Selasa, September 10, 2013

Bintang Malam Lalu

Terangmu Kini (Mungkin) Gelapmu Nanti Jejak Manyar
Menunggu Gelap
Suatu Hari Nanti
Manusia pongah. Langkah menggagah, seakan hidup 'kan selamanya. Suara menuai resah orang-orang lemah. Dan, mereka semakin tertawa menatap rintih tuah wajah-wajah tak berdaya.

Pamflet merdeka mengudara. Menuding. Mendenging dari celah-celah ranting. Protes terbuka menyesaki jalan raya. Kata-kata, air mata membasahi telinga. Dan, darah pukulan di jidat mereka tetap tak mengubah derita. Luka masih mendunia. Tak ada yang menolong kita...

Kedamaian, kejayaan, ketentraman hidup yang yang kau impikan : bagai bintang malam lalu. Singgahnya di atas rambutmu, tak jamin serupa di gulita waktumu kini. Rotasi. Revolusi. Gerak berontak. Bukan soal masa, bukan soal garis nasibnya. Ini soal aku, kamu, dia pada mereka : kutu busuk di tangga puncak rantai kebuasan. Harus kita diamkan, atau kita musnahkan?
Padamu, kutanyakan!

Sumber Gambar : Nikicomic - Wallpaper Star Night
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, September 07, 2013

Dusun Persinggahan

Lembah di Puncak Bukit Jejak Manyar
Tanah Impian
Mendaki
Perjalanan ku susuri
Hening alam
Sunyi diam
Langit tersenyum dalam mendung yang mendegam
Gentar hujan ku telan
Ragu bayu ku singkirkan
Petualangan ini menakjubkan
Bagaimana mungkin harus ku tinggalkan?

Dan kampung perhelaan menyapaku
Tubuhnya merentang panorama
Biru. Teduh menyeluruh
Adakah kata mewakilinya selain 'pesona'?
Adakah kesan memujinya selain 'indah'?
Dan ku biarkan tubuhku,
   hatiku,
   pikirku,
   dijajahnya hingga senja menenggelamkanku
Di dalam rindu
Di dalam jingga perhentianku
Khusyuk menasbih wajahmu,
   Duhai, Dusun Persinggahan
   Sudikah kau menerimaku lagi nanti?
   Setelah pengembaraan ini?

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selasa, September 03, 2013

Sepeda Tua

Suatu Hari Nanti : 'Sepah Dibuang' Jejak Manyar
Berapa Harga Jasa Mereka?
Sepeda tua
Teronggok di dinding kumuh
Menatap beku
Di antara kebisingan sudut kotaku

Beribu waktu ia habiskan di situ
Menunggu sang Tuan
Letakkan tumpukan koran
Atau usai lunasi setoran
Dan. Ia 'kan kembali berkelana
Menerjang kebisuan jalanan
Di kepungan janji tanpa perbincangan

Kepungan asap adalah sahabat
Percikan hujan karib yang erat
Ketika saatnya tiba,
   ia percaya
Ia menutup hari di pasar desa
Entah dalam barisan barang nostalgi
Atau merepih setiap jengkal diri. Terjagal
Apakah yang harus disesali?
Bukankah karena dirinya sebuah keluarga tak kelaparan?
Bukankah karena dirinya sejuta mimpi tergapaikan?
Bukankah karena Tuhan melaluinya?
Alasan apa 'tuk menyesali?
Ia hanya sepeda tua
Begitulah selamanya...

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>