Minggu, Juni 30, 2013

Kulihat

Kulihat Negara Dalam Bencana Jejak Manyar
Bendera Di Bidikan Sejarah
Kulihat
Seribu bendera merah putih
Sobek di pusara mimpi
Ku dengar sesah nafas perawan
Terjaga dari bayangan mengerikan
Ribuan suara menuntut waspada
Sepuluh wajah menggeleng percuma

Lalu. Waktu menunjukkan kebenarannya
Dimana kanak-kanak yang murni meniti zaman?
Dimana gadis jelita yang elok menghiasi taman?
Dimana jejaka gagah dan baju zirah?
Dimana mereka semua?
Dimana?
Dimana?!
***
Ku dengar tawa durjana
Berpesta pora di atap dunia
Ku dengar obrolan mereka
Tentang syahwat atau cinta kilat
Dan
Kulihat
Di bumiku bertebaran jasad-jasad membisu
Tak mati. Tak pula hidup
Nyawa mereka tercekat asa redup

Merekalah potret bencana :
   tunas muda diamuk masa,
   bunga ranum dalam bencana, dan
   ksatria tangguh di pucuk ajalnya
Dan kau bisa menemukannya di tanahku
Orang sebut ia... Indonesia

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, Juni 28, 2013

Aseeeeeek... Libur Panjang Nih ┌( ಠ‿ಠ)┘

Pamit Dulu Ya Jejak Manyar
Sayonara
NAH, berhubung saya mulai masuk masa libur semester genap, saya harus sampaikan bahwa setidaknya untuk bulan September 2013, Jejak-Jejak Manyar, situs blog kesayangan kita semua ini tidak akan banyak mem-publish artikel-artikel baru. Seperti alasan sebelum-sebelumnya, faktor jaringan internet menjadi faktor utama saya tidak bisa rajin mem-publish artikel baru.

Tapi, jangan khawatir. Insya Allah jika memungkinkan saya akan suarakan sajak-sajak manis saya pada kesempatan tertentu. Selain itu, dalam waktu tertentu sudah saya siapkan scheduling post yang akan muncul pada hari-hari tertentu. Insya Allah bisa menghibur Sahabat Manyar dimanapun berada.

Oh ya. Mumpung ingat nih. Tanggal 8 Juli 2013 nanti insya Allah kita akan menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1434 Hijriyah. Bagi semua Sahabat Manyar yang beragama Islam, SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN TAHUN INI. SEMOGA PUASA KITA TAHUN INI JAUH LEBIH BAIK DARIPADA TAHUN SEBELUMNYA. AAMIIN.

So, this is it, My Friend. I believe I will always love you till me weet again. Don't forget me, okay? We'll see in the next time. May Allah listen our hope. Aamiin... ^^

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kamis, Juni 27, 2013

Suara Damba

Seseguk Pinta Jejak Manyar
Tulus Meminta Ampun
Sejuta tangan tengadah
Mendesah
Di keheningan senja
Atau di puncak malam yang gulita

Hati yang gelisah
Tak cukup muat sembunyi di balik pujian
Dengarkan gemuruh penyesalan!
Dengarkan jeritan ketakutan!
Masa lalu. Karma mengejarmu
Dan sejuta tangan semakin tengadah
Merintih bak luka
Di kedalaman pinta
Di selaksa alun suara damba
Pada Yang Esa...

Sumber Gambar : AntaraSumbar.com
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Rabu, Juni 26, 2013

Hujan Semalam

(Tentang Biduk Keluarga yang Merekah)

Rapuh
Bahtera nyaris karam
Dingin mencekam
Badai melesak menyongsong gemuruh
Di kepekatan hujan semalam

Tangis. Dimana tangis?
Jerit? Kemana dia?
Hanya lolongan anjing malam kalut di antara kemasaian petang
Kemana tangan-tangan panjang
   yang biasa terulur memberikan tempat berpegang?
Hanya tinggal sosok-sosok kosong
Di antara titian bohong
Di kecaman waktu melorong
Menunggu pagi
Sediakah kembali seperti semusim tadi?
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selasa, Juni 25, 2013

Lingkaran Beku

Senja kelana
Pucat engkau di ambang gulita
Mega gulana pekat menyapa
Hadir dari ufuk bahala
Meneriakkan dendam luka yang lama

Mata Dunia Mendingin Jejak Manyar
Tak Ada yang Memperhatikan Kami
Aku. Mereka
Dan seribu kepala yang nyaris binasa
Kami termangu di bawah purnama
   yang membayang-bayang
   yang semu di pintu angan jalang
Pekik protes mayat kutu miskin yang mati hari kemarin
Masih segar meniupkan kutukannya yang bacin
Aku. Mereka
Dan seribu kepala yang kaku di ujung nestapa
Kami bertanya :
   "Dimanakah telinga yang mau mendengar kami?"
   "Dimanakah mata yang sudi melihat kami?"
   "Dimanakah hati yang duli menampung jerit sukma kami?"
Sayang. Alam lengang
Lingkaran beku begitu terjal mengekang
Dan...
Aku. Mereka
Dan seribu kepala yang pasrah
Perlahan tenggelam tanpa cahaya...

Sumber Gambar : Book of Life dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

In Memoriam

Selamat Berbahagia DenganNya Jejak Manyar
Rest in Peace
Langkah sepi insani
Satu, satu. Menapak di atas bumi
Wajah tunduk merintih
Mendaki hening di hati
Mimpikah ini?

Duka memberita
Air mata tumpah
Melesak ke angkasapura
Hendak murtad, bukankah telah membeku itu jasad?
Hendak mengiman, mengapa kita ditinggalkan tanpa ucapan?
Keruh. Nada menjadi keruh
Selaksa cita yang dirindu,
   selaksa damba yang dipacu
      -punah!
Hambar jejak duka cita. Belasungkawa

Selamat jalan!
Selamat tinggal, Kawan!
Tersenyumlah ketika kau berhadapan di pangkuan Tuhan
Katakan : Kucintai pertemuan ini denganMu
Sembari kami titipkan pesan, bisikkan padaNya
   Ijinkan kami bertemu dengan dirimu
      -ketika waktunya tiba...

Selamat jalan!
Selamat tidur di keabadian
Ku kenang kau dalam pujian
Ku kenang kau
   In memoriam..

Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Senin, Juni 24, 2013

Syam & Laila

Mereka hanya anak muda
Memandang hari
Seakan surga yang abadi
Mereka hanya anak muda...

Mereka selalu berlari
Melintasi bumi,
Membelah savana dan setapak sunyi
Mereka tak henti berlari

Lalu. Mendung
Halilintar mengurung
Wajah alam tunduk berkabung
Sendu sedankan sesal kisah yang murung

Mereka tak pernah berhenti
Sosok bak lukisan dewa-dewi
Sentuhan rasa menjelma di hati
Masa berganti,
Generasi datang dan pergi

Suatu hari
Mereka bertemu seperti musim badai terakhir kali
Kali ini
Dalam perjalanan yang panjang
Menuju padang ilalang yang lengang
Pelabuhan hidup yang akan datang

Selamat jalan...
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Minggu, Juni 23, 2013

Satu Lagi Sajak Cinta

Sajak Cinta Pujangga Jejak Manyar
Luapan Jiwa
Satu lagi sajak cinta
Mengalir bersama udara
Tersesat di rerumputan,
Tersesap di keheningan

Ia mereka-reka jalan kembali
Meraba gelap dan sepi,
Menapaki jejak-jejak misteri
   dan tanda tanya yang abadi

Suatu hari nanti
Sajak cinta
Melesat tertiup angin pagi
Mengangkasa; rekat di bawah surya
Ketika kau menengok sekeliling
Kemana gelap yang biasa menjelma menjadi bayangan?
Kemana kecemasan, kekecewaan, kegalauan?
Kemana pusaran dendam luka lama?
Kemana segala?
Kemana semua?
Kemana?

Saat kau bertanya tentang itu semua
Sajak cinta kembali melesat ke cakrawala
Bersamanyalah mereka
Belajar arti ikhlas
Belajar arti kudus
Menjalani kehidupan yang keras
   dan takdir yang samar dan hunus
Setiap hari. Sepanjang hari
Sampai akhir waktu nanti
Begitulah ia
Sajak cintaku...

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, Juni 22, 2013

Kudus

Cinta mengalir
Bagai air
Menjadi kisah dibaluti untai takdir

Kasih mengukir
Bak pesona seribu wukir
Menyangga angkasa elok menyihir

Kudus kisah asmara anak manusia
Menyanjungkan dendang puja
Seribu dewa, seribu dewi
Seribu legenda tanah bestari

Kini
Berbatas mimpi
Remuk oleh sandiwara televisi
Kudusmu... nisbi
Wahai, Cinta Kasih...
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, Juni 21, 2013

Antipode*

Antopode Kemanusiaan Jejak Manyar
Menyadarkan Diri
(Seorang Manusia yang Manusiawi Tercenung di Tepi Kali)

Aku tak tahu
Siapa kamu yang ada tepat di bawah kakiku

Aku sungguh tak tahu

Dan aku lebih tak tahu
Bagaimana pikiranku
Bisa menerawang padamu
Sekalipun kita tak pernah bertemu
Sekalipun bayangmu
Tak pernah terlintas di benakku

Lantas,
Mengapa perasaan ini begitu jelas?

*Antipode : "1) dua tempat yang terletak di belahan bumi yang berlawanan; 2) belahan bumi yang letaknya berlawanan dengan tempat kita; 3) orang-orang yang saling bertentangan atau berlawanan pendirian."

Sumber Gambar : Apa Kabar Dunia dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar

Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kamis, Juni 20, 2013

"Matahari" Ala Chrisye-Aning Katamsi : Hikmah di Balik Gejolak BBM

Luka Badai (Menanti Matahari) Jejak Manyar
Kelam Berharap
SEBELUM kita berbincang lebih jauh, simak dulu yuk lirik manis dari tembang yang melegenda ini? Ada banyak makna dan interpretasi (penafsiran) yang bisa kita tangkap dari tembang karya Om Eros Djarot dan Om Jockie S. ini.

