Sabtu, November 09, 2013

Sewindu Pagi

Jejak manyar berkelebat di rimba halimun. Menyamar di daun-daun. Tersamar di lereng sunyi yang menahun. Suara ratap matahari dari ufuk : repih dan buruk.
   Alam duka merutuk...

Pagi Senyap Jejak Manyar
Gelap dan Senyap
Bergunduk tanah sirah. Bertumpuk hati merah. Dendam malam terbayang di langit mendung. Tinggallah asa dikunyah gundah gulita. Fatwa-fatwa buntung cerita. Gurindam petuah lumpuh makna. Orang-orang berjalan ke luar rumah. Orang-orang berlari menuju neraka. Bersama seribu lolong. Bersama seribu syahwat tirani berjubel dalam gerbong.
   Medan petaka disongsong...

Setangkai seroja layu di akhir kuncup. Gerhana pintu hari padanya mencucup. Celah pun kincup. Tak ada lagi mahkota yang recup. Tak ada lagi wangi melingkup. Dan, sewindu pagi dengung memurung. Menyabda wajah semesta dalam nestapa.
   Kleptokrasi dalam opera...

Sumber Gambar : Baltyra.com - Mengenang Kabut Hangat
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Rabu, Oktober 30, 2013

Menuju Perhentian Akhir

Kau dan aku sama. Berjalan. Mencoba menyusuri pengembaraan. Sejuta tangan mengajak serta. Dan sejuta tangan pula menggiring ke neraka. Seribu mata memandang perangah. Haruskah berpayah-payah?

Kau dan aku sama. Mendebat arah. Berpusing ria di tempat semula. Selaksa suara berbisik menggoda. Dan seribu jua kibuli kita dalam dusta. Sebaris telinga menyimak tak percaya. Haruskah sedemikian susah?

Menuju Akhir Jejak Manyar
Perjalanan Panjang
Kita lewati satu demi satu : stasiun dan peron-peron persinggahan. Kita tatap wajah-wajah puas dan cemas. Juga sederet mimik bias. Seakan-akan di sanalah ujungnya. Seakan-akan di situlah muaranya. Dan kereta kembali berjalan. Meninggalkan pengkhayal di tepian. Menyeret pecundang di lintasan. Menampung pejuang di bangku-bangku rotan gerbong harapan.

Dan pastinya : kau dan aku sama. Kita meraba dengan segenap peluh yang ada. Kita merasa lewat selusin penat yang melanda. Kita sama-sama menuju sana : perhentian akhir yang jingga. Sembari kita menunggu surya jatuh ke pangkuan; Kita bertengok pada kenangan. Pada tanah yang kita basahi. Pada sawah yang dulu kita tanami. Pada gulma yang kita siangi. Pada segala apa yang kita lewati. Pangkal telah jauh dari jengkal. Senja kan kekal. Ah. Berapa lama lagi bertemu Dia?

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selasa, Oktober 29, 2013

Kidung Buana*

Tanpa kata. Hanya irama alun menggema. Tanpa rima. Biarkan hasrat riang berterka : pada matahari. Pada langit pagi. Pada puisi yang remah berbangkit di hati.

Tanpa hirau. Hanya hening bak malam di atas danau. Tanpa gurau. Biarkan wajah merangkak melepas galau : pada nebula mimpi. Pada semburat partikel janji. Pada sepadang misteri racik simphoni.

Tanpa puja. Hanya sepasang telinga khusyuk menjamah. Tanpa damba. Biarkan jiwa lepas memepah : segala duka. Segala luka. Segala dusta yang mewabah di dunia. Dan akhirnya. Orkestra masih bersuara. Merayap dari argadwipa. Menuju kekosongan jiwa.

     Kidung Buana...

*Terinspirasi Highland, dipopulerkan Yanni (Album "If I Could Tell You", 2000)
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Senin, Oktober 28, 2013

Misteri Lelucon Hari Ini

Kiamat Kubra? Jejak Manyar
Berita Hari Ini
Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Pasti enigma lagi. Kemarin kau kenyang dijejali Century. Kali ini ku jamin kau renyang disuguhi Bunda Putri. Esok, tentang apa lagi?

Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Pasti kegundahan lagi. Kemarin kau resah melihat pangeran muda kita dikitari korupsi. Bagaimana soal cemoreng di muka pengawal konstitusi? Esok, siapa lagi?

Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Pasti keriuhan lagi. Kemarin kau muak dengar pekik atraksi si Bintang Mercy. Kini kau sebah simak hujan maki bagi Ahok-Jokowi. Esok, apa lagi?

Kabar apa yang kau dapati? Hei! Hari ini. Selain TKI diancam pancung. Selain lahan tani yang murung. Selain kegamangan langkah yang masih saja di kedua tungkai kaki kita mengerubung. Ada lagikah yang kau dapati detik ini?

     Selamat datang di misteri lelucon hari ini! Semoga kau tak bosan menikmati! Aamiin.

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, Oktober 26, 2013

Dies Natalis Tirani Reformasi

Dulu kupikir pergolakan suara itu akhir segalanya. Aku salah. Dia awal dari semuanya!

Kakakku kerap berkata : "Orde Baru harus musnah demi kehidupan yang cerah." Aku sangat mempercayainya. Hingga di hari ia berangkat ke medan laga, hingga pelukan terakhirnya di rengkuhan lenganku. Hingga ketika bayangan punggungnya hilang di pertigaan jalan. Hingga detik itu aku masih yakin pada perkataannya.

Dan jasadnya teronggok di dalam peti kayu. Bisu. Muram dan kelabu. Di televisi begitu gaduh. Entah senjata, entah pekik laknat pada sang raja. Ku mengacuh. Ku hanya ingin memandangi muka kakak lelakiku sekali lagi. Ku hanya ingin memandangi parasnya 'tuk terakhir kali.

Tak Ada Guna Tumbal Darah, Air Mata, dan Harta... Jejak Manyar
Apa Guna Pengorbanan Itu?
Dan dulu kupikir pertumpahan darah itu akhir segalanya. Aku salah. Dia awal dari semuanya!

Raung merdeka dan sujud syukur bergema di mana-mana. Mahkota raja berpindah sementara teriak memaki masih meninggi. Revolusi lancar setengah misi. Dan perjuangan masih panjang lagi. Tiba-tiba bak dewi yuris bangkit dari kuburnya. Hukum merekah mencoba menjelma kembang yang harum. Sayang. Sebatas aum.

Lalu cerita kudeta berpindah pada mangsa lainnya. Perubahan harus mematikan. Dan satu demi satu cukong-cukong berguguran. Muncullah wajah-wajah demokrasi. Muncullah wajah-wajah hak asasi. Muncullah wajah-wajah hukum yang supremasi. Trinitas yang menawan di atas kertas.

Dan dulu kupikir pergantian wajah itu akhir segalanya. Aku salah. Dia awal dari semuanya!

Kini aku berdiri di keheningan bumi. Sekian belas tahun reformasi diperingati. Ku buka lagi kotak pandora memori. Ku cungkili biji per biji kenangan silam. Hitam dan geram. Di sudut nostalgi, ku temukan lagi suara asa kakakku yang mati. Reformasi harga mati. Reformasi janji pasti. Dan ku dapati lagi senyum iman kakakku yang mati. Kebebasan bersuara. Kebebasan berguyub ria. Selebihnya, carikan-carikan formula pemerintahan masa depan menumpuk menyerupai sampah.

Ku tengok hamparan lelucon di lembah sana
Ku lihat : undang-undang berlari menangis telanjang
Ku dengar : agama bersayat luka di jalanan mengejang
Ku lihat : kesumpekan menjadi-jadi
Ku dengar : keculasan merajah pasti
Ku lihat : seratus juta orang kehilangan mata mereka
Ku dengar : dua ratus juta orang kemalingan akal mereka
Ku lihat : kebenaran menjadi pembenaran
Ku dengar : kekhilafan menjadi kemakluman
Dan ku lihat, dan ku dengar : reformasi terkikik mengelus dagu. Sukses besar perdayai kita yang masih lugu

Dan kini kupikir seragam baru itu kostum muslihat yang paling laknat. Masihkah perkiraanku musti diralat?

