Senin, Juli 29, 2013

Kau Ketuk Kami

Engkau Dzat Penerang Jalan Kami Jejak Manyar
Nikmat Mana Lagi Yang (Bisa) Kami Ingkari?
Lama kami meninggalkan kenangan kami tentangMu
Dan...
Kau ketuk pintu hati kami, Ya Rabb
   yang angkuh memandang barzah
   yang sombong merengkuh dunia
Kau ketuk ia. Dengan cinta yang memelita

Lama kami melupakan kehadiran DzatMu
Dan...
Kau ketuk mata hati kami, Ya Allah
   yang silap mengejar harta
   yang bakhil sekedar menderma
Kau ketuk ia. Dengan kemurahan rizki yang setia

Terlalu lama kami mengacuhkan sinar terangMu
Dan...
Kau ketuk jalan hidup kami, Ya Kariim
   yang sesat menapaki bumi
   yang bodoh menghiasi hari
Kau ketuk ia. Dengan petunjuk dan hidayah nan bergelora

Ya Ghaffar...
Untuk alasan apakah kini kami mengabaikanMu?

Sumber Gambar : Wholles dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, Juli 26, 2013

"Jebakan" di Bulan Ramadhan - Jum'at Ketiga Ramadhan 1434 H

Bersiagalah, Kawan!
Ramadhan's Traps
ALHAMDULILLAH, kita sudah tiba di Jum'at ketiga bulan Ramadhan 1434 H. Artinya, kita sudah sampai di pertengahan Ramadhan yang penuh rahmat ini. Artikel sebelumnya kita sudah membahas seputar solidaritas sosial yang terkandung dalam ibadah puasa Ramadhan dan shalat tarawih. Sebelumnya, dua Jum'at yang lalu, kita sudah membahas hari-hari mulia yang terkandung dalam bulan Ramadhan. Hm... kira-kira, topik apa yang tepat untuk pertemuan kita kali ini? Hm... Bagaimana kalau soal jebakan? Yap! "Jebakan." Tapi, bukan sembarang jebakan. "Jebakan" ini khusus kita jumpai di bulan Ramadhan, khususnya. Penasaran? Mari kita mulai topik kita kali ini. Silahkan dibaca, Sahabatku! ^^
***
'Puasa adalah menahan diri dari hawa nafsu.' Itu konsep besar yang melekat di otak kita, maksudnya Sahabat Manyar yang berusia di atas 13 tahun atau sekitar usia sekolah menengah pertama (SMP) ke atas. Mengapa? Karena kajian keagamaan di tingkat ini mulai kompleks. Begitu menurut pengalaman saya dulu saat sekolah. Ketika sekolah dasar (SD), kita hanya mengenal puasa sekedar menahan makan dan minum dari imsyak sampai maghrib, meskipun buku-buku diktat kita mengajarkan lebih dari itu. But, children's mind. Kepolosan mereka belum mengenal arti lebih dalam puasa Ramadhan.

Ketika SMP barulah kita didadar lebih keras lagi. Buku-buku literatur pendidikan agama kita merinci berbagai dasar hukum soal puasa Ramadhan, pahala, larangan, dan ancaman bagi pelanggarannya. Kebiasaan makan diam-diam saat SD menjadi kenangan masa silam ketika SMP. Kita mulai belajar mengerem ucapan. Walaupun, sebatas bulan Ramadhan saja. Tapi, manusia tetap manusia. Selalu saja beberapa di antara mereka terperosok dalam celah-celah tertentu.

Nah. Saya hidup di Bumi kurang lebih sudah 22 tahun. Sepanjang usia ini, segudang hal membuat saya berpikir, merenung, dan menemukan sebuah petak-petak "muslihat". "Jebakan," istilah lainnya. "Jebakan" ini memiliki beragam wajah. Secara umum, "jebakan" ini terdiri dari dua kata, empat suku kata, lima konsonan dan empat vokal, dengan beberapa makna. Kita lazim menyebutnya : HAWA NAFSU.

Hawa nafsu terdiri dari kata 'hawa' dan 'nafsu.' Bicara tentang hawa, terdapat beberapa makna yang bisa kita tangkap. Pertama, bunda umat manusia dan istri dari Nabi Adam A.S. Kedua, kaum wanita atau perempuan. Ketiga, udara atau campuran dari berbagai gas. Keempat, nafsu atau keinginan.

Nafsu sendiri memiliki makna 'keinginan atau kecenderungan atau dorongan hati yang kuat, dorongan hati yang kuat untuk berbuat sesuatu yang buruk, selera atau gairah atau keinginan makan, dan keadaan panas hati atau marah atau geram.' Bisa disimpulkan hawa nafsu adalah keinginan yang kuat untuk melakukan keburukan. Demikian pemahaman dari kata per kata tersebut. Sederhananya.

Bulan Ramadhan adalah bulan pengekangan hawa nafsu. Sebagai bulan pengekangan hawa nafsu, kita jumpai banyak "kelucuan" yang dilakukan manusia. Hal itu timbul tak lain karena manusia masuk dalam "jebakan." Terperangkap. Maka, perlu dipertanyakan : puasakah mereka hari itu?
***
Ada beberapa "jebakan" yang sangat lazim terjadi di bulan Ramadhan. Secara umum, saya kelompokkan berdasarkan organ tubuh yang masuk ke dalam "jebakan" tersebut. Dari keseluruhan anggota tubuh yang ada, saya bagi menjadi tiga kelompok besar : Kepala, Alat Gerak, dan Hati. Ketiga anggota tubuh ini yang sering terjebak di bulan Ramadhan. "Jebakan" seperti apa yang mengancam masing-masing anggota tubuh kita tersebut? Simak berikut ini.
Buat Sahabat Manyar yang merasa cowok atau laki-laki atau pria atau kaum adam atau gentlemen. Bayangkanlah :
Ada seseorang perempuan idaman Sahabat berdiri di depan tubuh Sahabat...
Cantik.... ramah... baik hati...
Wajah manis... anggun... sangat mempesona...
Rambut diurai...
Tersenyum di depan kalian sekarang juga..."
Sudah Terbayangkan? Jejak Manyar
Jelita Idaman
Sudah bisa dibayangkan? Tahan sebentar! Sekarang giliran Sahabat Manyar yang merasa cewek atau perempuan atau wanita atau kaum hawa atau ladies. Bayangkanlah :
Ada seorang laki-laki. Idaman Sahabat... seorang laki-laki macho,...
Wajah tampan dan manis,... ramah...
Senyum memikat,...
Kesan rendah hati terpancar dengan begitu jelas,...
Dan sekarang... dia berjalan mendekati Sahabat! Lalu dia tersenyum... maniiiis sekali!
Dan dia menganggukkan diri tanda dia begitu menghormati Sahabat."
Sudah terbayang sosok laki-laki dimaksud? Sudah? Bagaimana? Tampan sekali, bukan? Dapat gambarannya? Tahan dulu. Imajinasikan terus dalam pikiran Sahabat.

Sekarang giliran para ikhwan dan akhwat yang masih mencari sosok akhwat atau ikhwan idaman. Bayangkan sekarang juga :
Ada sesosok akhwat atau ikhwat yang Sahabat ikhwan dan akhwat idam-idamkan, dia benar-benar muncul saat ini! Persis tiga meter di depan Sahabat....
Senyumnya memikat... Baik hati...
Busananya memukau walau terkesan sederhana.
Wajahnya teduh,... aura agamis kental dari sosok yang ada di hadapan ikhwan dan akhwat sekarang itu."
Bayangkan Mereka! Jejak Manyar
Rupawan Pujaan
Bayangkan. Bayangkan! Bayangkanlah terus. Sudah? Sudah terbayang jelas?