MATAHARI
Oleh Chrisye-Aning Katamsi (BPB '99)

Musim berlalu resah menanti
Matahari pagi bersinar gelisah
Kini...
Semua bukan milikku
Musim itu t'lah berlalu
Matahari segera berganti...

Dimana kau timbun daun yang layu?
Makin gelisah aku menanti :
   Matahari
dalam rimba kabut pagi
Sampai kapankah aku harus menanti?

Awan yang hitam tenggelam dalam dekapan
Daun yang layu berguguran di pangkuan

Kapan badai pasti berlalu?
Resah aku menunggu
Kapan badai pasti berlalu?
Badai pasti berlalu

Haaaaa...
Haa haa haaaaa haa haa
Haa haa haa haaa haa
Haa haa haa haa haa haa haaaa

Dimana kau timbun daun yang layu?
Makin gelisah aku menanti
Matahari dalam rimba kabut pagi
Sampai kapankah aku harus menanti?

Musim berlalu resah menanti
Matahari pagi bersinar gelisah
Kini...
*Semua bukan milikku
Musim itu t'lah berlalu
Matahari segera berganti...*


NB : *...* untuk Matahari versi BADAI PASTI BERLALU (BPB '99)
Dilihat dari konteks kenapa album ini lahir, BADAI PASTI BERLALU 1977 (BPB '77) muncul karena gagasan Irama Mas Records untuk merilis lagu-lagu dalam film Badai Pasti Berlalu karya Teguh Karya yang juga menjadi film terbaik kala itu (Sumber : Indolawas - Badai Pasti Berlalu). Sebagai soundtrack film asmara, secara sederhana : it's a love song. That's it and just it. Tapi, saya tak terlalu setuju.

Ada sebuah tulisan di masa lalu yang menarik saya baca bahwasanya sebuah karya sastra, seni adalah sebuah bentuk hasil karya anak manusia yang bisa dan harus selalu bisa ditangkap dalam berbagai makna dan berbagai tingkatan manusia (Mohon maaf saya tidak bisa menunjukkan rujukan statement ini secara konkrit). Saya setuju dengan pendapat tersebut. Alasannya? Karena dia seni dan sastra!

Saya ingin tanya : Bolehkah ketentuan peraturan perundang-undangan bersifat multitafsir? Atau, bolehkan sebuah karya skripsi tentang hukum gadai oleh orang lain ditangkap sebagai karya skripsi tentang hukum hipotik? Tentu saja tak boleh! Mengapa? Karena keduanya, antara lain, adalah karya ilmiah. Keduanya adalah hasil dari serangkaian kegiatan yang obyektif dan termetodologis. Tidak demikian dengan karya seni dan sastra.

Lalu, apakah itu berarti karya seni dan sastra tidak ilmiah? 100%, tidak! Dalam kadar tertentu iya, namun tidak untuk seutuhnya. Seni dan sastra adalah ruang yang disediakan Allah SWT. dalam diri manusia untuk menunjukkan sisi kreatifitas subyektifnya. Lewat seni dan sastra manusia bisa berbuat "semaunya." Segala hal ditangkap dengan berbagai sudut pandang dan penerimaan. Lewat seni dan sastra, sesuatu bisa menjadi lain dari sesuatu itu sendiri. Begitu pula yang terjadi pada lagu Matahari.
***
Wajah-Wajah Lingkaran BBM Jejak Manyar
Who Laugh Who Cry
Gejolak kenaikan BBM menjadi polemik di Indonesia belakangan waktu terakhir. Tarik ulur dan perdebatan perihal kepentingan rakyat mana yang diperjuangkan mematik apatisme masyarakat. Mereka tidak mau banyak tahu kenaikan BBM untuk dan demi apa. Yang jelas : mereka harus mulai antri di SPBU terdekat sampai beberapa hari ke depan. Alhasil, kenaikan BBM menimbulkan kesan negatif.

Simak lebih jauh tembang manis Om Chrisye dan Mbak Aning Katamsi. Lagu tersebut menunjukkan kesan kesuraman, kekalutan, kegelisahan persis dengan keadaan kita saat ini. Masyarakat kalangan menengah-bawah menjadi cermin paling jelas ekspresi kekecewaan dan kegelisahan seperti yang dikisahkan lagu Matahari. Lantas, hikmah apakah di balik "tragedi" kenaikan BBM kita hari ini? Setidaknya yang bisa membuat masyarakat papa kita (the poor) bisa sedikit tersenyum lega.

Kita mulai satu per satu...

Pertama, kita lihat dari sisi masyarakat. Kenaikan harga BBM kita saat ini memberikan pelajaran cukup keras bagi masyarakat kita. Logika yang berkembang sejauh ini bahwa kenaikan BBM, khususnya premium, disebabkan banyak kalangan berpunya (the rich) dengan kendaraan mewah mereka mengonsumsi jatah premium yang seharusnya menjadi jatah masyarakat kelas menengah-bawah. Jika kenaikan BBM ini tidak diimbangi kesadaran masyarakat the rich, tidak mustahil beberapa waktu yang akan datang, cepat atau lambat, harga BBM kita akan kembali naik. Hikmah pertama : kita diajarkan toleransi dan sadar diri dengan status dan kesejahteraan yang Allah SWT. berikan pada kita. Keegoisan kalangan the rich akan memancing gejolak BBM jilid 2. Bukankah Pemilihan Presiden 2014 masih beberapa bulan lagi? Badai masih menggantung di langit, Kawan.

Selain itu, kenaikan BBM, khususnya premium di level Rp. 6.500,00 (enam ribu lima ratus rupiah) per liter mengajarkan kita untuk selektif dan efektif serta efisien dalam menjalankan roda aktifitas. Hal-hal kecil yang sekiranya bisa kita kerjakan tanpa menggunakan kendaraan bermotor, untuk apakah kita melakukannya dengan kendaraan bermesin tersebut? Allah SWT. sedikit banyak lewat fenomena ekonomi ini mengajarkan kita sikap hidup hemat. Terutama komunitas kendaraan bermotor, bijaklah dalam berkegiatan! Keberadaan kalian harus kalian jadikan positif dan berteladan dalam berkendara di jalanan. Kenaikan BBM sedikit banyak akan berpengaruh pada kegiatan touring dan kegiatan-kegiatan lain sepanjang tidak memiliki maksud, tujuan, dan kemanfaatan yang jelas.

Hikmah lain bagi masyarakat kita, Allah SWT. "menyuruh" kita belajar. Ya, belajar melihat pilihan kita. Kita yang memilih sebagian orang yang memimpin kita, yang hari ini sedikit banyak berjuang atas nama kita untuk mendukung kenaikan BBM. Kita positive thinking saja. Peristiwa ini memberikan pelajaran pada kita untuk mengamati perilaku mereka "di atas sana" apakah dengan kenaikan BBM ini kesejahteraan kita bisa semakin baik atau sebaliknya. Ingat, tak selamanya kenaikan harga komoditi vital itu menyengsarakan. Logikanya, kebutuhan naik, seyogyanya pendapatan kita harus naik agar kebutuhan kita tetap terakomodasi. Yang jadi masalah, bisakah para pemimpin kita memenuhi tuntutan ini? Maka dari itu, belajarlah berevaluasi. Sudah tepatkah pilihan kita empat-lima tahun yang lalu?

Kedua, kita lihat dari sisi pemerintah sebagai the author of our country. Teori Perjanjian Masyarakat menjadikan pemerintah, penguasa, raja, presiden atau dalam istilah lainnya sebagai pihak yang berkewajiban memenuhi kepentingan masyarakatnya. Sebagaimana dalam perjanjian, kelalaian pemenuhan kewajiban salah satu pihak melahirkan kondisi yang disebut wanprestasi atau cidera janji. Keadaan yang demikian melahirkan hak pada pihak yang dirugikan untuk menuntut ganti kerugian. Demikian konsep keperdataan secara umum.

Hikmah pertama dari sisi pemerintah adalah pertanggungjawaban atas kepercayaan yang diberikan rakyat padanya dalam sebuah perjanjian akbar bernama pemilihan umum sekitar empat-lima tahun yang lalu. Bagaimana tanggung jawab mereka atas kesejahteraan rakyat? Apakah kenaikan BBM ini menjadi jalan untuk memenuhi kewajiban tersebut? Di sinilah hakikat dari pemerintah dipertanyakan. Kesuksesan dan kegagalan dari kebijakan ini akan menjadi pelita atau bumerang bagi partai politik koalisi yang mendukung opsi kenaikan BBM ini.

Hikmah lainnya, kenaikan harga BBM memaksa pada sebuah pertanyaan : sampai kapan? Artinya, sampai kapan masyarakat kita harus mengeluh dengan kenaikan BBM. Pertanyaan ini kemudian akan mengarahkan secara stimulan pada progresitas pemecahan masalah atas kemungkinan adanya energi bahan bakar nonfosil yang dapat dinikmati secara massal dan murah. Dengan kata lain, ketika ada pilihan lain atas bahan bakar kendaraan, kenaikan salah satu bahan bakar dapat diantisipasi dengan konsumsi bahan bakar yang berbiaya rendah. Tentu saja hal ini akan berdampak pada pilihan jenis kendaraan yang cocok dengan bahan bakar yang bersangkutan. Tidak mungkin bukan sepeda motor Yamaha VegaR saya secara bulat-bulat tanpa modifikasi menggunakan bahan bakar gas? Tentu saja dibutuhkan alih teknologi yang sesuai. Dengan kata lain, kenaikan BBM memberikan pelajaran pada pemerintah kita sudahkah menyediakan bahan bakar alternatif?