Sumber Gambar : PelitaOnline.com - 15 Tahun Reformasi "Gagal Total"
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kamis, Oktober 24, 2013

Togata* Derita Anak Manusia

Rona Wajah Hidup Manusia Jejak Manyar
Raut Wajah Kota
Suara kota memekik. Suara ambisi lantang meringkik. Seribu wajah. Seribu langkah. Pucat pasrah melupa tengadah. Tuhan tak bisa diandalkan hari ini. Kata mereka dalam hati.

Suara kota menjerit. Suara desak menajam ke langit. Sejuta kata. Sejuta babak cerita mengalur bak hulu sungai menuju samudera. Tumpang gelimpang telanjang. Kebaikan bukan saatnya terpajang. Kata mereka di kepala.

Di gedung-gedung; di meja-meja. Di jalanan buas dan serakah. Di trotoar yang meniupkan angin jengah. Mereka tak pernah puas menghambakan diri. Tunduk pada siapa, rutuk pada siapa. Detik jam serasa kejam. Detik jam laksana lubang nasib yang suram. Yang kusam...

Togata derita anak manusia. Fabula mereka tercatat dalam peliknya sejarah. Tak ada yang menyadarinya. Atau, tak ada yang mengakuinya? Tuhan datang dengan kemerdekaanNya. Agama hadir dengan kebebasannya. Dan manusia hadir dengan membelenggukan dirinya. Entah sampai bila lelucon ini begini.

Catatan :
*) Jenis fabula (istilah dari berbagai bentuk drama) komedi yang menggambarkan adegan kehidupan realitas di perkotaan.

Sumber Gambar : Nur Abdillah Siddiq (Alchemist) - Macet (Lalu Lintas), Anugerah Bukan Bencana
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Rabu, Oktober 23, 2013

Sepasang Remaja dan Besikal Tua

Mereka tertawa menembusi kegarangan dunia
Menyusuri lorong-lorong tanda tanya; melewati keheningan tanpa kata
Padang-padang perhentian sinis menyapa
Dan. Itulah mereka
Masih bermanja di atas besikal tua

Besikal Tua Jejak Manyar
Hidup Sederhana
Roda-roda menapaki alam semesta
Tak duli cabaran kemarau menggila; pun pula gemparan penghujan mendera
Sekotak tulus menghembus
Jadi angin segar di tengah busuk buruknya suara dengus
Danau-danau persinggahan mengusir nyinyir
Dan. Itulah mereka
Masih bermesra di atas besikal tua

Pahatan janji terlukis di bintang-bintang
Ukiran sumpah tersurat di gelombang samudera
Apalah guna bisik-bisik jikalau hati tak lagi terusik?
Apalah guna sejuta pekik :
     Bukankah asmara tak punah karena selusin dengki meringkik?
Lembah-lembah harapan tersenyum ramah
Dan. Itulah mereka
Tetap merenda di atas besikal tua

Ya. Itulah dia
Sepasang remaja dan besikal tua mereka

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi


*Terinspirasi Lagu Hidup Sederhana (Basikal Tua) dipopulerkan oleh Sudirman.
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, Oktober 19, 2013

Kelakar Sepi

Seorang lelaki. Berkelakar dengan sepi. Sendiri. Sendiri. Sendiri...