Nah, sekarang, buat Sahabat Manyar yang cowok, masih ada 'kan sosok cewek pujaan Sahabat? Buat Sahabat Manyar yang cewek, sosok cowok gantengnya masih jelas kan? Buat ikhwan dan akhwat, bagaimana? Sudah tergambar sosok akhwat dan ikhwan idaman Sahabat? Semua sudah dapat gambaran sosok-sosok yang rupawan itu? Menarik, bukan? Tampan dan cantik, bukan? Bayangkan dia benar-benar ada di hadapan Sahabat Manyar sekarang juga. Persis! Persis di hadapan Sahabat! Ah, dialah dewa atau dewi yang selama ini Sahabat Manyar nanti-nantikan. Benar, bukan

Pertanyaan saya : kira-kira sudah berapa anggota badan Sahabat Manyar yang masuk "jebakan"? Hahahahaha... Bingung? Saya yakin Sahabat Manyar tidak paham atau setidaknya belum sadar. Kita bahas berikut ini."
Seandainya Sahabat Manyar benar-benar mengikuti kegiatan imajinasi di atas, organ tubuh atau anggota badan Sahabat Manyar yang masuk "jebakan" dua. Apa saja? Pikiran dan hati. Pikiran berkaitan dengan stimulus atau rangsangan atau sugesti yang saya tuliskan di atas. Hati? Tentu saja perasaan senang akan sosok perempuan atau laki-laki atau akhwat maupun ikhwan idaman Sahabat Manyar di atas. Ingat, itu baru sebatas imajinasi. Seandainya pertemuan Sahabat Manyar dengan sosok idaman itu terjadi di dunia nyata, riil, bukan sekedar bayangan, organ atau anggota badan mana saja yang masuk "jebakan." Jawabannya simpel : banyak! Mulai dari mata, mulut, telinga, pikiran, hati, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya.

Mata, Sahabat Manyar terpesona memandangi sosok idaman Sahabat itu. Wajahnya yang membuat Sahabat Manyar terlena, tubuhnya yang membuat Sahabat Manyar tak sabar ingin berdampingan di pelaminan dengannya. Mulut, Sahabat Manyar tanpa terasa mengucapkan sesuatu yang memuji sosok idaman Sahabat Manyar itu. Entah wajah cantiknya, entah gaya lakunya yang menawan. Entah suaranya yang merdu, entah senyumnya yang tulus. Telinga? Sahabat Manyar mendekatkan telinga Sahabat hanya untuk mendengar suaranya yang merdu, yang enak didengar.

Tangan Sahabat Manyar terjulur, ingin berkenalan. Kaki Sahabat Manyar mengantarkannya ke tempat yang ia ingin tuju. Hati dan pikiran? Sahabat Manyar lebih tahu daripada saya ;)

Bagaimana? Dari satu kejadian saja sudah banyak "jebakan" yang "memakan" kita. Ini baru sekedar sosok lelaki atau perempuan atau akhwat atau ikhwan idaman, sosok yang ingin Sahabat Manyar jadikan kekasih, suami atau istri, ayah atau ibu bagi anak-anak Sahabat Manyar. Masalah akan bertambah ketika sosok itu pacar Sahabat Manyar, saat bulan puasa, mengajak Sahabat Manyar pergi kencan atau ngapel. Masalah bertambah lagi.
***
Bagaimana dengan kejadian atau sosok yang tak kita sukai? Itu "jebakan" juga untuk kita. Mulut kita tak segan menjelek-jelekkan, mengumbar isu, mengumpat. Tangan kita tak segan memukul. Kaki kita tak segan menendang hal-hal yang tak kita sukai itu. Begitu banyak "jebakan," bukan? Pertanyaan saya sekarang : sampai hari ini, Sahabat Manyar masuk "jebakan" apa saja? Congratulations, Sahabat Manyar sudah masuk dalam... Ramadhan's Traps! Hahahaha...

Begitulah kurang lebih. Esensi puasa kita untuk menahan hawa nafsu ternyata seringkali jebol karena ketidaksadaran kita dengan hawa nafsu di sekitar kita. Ini sebatas yang lazim. Yang tak lazim masih banyak, seperti melihat gambar-gambar atau video maksiat. Paham maksud saya, bukan? Atau malah barangkali ada yang dengan sintingnya berhubungan badan di siang hari, bahkan dengan pasangan yang bukan muhrim dan yang haram untuk dikawini. Innalillahiwainnaillahirojiun... Semoga saja sebatas bayangan buruk semata.
***
Sabar Aja Boy! ^^ Jejak Manyar
Jaga Hati+Jaga Diri=Sukses Ramadhan
Tulisan ini saya buat bukan untuk berceramah karena saya sendiri toh masih belum bisa melawan hawa nafsu secara sempurna. Saya menulis artikel ini semata-mata menjadi pengingat bagi diri saya sendiri, khususnya, untuk senantiasa menjaga puasa saya. Agar saya senantiasa mempertahankan maksud dan tujuan saya puasa. Jika tidak, bukan hal aneh jika puasa Ramadhan saya selama kurang lebih 30 hari ini hanya mendapat lapar, haus, dan letih lesu semata. Ironis bukan di hari-hari bulan Ramadhan yang mulia hanya mendapat lapar, haus, dan letih lesu? Sebuah perjuangan yang sia-sia dalam pertempuran kita selama sebelas bulan ke depan, sampai Ramadhan tahun depan.

Semoga artikel Jejak-Jejak Manyar kali ini memberikan manfaat bagi saya, Sahabat Manyar sekalian, serta keluarga, dan saudara muslim dan non-muslim kita dimanapun berada. Kebenaran hakiki semata milik Allah SWT., Dzat Yang Maha Besar, Sang Illahi Robbi. Saya hanya menguasai sepersekian milyar-atau bahkan kurang-kebenaran nisbi. Andai kata ada diksi yang keliru atau hal-hal yang tak menyenangkan, saya minta maaf. Kesalahan adalah milik manusia, khususnya saya sebagai muslim yang senantiasa harus terus belajar.

Selamat malam, Sahabat Manyar. Salam sukses. Selamat berbuka puasa!

NB : Jika Sahabat Manyar jeli, pasti merasa aneh mengapa artikel tentang Jum'at Bulan Ramadhan kali ini muncul menjelang atau bahkan saat berbuka puasa. Benar? Sengaja saya buat demikian agar tulisan ini tidak membuat batal atau "sekedar" mengurangi amalan puasa Sahabat Manyar hari ini. Lupa ya ada sugesti sableng di atas? Hehehe... Seandainya saya publish tadi pagi atau siang hari, saya pasti digugat di akhirat nanti dan dituduh menjadi dalang berkurangnya pahala atau batalnya puasa Sahabat Manyar karena tulisan ini. Jadi, harap maklum. That's my reason. ^^

Sumber Gambar :
  1. Dokumentasi Pribadi
  2. G.A.T.E.L dan muslim dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar
  3. menjelma dan Earn Money for Sharing File dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar

*READ MORE PLEASE :
  1. Buat yang belum tahu artikel Jum'at minggu lalu, silahkan klik link berikut ini : 1) Hari-Hari Yang Mulia - Jum'at Pertama Ramadhan 1434 H dan 2) Puasa-Tarawih dan Solidaritas Sosial - Jum'at Kedua Ramadhan 1434 H
  2. Silahkan cek label RAMADHAN untuk membaca artikel seputar bulan Ramadhan dan label ISLAM untuk artikel terkait seputar Islam. Selamat membaca! ^^
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Rabu, Juli 24, 2013

Pelabuhan Kelak

Persinggahan Terakhir Jejak Manyar
Kita Pasti Kan Kembali
Dan kita adalah perahu-perahu
Gelombang menggiring kita menjauh,
   Angin menyeret kita bergerak : Menuju pelabuhan kelak

Suara camar. Suara ilham yang menyadar
Apakah gulana?
Apakah derita?
Bukankah Ia milik kita?
Untuk apa nestapa?

Suara pagi. Suara asa menepi dan berapi
Apakah bah'gia?
Apa pula gelak bahana?
Bukankah kita milikNya?
Lenakah oleh dunia?

Suara senja. Suara perhentian kita
Batas sudah memapas
Langkah seteguk nafas
Rindu yang kita simpan berjuta depa
Kini merengkuh di depan mata :
   Ya Allah, terimalah kami di pangkuanMu
   Bukankah kami umatMu yang rapuh?
   Apalah daya tanpa rahmatMu....