Hikmah yang paling penting bagi pemerintah, bagaimana cara mereka menyediakan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat terdampak kenaikan BBM? Dan, sejauh ini mereka menjawabnya dengan program paling menjijikkan : BLSM alias Balsem. Secara konseptual, program Balsem disediakan kurang lebih selama empat bulan dengan nominal bantuan Rp. 150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah) per penerima per bulan yang dicairkan setiap dua bulan. Mau berhitung matematis dengan saya? Simak kalkulasi sederhana berikut.
Hikmah Bagi Orang-Orang Yang Sadar Jejak Manyar
Hikmah Bagi Mereka
Sebelum kenaikan BBM. Seorang sopir angkot sekaligus pemilik angkot setiap hari rata-rata mengangkut penumpang sebanyak 20 orang dewasa dengan trayek Terminal Arjosari-Terminal Landungsari, Malang, dengan harga wajar (sedikit pungli) Rp. 3.000,00 (tiga ribu rupiah) per orang per tujuan, baik jauh maupun dekat. Artinya, sehari yang bersangkutan akan memiliki penghasilan Rp. 60.000,00 (enam puluh ribu rupiah) atau sebesar Rp. 1.800.000,00 (satu juta delapan ratus ribu rupiah) per bulan. Dengan harga premium Rp. 4.500,00 (empat ribu lima ratus rupiah), dalam sehari sang sopir angkot menggunakan premium sekitar Rp. 15.000,00 (lima belas ribu rupiah) atau sekitar 3 1/3 liter per hari pulang-pergi kedua terminal tersebut atau sekitar Rp. 450.000,00 (empat ratus lima puluh ribu rupiah) per bulan. Pendapatan bersih sang sopir sekaligus empunya angkot dalam sebulan dikurangi kebutuhan bensin semata adalah Rp. 1.350.000,00 (satu juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah). Silahkan kurangi dengan biaya perawatan mesin, kurang lebih Rp. 350.000,00 (tiga ratus lima puluh ribu rupiah) dan biaya retribusi sekali masuk terminal sebesar Rp. 1.000,00 (seribu rupiah) atau Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah) per hari per keberangkatan atau Rp. 60.000,00 (enam puluh ribu rupiah) per bulan karena masuk Terminal Arjosari dan Terminal Landungsari sehingga pendapatan bersih sang sopir dalam sebulan untuk dirinya dan keluarganya adalah Rp. 940.000,00 (sembilan ratus empat puluh ribu rupiah). Silahkan hitung lebih lanjut dengan alokasi belanja keluarga.

Nah, kenaikan BBM secara kasat mata akan berakibat pada kenaikan harga kebutuhan bahan pokok. Seperti pada umumnya, tarif angkot akan dinaikkan. Anggaplah naik sekitar Rp. 4.000,00 (empat ribu rupiah) per orang per tujuan, tanpa pungli. Sebagaimana tren pula kenaikan BBM akan diikuti dengan penurunan jumlah penumpang. Inilah yang saya dengar dari beberapa sopir angkot saat saya masih sempat menjadi penumpang angkot sekitar setahun yang lalu jurusan Terminal Landungsari-Terminal Arjosari dengan atau tanpa melalui Kelurahan Dinoyo. Dalam kasus kita, anggap sajalah sang sopir beruntung dan tetap memperoleh penumpang sekitar 20 orang dewasa per hari dengan trayek yang sama untuk pulang dan pergi.  Dalam sebulan sang sopir bisa meraup pemasukan sebesar 30 hari x 20 orang x Rp. 4.000,00 atau sebesar Rp 2.400.000,00 (dua juta empat ratus ribu rupiah). Komponen lain yang jelas berubah adalah kebutuhan premium menjadi 30 hari x 3 1/3 liter x Rp. 6.500,00 (enam ribu lima ratus rupiah) atau sekitar Rp. 650.000,00 (enam ratus lima puluh ribu rupiah) per bulan dan biaya perawatan Rp. 450.000,00 (empat ratus lima puluh ribu rupiah) per bulan karena kenaikan harga onderdil dan ongkos montir atau total sebesar Rp. 1.100.000,00 (satu juta seratus ribu rupiah). Ditambah retribusi sebulan yang tidak mengalami kenaikan, pengeluaran sang sopir dalam sebulan untuk kepentingan kerjanya adalah Rp. 1.100.000,00 + Rp. 60.000,00 = Rp. 1.160.000,00 (satu juta seratus enam puluh ribu rupiah). Pendapatan bersih sang sopir per bulan menjadi Rp. 2.400.000,00 - Rp. 1.160.000,00 adalah Rp. 1.240.000,00 (satu juta dua ratus empat puluh ribu rupiah) per bulan. Sekilas ada kenaikan sebesar Rp. 300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) dibandingkan sebelum kenaikan BBM. Masalahnya, sanggupkan Rp. 300.000,00 ini mengatasi efek ekonomi kenaikan BBM pada kebutuhan harga pokok? Dan yang terpenting : INI HANYA ILUSTRASI. Di luar sana realitas yang dialami sopir angkot lebih kejam lagi mengingat mereka kebanyakan bukan pemilik angkot. Hanya sopir. Just it! Dan lebih buruk lagi, penumpang mereka bahkan tak sampai 10 orang dewasa per hari. Bayangkanlah!
Nah, sekarang kembali ke pertanyaan saya. Apakah mampu Balsem mengatasi degradasi kesejahteraan masyarakat terdampak kenaikan BBM? Untuk empat bulan? Rp. 150.000,00 per bulan per penerima? Singkat kata : Balsem is not the best way to solve our problem. Kalau ada pihak yang mengatakan, Balsem adalah solusi jitu untuk meningkatkan-atau mempertahankanlah saja-kesejahteraan masyarakat terdampak kenaikan BBM, jawaban saya sederhan : Balsemen wae raimu kuwi, Bos! (Jawa : Balsemi saja wajahmu itu, Bos!) Hahahaha...

Inilah yang menjadi hikmah paling penting bagi pemerintah kita. Mengandalkan Balsem untuk mengatasi masalah kesejahteraan pascakenaikan harga BBM hanya mimpi indah semenit tidur malam. Seperti balsem-dalam arti sebenarnya-pernahkah menemukan balsem yang sanggup memberikan kita rasa hangat berhari-hari hanya dengan sekali gosok? Jangan berhari-hari, dalam tempo satu jam pun rasa hangat itu kita rasakan sudah bagus. Begitulah dengan Balsem ala Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II kita ini.
***
Nah, lagu Matahari memberikan motivasi dan semangat pada kita. BADAI PASTI BERLALU. Walaupun 'musim berlalu', 'matahari pagi bersinar gelisah,' 'makin gelisah ... menanti matahari' dan berbagai ketimpangan lainnya, tetap BADAI PASTI BERLALU. Pasti! Hanya saja, simak lagi lirik lagu tersebut. Om Chrisye dan Mbak Aning Katamsi menyindir kita lewat lagu ciptaan Om Eros dan Om Yockie tersebut : KAPAN?!!! #MakJleeeb!#
***
Saya paling terkesan dengan pesan lagu Matahari di bagian tersebut. Om Eros dan Om Yockie, sekalipun dalam nafas cinta keduanya menciptakan lagu ini, ada kesan ketidakpercayaan dan keraguan akan datangnya hari yang cerah, akan berakhirnya "badai" yang melanda.
Kapan badai pasti berlalu?
Resah aku menunggu
Kapan badai pasti berlalu?
Badai pasti berlalu"
"Kapan badai pasti berlalu?" Pertanyaan ini diulang dua kali. Kali pertama, Om Eros dan Om Yockie memberikan gambaran akan kegelisahan karena menanti "badai" berlalu. Kali kedua, musisi kawakan kita itu "hanya" memberikan jawaban : Badai pasti berlalu. Begitulah dengan kondisi kita dengan kenaikan BBM saat ini.

Bayangkan kenaikan harga bahan pokok yang akan atau bahkan sedang kita hadapi sekarang. Bayangkan tingkat pendapatan riil per kapita masyarakat kita pascakenaikan BBM. Bayangkan pelambatan pertumbuhan ekonomi yang mungkin saja terjadi. Bayangkan itu semua! Jika Sahabat Manyar merasa belum cukup rumit, bayangkan amoralitas yang siap kita saksikan bersama-sama jelang 2014. Kurang badai bagaimana lagi? Saya sebagai mahasiswa hukum sudah cukup kenyang dengan krisis hukum yang terjadi belakangan ini. Kalau harus menambah satu badai lagi, badai ekonomi, astaga... Bisa-bisa saya akan bertanya : Kapan sih badai ini pasti berlalu? Pastinya, gitu! Bukankah Sahabat Manyar sudah bertanya-tanya bagaimana kepastian kenaikan harga BBM? Sekarang terjawab kan? Nah, sekarang giliran saya. Kapan nih kesejahteraan masyarakat kita bisa maksimal pascakenaikan BBM?

Bertanya : "Kapan?" Jejak Manyar
Gamang Dalam Penantian
Pertanyaan "kapan" hanya bisa dijawab dengan gagasan dan tindakan. Tanpa keduanya, badai masih akan berkutat di jidat kita. Dengan atau tanpa bentuknya yang baru. Omong-omong, sudah siap belum dengan Krisis Moneter Jilid III? Jaga-jaga barangkali saja terjadi. Orde Lama sudah dengan aksi Gunting Syafrudin. Orde Baru sudah dengan lengsernya The Killing Smiling General kita. Reformasi? Tanpa mengatakan saya berharap demikian, kita harus waspada. Kesenjangan akan melahirkan kedengkian. Kedengkian melahirkan keserakahan. Keserakahan menciptakan kecerobohan. Dan kecerobohan? Bersiaplah dengan kehancuran. Badai di atas badai...
***
Seni dan sastra adalah alat kesadaran. Jangan jadikan kreasi orang-orang di sekitar kita berlalu begitu saja. Seni dan sastra adalah hiburan. Tapi, jangan lupa : manusia adalah sosok yang pelupa. Seni dan sastra adalah salah satu pengingat kesadaran manusia dari lupa. Dan, Om Chrisye, Mbak Aning Katamsi, Om Eros, Om Yockie, mereka berempat sudah mengingat kita sejak tahun 1999 yang lalu, atau lebih jauh lagi sejak tahun 1977 dengan album BPB '77 yang ditembangkan Tante Berlian Hutahuruk : Kapan kita bisa mengakhiri persoalan yang dihadapi negeri kita? Tanyakan itu pada hatimu, Sahabat Manyarku...

