta kasih sebagai bingkisan cinta suci kalian berdua :'). Selain itu, makasih juga buat adikku, Dearian Eganita si Maniak KOTAK yang usilnya minta ampun. Terakhir, buat My Sweety Lovely Selvi Mirthawati Setyorini yang sudah sabar menjalani hubungan maraton kayak sekarang. Love U so Much.

Aku bisa dibilang "manusia yang lain daripada yang lain."

Pertama, di era serba modern saat ini selera musikku masih saja sama dengan tipe musik kakek-nenek, ortu, dan om-tante kita: Oldies. Lagu-lagu Iwan Fals (PraReformasi) adalah lagu-lagu kesukaanku. Dari sanalah bakat mengarangku, khususnya puisi, terasah. Paduan kata yang apik dan keserasian vokal setiap kata menjadi kiblat teknik penulisanku. Dari sisi isi puisi yang ku buat, lagu-lagu karya Ebiet G. Ade, Chrisye, SAS, dan musikus-musikus tempo dulu menjadi referensi dalam pengangkatan tema dan pengolahan makna puisi-puisi yang ku ciptakan.

Kedua, kalau kebanyakan cowok-cewek era abad 21 ini hobinya kongkow bareng di kafe, mall, distro, atau pun trotoar lain halnya dengan aku. Aku lebih condong ke arah... individualis. Aku "lebih suka" menghabiskan waktuku seorang diri menjelajahi jalanan dengan motor kesayanganku sambil menghimpun inspirasi dari mana saja: pedesaan, kota, perbukitan, hutan, sungai, pasar, tikungan, tanjakan, turunan, persimpangan, hingga para pencari rumput dengan sepeda "antik" mereka. So, banyak yang mengira aku pribadi yang tidak mau berteman meski sebenarnya... "iya". Hehehehe... Ya, dalam pengertian kongkow-kongkow aja lho. Kalau sekedar diskusi, tukar pikiran, ngobrol biasa sih ayo saja. Tapi, kalau harus menghabiskan isi dompet dengan kelayapan ke mall atau jajan di kafe-kafe bareng temen ya nanti dulu: there's something that I more interested.

Ketiga, buat orang Malang yang namanya Matos, Plaza Dieng, atau MOG sih bukan perkara besar. Mungkin setiap bulan (atau mungkin setiap hari?!) mereka menyempatkan diri sekedar ngadem di pertokoan gede macem itu. Tapi, jangan kaget kalau selama hampir 2 tahun aku di Malang nggak sedetik pun aku pernah masuk ke pertokoan itu. Jangan masuk, nginjekin trotoarnya saja belum pernah. Ada beberapa alasan. Salah satunya, aku memang nggak suka "terjebak" di pasar modern semacam itu. Ada... sesuatu yang tidak aku sukai. Sesuatu yang "aneh" menurutku. Alasan lainnya, mau cari apaan di sana? Dari sisi budget jelas nggak mungkin aku beli sesuatu di sana. Dari sisi manfaat, cuma buat ngadem? Mending diem anteng di Pujon deh. Sekalian bersihin otak.

Keempat, aku tipikal cowok yang introvert. Mungkin ini yang menyebabkan koleksi sohib di sekitarku nggak begitu banyak. Kecenderungan menjadi manusia cuek yang besar plus (terkadang) egoisme yang kasar tak membuatku heran jika orang di sekitarku mengira aku "manusia yang aneh" meskipun sebenarnya memang... aneh. Hehehe...

Terakhir, kalau ada orang bilang aku misterius, jawabannya cukup dengan anggukan kepala. Sedekat apapun orang denganku nggak akan bisa membongkar isi hatiku. Itulah aku.

Lanjut. Berangkat dari pengalaman masa lalu sebagai manusia biasa yang tidak luput dari khilaf dan salah, aku mencoba menjadi manusia yang lebih baik saat ini dan mengajak kita semua untuk melakukan hal yang sama: merobohkan masa lalu dan menegakkan masa depan yang baru!

Puisi menjadi sarana paling efektif (buatku, selain lagu) untuk merefleksi diri dari kejatuhan dan kekeliruan masa lalu. Puisi menjadi... Sebuah jembatan yang memberi kesadaran akan hakikat segala hal. Puisi juga yang menyadarkan aku bahwa menulis itu tak sesulit yang dibayangkan. Cukup sediakan kertas, pena seadanya, berpikir sejenak lalu... Mulailah menulis seadanya! Karena pengarang manapun baru bisa "menulis" ketika mereka "mencoba menulis" berkali-kali. Dan tidak ada kesalahan untuk mencobanya.

So, masihkah ragu untuk menulis? Let's Create Your Own Story!



Anda Sedang Membaca: Teropong Aku

4 komentar:

  1. salam kenal ker... follow back blog ane ya... oyi...!!!

    BalasHapus
  2. Udah Bro. Salam kenal balik...

    BalasHapus
  3. @Ken Mercedes: Boh kok malah komen n request follow di sini? Palang. hehehe

    BalasHapus

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