Suara kata. Suara pujaan hikmah
Tak perlu mengeluh,
Tak perlu menyumpah
Perjalanan kita pasti berakhir jua
Bukankah di dermaga nanti
   Kau dan aku 'kan berjumpa lagi?
   Untuk apa meratap seperti bayi?
Tersenyumlah
Tersenyumlah
Allah di sampingMu bersama
Aamiin...

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Senin, Juli 22, 2013

Senja Taman Kota

Potret Kelabu Kotaku
Tudingan Menyisihkan Mereka
Di mataku
Pemandangan itu bergulir satu per satu
Sosok-sosok kumal,
   mata sayu dan keruh,
      keringat menetes dari wajah berdebu
Tangan mereka menadah meminta
Kata-kata mengiba. Raut sendu meraba
Dan, selalu sama : bertelapak tangan menolak mereka

Dan
Di telingaku
Kata-kata itu berngiang dengan inti yang sama
'Mereka penipu,'
   'mereka pemalas
       mereka, pengganggu,'
          dan berbagai 'mereka' yang membuat telingaku buntu
Aku hanya ingin tahu :
Kebenaran apa yang membuat mereka berkata seperti itu?
Mereka tahu
   atau sebatas prasangka bisu?

Sekilas lalu
Matahari lelap dalam haru
Ku langkahkan kakiku
Menuju rumahku
Dengan kegelisahan di kalbu :
Apa guna puasa jika curiga masih menggila?
Dan padamu...
   ...ku tanyakan itu!

Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, Juli 19, 2013

Puasa-Tarawih dan Solidaritas Sosial - Jum'at Kedua Ramadhan 1434 H

Kebersamaan Dalam Puasa & Tarawih Jejak Manyar
Hikmah
AKHIRNYA kita berjumpa lagi di hari Jum'at kedua di bulan Ramadhan yang mulia ini. Sebelumnya kita sudah mengupas sedikit soal kemuliaan yang terdapat pada hari-hari di sepanjang bulan Ramadhan dan mengapa bisa menjadi seperti itu [Klik di sini--->> Hari Mulia Di Bulan Ramadhan<<---bagi yang belum membaca]. Sekarang saya mau berbagi seputar ibadah puasa dan shalat tarawih di bulan Ramadhan ini dan kaitannya dengan solidaritas sosial. Memangnya ada kaitannya? Nah, kalau sudah baca posting hari Jum'at kemarin insya Allah sedikit banyak tahu korelasinya apa. But, in this chance I want to discuss with all of you about it. So, let's talk about it.
***
Sahabat Manyar, menurut Sahabat sekalian, untuk apa kita perlu puasa dan shalat tarawih di bulan Ramadhan? Pahala? Perintah Allah SWT.? Demi kesehatan? Memuliakan bulan yang mulia ini? Yap! Sejauh ini alasan-alasan itu bisa diterima. Ada lagi? Nah! Itu juga benar : meningkatkan solidaritas sosial.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), solidaritas diartikan sebagai 'sifat atau perasaan solider, sifat satu rasa atau senasib dan sebagainya, atau perasaan setia kawan.' Agak mundur sedikit, solider diartikan sebagai 'bersifat mempunyai atau memperlihatkan perasaan bersatu, seperti senasib, sehina, semalu, dan sebagainya atau semacam rasa setia kawan.' Lebih ke belakang lagi, solid berarti 'kuat, kukuh, berbobot, padat, atau berisi.' Kesimpulannya, solidaritas adalah sifat, perasaan atau (menurut saya) keadaan perasaan yang kuat, kokoh, penuh makna dalam diri manusia.

Kok banyak sekali pengertiannya? Tentu saja. Akar dari solidaritas adalah solid dan dalam pengertian solidaritas kita menemui istilah solider. Untuk memberikan pemahaman yang utuh, kita harus tahu semuanya. Supaya pemahaman kita tidak dangkal. Sudah mengerti?

Sekarang pengertian sosial. Sosial dalam KBBI diberi arti 'berkenaan dengan masyarakat atau suka memperhatikan kepentingan umum, seperti suka menolong, menderma, dan sebagainya.' Kalau digabungkan antara kata solidaritas dan sosial, maka arti solidaritas sosial adalah sifat, perasaan, atau keadaan perasaan yang sangat kuat dan bermakna dalam diri manusia untuk merasa atau menganggap keadaannya sama atau senasib dengan orang lain atau masyarakat. Itu konsep solidaritas sosial dari saya. Lalu, dimana sisi solidaritas puasa dan shalat tarawih? Come on and we talk about it.
***
Pertama, kita bedah dulu puasa. Kalau ibadah yang satu ini, saya yakin Sahabat Manyar sudah paham dimana letak solidaritas sosialnya. Secara umum, ibadah puasa mengharuskan kita untuk menahan diri dari makan, minum, dan tindakan-tindakan lainnya yang dapat membatalkan bahkan mengurangi nilai puasa kita. Tujuannya? Khusus dengan tema kita saat ini, solidaritas sosial, tidak lain adalah mengajarkan kita tenggang rasa dan empati terhadap penderitaan kaum dhuafa dan "orang-orang yang tidak memiliki apa yang kita miliki." Selama sebelas bulan yang lalu, kita, orang-orang berpunya tercukupi dalam memenuhi kebutuhan harian kita. Makan? Tinggal buka rice cooker atau magic jar. Haus? Buka kulkas, ambil gelas. Khusus Sahabat Manyar yang sudah menikah, setiap kali merasakan 'kebutuhannya' bisa meminta kepada pasangannya setiap kali ada kesempatan. Sekarang, bayangkan orang-orang yang ada di sekitar kita : fakir miskin, yatim piatu, tuna wisma, sampai pada jejaka atau dedara yang tak bisa membangun sebuah keluarga karena kendala biaya. Harus kemana mereka menyalurkan kebutuhan mereka? Makan? Minum? Bercinta? Bukannya porno, ini realita. Harap memakluminya.

Pesan Agung Di Belakang Jejak Manyar
Siapa Bilang Puasa Hanya Untuk Lapar?
Puasa mengajarkan kita untuk berempati pada itu semua WALAUPUN hanya setengah hari. Di luar sana, ada pemulung yang tak makan lebih dari sehari karena tak memiliki uang. Mungkin, ada sebagian di luar sana yang untuk minum pun harus mengambil dari air sungai yang keruh hanya karena tak ada fasilitas untuk mendapat air yang bersih dan untuk membelinya begitu mahal. Di luar sana, ada begitu banyak laki-laki dan perempuan yang menunggu diri jodoh mereka dengan segenap hati : menerima kekurangan diri mereka. Entah mengalami kecacatan, entah menderita kemiskinan. Atau sebab-sebab lain yang kita tak tahu pasti. Di sanalah kita diajak menanamkan rasa solidaritas sosial dan empati kepada mereka. Selama sebelas bulan yang lalu kita mentang-mentang :
  1. Mentang-mentang punya harta, memborong makanan berkeranjang-keranjang sementara seorang pengemis tua memohon sedekah Rp. 500,00 (lima ratus rupiah) pun kita tak sudi memberinya.
  2. Mentang-mentang punya duit, seruput berbagai jenis minuman mahal di mall-mall tak pikir-pikir, sementara anak kecil terpaksa mengemocengi mobil kita di lampu merah kita tak peduli.
  3. Mentang-mentang punya kekasih jelita atau gantengnya nauzubillah, kita peluk cium di tempat umum. Tak sadar sekian langkah dari situ seorang pemuda, atau pemudi, merasa iri dan rendah diri karena tak seorangpun sudi menjadi kekasih mereka karena kemiskinannya.
  4. Mentang-mentang punya suami atau istri, gandengan tangan kesana-kemari. Tak menyadari beberapa meter dari sana seseorang mengelus hati karena tak kunjung menikah. Masih mengumpulkan biaya.

Untuk inilah kita puasa. Ya. Untuk inilah Allah SWT. memerintahkan kita puasa di bulan Ramadhan. Melatih solidaritas sosial, empati kita. Sayang sekali kalau kita masih beranggapan semua ini-puasa Ramadhan-hanya untuk menahan makan dan minum atau semata-mata hanya tanda taqwa. Padahal, ada sejuta makna yang terdalam dalam ibadah mulia kita ini.