Dia bertanya pada malam hari, "dimana kasih?" Sayang. Bintang bisu berdiam diri. Dia bertanya pada angin lirih, "dimana hati?" Sayang. Udara pucat pasi. Dia kembali berkelakar dengan sepi. Sendiri. Sendiri. Sendiri...
                     ... menunggu pagi hari...
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selasa, September 10, 2013

Bintang Malam Lalu

Terangmu Kini (Mungkin) Gelapmu Nanti Jejak Manyar
Menunggu Gelap
Suatu Hari Nanti
Manusia pongah. Langkah menggagah, seakan hidup 'kan selamanya. Suara menuai resah orang-orang lemah. Dan, mereka semakin tertawa menatap rintih tuah wajah-wajah tak berdaya.

Pamflet merdeka mengudara. Menuding. Mendenging dari celah-celah ranting. Protes terbuka menyesaki jalan raya. Kata-kata, air mata membasahi telinga. Dan, darah pukulan di jidat mereka tetap tak mengubah derita. Luka masih mendunia. Tak ada yang menolong kita...

Kedamaian, kejayaan, ketentraman hidup yang yang kau impikan : bagai bintang malam lalu. Singgahnya di atas rambutmu, tak jamin serupa di gulita waktumu kini. Rotasi. Revolusi. Gerak berontak. Bukan soal masa, bukan soal garis nasibnya. Ini soal aku, kamu, dia pada mereka : kutu busuk di tangga puncak rantai kebuasan. Harus kita diamkan, atau kita musnahkan?
Padamu, kutanyakan!

Sumber Gambar : Nikicomic - Wallpaper Star Night
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, September 07, 2013

Dusun Persinggahan

Lembah di Puncak Bukit Jejak Manyar
Tanah Impian
Mendaki
Perjalanan ku susuri
Hening alam
Sunyi diam
Langit tersenyum dalam mendung yang mendegam
Gentar hujan ku telan
Ragu bayu ku singkirkan
Petualangan ini menakjubkan
Bagaimana mungkin harus ku tinggalkan?

Dan kampung perhelaan menyapaku
Tubuhnya merentang panorama
Biru. Teduh menyeluruh
Adakah kata mewakilinya selain 'pesona'?
Adakah kesan memujinya selain 'indah'?
Dan ku biarkan tubuhku,
   hatiku,
   pikirku,
   dijajahnya hingga senja menenggelamkanku
Di dalam rindu
Di dalam jingga perhentianku
Khusyuk menasbih wajahmu,
   Duhai, Dusun Persinggahan
   Sudikah kau menerimaku lagi nanti?
   Setelah pengembaraan ini?

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selasa, September 03, 2013

Sepeda Tua

Suatu Hari Nanti : 'Sepah Dibuang' Jejak Manyar
Berapa Harga Jasa Mereka?
Sepeda tua
Teronggok di dinding kumuh
Menatap beku
Di antara kebisingan sudut kotaku

Beribu waktu ia habiskan di situ
Menunggu sang Tuan
Letakkan tumpukan koran
Atau usai lunasi setoran
Dan. Ia 'kan kembali berkelana
Menerjang kebisuan jalanan
Di kepungan janji tanpa perbincangan

Kepungan asap adalah sahabat
Percikan hujan karib yang erat
Ketika saatnya tiba,
   ia percaya
Ia menutup hari di pasar desa
Entah dalam barisan barang nostalgi
Atau merepih setiap jengkal diri. Terjagal
Apakah yang harus disesali?
Bukankah karena dirinya sebuah keluarga tak kelaparan?
Bukankah karena dirinya sejuta mimpi tergapaikan?
Bukankah karena Tuhan melaluinya?
Alasan apa 'tuk menyesali?
Ia hanya sepeda tua
Begitulah selamanya...

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, Agustus 31, 2013

Mengintip Dunia

Kerdil Jejak Manyar
Hambatan
Malu-malu
Sesosok manusia mengintip dunia
Dari balik jendela
Dari persembunyian hijau muda
Sesekali matanya perangah; Sesekali gelisah
Sesekali mulutnya terbuka; Sesekali katup gulana
Hatinya ingin ke sana : padang sabana yang tak terjamah olehnya
Suara-suara memanggilnya,
Suara-suara mengajaknya
Dan. Gentar mengalahkan nyalinya

Malu-malu
Sesosok manusia melongok semesta
Setiap hari
Setiap kali bisik jiwa melambaikan tangan padanya
Dan setiap itu pula : ia tak pernah bisa menyongsongnya
Takkan pernah...