Selamat sore, Sahabat Manyar. Selamat merenung! Sebagai teman merenung, silahkan dinikmati suguhan manis tembang Matahari dari Om Chrisye dan Mbak Aning Katamsi berikut ini :

Spoiler for Matahari by Chrisye & Aning Katamsi (Album "BADAI PASTI BERLALU" 1999:

Sumber Gambar :
  1. Dokumentasi Pribadi
  2. Wikipedia dan UniQPost dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Balada Subuh

Subuh Tercinta Jejak Manyar
Cahaya Harapan
Panggilan Tuhan bergema sejagat raya
Sejuta manusia menutup mata; seratus manusia terjaga
Mimpi sebagian mengelabui mereka
Taqwa sebagian menyadarkan mereka
Gemericik air mengganggu kesombongan sepi sang subuh
Mengalahkan muslihat pagi
Dan merobek labirin pintu rezeki

Langit tersipu
Bintang melepaskan tawa bagimu
   wahai hamba yang bersujud di atas tanah
Sejagat raya menyampirkan puisi puja
Padamu. Pada mereka
Pada sekelumit manusia yang sudi menyapaNya
Di tengah kantuk yang kusut menggila
Ya Allah, wahai Engkau Tuhan Kami
Ampuni diri ini
Jika tak sempurna menghadirkan hati
Ya Allah, wahai Engkau Sang Maha Kasih
Ampuni kehadiran kami
Dalam keterpejaman yang menyisa
Terimalah sujud subuhku, Ya Allah
Terimalah dalam rahman dan rahimMu
Kami hanya makhlukMu yang lemah
Tak berdaya gegas menyambut panggilMu
Sambutlah kami, ya Allah
Sambutlah do'a kami subuh ini
Dalam keberuntungan jaga yang kami nanti
Aamiin"
Dan waktu berlalu
Bias subuh
Meredup seiring surya di ufuk bumiku
Ya Allah, ya Tuhanku
Biarkan ku jumpai lagi diriMu
Di kala subuh
Esok yang pekat dan abu-abu

Sumber Gambar : Beli Surgamu Dengan Sedekah
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Rabu, Juni 19, 2013

19 Juni

(Suatu sore, seorang lelaki paruh baya terdiam pasrah dengan surat undangan merah jingga melekat di jari tangan kanannya. Tangan kirinya, sebatang pistol tua terkokang. Bibirnya gemetar. Nafasnya garang. Matanya, sarat luka ke angkasa menerawag)

Air mata menyesak
Luka mendadak
Di tapal batas kota kita
Ku jelmakan diriku menjadi pecundang
Membiarkankan jasadmu hilang
Layu. Ditiup angin senjakala itu

Ada marah. Ada dendam menyerba!
Kenapa ku diam saja?
Jauh berbekas derap kakimu memapas :
   Jarak. Waktu. Impian yang remuk lepas
Semilir angin mengejekku
Menampariku. Meludahiku
Dan aku tak berdaya
Bukankah ku pantas untuk itu?

19 Juni
Di tepian celah dua kota ini
Sama seperti lima tahun yang aku sesali
Di jemari
Sampul jingga tanda cinta menepi
Selamat bahagia, Kasih...
Selamat menjalani tualang cintamu yang kudus...
... dan tulus...

(Dan sebingkai undangan itu terkulai di tanah. Senada dengan jasad lelaki putus asa itu, berlumur darah mengakhiri hidupnya)
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kasihku Ditelan Buih

(Sajak Seorang Veteran, dari sebuah dermaga yang sepi)

Aku coba percaya
Pada laut yang biru
Dan angin darat yang bersahabat
Tapi,
   selalu saja :
Mereka khianat

Aku coba yakin
Udara tak lah terlalu dingin
Dan angkasa menjadi wadah dari kepungan jutaan ingin
Tapi,
   selalu saja :
Mereka mengecewakanku jua

Sewindu aku berjalan
Dalam letih gemetarnya angan
Dalam perih gemalaunya harapan
Kasihku ditelan buih
Jejaknya yang ku kecup November berwindu lalu
Menjadi angkuh
Menjadi keruh esok yang gemuruh!

Kasihku ditelah buih
Tak ada lagi selembang asa menjamahku
Memapah kakiku yang lemah berdiri
Tak ada lagi

Dan kini,
Wahai...
Pada siapa mesti ku gantungkan mimpi?
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selasa, Juni 18, 2013

Persimpangan Masa Depan

Jalan nasib bertebaran
Hening merisaukan - mengerikan
Menjaring geliat ketidakpastian
Masa depan di persimpangan
Penuh pertanyaan; sesak kegentaran
Musnah menatap langit :
"Ajari aku arti sempit..."

Bondowoso, 5 Juni 2013 (Pukul 00.33 WIB) dengan beberapa perubahan.
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Senin, Juni 17, 2013

Nasehat Chrisye Untuk Para Aktivis : Refleksi Lagu "Hilangnya Sebuah Pribadi"

Sindiran Ala Chrisye Jejak Manyar
Selentingan Sang Legenda
CHRISYE (alm.), sosok musisi legendaris yang meledak dan masuk ke kancah musik nasional dengan debut Badai Pasti Berlalu tahun 1977 dikenal sebagai sosok penyanyi solo pria yang anteng (Jawa : diam, tenang, tidak banyak tingkah). Publik mengenal beliau dengan lagu-lagu yang secara umum bernafaskan cinta. Dan, memang itulah yang terkenal dari beliau.

Tapi, tahukah di antara Sahabat Manyar sekalian jika beliau juga "aktif" menembangkan lagu-lagu yang humanis dan ada kalanya mengusung tema kritik sosial?

Tulisan kali ini akan membedah salah satu lagu Om Chrisye yang cukup kental nuansa kritik sosialnya. Dan yang lebih penting, cukup relevan dengan situasi kita saat ini.
***
Di tahun 1984 (setidaknya demikian dalam folder album yang saya miliki), Om Chrisye bersama-sama dengan dua sosok musisi kawakan lainnya, yaitu Om Eros Djarot dan Om Jockie S., melahirkan sebuah karya musik baru yang menjadi album lagu kesekian Om Chrisye. Album tersebut berjudul NONA, dengan label Musica Studio. Di antara sekian track yang terdapat dalam album tersebut, telinga saya begitu tertarik dengan sebuah lagu berjudul Hilangnya Sebuah Pribadi. Dalam tulisan Indolawas, lagu tersebut diciptakan oleh Om Eros Djarot. Nah, kalau soal penciptanya saya tidak terlalu kaget berhubung saya sudah kenyang dengan lagu Kembalikan Masa Depanku yang dinyanyikan Om Eros Djarot. Masalahnya, Om Chrisye? Om Chrisye menyanyikan lagu kritik seperti ini? Saya sempat tidak percaya. Kalau tembang yang bernuansa humanisme saya sudah cukup akrab sebelumnya. Sebut saja antara lain Adakah di album SABDA ALAM atau Bunda Tercinta di album AKU CINTA DIA. Lha, ini?

Buat Sahabat Manyar yang ingin tahu liriknya, monggo diwaos rumiyin! (Jawa: silahkan dibaca dulu!)
HILANGNYA SEBUAH PRIBADI
Dipopulerkan oleh Chrisye (Album "Nona", 1984)

Kemanakah 'kan kau cari
Hilangnya sebuah pribadi
Perubahan yang engkau alami
Dalam dirimu sekarang?

Waktu yang cepat berlalu
Tak pernah engkau sadari
Pergaulan di s'kelilingmu
T'lah menghapus segalanya

Dulu pernah kau bercita-cita
Berjuang untuk mereka
Kaum lemah yang menanti
Uluran tangan darimu

Tapi kini... Kau t'lah lupa...
Gaya hidupmu jauh berbeda
Tak seperti... pejuang muda...
Yang kukenal dulu

Oh apakah yang terjadi
Hingga tega kau ingkari
Cita-cita yang teramat mulia
T'lah kau tukar dengan tahta?

Ku teringat...
Janji kita...
Di masa sekolah...

-Intro-

Kemanakah 'kan kau cari
Hilangnya sebuah pribadi
Perubahan yang engkau alami
Dalam dirimu sekarang?

Dulu pernah kau bercita-cita
Berjuang untuk mereka
Kaum lemah yang menanti
Uluran tangan darimu

Tapi kini... Kau t'lah lupa...
Gaya hidupmu jauh berbeda
Tak seperti... pejuang muda...
Yang kukenal dulu

Hei, Kawan!
Mengapa semua ini harus terjadi?
Bagaimana? Sudah baca? Kelihatan jelas bukan suasana kritik lagu tersebut? Lalu, kaitannya dengan keadaan saat ini apa?

Kita sudah menjalani masa Reformasi yang cukup panjang, sekitar 15 tahun terhitung tahun 1998, walau dibandingkan umur kemerdekaan Indonesia, yang genap 68 tahun di bulan Agustus 2013 ini, "hanya" sekitar 1/4 lebih sedikit saja. Tuntutan pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (baca : KKN) yang sangat lantang di tahun 1998 dan beberapa tahun setelahnya ternyata sampai detik ini menunjukkan keadaan yang memilukan. Tanpa bermaksud melanggar presumption of innocent principle alias asas praduga tak bersalah serta tanpa bermaksud mencemarkan nama baik yang bersangkutan, penetapan Mas Anas Urbaningrum sebagai tersangka korupsi Hambalang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (baca : KPK) membuat kita harus sedikit banyak mengamini lagu Om Chrisye di atas.