Ada yang tidak setuju, Sahabat Manyar, dengan pandangan saya? Silahkan kirim komentar di bawah ya. Sekarang, kita bedah shalat tarawih.
***
Shalat Tarawih Yuk! Jejak Manyar
Ada Barokah Dari
Setiap Shalat Tarawih Kita
Sekarang yang kedua : Shalat Tarawih. Dari segi waktu, shalat tarawih hanya dan akan selalu ada di bulan Ramadhan. Seperti lazimnya, shalat tarawih akan disambung dengan shalat witir. Karena kekhususan waktunya, saya hanya akan mengulas seputar shalat tarawih dan kaitannya dengan solidaritas sosial. Untuk bilangan rakaat, silahkan tanya Pak Ustadz ya? Saya tidak mumpuni di bidang dalil-dalil naqli. Daripada salah?

Kehidupan di zaman globalisasi ini menuntut manusia untuk senantiasa kerja keras. Berangkat pagi, pulang malam. Urusan manusia yang semula begitu kompleks dipadatkan hanya menjadi dua : rumah dan tempat kerja. Tak ayal kebutuhan lingkungan sekitar kita sering terabaikan. Bahkan shalat berjamaah lima wakktu pun seakan tak sempat untuk melaksanakannya di masjid sekitar rumah. Benar, bukan?

Shalat tarawih sebagai shalat yang langka, yaitu shalat yang hanya ada di bulan Ramadhan, disediakan Allah SWT. untuk memperkuat tali silahturahmi antara diri kita dan tetangga-tetangga di sekitar kompleks tempat tinggal kita. Di hari-hari sebelum bulan Ramadhan, silahturahmi kita "hanya disediakan" dalam shalat Jum'at yang sifatnya wajib di dalam sebuah majlis Jum'at dalam sebuah masjid. Lalu, mengapa shalat tarawih bisa menjadi silahturahmi? Bukankah sifatnya sunnah? Seandainya seseorang tidak menjalankannya, maka usaha memperbaiki silahturahmi tidak akan tercapai, bukan? Kesimpulan yang benar, untuk sebagian.

Sudah baca artikel sebelumnya tentang alasan bulan Ramadhan berisi hari-hari yang mulia, bukan? Sebagai bulan mulia dengan hari-hari yang mulia, bulan Ramadhan mengajak kita untuk giat beribadah. Sebagai orang yang sadar, shalat tarawih adalah salah satu ibadah di bulan Ramadhan yang dapat memberikan kita pahala yang besar jika mengamalkannya. Dan sebagai orang yang sadar juga, selelah apapun kita sepulang kerja, kita tidak akan menyia-nyiakan peluang investasi pahala ini. Termasuk kita tidak akan meninggalkan shalat tarawih hanya dengan alasan lelah setelah beraktifitas seharian. Dan kita pun akan terdorong untuk pergi menunaikannya. Di sinilah sisi pendorong kemuliaan Ramadhan terhadap pelaksanaan berbagai ibadah di bulan Ramadhan.

Mungkin ada pertanyaan lain : jika bulan Ramadhan penuh dengan kemuliaan, dan setiap ibadah mendapat ganjaran pahala yang besar, bukankah shalat jama'ah pun mendapat ganjaran yang besar? Lalu, bukankah itu juga menjadikan seseorang giat berjama'ah dalam shalat lima waktu di masjid atau mushalla sekitar tempat tinggal kita? Benar. Masalahnya : sempatkah? Pertanyaan ini harus kita ajukan pada orang-orang yang terkungkung rutinitas akademik dan kerja. Mahasiswa, karyawan, direksi, buruh. Sempatkah mereka meluangkan waktu di tengah-tengah jebakan waktu kerja yang padat? Kalau mau idealis, seharusnya sempat. Realistis? Tak semudah itu. Shalat tarawihlah satu-satunya peluang yang paling memungkinkan untuk shalat berjama'ah di lingkungan tempat tinggal kita.

Sekarang masuk kajian solidaritas sosialnya. Dimana? Di bagian mana? Alhamdullilah sudah saya bahas dalam artikel Alhamdulillah, Jum'at yang Berkesan... ^^ - Bagian Kedua (Habis) (Agar lebih paham, silahkan baca juga artikel : Alhamdulillah, Jum'at yang Berkesan... ^^ - Bagian Pertama) bahwa dalam shalat ada beberapa keadaan atau sikap yang sifatnya esensial. Salah satu, SALAM.

Gerakan salam, mengucapkan do'a keselamatan dan memalingkan wajah ke sisi kanan dan kiri, adalah bentuk solidaritas sosial kita. Sebuah sikap mendo'akan kesejahteraan bagi orang-orang di sisi kanan dan sisi kiri kita. Di sini dalil aqli gerakan salam sekaligus alasan mengapa shalat berjama'ah bisa memberikan kita ganjaran kebaikan 27 derajat dibandingkan salah sendirian atau munfarid yang hanya satu derajat kebaikan. Menurut saya demikian.

Di luar gerakan shalat, sesuai adat dan kebiasaan masyarakat Timur, setiap kali pertemuan dengan orang yang kita kenal, khususnya, mendorong kita untuk menyapa bahkan menjabat tangan untuk bersalaman. Dalam menjalankan ibadah shalat tarawih, pertemuan dengan tetangga-tetangga di sekitar kita tak ayal akan terjadi. Saling bersalaman, saling sapa, saling senyum akan memperkuat tali persaudaraan di antara umat Islam. Ukhuwah Islamiyah akan semakin kokoh : poin paling utama dalam membangun solidaritas sosial.

Ada lagi? Apakah ada lagi alasan terbangunnya solidaritas sosial "hanya" dengan shalat tarawih? Ada. Hal ini sebagian besar dapat terjadi pada jama'ah tarawih yang melaksanakan ibadah tersebut dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan antara jama'ah satu dan jama'ah lain, baik perjalanan berangkat maupun sepulang menjalankan shalat tarawih, akan berbincang satu sama lain tentang berbagai hal. Di sinilah tali silahturahmi terjalin kembali. Untuk yang berkendara? Masih bisa. Contohnya? Seperti alinea di atas, kebiasaan menyapa menjadi adat dan kebiasaan masyarakat Timur. Selain itu, menawarkan tumpangan juga menjadi sarana efektif dalam meningkatkan hubungan persaudaraan dengan tetangga sekitar kita.

Sampai di sini apakah Sahabat Manyar punya pendapat berbeda? Silahkan di-share di kolom komentar ya bagi Sahabat Manyar yang memiliki pandangan lain seputar ibadah puasa Ramadhan dan shalat tarawih dihubungkan dengan solidaritas sosial. Berbagi ilmu itu sama dengan belajar dan belajar itu mendapat pahala juga lho?
***
Nah, bagaimana? Sudah puas dengan artikel kali ini? Semoga sedikit ulasan dari saya memberikan semangat bagi kita untuk melewati bulan Ramadhan tahun ini dengan penuh harapan dan kebaikan. Tulisan ini dan tulisan-tulisan lain dalam situs blog ini secara murni gagasan dan analisis saya pribadi. Mohon untuk rujukan ibadah lainnya bisa disandingkan dengan sumber-sumber lainnya untuk lebih memberikan validitas (tingkat kebenaran) yang terpercaya dengan dalil-dalil naqli yang sahih. Tujuan saya hanya mendorong kita semua untuk berpikir bebas dalam koridor keislaman. Jangan pernah terjebak pada ritual tanpa pemahaman akan esensi amal! Kita manusia, bukan zombi. Bulan Ramadhan diciptakan untuk mencerdaskan manusia, bukan membodohi kita dalam perdebatan ritualistik yang tidak perlu. Sepakat?

Sekian dulu pertemuan kita di Jum'at yang berkah ini. Semoga Allah SWT. memberikan kebaikan pada kita sampai berakhirnya Ramadhan nanti dan memberikan petunjuk dalam kehidupan kita semua dalam mengarungi dan menghabiskan usia kita di dunia yang semu ini. Aamiin.

