Minggu, Juli 07, 2013

[Khusus Cewek] Ranting Tua Itu... Ayah-Ibu Kita! : Pesan Moral Tembang "Setangkai Tunas"

Yang Sering Kita Lupa Jejak Manyar
Begitulah Orang Tua Kita
MUNGKIN sedikit heran melihat judul artikel Jejak-Jejak Manyar sore ini. Kok tumben dikhususkan bagi kaum hawa? Apa kaum adam tidak boleh masuk? Sebenarnya artikel ini readable for all gender. Tapi, secara bobot poin pembahasan, artikel ini secara sederhana banyak diperuntukkan buat perempuan dimanapun berada. Kaum adam bisa ikut menyimak saja. Barangkali ingin komentar? Silahkan. Kotak komentar saya terbuka bagi setiap gender dan kelompok. Omong-omong, topik kita hari ini apa? Apa hubungannya orang tua dan ranting tua? Yang jelas bukan sama-sama tua. Penasaran? Check this out!

Oh, iya. Seandainya dalam alinea-alinea berikutnya ada istilah 'Sahabat Manyar,' maka secara spesifik panggilan tersebut saya tujukan bagi pembaca artikel ini yang bergender perempuan. Alasannya? Silahkan baca alinea di atas. Oke? Lanjut!
***
Pernahkah orang tua kita bersikap tegas pada Sahabat Manyar? Melarang pergi kencan pada suatu malam Minggu tertentu? Atau, melarang Sahabat Manyar bertemu dengan sorang cowok tertentu dengan alasan tertentu? Pernahkah? Bagaimana sikap Sahabat Manyar? Marah? Menangis? Atau, berontak?

Pertanyaan yang harus kita jawab sebenarnya : mengapa orang tua Sahabat Manyar bersikap demikian? Sudah pernah terpikir sebelumnya pertanyaan ini? Jika sudah, apakah jawabannya? Belum tahu? Mungkin, lirik manis berikut ini bisa menyadarkan betapa besarnya beban orang tua Sahabat Manyar dalam menjaga Sahabat Manyar saat ini. Simak berikut ini!

SETANGKAI TUNAS
by Ira Maya Sopha

Setangkai tunas mawar
Tumbuh di ranting
Yang telah tua
Menjelma, merekah, berjalan
Menyongsong mimpi di depan
Oh, ceria dan derita

Di kala fajar tiba
Silih berganti
Sekian lama
Tercipta : puspita, juwita
Seisi dunia bersorak
Suka cita

Reff :
Hasrat muda menggelegar
Kadang kala mendebarkan
Bahagia dalam hatinya
Ranting tua makin berat :
Menahan, menjaga, melindungi dia
Dari sang penggoda kumbang-kumbang nakal

Intro

Harum bunga sebar
Indahnya mekar
Dimana-mana
Sadarlah puspita
sadarlah harummu tak selamanya

Back to Reff 2x
Hasrat muda menggelegar
Kadang kala mendebarkan
Bahagia dalam hatinya
Ranting tua makin berat [2x and fade out]

Untuk Setangkai Tunas Jejak Manyar
Inspirasi
Bagaimana? Sudah baca? Paham maksud syair tembang manis karya Tante Ira Maya Sopha di atas? Lagu berjudul Setangkai Tunas tersebut menghiasi koleksi manis lagu-lagu Tante Ira Maya Sopha dalam album BALADA tahun 1984. Pesan moral lagu tersebut mengetuk kesadaran Sahabat Manyar akan peran orang tua kita dalam menjaga diri kita sampai saat ini. Sahabat Manyar dianalogikan dengan setangkai tunas, generasi baru. Dilambangkan sebagai tunas mawar yang baru saja mekar dan memandang pesona dunia dengan keindahannya yang ada.

Sahabat Manyar digambarkan sebagai sekuntum bunga yang berdiri di muka pintu kebahagiaan remaja. Mengenal apa itu cinta, mengenal apa itu sayang. Mengenal apa itu kasmaran. Sahabat Manyar mulai bisa merasakan : bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Sahabat Manyar mulai larut dalam puja-puji sosok-sosok mempesona di sekitar Sahabat Manyar. Ketampanan mereka, kegagahan mereka. Keramahan mereka. Begitukah topik pembicaraan Sahabat Manyar selama ini tentang lelaki idaman yang berkeliaran di sekitar Sahabat Manyar?

Tapi, lihat! Di balik keterpesonaan Sahabat Manyar pada masa remaja dan gejolak cinta yang Sahabat Manyar rasakan : orang tua Sahabat Manyar tak pernah berhenti memberikan perlindungan dan pengawasannya pada diri Sahabat Manyar. Mereka tak pernah berhenti dan tak pernah merasa letih memproteksi diri kita agar tak larut dalam euforia cinta kita, menikmati khayalan manis masa remaja, dan akhirnya... terluka! Mengapa mereka melakukan itu semua? Sederhana : karena mereka adalah RANTING TUA, dan Sahabat Manyar adalah SETANGKAI TUNAS MAWAR-nya... Ranting mana yang rela kumbang-kumbang liar merusak mawar yang cantik di atas tubuhnya?