Aktivis : Jangan Terpaku Pada Gelarnya Jejak Manyar
Perangkap Nama
Dalam tulisan ini, saya tidak menilai Mas Anas Urbaningrum sebagai tokoh politik dan keberadaan suara-suara miring tentang usaha menumbalkan beliau di kancah perpolitikan nasional demi kepentingan pihak-pihak tertentu. Yang saya singgung di sini adalah status Mas Anas Urbaningrum sebagai seorang aktivis kawakan dengan segudang prestasi yang membanggakan dikomparasikan dengan kasus yang membelit. Andai, kita berandai-andai saja, Mas Anas Urbaningrum secara sah dan meyakinkan terbukti melakukan tindak pidana korupsi megaproyek Hambalang dan memang demikian sesungguhnya di hadapan hukum (semoga saja tidak. Aamiin), kita harus bertanya : Dimanakah idealisme yang diusung dahulu saat aktif menjadi seorang aktivis?

Untuk diingat : saya tidak mendiskreditkan Mas Anas Urbaningrum sebagai sosok yang benar-benar terlibat secara sah dan meyakinkan terlibat dalam kasus korupsi megaproyek Hambalang. Alinea di atas hanya sebagai ilustrasi kajian dalam artikel ini mengingat pemberitaan beliau dan latar belakangnya yang cukup relevan dengan pembahasan kali ini.
***
Nah, kembali pada masalah Reformasi. Kita sudah menjalani hari-hari yang cukup panjang. 15 tahun hidup di alam Reformasi. Sekilas, ada kesan zaman kali ini "lebih menyakitkan" dibandingkan Era Orde Baru. Dari sisi ekonomi, mungkin iya. Dari sisi pengakuan hak asasi manusia (baca : HAM) dan aspek kehidupannya, sebenarnya masa Reformasi adalah masa harapan. Di Era Orde Baru manusia dipaksa berkutat dengan kenyamanan sandang-papan-pangan, walau menjadi buruk dengan Krisis Moneter 1997. Di iklim Reformasi, setiap orang berhak memperoleh hak-hak konstitusionalnya di bawah payung demokrasi. Tidak ada lagi absolutisme, tidak ada lagi otoritarianisme. Namun, mengapa ada begitu banyak ketimpangan di zaman kebebasan ini?

Di sinilah lagu Hilangnya Sebuah Pribadi memberikan jawaban atas masalah yang ada...
***
Tak bermaksud menuduh, sekali lagi patut kita pikirkan : kemana para aktivis yang berjuang di tahun 1997-1999 untuk memperjuangkan Reformasi? Secara logika, saat ini, mereka bukan lagi mahasiswa dalam arti formal. Secara logika, umumnya, merekalah yang menduduki jabatan-jabatan yang ada di pemerintahan. Mereka, sebagian, menjadi polisi, barangkali. Atau, sebagian dari mereka duduk di kementerian-kementerian atau lebih "keren" lagi, sebagian dari mereka dengan sukses menjadi anggota dewan, baik Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (baca : DPRD) di tingkat provinsi atau kabupaten/kota, atau Dewan Perwakilan Daerah (baca : DPD), atau Dewan Perwakilan Rakyat (baca : DPR). Sebagian lain menjadi pengajar di kampus-kampus di tanah air kita. Barangkali. 15 tahun sejak lahirnya Reformasi, sampai saat ini, dimanakah Reformasi itu sendiri?

Pemberantasan KKN sebatas institusionalisasi semata. Lahirnya KPK tidak serta-merta menjamin KKN lenyap. Bukan salah KPK juga. Akar masalah pada watak. Ya. Watak. Tengok sekitar kita. Kepolisian? Kejaksaan? Kehakiman? Berapa oknum di ketiga institusi tersebut yang tertangkap tangan atau dimejahijaukan karena tersangkut korupsi? Bapak Djoko Susilo? Bapak Urip Tri Gunawan? Bapak Setiyabudi? Saya berharap mereka bukan aktivis yang memperjuangkan Reformasi 15 tahun yang lalu. Atau, setidaknya mereka bukan ayah atau saudara dari para aktivis Reformasi.

Diakui atau tidak, aktivis Reformasi atau aktivis PascaReformasi, saat ini atau nanti, mereka akan kembali ke masyarakat. Idealisme yang mereka punya adalah bekal yang menunjukkan identitas diri mereka sebagai mujahid. Ya, orang yang jihad di jalan kebenaran. Dulu berteriak "Berikan makanan bagi orang yang kelaparan! Berikan minuman bagi orang yang kehausan! Berikan pakaian pada orang yang bertelanjangan!", apakah pantas saat ini atau nanti mereka membiarkan orang-orang yang kelaparan menjadi kelaparan, yang kehausan semakin kehausan, dan yang telanjang semakin ditelanjangi?

Aktivis Harapan Bangsa Jejak Manyar
Pertahankan Juangmu, Bung!
Aktivis tak sekedar sosok gagah di dalam perjuangan sebagai civitas academica, umumnya. Aktivis adalah mereka yang telah memutuskan jalan sebagai mujahid di jalan kebenaran, baik saat menjadi mahasiswa maupun hingga nanti tubuh berkalang tanah. Memang susah. Bukankah itu yang menjadikan aktivis dipuja puji seperti dewa? Nyatanya, gelar aktivis di kampus-kampus disaranakan sebagai jalan untuk membuka jejaring-jejaring bisnis, politik, ekonomi, dan hal-hal pragmatis. Saya bukannya sok tahu. Tulisan ini lahir dari pengamatan saya atas keberadaan mereka di sekitar kita. Status aktivis tak diikuti dengan sikap nyali, toleransi, dan kejujuran yang positif. Nyali demo, mengapa bolos kuliah masih TA? Katanya toleransi. Mengapa bertegur sapa dengan kubu lain saja begitu berat? Soal kejujuran? Renungkanlah sendiri.

Memilih menjadi aktivis secara pragmatis untuk kepentingan pribadi dan golongan menodai nilai-nilai keaktivisan itu sendiri. Aktivis seperti "nabi" yang membawa pelita bagi kegelapan pikiran umat. Pernahkah mendengar Nabi Ibrahim A.S. menjadi Raja Namrud? Atau, pernahkah mendengar legenda Nabi Muhammad SAW. seketika menjadi Abu Jahal? Naudzubillahimindzalik.

Aktivis adalah sosok yang mulia. Sayangnya, masyarakat kita hanya mengenal aktivis sebagai sosok yang gemar demonstrasi, mengobrak-abrik dan merusak fasilitas umum, membakar ban bekas, membuat kemacetan, berteriak-teriak di keramaian. Masyarakat, lebih-lebih orang tua kita, hanya mengenal aktivis sebagai sosok yang brutal ketika menyuarakan aspirasi, dan ada kalanya bersifat mainstream dengan gejala yang ada. Ada demo BBM, ikut nunut demo BBM. Sepanjang memahami maksud, tujuan, dan esensi kegiatan mereka, it's okay. I appreciate it with all of my heart. Really! Masalahnya, mengapa hanya begitu saja?

Saya bermimpi, suatu hari nanti, aktivis dengan penuh nyali, toleransi, dan penuh kejujuran mengamalkan idelisme mereka di bangku kuliah di perusahaan-perusahaan asing tempat mereka bekerja. Atau, mereka mengamalkan kemurnian idealisme mereka di balik meja persidangan, di ruang-ruang pemeriksaan tersangka di kepolisian, di dalam kepandaian mereka menyusun surat dakwaan dan tuntutan, di dalam kelihaian mereka menjadi seorang pengacara. Mereka menelorkan idealisme mereka dalam peraturan perundang-undangan yang secara utuh mewakili kebutuhan masyarakat.

Saya bermimpi suatu hari nanti, sahabat-sahabat saya yang menjadi aktivis, atau adik-adik saya yang akan menjadi aktivis nanti, menjadi pegawai, karyawan, wirausahawan, pejabat, atau sosok-sosok lain yang idealis. Mereka hidup dan bekerja tak sekedar untuk makan atau memastikan anak istri mendapat kesenangan, tapi mereka berjuang agar pikiran positif mereka sebagai aktivis menular pada istri mereka, anak mereka, keluarga mereka, tetangga mereka, dan jutaan orang-orang di sekitar mereka. Saya yakin, ada lebih dari seribu perguruan tinggi di Indonesia dengan berbagai organisasi yang diakui di dalamnya (baca : Organisasi Mahasiswa Intra Kampus, OMIK). Di luar alias Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (baca : OMEK)? Lebih banyak lagi, mungkin. Dengan berbagai tujuan, bentuk, dan golongan. Minimallah orang-orang yang terlibat aktif di dalam organisasi tersebut. Apakah mereka tidak bisa mempertahankan idealisme yang mereka punya di dunia nyata setelah mereka melepaskan status mahasiswa mereka? Anggap saja setiap tahun kita mempunyai seribu aktivis dalam artian formil, yaitu mereka yang berkecimpung dalam OMIK dan senantiasa memiliki idealisme dalam memperjuangkan nasib bangsa (dibuktikan dengan kegiatan demonstrasi, orasi, dan sebagainya) di seluruh Indonesia. Keseribu mahasiswa ini lulus setiap tahun dan selalu demikian setiap tahunnya. Dihitung sejak tahun 1998 sampai saat ini, 15 tahun atau setara 15.000 "mantan" aktivis mahasiswa yang dijebolkan berbagai kampus yang ada di Indonesia. Tidak bisakah mengembalikan tujuan Reformasi kita? Yang menumbangkan kakak-kakak kita di Trisakti dan aktivis ProReformasi lainnya?