Sumber Gambar :

*READ MORE PLEASE :
  1. Buat yang belum tahu artikel Jum'at minggu lalu, silahkan klik link berikut ini : Hari-Hari Yang Mulia - Jum'at Pertama Ramadhan 1434 H
  2. Silahkan cek label RAMADHAN untuk membaca artikel seputar bulan Ramadhan dan label ISLAM untuk artikel terkait seputar Islam. Selamat membaca! ^^
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Rabu, Juli 17, 2013

Menjelang Buka

Dilema Bulan Ramadhan
Potret Pilu
Seorang perempuan muda terduduk lesu
Gadis kecil di pangku
   dan bayi mungil yang terlelap sayu
   terkucil di tepian jalan dengan wajah layu
Maghrib sesaat kan menggema
Sementara itu :
   lapar meneguh di perut mereka
Sementara itu :
   lapar mengelus kesabaran mereka
Sementara itu :
   mereka terpenjara di kepapaan yang gulita
"Harus tak berbuka lagikah hari ini?"
   sembari mengenang sebungkus roti isi lima ratus rupiah
   pemberian pemilik warung tua
   persis di kala buka, kemarin lusa

Tak jauh dari sana
Sebuah meja bundar berhampar
Buah. Susu segar. Makanan bagai sepeleton pasukan
Suara tawa. Suara kufur menggema
Tak lama, adzan pun tiba
Raung kota bersegera melepas dahaga
Suara piring bersidesak
Suara garpu bagai hendak mengoyak
Satu per satu daging terkunyah
Sementara itu,
Dengarkan tangis si bocah gulana
Merintih minta makan pada ibunya
Dalam kekusutan senja yang ada

Ah...

Sumber Gambar : Fajarbaru, Kompasiana : Pengemis Jalanan : Berpura-pura atau Sungguh-Sungguh Miskin
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Senin, Juli 15, 2013

Sahur

Alhamdulillah Jejak Manyar
Syukur Sahur
Ku tatap sepiring hidangan di meja makan. Suara bunda, suara ayah. Bersatu berbincang tentang segala. Suara adikku tertenung dalam tajahud. Seakan menerangkan kesunyian malam berkabut. Seakan menyadarkan : perjuangan kan kita sambut.

Tak lama. Mereka duduk tak jauh dariku. Do'a. Damba. Pinta mengalir dari tutur masing-masing. Sedetik. Semenit. Hening membelit. Aku terdiam dalam degam. Tangan tengadah setengah dada. Mata sayup memejam. Khusyuk memendam.

Terima kasih, ya Allah. Syukur padaMu tak terkira. Alhamdulillah. Kau anugerahkan kami hidangan, dan Kau sadarkan kami : sejuta orang tak dapat kesempatan serupa.

Terima kasih, ya Allah. Pujian merembulan padaMu ku panjatkan. Subhanallah. Kau sediakan kami perbekalan, dan Kau melekkan kami : di luar sana, seratus juta orang berperang tanpa persiapan.

Terima kasih, ya Allah. Semoga puasa kami hari ini tak sekedar memupuk dahaga. Semoga...

Sumber Gambar : Adigenisehilal
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, Juli 12, 2013

Hari-Hari Yang Mulia - Jum'at Pertama Ramadhan 1434 H

Hari-Hari Mulia Jejak Manyar
Peluang Terbaik
APA kabar, Sahabat Manyar? Bagaimana ibadah puasa Sahabat sekalian? Lancar? Alhamdulillah jika demikian. Tahun ini, Ramadhan kali ini memberikan kurang lebih lima hari Jum'at yang bisa kita manfaatkan untuk memaksimalkan nilai puasa Ramadhan kita. Sudah tahu 'kan keutamaan-keutamaan yang diberikan Allah SWT. di hari Jum'at? Nah, tunggu apa lagi? Manfaatkanlah selagi masih ada waktu.

Saya dalam posting-an kali ini mau sedikit berbagi inspirasi Ramadhan untuk kita semua, dan terkhusus bagi diri saya sendiri. Kira-kira, apa yang menarik untuk diketahui seputar bulan Ramadhan yang bisa meningkatkan kualitas ibadah kita? Lalu, ada sebagian da'i dan ulama yang mengatakan bahwa hari-hari di bulan Ramadhan adalah hari-hari yang penuh kemuliaan. Pertanyaannya : kenapa?

Saya sudah membuat sebuah daftar yang bisa kita renungkan bersama seputar keistimewaan bulan Ramadhan dan latar belakang mengapa bulan ini disebut-sebut sebagai bulan dengan kemuliaan pada hari-harinya. Mau tahu? Lanjut...!
***
Kita mulai dari sisi ibadah. Puasa. Sudah paham bukan ibadah yang paling melekat dengan kata 'Ramadhan'? Apa lagi? Ya puasa Ramadhan. Islam mengenal tiga jenis puasa wajib : Ramadhan, kafarat, dan nazar. "Lucu"nya, puasa wajib tersebut-Ramadhan-jatuh pada nama salah satu bulan, tidak acak atau berganti-ganti. Masalahnya, kenapa harus di bulan Ramadhan? Mengapa bukan di bulan Rajab, Sya'ban, atau mungkin Jumadil Awal? Wallahua'lam. Tapi, ini bukan berarti kita tidak bisa berlogika.

Sejarah Jahiliyah dalam situs DPD MDI PROV. RIAU menyebutkan bulan Ramadhan berarti "sangat panas" dimana para kaum Arab biasa "memanggang" senjata di bawah terik matahari untuk menyiapkan perang saat diserang di bulan Syawal. Hal ini dilakukan sebelum memasuki bulan haram. Dari sisi historis pra-Islam sudah ditampakkan hakikat Ramadhan sebagai "bulan persiapan." Dengan kata lain, kita bisa menangkap bahwa bulan-bulan setelah Ramadhan adalah bulan-bulan penuh perjuangan, peperangan, kecuali bulan-bulan haram. Di sini kurang lebih alasan Allah SWT. menetapkan kewajiban puasa di bulan Ramadhan untuk mempersiapkan jihad memeranngi hawa nafsu di bulan Syawal sampai dengan Sya'ban.

Masih kaitannya dengan ibadah, sebutkan dua ibadah yang tidak akan pernah ada di bulan-bulan selain Ramadhan? Atau, yang tidak dapat dikerjakan selain bulan Ramadhan. Sudah tahu? Great! That's right. Shalat tarawih dan zakat fitrah. Shalat tarawih hanya akan ada di bulan Ramadhan. Terlepas dari kontroversi soal bilangan rakaat, shalat tarawih berdasarkan bacaan dan tausiyah sepanjang bulan Ramadhan yang telah lalu dihukumi sunnah dengan kesangatan atau sunnah muakkad. Bahkan ada yang mengatakan shalat tarawih menjadi sarana untuk semakin meng-afdhal-kan puasa Ramadhan kita di subuh sampai dengan saat berbuka. Hikmahnya? Menurut saya lebih pada wujud syukur kita atas ibadah puasa yang telah kita jalani serta sarana untuk memperkuat ukhuwah islamiyah. Kapan lagi shalat jamaah di masjid kalau tidak saat shalat tarawih? Saat shalat lima waktu? Bah. Mimpi sajalah. Hahahaha...

Zakat fitrah pun demikian. Selain sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan mustahiq atau golongan berhak menerima zakat, zakat fitrah bermanfaat sebagai sarana untuk mensucikan diri kita. Tentu saja yang jauh lebih penting lagi adalah tanda syukur dan taqwa kita atas perintah yang difirmankan Allah SWT. Zakat fitrah pun dihimpun dan disalurkan pada bulan Ramadhan dengan keutamaan sebelum imam shalat Idul Fitri naik ke atas mimbar. Tujuannya? Ingat lagu Bimbo? "Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin..." Itulah akibat dari zakat fitrah.

