Sabtu, November 09, 2013

Sewindu Pagi

Jejak manyar berkelebat di rimba halimun. Menyamar di daun-daun. Tersamar di lereng sunyi yang menahun. Suara ratap matahari dari ufuk : repih dan buruk.
   Alam duka merutuk...

Pagi Senyap Jejak Manyar
Gelap dan Senyap
Bergunduk tanah sirah. Bertumpuk hati merah. Dendam malam terbayang di langit mendung. Tinggallah asa dikunyah gundah gulita. Fatwa-fatwa buntung cerita. Gurindam petuah lumpuh makna. Orang-orang berjalan ke luar rumah. Orang-orang berlari menuju neraka. Bersama seribu lolong. Bersama seribu syahwat tirani berjubel dalam gerbong.
   Medan petaka disongsong...

Setangkai seroja layu di akhir kuncup. Gerhana pintu hari padanya mencucup. Celah pun kincup. Tak ada lagi mahkota yang recup. Tak ada lagi wangi melingkup. Dan, sewindu pagi dengung memurung. Menyabda wajah semesta dalam nestapa.
   Kleptokrasi dalam opera...

Sumber Gambar : Baltyra.com - Mengenang Kabut Hangat
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>