Hukum Karma Ironis Jejak Manyar
Jangan Sampai Terjadi!
Saya tidak mengatakan keadaan kita yang buruk saat ini sepenuhnya disebabkan "mantan" aktivis kampus yang tidak dapat mengamalkan idealisme mereka. Selain faktor baksil Orde Baru yang masih bercokol di berbagai segi kehidupan manusia dan masih mewariskan budaya KKN pada generasi muda, tarik ulur progresifitas Reformasi di tingkat atas menjadikan agenda Reformasi kurang progres, jika tak boleh disebut stagnan a.k.a macet di tengah jalan. Tapi, andaikata "sindiran" Om Chrisye di lagu Hilangnya Sebuah Pribadi itu tidak ada di tengah-tengah kehidupan kita saat ini, masih mungkinkah keadaan seburuk ini? Satu orang berakhlak baik di tengah sekumpulan bajingan masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Kurang lebih seperti itu.
***
Aktivis adalah pribadi yang independen. Mereka adalah orang yang bebas dari mainstream zaman yang culas. Iwan Fals mencoba mem-Bongkar. Haruskah kita, khususnya sahabat dan adik aktivis kita menghalanginya?

Om Chrisye dalam lagunya mengingatkan kita, terutama para aktivis, untuk selalu ingat perjuangan kita. Memang, berjuang itu melelahkan. Tapi, hal itu jauh lebih menyenangkan daripada harus tunduk pada kemunafikan dan keegoisan. Hal itu jauh lebih baik daripada larut dalam keserakahan dan keacuhan.

Lagu Hilangnya Sebuah Pribadi mengingatkan kita untuk senantiasa mereorientasikan diri. Mengembalikan tujuan dan maksud kehidupan kita. Lagu Hilangnya Sebuah Pribadi menasehati kita untuk tidak menodai kebajikan yang kita suarakan, yang kita rasakan, yang kita pikirkan, yang kita perjuangkan dulu. Lagu Hilangnya Sebuah Pribadi menampar kesadaran diri kita : haruskah menjilat ludah sendiri?

Oh ya, barangkali sebagian dari kita bertanya mengapa ada, jika tak boleh dikatakan banyak, aktivis yang melanggar atau menarik lagi kepekaan sosial mereka? Menodai perjuangan mereka saat gelar aktivis masih murni mereka miliki? Bait terakhir Om Chrisye bertanya hal yang sama : "Hai, Kawan... Mengapa semua ini harus terjadi?" Jawabannya sederhana : karena kita bukan "aktivis" lagi. Mungkin. Hehehe...

Buat Sahabat Manyar yang sudah stres baca tulisan saya, khususnya buat sahabat dan adik aktivis yang mungkin "panas" dengan tulisan saya, mohon jangan diambil hati. Anggap tulisan ini sebagai wanti-wanti. Tanda peringatan sebelum hal buruk terjadi dan membuat kita masuk tahanan. Lebih buruk lagi, sebelum masyarakat "meludahi" status aktivis kalian. So, I want to give a streaming of Hilangnya Sebuah Pribadi to all of you. Saya akan bagikan streaming lagu Hilangnya Sebuah Pribadi buat Sahabat Manyar dimanapun berada. Semoga lagu ini memberikan motivasi dan menginspirasi kita untuk menjadi lebih baik lagi. Semoga. Aamiin.

Spoiler for : Lagu Hilangnya Sebuah Pribadi by Chrisye (Album NONA, 1984):

Sekian tulisan saya kali ini. Sampai jumpa di ulasan menarik yang akan datang!

NB : Di beberapa bagian ada istilah "aktivis dalam arti formil." Yang dimaksud istilah tersebut adalah orang-orang yang secara aktif memperjuangan kepentingan masyarakat tertentu dengan melibatkan diri dalam suatu wadah organisasi yang baku, semisal lembaga otonom di perguruan tinggi, organisasi lingkungan hidup, organisasi kesehatan, dan lembaga swadaya masyarakat. Di luar itu, ada pula "aktivis dalam arti materiil," yaitu mereka yang memperjuangkan kepentingan masyarakat tanpa harus terikat pada keanggotaan suatu organisasi formil. Lebih sederhana, aktivis dalam arti materiil adalah setiap orang yang memiliki kehendak dan perbuatan yang bertujuan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Menurut saya, golongan ini bisa juga disebut sebagai aktivis. Demikian.

Sumber Gambar :
  1. Dokumentasi Pribadi
  2. Indolawas : Chrisye - Nona

Sumber Lirik : Meloners : Hilangnya Sebuah Pribadi - Chrisye dengan revisi Jejak-Jejak Manyar
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Ya Allah

Ya Allah
Di Bumimu kami tersesat
Dalam perjalanan yang kusut berkarat
Dalam penantian panjang rindu syafa'at

Ya Allah
Di Lautmu kami mengarung
Dibanting angin busung
Dilempar gelombang murung

Ya Allah
Di Langitmu kami tualang
Diremukkan badai malang
Disentakkan gentar menjulang

Ya Allah
Di haribaanMu kami termenung
Kami rindu cintaMu
Kami damba kasihMu
Lepas lelah langkah kami berlari, ya Allah
Kaki kami luka letih
Lunglah jengah kami mengepali, ya Allah
Tangan kami retak menantang sepi
Duli
Duli
Dulimu, ya Allah
Hanya  duliMu kami nanti...
... ya Allah...
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Minggu, Juni 16, 2013

Wajah Hidup

Terminal Harapan Jejak Manyar
Sejuta Harapan Di Sini. Setiap Hari
Terminal Tawang Alun, suatu hari yang laun

Mereka datang; mereka pergi
Setiap detik kembali. Setiap itu pula menghilang
Ada raut asa. Selebihnya patah
Ada sorot damba. Selebihnya... pasrah.

Mereka tak pernah menyerah
Sekali. Dua kali. Seribu kali
Berjalan menghampiri penumpang dan bayi-bayi
Hanya untuk menerima lambaian tangan dan kata 'tidak'
Atau keangkuhan diam tanpa gerak!

Setiap hari. Setiap waktu yang berganti
Inilah yang terjadi
Mereka tak peduli
Mereka tak akan pernah peduli :
   Sampai kapan kekusutan ini melestari
Mereka hanya percaya :
   Tuhan ada. Dan rizkiNya pun jua ada
Entah. Kapan mereka bisa bercucuran menerimanya

Di terminal ini ku menyaksi
Di bangku bus antarkota ini ku berjanji :
   Ku suarakan juangmu, Kawan...

Sumber Gambar : BisMania - Jalur Selatan : Terminal Tawang Alun
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, Juni 15, 2013

Pelaminan

Kursi Pengantin Jejak Manyar
On This Place Happiness (Sometimes) Always Seen
Sepasang tubuh hadirkan sepasang senyum yang sembul dari sepasang wajah anak manusia. Selaksa rasa pancar dari selaksa bah'gia yang terbit dari selaksa damba. Dermaga baru dilabuh. Sampan baru siap dikayuh. Lautan ombak, padang angin berarak menunggu. Mereka telah meneguh. Bertaut janji hadapi segala tanpa keluh.

Dan berjuta syukur menegur berjuta gentar yang berjuta kali menyusupi hati. Tentang malam pertama. Tentang bayang-bayang menyosok orang tua. Tentang kelestarian kasih sayang dalam dada. Segala merotasi. Perlahan tapi pasti. Bergerak tak kenal henti. Jiwa mereka terbang. Melesak, melayang. Jauh menembus awan tinggi.

Sejalan waktu berjalan. Satu per satu, tamu jauhi gelanggang. Setapak demi setapak, pengantin sirna menyongsong surga. Dan pelaminan serentak sepi. Tinggal puing riuh sesaat yang lalu. Tapi, adakah yang menangisinya?
     Yang terdengar hanya gumam puja dan dengki. Seribu sobat, karib sahabat. 
     Yang terdengar hanya syukur silih berganti. Ayah bunda dan sanak famili.
   Yang terdengar hanya desah bernyanyi. Sepasang anak muda di sepasang waktu dalam sepasang perjalanan mereka yang baru. Di sebuah pembaringan yang merekam sebuah kisah di akhir sebuah pesta perkawinan dengan sebuah pelaminan. Di sebuah ode cinta yang mengekalkan...

Sumber Gambar : Olivia Wedding Decoration
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

10%... Yap! Hanya 10%... ⊂◉‿◉つ

Sedekah 10% Dari Rezeki Kita Jejak Manyar
Berani Sedekah 10%?
SEDEKAH itu ternyata susah-susah mudah. Susah karena harus memikirkan bentuk atau besaran nominal sedekah kita, siapa yang pantas kita berikan sedekah, dan kapan waktu yang tepat untuk sedekah. Mudahnya? Tentu saja karena pilihannya banyak, yang otomatis membuat si orang yang akan bersedekah mengalami kesulitan. Persis saya sampaikan di awal. Hehehe... #Mbulet.com#

Di artikel sebelumnya yang berjudul Alhamdulillah, Jum'at yang Berkesan... ^^ - Bagian Pertama, sudah saya jelaskan beberapa inspirasi yang saya dapat di hari Jum'at kemarin. Nah, tentang inspirasi pertama soal sedekah sebesar 10% dari rezeki yang kita dapat, saya mencium ada banyak kontroversi dan kesulitan untuk menerapkan. Selain nominalnya yang nanti akan relatif besar, pertimbangan pengeluaran tiba-tiba menjadi faktor penghambat upaya sedekah tersebut.