Orang tua Sahabat Manyar, ada kalanya, bersikap tegas dengan membatasi ruang gerak Sahabat Manyar. Hendak ke sekolah, diantar. Berkumpul dengan sahabat, diawasi. Bertemu sosok lelaki yang mengisi hati Sahabat Manyar, apakah orang tua Sahabat Manyar bersikap acuh tak peduli? Tentu saja tidak. Dalam tindakan yang paling kecil sekalipun, orang tua Sahabat Manyar selalu mengawasi dan berdo'a agar Sahabat Manyar tak terjerumus dalam kegelimangan dunia di masa remaja yang Sahabat Manyar bina saat ini.

Orang tua Sahabat Manyar kadang kala bersikap keras dengan melarang Sahabat Manyar bertemu dengan lelaki yang Sahabat Manyar begitu cintai. Pertanyaannya, kenapa? Secara pokok, orang tua Sahabat Manyar tidak bisa melihat sisi kebertanggungjawaban sosok lelaki yang Sahabat Manyar jadikan kekasih, atau setidaknya, sebatas teman dekat. Orang tua Sahabat Manyar tidak melihat ada kejujuran dan ketulusan serta jaminan masa depan yang baik bagi kehidupan yang akan datang Sahabat Manyar. Mengapa mereka berpikir demikian? Karena orang tua Sahabat Manyar TAK MAU anak gadisnya, anak perempuannya, anak yang selama ini mereka besarkan hidup dalam PENDERITAAN...

Tak selamanya orang tua Sahabat Manyar membatasi perasaan Sahabat Manyar karena mengekang kebebasan yang Sahabat Manyar punya. Orang tua mana yang ingin anak gadisnya, anak perempuannya hidup menderita? Karena cinta? Bah. Saya kira hanya orang tua paling tolol dan paling gila sedunia yang rela melihat anak gadisnya, anak perempuannya, meratapi kejatuhan mereka karena tipu daya cinta. Atau, dalam bahasa yang sedikit lebih kasar : Orang tua mana yang merelakan anak gadisnya, anak perempuannya kehilangan kesuciannya karena salah menjalani cinta? Dan, inilah luka terbesar orang tua Sahabat Manyar jika hal itu sampai terjadi...

Tante Ira Maya Sopha juga mengingatkan kita semua : "Harum bunga sebar/Indahnya mekar/Dimana-mana/Sadarlah puspita/sadarlah harummu tak selamanya..." Paham maksudnya? Mari kita terjemahkan secara sederhana.

Pernahkah melihat bunga mawar yang bersemi di pekarangan rumah kita, yang tumbuh secara alami dan mengisi halaman rumah kita begitu saja, tumbuh dan mekar selama setahun penuh? Atau, setengah tahun mungkin? Satu bulan? Atau hanya mekar selama satu minggu? Begitulah Sahabat Manyar sekalian.

Bunga-Sahabat Manyar sendiri-memiliki batas waktu untuk menunjukkan kecantikan, pesona, potensi diri sebagai kaum hawa. Sahabat Manyar selalu dibayang-bayangi waktu. Usia sekian mulai baligh, usia sekian masuk waktu pingitan (khusus bagi sebagian kalangan tertentu), usia sekian masa menikah, usia sekian harus punya anak, usia sekian harus begini, usia sekian harus begitu, dan usia-usia sekian Sahabat Manyar harus begini dan begitu. Sadarkah? Kaum hawa selalu dikejar waktu. Kesalahan di salah satu periode usia akan menghancurkan, secara probabilitas (celah kemungkinan), kehidupan Sahabat Manyar di periode berikutnya. Kegagalan mendidik Sahabat Manyar sebagai perempuan yang baik-baik sejak kanak-kanak akan menjadikan hambatan bagi Sahabat Manyar ketika mulai memasuki tahap penjajakan cinta. Tanpa bermaksud kasar, bukankah keperawanan seorang perempuan menjadi simbol kesucian mereka? Dan masyarakat kita dengan etika dan moralitas ketimuran mereka memegang erat nilai-nilai moral kesusilaan. Mereka memberikan label perempuan tanpa keperawanan sebagai perempuan yang tidak baik, perempuan nggak beres, dan berbagai sebutan kasar lainnya. Sekali lagi, saya tidak bermaksud bersikap kasar dan rasis atau sebatas diskriminatif pun tidak. Bukankah ini realitas? Dan ayah-ibu Sahabat Manyar tak ingin ini terjadi pada Sahabat Manyar.