Ibadah tak lepas dari pahala atau ganjaran. Apa saja ganjaran yang menggiurkan keimanan kita untuk beribadah sebanyak-banyaknya di bulan ini? Secara rinci, banyak-banyaklah Sahabat Manyar surfing berbagai situs dakwah Islamiyah terkait pahala di bulan Ramadhan. Republika dalam salah satu artikelnya mengutip hadits Nabi Muhammad SAW. sebagai berikut : "Rasulullah SAW bersabda, “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipatgandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan." (HR Muslim)" Kurang menggiurkan apa lagi? Terbayang shalat munfarid "hanya" dengan 1 pahala menjadi 70 pahala? Untuk shalat isya berjama'ah saja sebelum shalat tarawih kita bisa mendapat 27 x 70 = 1.890 pahala. Hanya satu shalat wajib berjama'ah. Kalikanlah lima shalat wajib dikalikan 30 hari di bulan Ramadhan. Hanya orang bodoh yang mengatakan bulan Ramadhan hanya mendapat pahala puasa saja.

Sedekah? Surat Al-Baqarah (2):261 yang artinya berbunyi : "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." Dalam situs Muslim.Or.Id, "'Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.' Kemudian Rasulullah menjelaskan: 'Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna.  Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.'" (HR. Muslim no.1955)" Inilah yang akan kita terima "hanya" dari sedekah kita di bulan Ramadhan. Mengingat kemuliannya, Allah SWT. bisa melipatgandakan pahala sedekah kita dengan rahmatNya.

Persembahan Agung di Bulan Ramadhan Jejak Manyar
Berkahnya Ramadhan
Mau pahala yang lebih ekstrim? Tidur. Ya. Tidur di bulan Ramadhan mendapat pahala. Sampai saat ini hanya hal yang satu ini membuat saya selalu ingin tertawa ketika ingat bulan Ramadhan. Allah SWT. benar-benar membuka peluang "bisnis" pada kita. Kita rajin beribadah, kita lancar mendapat pahala. Ini konsep ibadah sederhana kebanyakan dari kita, begitupun saya. Sungguh sayang kalau kita melewatkannya begitu saja.

Satu lagi yang lebih dahsyat. Lailatur Qadar. Malam dengan kebaikan serupa dengan 1.000 bulan atau 83,33 tahun. Bayangkan bagaimana dahsyatnya pahala yang dijanjikan Allah SWT. di malam tersebut bagi manusia yang beruntung mendapatkannya.

Apa masih ada lagi? Masih. Mari kita lihat dari sisi sosial. Puasa adalah bentuk pendadaran diri atas sikap toleransi sosial dan kedisiplinan. Dipacu kewajiban puasa, didorong kewajiban shalat, diiming-imingi pahala ibadah ini dan itu, manusia, muslim khususnya, diajak secara aktif memanfaatkan peluang. "Bahasa kotor"nya, insting kewirausahaan kita dipancing. Bagaimana bisa-logikanya-kita memanfaatkan bisnis riil di dunia yang berbiaya jika ibadah cuma-cuma dari Allah SWT. dengan imbalan dunia akhirat tak kita gunakan? Bagaimana bisa-logikanya-kita solider terhadap rekan dan saudara kita yang tak mampu di bulan Syawal sampai dengan Sya'ban jika sedekah dengan ganjaran 700 pahala saja kita enggan? Terbayang sedekah Rp. 1.000,00 (seribu rupiah) dibalas Rp. 700.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah)? Itulah nilai ganjaran pahala sedekah kita yang disediakan Allah SWT. Di sinilah latihan kepribadian kita dipacu.

Ramadhan adalah bulan kepekaan sosial. Sedekah, zakat fitrah? Masih kurang? Shalat tarawih? Menyediakan makanan dan minuman berbuka untuk orang lain? Masih kurang? Di sinilah kemuliaan Ramadhan.

Dari sisi historis ada dua hal besar yang saya gunakan sebagai justifikasi Ramadhan sebagai bulan dengan hari-hari mulia di dalamnya. Khusus saya batasi setelah Islam datang. Pertama, peristiwa turunnya Al-Qur'an atau Nuzulul Qur'an yang konon turun di bulan Ramadhan. Kedua, kemenangan perang Badr. Ketiga, peristiwa Fathul Mekkah. Menurut saya, ketiga hal inilah yang paling mendasari alasan mengapa hari-hari di bulan Ramadhan begitu mulia.
***
Tulisan ini lahir semata-mata dari gagasan opini saya pribadi dengan mengombinasikan pada beberapa sumber yang ada dan ter-link pada rujukan dalam artikel ini. Segala informasi lain yang lebih lengkap dan valid, insya Allah, Sahabat Manyar bisa temukan dalam berbagai artikel di dunia maya. Yang jelas, uraian di atas telah menunjukkan betapa Allah SWT., Dzat Yang Maha Tunggal, Dzat Yang Rahman dan Rahim, Dzat Yang Maha Penerima Taubat menyediakan begitu ruang bagi kita untuk memperbaiki diri. Dan di hari Jum'at di minggu pertama bulan Ramadhan tahun 1434 H ini, mari kita sambut Ramadhan tahun ini dengan semangat kemerdekaan dari penjara hawa nafsu dan kesia-siaan. Sia-sia karena mengabaikan peluang kebaikan yang begitu banyaknya.

Akhirul kalam, selamat menjalankan ibadah puasa, Sahabat Manyar...

The Funniest Moment of Ramadhan ^^ Jejak Manyar
Berapa Menit Lagi Yaaaa?
Referensi :
  1. Muhammad Fakhri M.Ag, Tanpa Tahun, Keistimewaan Ramadhan (Online), DPD MDI PROV.RIAU, (Diakses tanggal 20 Juni 2013).
  2. Ustadz Raswan M.Pd, 25 Agustus 2011, Matematisasi Pahala Ramadhan (Online), Republika Online, (Diakses tanggal 20 Juni 2013).
  3. Yulian Purnama, 12 Agustus 2010, Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan (Online), Muslim.Or.Id, (Diakses tanggal 20 Juni 2013).

Sumber Gambar :
  1. Dokumentasi Pribadi
  2. Republika Onlien - Hukum Ibadah Puasa untuk Anak-Anak

*READ MORE PLEASE :
Silahkan cek label RAMADHAN untuk membaca artikel seputar bulan Ramadhan dan label ISLAM untuk artikel terkait seputar Islam. Selamat membaca! ^^
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Rabu, Juli 10, 2013

Puasa

Hanya Untuk Allah Jejak Manyar
Demi RidhaMu
Sejuta manusia menahan lapar dan dahaga
Berkeliaran di dunia
Mencari sesuap makan sekedar pelepas buka
Keringat menetes; semangat tak kenal rembes
Hati setekad baja
Taqwa terkurung dalam jiwa

Surya tertawa meledek
Angin kemarau bersorak mengejek
Mereka-para umat Tuhan-tak duli jua
Selaksa iman bergelombang di dada
Bumi mereka jamah, udara mereka gubah
Kata-kata menjadi puja
Tasbih. Tahmid. Tahlil mengalir mengusir bakhil
Surya tersenyum berganti
Angin kemarau berdendang memuji
Mereka-para hamba Tuhan-masih tak peduli
Bukankah puasa mereka bagi Illahi Robbi?
Apalah guna segala?

Ya Allah
RidhoMu semata yang kami damba
Aamiin...

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selasa, Juli 09, 2013

Tarawih

Taqwa di Muka Jejak Manyar
Like My Modem : Fast First, And Then?
Berbondong manusia
Menyesaki masjid dan mushalla
Wajah bagai malaikat
Hati bening, tajam tersayat
Mereka bagai sosok bayi suci
Menghadap Illahi, memohon ampun di keheningan malam
Hingga...
Pertengahan bulan tiba
Dan kembali mereka memburu dunia
Berlomba berpajang busana
Menyongsong Syawal yang kan tiba

Innalillah...

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Ramadhan 1434 H : Akhirnya Datang Juga \(´▽`)/

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan Tahun Ini Jejak Manyar
Berlombalah Dalam Kebaikan
ALHAMDULILLAH. Akhirnya bulan yang paling kita tunggu-tunggu tahun ini datang juga. Sebelumnya maaf kalau artikel ini terbit sehari terlalu cepat atau terlambat dibandingkan hari pertama Ramadhan 1434 H yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Toh intinya bulan ini kita sudah merayakan dan menjalankan Ibadah Puasa Bulan Ramadhan 1434 H. Congratulation, Guys!