Tulisan saya kali ini akan memberikan beberapa alternatif menjalankan konsep sedekah 10% rezeki materi seperti yang saya singgung dalam tulisan tersebut. Lebih jauh, tulisan ini akan menjabarkan konsep dan pelaksanaannya sampai bentuk penyalurannya. Buat Sahabat Manyar yang penasaran, selamat membaca! (´⌣`ʃƪ)

I. KONSEP "Sedekah 10% Rezeki"
Walau bernama "Sedekah 10% Rezeki", pengertian 'rezeki' di sini dibatasi pada rezeki materi berupa uang, emas, saham, hasil panen, dan harta benda lainnya yang dapat diukur dengan uang. Tujuannya tidak lain untuk memudahkan penghitungan besaran sedekah dan menjauhkan kita dari kesulitan karena jika rezeki immateri, seperti kesehatan, kecerdasan, dan kerupawanan, dihitung sebagai rezeki, maka akan timbul berbagai perhitungan yang menyulitkan. Hal ini karena hal-hal tersebut sangat sulit diukur dengan nominal uang.

   Jika didefinisikan, "Sedekah 10% Rezeki" adalah sebuah bentuk sedekah dimana kita menyisihkan sebagian rezeki berupa harta benda (materi) yang kita terima dengan prosentase sebesar 10% dari keseluruhan total rezeki materi yang kita terima saat itu. Contoh, seorang anak kos bernama Zaki mendapat uang bulanan pada tanggal 1 Januari 2013 sebesar Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), maka dari uang bulanannya itu sebesar 10% atau Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah) dialokasikan untuk sedekah. Jika di kemudian hari, semisal tanggal 15 Januari 2013, Zaki mendapat rezeki berupa beasiswa tahap pertama sebesar Rp. 2.100.000,00 (dua juta seratus ribu rupiah), maka ia pun kembali menyisihkan 10% dari rezekinya itu untuk sedekah atau sebesar Rp. 210.000,00 (dua ratus sepuluh ribu rupiah). Jika sampai tanggal 31 Januari 2013 Zaki tidak lagi memperoleh rezeki berupa harta, maka di bulan Januari 2013 itu, Zaki "wajib" mengeluarkan sedekah sebesar Rp. 100.000,00+Rp. 210.000,00=Rp.310.000,00 (tiga ratus sepuluh ribu rupiah)

   Sekilas, nominal uang yang disedekahkan memang terlihat begitu besar, terutama untuk ukuran anak kos atau seseorang yang pendapatan bulanan < Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) per bulan, untuk ukuran saat ini. Oleh karena itu, ada beberapa bentuk dan cara penyaluran sedekah agar tidak terkesan berat dan tidak memberatkan. Poin itu akan kita jelaskan di bagian selanjutnya. Yang terpenting, sudah paham kan konsep "Sedekah 10% Rezeki"? (•ˆ⌣ˆ​​​​•)

II. ALASAN PERLUNYA "Sedekah 10% Rezeki"
Bicara alasan, otak manusia dengan kecerdasan yang disediakan, mampu membuat 1.000 alasan untuk satu permasalahan yang muncul. Anak SD ketika lupa tidak mengerjakan PR yang diberikan gurunya akan berkata bahwa bukunya hilang atau tertinggal di kelas sehingga ia tidak sempat mengerjakan tugas rumah tersebut. Itu contoh negatif. Contoh positif, Bai Fang Li, seorang tukang becak renta di Cina mempunyai alasan mulia untuk bersedekah pada suatu panti asuhan agar anak yatim piatu tidak kelaparan [Cek link ini untuk membaca].

   Menurut saya pribadi, alasan kita perlu bersedekah 10% dari rezeki materi yang kita terima adalah sebagai berikut :
I. Tanda Syukur Kepada Allah SWT.
Allah SWT. memberikan rezeki kepada kita untuk memenuhi hajat kebutuhan hidup kita. Sedekah menjadi salah satu cara untuk menunjukkan rasa syukur kita atas rezeki yang Allah SWT. berikan kepada kita. Logikanya sederhana. Kita berbahagia mendapat rezeki berupa harta. Untuk menunjukkan rasa syukur kita, kita bisa membahagiakan orang lain dengan rezeki yang kita dapat. Sedekahlah caranya. Mengapa 10%? Jawabannya sederhana, dengan uang Rp. 1.000,00 (seribu rupiah) dibandingkan Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) lebih bermanfaat mana?
II. Kepentingan Sosial Dalam Rezeki
Seperti saya singgung dalam bagian pertama topik sebelumnya, rezeki yang Allah SWT. berikan pada kita mempunyai dua bentuk (bisa disebut fungsi atau tujuan atau kepentingan). Kedua bentuk tersebut adalah personal interesting atau kepentingan pribadi dan social interesting atau kepentingan sosial. Harta yang kita miliki selalu memiliki peran tersebut. Sedekah, di samping zakat dan infaq, adalah salah satu sarana untuk memenuhi peran rezeki materi dari Allah SWT. dalam kepentingan sosialnya. Ukuran 10% semata-mata untuk memantapkan jumlah sedekah agar kepada pihak yang menerima dapat merasakan manfaat lebihnya dan bagi pihak yang bersedekah tidak terlalu mengurangi alokasi anggaran untuk kepentingan pribadinya.
III. Investasi Dunia-Akhirat
Poin ini lebih relevan dengan ajaran sedekah Ustadz Yusuf Mansyur. Walau saya di satu sisi kurang sepakat dengan aspek imbalan yang ditonjolkan dalam dakwah sedekah beliau karena meletakkan niat sedekah pada aspek bisnis dengan Allah SWT. yang notabene bisa mengurangi tingkat keikhlasan seseorang dalam bersedekah, hal tersebut harus saya akui menjadi bagian tidak terpisahkan dari sedekah. Konsep 10% ditujukan untuk memberikan efek lipat ganda dan memperbesar nilai materiil sedekah kita, yaitu nilai yang dikaitkan dengan keseluruhan harta dan keadaan kita. Rp. 1.000,00 (seribu rupiah) untuk pemulung pada umumnya sangat bernilai dibandingkan jutawan seperti Bob Sadino atau Aburizal Bakrie.
IV. Sarana Mengentas Kemiskinan
Anggap di Kota X terdiri dari 100 orang penduduk dengan jumlah penduduk berpendapatan per bulan > Rp. 2.000.000,00 (dua juta rupiah) sebanyak 20 orang, sisanya berada dalam kategori miskin. Hanya dengan menggunakan konsep "Sedekah 10% Rezeki", dalam satu bulan terkumpul harta sedekah sebesar 20x(10/100 x Rp. 2.000.000,00)=Rp. 4.000.000,00 (empat juta rupiah) atau senilai Rp. 48.000.000,00 (empat puluh delapan juta) per tahun. Dengan modal per bulan Rp. 4.000.000,00 dapat digunakan untuk membentuk usaha bersama yang dikelola dari oleh dan untuk 80 orang penduduk Kota X yang berpenghasilan rendah, semisal lembaga keuangan masyarakat berbasis syariah. Bagaimana dengan modal tahunan sebesar Rp. 48.000.000,00? Sudah tergambar manfaat sedekah dalam mengentas kemiskinan? Di sinilah peran 10% tampak dengan nyata dalam rangka meningkatkan cadanngan modal materi untuk pengentasan kemiskinan. \(^o^)/
V. Bentuk Riil Implementasi Ibadah Shalat
Ingat bahasan terakhir tentang gerakan salam dalam shalat? Baca lebih jauh artikel berjudul Alhamdulillah, Jum'at yang Berkesan... ^^ - Bagian Kedua (Habis). Esensi gerakan salam berupa tengokan ke samping kanan dan kiri adalah wujud kontrol terhadap kondisi di masyarakat. Atau, sebuah bentuk perhatian atau sikap melihat keadaan yang ada di masyarakat tempat kita tinggal. Dalam wujud nyata, kita harus menyimak kondisi di lapangan apakah masyarakat dalam keadaan kekurangan atau kelebihan. Jika dalam keadaan berkekurangan, dibutuhkan upaya agar keadaan tersebut berubah menjadi lebih baik. Setidaknya dalam keadaan berkecukupan. Di sinilah sedekah berperan antara lain untuk menunjukkan aspek konkrit dari gerakan salam.
   Hal-hal di atas adalah lima di antara sekian banyak alasan mengapa kita perlu bersedekah, dan lebih khusus, mengapa "harus" bersedekah 10%. Lalu, bagaimana bentuk sedekahnya? Simak pembahasan berikutnya.

III. BENTUK "Sedekah 10% Rezeki"
Soal bentuk sedekah, saya tidak bisa men-judge harus berupa uang tunai atau benda tertentu. Yang jelas, ada beberapa ukuran yang harus kita pahami agar sedekah kita tepat sasaran. Pertama, siapa orang yang kita akan kita beri sedekah? Kedua, bagaimana keadaan ekonominya? Ketiga, apa pekerjaannya? Keempat, apa kebutuhannya? Kelima, bagaimana akhlaknya?

Sedekah Tidak Perlu Repot Jejak Manyar
Tidak Perlu Repot
   Pertanyaan pertama berkaitan dengan sosok orang yang akan kita sedekahi. Sudah tua atau masih muda? Sehat atau sakit? Cakap berpikir atau (maaf) terbelakang mental? Dan lain-lainnya yang menggambarkan kondisi fisik dan kejiwaannya. Pertanyaan kedua berkaitan dengan taraf ekonomi sosialnya. Tidak etis kita memberikan sedekah pada orang yang kurang mampu jika masih ada kaum dhuafa yang lebih kurang mampu lagi. Atau, orang yang mempunyai hutang menurut saya bisa diakhirkan jika ada kaum dhuafa yang kelaparan karena sehari atau bahkan beberapa hari belum sempat makan. Pertanyaan ketiga, hal ini menyangkut status orang yang akan kita berikan sedekah. Jika yang bersangkutan seorang yang menganggur atau mengemis, perlu dilihat apakah hal itu terjadi karena kemalasan atau keterbatasan modal usaha. Jika seseorang memiliki pekerjaan, namun tidak cukup memenuhi kebutuhan pokoknya, maka sedekah kita dapat menjadi sarana untuk memperkuat permodalan usaha yang bersangkutan.