Pagi-sore, siang-malam, pikiran dan hati mereka dipenuhi ketakutan akan kegagalan hidup Sahabat Manyar di masa remaja atau di tahapan kehidupan lainnya yang Sahabat Manyar jalani saat ini. Mereka sekeras mungkin menjaga agar putri kesayangan mereka, putri kebanggaan mereka tidak tergelincir pada kebahagiaan dunia yang semu. Bagaimana tanggapan kita? Marah? Kabur dari rumah? Sahabat Manyar, kita sering kali tidak bica membaca isyarat cinta mereka. Begitulah kita sebagai anak muda, sebagai tunas muda. Ego keremajaan kita sering kali melupakan jasa mulia orang tua kita yang mati-matian setiap detik menjauhkan setan-setan busuk menyesatkan kehidupan kita. Bagaimana tanggapan kita? Memaki? Memarahi? Sahabat Manyar, hampir dipastikan, begitulah diri kita...
***
Marilah di pintu Ramadhan 1434 H yang mulia ini, kita sadari : ketegasan orang tua Sahabat Manyar selama ini bukan untuk diri mereka semata. Bukan untuk kehormatan mereka. Lebih penting lagi, DEMI KEHORMATAN DAN KEBAHAGIAAN HIDUP SAHABAT MANYAR. Mereka melarang Sahabat Manyar mengendarai motor, atau setidaknya bersikap ugal selama mengendarai motor, karena tak ingin putrinya buntung karena kecelakaan lalu lintas. Secara umum, lelaki mana atau mertua mana yang rela menantu perempuan mereka cacat fisik? Orang tua mana yang ingin melihat anak gadisnya kehilangan kecantikan mereka karena kehilangan anggota tubuhnya akibat kecelakaan?

Mereka melarang Sahabat Manyar berpacaran, karena masih SMP, SMA, atau alasan tertentu, karena ayah-ibu Sahabat Manyar tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi dan mengoyak keindahan masa depan Sahabat Manyar. Yakinkah cinta yang Sahabat Manyar temui saat ini adalah cinta yang sejati? Jika tidak, mengapa memberikan bulat-bulat cinta itu pada 'sang penggoda kumbang-kumbang nakal' yang datang dengan topeng cintanya pada Sahabat Manyar? Jika Sahabat Manyar yakin dia cinta sejati, akankah abadi pertalian kasih itu hingga biduk rumah tanggga yang sah terjalin dalam ijab-qabul yang penuh dengan do'a? Jika tidak, bagaimana bisa merelakan sebagian keindahan Sahabat Manyar berpindah pada orang yang Sahabat Manyar kasihi sementara ia tak memiliki kepastian bisa mendampingi sampai saat terindah itu tiba? Sampai lembaran album perkawinan itu terjadi?

Waktu adalah milik Tuhan dan kita adalah makhluk-makhluk lemah yang senantiasa dipapaskan pada keterburuan. Jangan biarkan ketergesaan menghancurkan diri Sahabat Manyar. Jangan biarkan dunia melenakan Sahabat Manyar. Jangan biarkan cinta membutakan kasih sayang tulus orang tua yang diberikan secara utuh pada Sahabat Manyar. Siapa lagi yang siap menampung air mata patah hati kita suatu saat nanti-naudzubillah-selain orang tua Sahabat Manyar sendiri? Siapa yang bersedia mendengar keluh kesah Sahabat Manyar, di Bumi ini, makhluk ciptaan Tuhan, selain orang tua Sahabat Manyar? Sebelum kematian memanggil mereka, menyimpan mereka dalam pelukan Bumi yang hangat, sayangilah mereka! Hargailah ketegasan mereka pada hidup Sahabat Manyar! Barangkali, tanpa ketegasan mereka, Sahabat Manyar bukan lagi setangkai tunas mawar yang mempesona, yang mengagumkan dan mengundang pujian seisi dunia. Barangkali...

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1434 H, Sahabat Manyar! Semoga Ramadhan tahun ini memberikan keberkahan bagi kehidupan kita semua, dan yang tak kalah penting : bagi kehidupan ayah-ibu kita. Berdo'alah demi kesejahteraan dan kebahagiaan orang tua Sahabat Manyar di dunia dan akhirat. Sejauh ini, hanya hal itu yang bisa kita lakukan untuk membalas kebaikan dan pengorbanan mereka pada diri Sahabat Manyar saat ini. Hanya ini. Ya, hanya ini...

Sampai jumpa!

NB : Hampir lupa. Untuk Sahabat Manyar, ladies and gentleman, yang ingin menyimak indahnya tembang Setangkai Tunas karya Ira Maya Sopha, silahkan simak streaming di bawah ini. Semoga bermanfaat!

Spoiler for Setangkai Tunas oleh Ira Maya Sopha (Album BALADA, 1984):

Sumber Gambar :
  1. I4PC dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar
  2. Tembang Kenangan - Ira Maya Sopha - Balada



Anda Sedang Membaca: [Khusus Cewek] Ranting Tua Itu... Ayah-Ibu Kita! : Pesan Moral Tembang "Setangkai Tunas"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...