Seperti Ramadhan yang sudah-sudah, akan banyak hal terjadi di bulan Ramadhan kali ini. Saya tidak tahu pasti Ramadhan tahun ini akan memberikan dan menyuguhkan kisah kehidupan seperti apa pada kita. Berbagai tausiyah dan kisah inspirasi seputar ibadah, sedekah, dan berbagai kebaikan akan kita temukan dengan mudah di bulan ini. Insya Allah. Tapi yang jauh lebih penting : Bagaimana sikap hati kita terhadap itu semua dengan memberikan efek positif bagi kehidupan kita? Itulah esensi dan hikmah mengapa hal-hal semacam itu "diijinkan oleh Allah SWT." memenuhi ruang gerak kita di bulan ini, khususnya di dunia maya.

Saya berpesan, khususnya bagi diri saya sendiri, mari kita jadikan bulan Ramadhan 1434 H ini menjadi Ramadhan terbaik dalam hidup kita. Jadikan bulan ini jadi bulan terbaik dari bulan-bulan di tahun ini. Jadikan hari-hari di bulan Ramadhan bermanfaat bagi kita. Kita manusia yang banyak dosa. Kita manusia yang sering kali khilaf. Ramadhanlah saat yang tepat untuk menghapus dosa-dosa dan kekhilafan kita. Ramadhanlah waktu yang tepat bagi kita untuk mengetuk cinta Allah SWT. agar senantiasa memberikan rahmat dan rahimNya pada kita, keluarga kita, sanak famili kita, orang-orang terdekat kita, dan bangsa, negara, dan yang sangat penting : agama kita!

Well, I can't say anymore about this great day.

Semoga Allah SWT. memberikan limpahan kebaikan bagi kita semua. Aamiin.

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Minggu, Juli 07, 2013

[Khusus Cewek] Ranting Tua Itu... Ayah-Ibu Kita! : Pesan Moral Tembang "Setangkai Tunas"

Yang Sering Kita Lupa Jejak Manyar
Begitulah Orang Tua Kita
MUNGKIN sedikit heran melihat judul artikel Jejak-Jejak Manyar sore ini. Kok tumben dikhususkan bagi kaum hawa? Apa kaum adam tidak boleh masuk? Sebenarnya artikel ini readable for all gender. Tapi, secara bobot poin pembahasan, artikel ini secara sederhana banyak diperuntukkan buat perempuan dimanapun berada. Kaum adam bisa ikut menyimak saja. Barangkali ingin komentar? Silahkan. Kotak komentar saya terbuka bagi setiap gender dan kelompok. Omong-omong, topik kita hari ini apa? Apa hubungannya orang tua dan ranting tua? Yang jelas bukan sama-sama tua. Penasaran? Check this out!

Oh, iya. Seandainya dalam alinea-alinea berikutnya ada istilah 'Sahabat Manyar,' maka secara spesifik panggilan tersebut saya tujukan bagi pembaca artikel ini yang bergender perempuan. Alasannya? Silahkan baca alinea di atas. Oke? Lanjut!
***
Pernahkah orang tua kita bersikap tegas pada Sahabat Manyar? Melarang pergi kencan pada suatu malam Minggu tertentu? Atau, melarang Sahabat Manyar bertemu dengan sorang cowok tertentu dengan alasan tertentu? Pernahkah? Bagaimana sikap Sahabat Manyar? Marah? Menangis? Atau, berontak?

Pertanyaan yang harus kita jawab sebenarnya : mengapa orang tua Sahabat Manyar bersikap demikian? Sudah pernah terpikir sebelumnya pertanyaan ini? Jika sudah, apakah jawabannya? Belum tahu? Mungkin, lirik manis berikut ini bisa menyadarkan betapa besarnya beban orang tua Sahabat Manyar dalam menjaga Sahabat Manyar saat ini. Simak berikut ini!

SETANGKAI TUNAS
by Ira Maya Sopha

Setangkai tunas mawar
Tumbuh di ranting
Yang telah tua
Menjelma, merekah, berjalan
Menyongsong mimpi di depan
Oh, ceria dan derita

Di kala fajar tiba
Silih berganti
Sekian lama
Tercipta : puspita, juwita
Seisi dunia bersorak
Suka cita

Reff :
Hasrat muda menggelegar
Kadang kala mendebarkan
Bahagia dalam hatinya
Ranting tua makin berat :
Menahan, menjaga, melindungi dia
Dari sang penggoda kumbang-kumbang nakal

Intro

Harum bunga sebar
Indahnya mekar
Dimana-mana
Sadarlah puspita
sadarlah harummu tak selamanya

Back to Reff 2x
Hasrat muda menggelegar
Kadang kala mendebarkan
Bahagia dalam hatinya
Ranting tua makin berat [2x and fade out]

Untuk Setangkai Tunas Jejak Manyar
Inspirasi
Bagaimana? Sudah baca? Paham maksud syair tembang manis karya Tante Ira Maya Sopha di atas? Lagu berjudul Setangkai Tunas tersebut menghiasi koleksi manis lagu-lagu Tante Ira Maya Sopha dalam album BALADA tahun 1984. Pesan moral lagu tersebut mengetuk kesadaran Sahabat Manyar akan peran orang tua kita dalam menjaga diri kita sampai saat ini. Sahabat Manyar dianalogikan dengan setangkai tunas, generasi baru. Dilambangkan sebagai tunas mawar yang baru saja mekar dan memandang pesona dunia dengan keindahannya yang ada.

Sahabat Manyar digambarkan sebagai sekuntum bunga yang berdiri di muka pintu kebahagiaan remaja. Mengenal apa itu cinta, mengenal apa itu sayang. Mengenal apa itu kasmaran. Sahabat Manyar mulai bisa merasakan : bagaimana nikmatnya jatuh cinta. Sahabat Manyar mulai larut dalam puja-puji sosok-sosok mempesona di sekitar Sahabat Manyar. Ketampanan mereka, kegagahan mereka. Keramahan mereka. Begitukah topik pembicaraan Sahabat Manyar selama ini tentang lelaki idaman yang berkeliaran di sekitar Sahabat Manyar?

Tapi, lihat! Di balik keterpesonaan Sahabat Manyar pada masa remaja dan gejolak cinta yang Sahabat Manyar rasakan : orang tua Sahabat Manyar tak pernah berhenti memberikan perlindungan dan pengawasannya pada diri Sahabat Manyar. Mereka tak pernah berhenti dan tak pernah merasa letih memproteksi diri kita agar tak larut dalam euforia cinta kita, menikmati khayalan manis masa remaja, dan akhirnya... terluka! Mengapa mereka melakukan itu semua? Sederhana : karena mereka adalah RANTING TUA, dan Sahabat Manyar adalah SETANGKAI TUNAS MAWAR-nya... Ranting mana yang rela kumbang-kumbang liar merusak mawar yang cantik di atas tubuhnya?

Orang tua Sahabat Manyar, ada kalanya, bersikap tegas dengan membatasi ruang gerak Sahabat Manyar. Hendak ke sekolah, diantar. Berkumpul dengan sahabat, diawasi. Bertemu sosok lelaki yang mengisi hati Sahabat Manyar, apakah orang tua Sahabat Manyar bersikap acuh tak peduli? Tentu saja tidak. Dalam tindakan yang paling kecil sekalipun, orang tua Sahabat Manyar selalu mengawasi dan berdo'a agar Sahabat Manyar tak terjerumus dalam kegelimangan dunia di masa remaja yang Sahabat Manyar bina saat ini.

Orang tua Sahabat Manyar kadang kala bersikap keras dengan melarang Sahabat Manyar bertemu dengan lelaki yang Sahabat Manyar begitu cintai. Pertanyaannya, kenapa? Secara pokok, orang tua Sahabat Manyar tidak bisa melihat sisi kebertanggungjawaban sosok lelaki yang Sahabat Manyar jadikan kekasih, atau setidaknya, sebatas teman dekat. Orang tua Sahabat Manyar tidak melihat ada kejujuran dan ketulusan serta jaminan masa depan yang baik bagi kehidupan yang akan datang Sahabat Manyar. Mengapa mereka berpikir demikian? Karena orang tua Sahabat Manyar TAK MAU anak gadisnya, anak perempuannya, anak yang selama ini mereka besarkan hidup dalam PENDERITAAN...