   Pertanyaan keempat berkaitan dengan kebutuhan yang ditanggung atau hendak dipenuhi oleh orang yang akan kita berikan sedekah. Misal, seseorang terpaksa mengemis karena tidak punya modal untuk membuka usaha menjahit. Sedekah kita bisa berupa barang meliputi peralatan untuk menjahit. Atau, seseorang dhuafa menjual koran karena kebutuhan untuk membiayai anaknya yang sekolah. Sedekah kita bisa berupa uang tunai. Dari uang tersebut orang yang kita berikan sedekah dapat melunasi tunggakan uang sekolah anaknya. Pertanyaan kelima tentu saja berkaitan dengan aspek moral. Yakinkah kalian bahwa uang yang kalian sedekahkah pada tukang nge-drugs akan memberikan manfaat? (ˇ▼ˇ)-c<ˇ_ˇ) Alih-alih, kalian terseret dalam delik narkotika karena memberikan sarana kepada seseorang untuk mengonsumsi narkoba. Pastikan lebih dulu, setidaknya secara fisik (hal ini menjadi indikator minimal), bahwa yang bersangkutan berhak atas sedekah kita karena dari sisi moral adalah sosok yang ulet, jujur, punya keinginan untuk mengubah nasib menjadi lebih baik, dan yang terpenting : beriman dan bertaqwa.

   Dari setiap jawaban atas kelima pertanyaan pokok di atas, barulah kita bisa memutuskan sedekah dalam bentuk apa yang terbaik : apakah uang tunai atau barang tertentu. Lalu, bagaimanakah kita menyalurkan 10% rezeki kita sebagai sedekah? Apakah sekaligus 10% dari rezeki harta benda yang kita dapat atau bisa dicicil asal genap menjadi 10% dari jatah sedekah kita? Simak bahasan terakhir di bawah ini.

IV. CARA "Sedekah 10% Rezeki"
Sampailah di akhir pembahasan. Setelah mengenal apa itu "Sedekah 10% Rezeki", alasan melakukan sedekah semacam itu, bentuk sedekah, maka masuklah kita pada kajian yang terakhir : bagaimana cara menyalurkan sedekah 10% dari rezeki yang kita peroleh? Jawabannya : Terserah! Yang jelas, ada dua cara umum yang bisa kita pilih : Grosir atau Eceran. ╮(^▽^)╭

   Bayangkan : Kita seorang karyawan P.T. X dengan gaji (termasuk tunjangan dan bonus serta pendapatan dari perusahaan dalam bentuk apapun) sebesar Rp. 2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu rupiah) per bulan. So, berdasarkan konsep kita, harta yang "harus" kita sedekahkah adalah sebesar Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) per bulan. Lalu, di jalan kita bertemu dengan seorang yang kecopetan dan ada seorang polisi di TKP untuk memeriksa keadaan (sengaja diilustrasikan seperti ini untuk menghindari asumsi adanya kemungkinan trik penipuan, dan sebagainya). Setelah ikut menyimak di TKP, kita tahu korban kehilangan, misal Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), uangnya dan Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) rencananya akan ia gunakan untuk membayar tunggakan uang rawat inap saudaranya di rumah sakit dan ia tak punya uang lagi untuk memenuhi tunggakan itu. Kira-kira, dari jatah sedekah kita bulan itu, saat peristiwa itu terjadi di depan mata kita, akan kita berikan berapa pada orang itu? Fokus pada jatah sedekah dari gaji bulanan saat itu. Seluruhnya? Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah)? Atau, sebagian saja, semisal Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah)?

   Sebaliknya, ada seorang pembantu tampak susah di pinggir jalan karena kehilangan uang majikannya Rp. 50.000,00 (lima puluh ribu rupiah) setelah berbelanja di pasar. Kasus ini mirip kisah Nabi Muhammad SAW. dan keajaiban 6 dirham. Kita masih karyawan P.T. X. Berapa yang kita sedekahkan untuk menolongnya? Anggap saja pembantu itu orang jujur dan gambarkan di pikiran kita dia sosok lugu dan polos. Berapa? Apakah Rp. 50.000,00 (lima puluh ribu rupiah), sesuai dengan uang majikannya yang hilang? Atau seluruh jatah sedekah bulanan kita?

   Nah, dua ilustrasi di atas menggambarkan cara yang bisa kita pakai untuk menyalurkan sedekah 10% dari rezeki harta benda yang kita terima. Jika kita memilih menyedekahkan secara sekaligus, berarti kita menggunakan mekanisme Grosir, sedangkan jika kita memilih menyedekahkannya secara terpisah pada pihak satu dan beberapa pihak lainnya, kita menggunakan mekanisme Eceran. Ini istilah saya. Terserah Sahabat Manyar akan mengartikan sebagai apa. ┐(´~`)┌

   Terakhir, lebih baik mana kita salurkan sedekah kita pada kaum dhuafa atau orang yang berhak secara langsung atau melalui lembaga zakat, infaq, dan sedekah? Jawabannya sama : Terserah. Simak lagi bagian Bentuk "Sedekah 10% Rezeki" pada setiap pertanyaan yang kita gunakan untuk mengukur bentuk sedekah yang paling tepat, terutama pertanyaan kelima. Jika kita merasa kesulitan untuk memberikan sedekah yang tepat, terutama kita ragu pada kualitas moral orang yang akan kita sedekahi, serahkan saja melalui lembaga zakat, infaq, dan sedekah. Merekalah yang akan menyalurkan sedekah kita. Tidak repot kan?
Sedekah Itu Mudah Tapi... Jejak Manyar
Dilema Sedekah -.-"
Bagaimana sudah clear dengan sedekah 10%? Intinya, jangan sampai sedekah memberatkan kita. Jika 10% dari rezeki yang kita terima cukup memberatkan, siapa yang melarang untuk menurunkannya? Bukakah sedekah berbeda dengan zakat yang bersifat baku? Sekedar tips, ada beberapa cara untuk membuat kita tidak merasa berat bersedekah sebesar 10% dari setiap rezeki materi yang Allah SWT. berikan pada kita. Apakah itu? Simak berikut ini!

  1. Sisihkan seketika 10% dari harta yang direzekikan Allah SWT. pada kita. Misal, kita mendapat angpo dari kakek nenek sebesar Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah). Sisihkan Rp. 10.000,00 (sepuluh ribu rupiah)! Syukur-syukur jika bisa dipecah dalam bentuk kecil, semisal Rp. 500,00 (lima ratus rupiah), Rp. 1.000,00 (seribu rupiah), atau Rp. 2.000,00 (dua ribu rupiah).

  2. Pisahkan uang yang biasa kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan dengan uang yang akan kita sedekahkan dan pastikan uang tersebut (yang akan kita sedekahkan) selalu kita bawa kemanapun berada (pergi).

  3. Setiap kali kita menemukan orang yang berhak kita berikan sedekah, serahkan beberapa dari uang 10% sedekah rezeki kita pada mereka. Demikian seterusnya sampai uang tersebut habis. Hal ini sukses terutama di tempat atau di kota-kota yang secara kuantitatif memiliki jumlah gelandangan atau pengemis cukup banyak. Tapi ingat : tidak semua pengemis berhak atas sedekah.

  4. Atau, pecah 10% sedekah rezeki kita ke dalam beberapa hari. Usahakan setiap hari kita menyalurkan sedekah tersebut kepada orang yang berhak. Jika kesulitan, masukkan saja pada kotak amal di masjid atau mushalla.

  5. Atau, langkah yang cukup ekstrim, simak berbagai tayangan televisi yang menampilkan orang-orang yang membutuhkan pembiayaan untuk pengobatan dan sebagainya. Salurkan sedekah kita melalui rekening yang tertera di layar kaca. Bisa juga kita mencari orang di sekitar kita yang benar-benar berhak untuk pengobatan atau kebutuhan lainnya yang sifatnya sangat urgen atau deadline (kecuali yang sifatnya maksiat, seperti hutang judi tanpa niat untuk taubat bagi si penjudi yang berhutang). Rasa iba secara kualitatif sangat mampu mendorong seseorang melakukan gerakan sosial. Antara lain, sedekah.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya dan Sahabat Manyar sekalian. Saya juga dalam tahap belajar konsep ini. Sedekah saya sebelumnya bersifat acak dan cenderung dalam jumlah yang sangat minim dalam setiap bulannya. Semoga artikel ini memberikan dorongan moral bagi kita untuk meningkatkan kepekaan sosial kita. Hidup di dunia HANYA SEKALI dan HANYA MENGHITUNG HARI. Akhirat AMATLAH PANJANG. Cukupkah amal kita sampai hari ini? Renungkanlah, Sahabat! Renungkanlah...

Finally, Selamat pagi! Selamat menikmati weekend yang indah! ٩◔‿◔۶

NB : Konsep "Sedekah 10% Rezeki" ini lahir dari gagasan saya sebagaimana saya terangkan dalam artikel berjudul "Alhamdulillah, Jum'at yang Berkesan... ^^ - Bagian Pertama." Segala kemiripan konsep dengan tulisan atau gagasan pihak lain yang timbul sebelum dibuatnya tulisan ini dan tulisan terkait sebelumnya adalah ketidaksengajaan dan murni karena kehedak Allah SWT. atas kesamaan tersebut.
Untuk Sahabat Manyar yang belum sempat membaca artikel terkait sebelumnya, cek link di bawah ini. Insya Allah bermanfaat. ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

  1. Alhamdulillah, Jum'at yang Berkesan... ^^ - Bagian Pertama
  2. Alhamdulillah, Jum'at yang Berkesan... ^^ - Bagian Kedua (Habis)

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>