Tak selamanya orang tua Sahabat Manyar membatasi perasaan Sahabat Manyar karena mengekang kebebasan yang Sahabat Manyar punya. Orang tua mana yang ingin anak gadisnya, anak perempuannya hidup menderita? Karena cinta? Bah. Saya kira hanya orang tua paling tolol dan paling gila sedunia yang rela melihat anak gadisnya, anak perempuannya, meratapi kejatuhan mereka karena tipu daya cinta. Atau, dalam bahasa yang sedikit lebih kasar : Orang tua mana yang merelakan anak gadisnya, anak perempuannya kehilangan kesuciannya karena salah menjalani cinta? Dan, inilah luka terbesar orang tua Sahabat Manyar jika hal itu sampai terjadi...

Tante Ira Maya Sopha juga mengingatkan kita semua : "Harum bunga sebar/Indahnya mekar/Dimana-mana/Sadarlah puspita/sadarlah harummu tak selamanya..." Paham maksudnya? Mari kita terjemahkan secara sederhana.

Pernahkah melihat bunga mawar yang bersemi di pekarangan rumah kita, yang tumbuh secara alami dan mengisi halaman rumah kita begitu saja, tumbuh dan mekar selama setahun penuh? Atau, setengah tahun mungkin? Satu bulan? Atau hanya mekar selama satu minggu? Begitulah Sahabat Manyar sekalian.

Bunga-Sahabat Manyar sendiri-memiliki batas waktu untuk menunjukkan kecantikan, pesona, potensi diri sebagai kaum hawa. Sahabat Manyar selalu dibayang-bayangi waktu. Usia sekian mulai baligh, usia sekian masuk waktu pingitan (khusus bagi sebagian kalangan tertentu), usia sekian masa menikah, usia sekian harus punya anak, usia sekian harus begini, usia sekian harus begitu, dan usia-usia sekian Sahabat Manyar harus begini dan begitu. Sadarkah? Kaum hawa selalu dikejar waktu. Kesalahan di salah satu periode usia akan menghancurkan, secara probabilitas (celah kemungkinan), kehidupan Sahabat Manyar di periode berikutnya. Kegagalan mendidik Sahabat Manyar sebagai perempuan yang baik-baik sejak kanak-kanak akan menjadikan hambatan bagi Sahabat Manyar ketika mulai memasuki tahap penjajakan cinta. Tanpa bermaksud kasar, bukankah keperawanan seorang perempuan menjadi simbol kesucian mereka? Dan masyarakat kita dengan etika dan moralitas ketimuran mereka memegang erat nilai-nilai moral kesusilaan. Mereka memberikan label perempuan tanpa keperawanan sebagai perempuan yang tidak baik, perempuan nggak beres, dan berbagai sebutan kasar lainnya. Sekali lagi, saya tidak bermaksud bersikap kasar dan rasis atau sebatas diskriminatif pun tidak. Bukankah ini realitas? Dan ayah-ibu Sahabat Manyar tak ingin ini terjadi pada Sahabat Manyar.

Pagi-sore, siang-malam, pikiran dan hati mereka dipenuhi ketakutan akan kegagalan hidup Sahabat Manyar di masa remaja atau di tahapan kehidupan lainnya yang Sahabat Manyar jalani saat ini. Mereka sekeras mungkin menjaga agar putri kesayangan mereka, putri kebanggaan mereka tidak tergelincir pada kebahagiaan dunia yang semu. Bagaimana tanggapan kita? Marah? Kabur dari rumah? Sahabat Manyar, kita sering kali tidak bica membaca isyarat cinta mereka. Begitulah kita sebagai anak muda, sebagai tunas muda. Ego keremajaan kita sering kali melupakan jasa mulia orang tua kita yang mati-matian setiap detik menjauhkan setan-setan busuk menyesatkan kehidupan kita. Bagaimana tanggapan kita? Memaki? Memarahi? Sahabat Manyar, hampir dipastikan, begitulah diri kita...
***
Marilah di pintu Ramadhan 1434 H yang mulia ini, kita sadari : ketegasan orang tua Sahabat Manyar selama ini bukan untuk diri mereka semata. Bukan untuk kehormatan mereka. Lebih penting lagi, DEMI KEHORMATAN DAN KEBAHAGIAAN HIDUP SAHABAT MANYAR. Mereka melarang Sahabat Manyar mengendarai motor, atau setidaknya bersikap ugal selama mengendarai motor, karena tak ingin putrinya buntung karena kecelakaan lalu lintas. Secara umum, lelaki mana atau mertua mana yang rela menantu perempuan mereka cacat fisik? Orang tua mana yang ingin melihat anak gadisnya kehilangan kecantikan mereka karena kehilangan anggota tubuhnya akibat kecelakaan?

Mereka melarang Sahabat Manyar berpacaran, karena masih SMP, SMA, atau alasan tertentu, karena ayah-ibu Sahabat Manyar tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi dan mengoyak keindahan masa depan Sahabat Manyar. Yakinkah cinta yang Sahabat Manyar temui saat ini adalah cinta yang sejati? Jika tidak, mengapa memberikan bulat-bulat cinta itu pada 'sang penggoda kumbang-kumbang nakal' yang datang dengan topeng cintanya pada Sahabat Manyar? Jika Sahabat Manyar yakin dia cinta sejati, akankah abadi pertalian kasih itu hingga biduk rumah tanggga yang sah terjalin dalam ijab-qabul yang penuh dengan do'a? Jika tidak, bagaimana bisa merelakan sebagian keindahan Sahabat Manyar berpindah pada orang yang Sahabat Manyar kasihi sementara ia tak memiliki kepastian bisa mendampingi sampai saat terindah itu tiba? Sampai lembaran album perkawinan itu terjadi?

Waktu adalah milik Tuhan dan kita adalah makhluk-makhluk lemah yang senantiasa dipapaskan pada keterburuan. Jangan biarkan ketergesaan menghancurkan diri Sahabat Manyar. Jangan biarkan dunia melenakan Sahabat Manyar. Jangan biarkan cinta membutakan kasih sayang tulus orang tua yang diberikan secara utuh pada Sahabat Manyar. Siapa lagi yang siap menampung air mata patah hati kita suatu saat nanti-naudzubillah-selain orang tua Sahabat Manyar sendiri? Siapa yang bersedia mendengar keluh kesah Sahabat Manyar, di Bumi ini, makhluk ciptaan Tuhan, selain orang tua Sahabat Manyar? Sebelum kematian memanggil mereka, menyimpan mereka dalam pelukan Bumi yang hangat, sayangilah mereka! Hargailah ketegasan mereka pada hidup Sahabat Manyar! Barangkali, tanpa ketegasan mereka, Sahabat Manyar bukan lagi setangkai tunas mawar yang mempesona, yang mengagumkan dan mengundang pujian seisi dunia. Barangkali...

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1434 H, Sahabat Manyar! Semoga Ramadhan tahun ini memberikan keberkahan bagi kehidupan kita semua, dan yang tak kalah penting : bagi kehidupan ayah-ibu kita. Berdo'alah demi kesejahteraan dan kebahagiaan orang tua Sahabat Manyar di dunia dan akhirat. Sejauh ini, hanya hal itu yang bisa kita lakukan untuk membalas kebaikan dan pengorbanan mereka pada diri Sahabat Manyar saat ini. Hanya ini. Ya, hanya ini...

Sampai jumpa!

NB : Hampir lupa. Untuk Sahabat Manyar, ladies and gentleman, yang ingin menyimak indahnya tembang Setangkai Tunas karya Ira Maya Sopha, silahkan simak streaming di bawah ini. Semoga bermanfaat!

Spoiler for Setangkai Tunas oleh Ira Maya Sopha (Album BALADA, 1984):

Sumber Gambar :
  1. I4PC dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar
  2. Tembang Kenangan - Ira Maya Sopha - Balada
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>