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Rabu, Agustus 28, 2013

Serdadu Tanah Airku

Amanah Di Bahu Jejak Manyar
Darma Mulia
Pada Bangsa & Negara
Gegap langkah kakimu
Bak irama merdeka
Mengundang tawa nusantara jaya
Hai, Serdadu!
Kemana kini kau menuju?

Lantang suara. Tajam sorot mata
Bak harimau sabana
Menebar gentar serigala padang bulan
Hai, Serdadu!
Dimana kau labuhkan kokang senjatamu?

Tekadmu ksatria
Demikian kakek nenekku dulu berkisah
Laksana gelombang samudera
Menyapu senyap kepengecutan bela bangsa
Hai, Serdadu!
Bagaimana kau dendangkan bisik hatimu?

Serdadu ibu pertiwiku
Haruskah kau sembunyikan jiwamu
   di balik hasutan nafsumu?
Haruskah kau kerdilkan sejarah
   di tumpukan bangsatnya dunia?
Ah. Tak terlalu murahkah?
Kepadamu, aku percaya
Semoga...

Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, Agustus 24, 2013

Elegi Evolusi Tragedi

Ironi Jejak Manyar
Masihkah Kita Tak Menyadari?
-Dunia senjata, belasan musim di belakang kita
Dulu. Kematian berawal dari kegilaan akalmu. Beranjak menjadi orasi. Berangkat menjadi pasukan besi. Invasi. Bumi terbelah; langit memerah. Samudera menjadi danau amarah. Telaga menjadi kolam simbahan darah. Mayat-mayat : tak terbungkus berkalang tanah. Tangis. Dendam meritmis. Krisis.

-Dunia maya, seperempat detik di depan, balik, atas, bawah, dan celah ketiak kita
Kini. Kematian berawal dari kebodohan akalmu. Beralih menyulap teknologi. Bergerak menyihir kemurnian hati. Kematian tradisi. Cinta terpisah; hasrat menuah. Jiwa menjelma padang mazmumah. Dada merekah menampung petaka. Zombi-zombi : berlintas waktu di depan kaca. Pasrah. Menenggelamkan diri sendiri tanpa murka. Ironis. Elegi evolusi tragedi mematik. Miris menitik...

Sumber Gambar : Berbagi Ilmu dan The Epoch Times dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selasa, Agustus 20, 2013

Improvisasi

Bertahan di Antara Ketidaknyamanan Jejak Manyar
Improv!
Tak perlu kaku
Berjalanlah dengan iramamu!
Kata siapa bising itu sinting?
Kata siapa berdebu itu kelabu?
Tengoklah riuh rendah di depan kepalamu!
Keindahan mana yang seperti itu?
Tak perlu kaku
Berjalanlah!
Berjalanlah!

Dan,
Tak perlu bisu!
Bernyanyilah dengan hatimu!
Kata siapa sumbang itu jalang?
Kata siapa buta nada memaksamu kehilangan suara?
Kata siapa, hah?
Dengarkan sahut bunyi di balik telingamu!
Kemerduan mana memersis itu?
Tak perlu bisu!
Bernyanyilah!
Bernyanyilah!
Improvisasilah!

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, Agustus 17, 2013

Merdeka (Dalam Langkah & Do'a)

Merah Putih Merdeka Jejak Manyar
Puja
Aroma senja menyengat lamunku
Ada diam di hatiku
Ada sendu di pikirku
Sayup angin bicara; sayup laut menerka
Di pesisir ku termenung memandang cakrawala

Bulan Qur'an singgah ribuan detik yang lalu
Kini
Tinggal bayang-bayang manis tersisa di balik punggungku
Dulu. Ia singgah di hari yang sama denganku saat ini
Dulu. Semusim yang lalu

Dulu. Ia datang membawa taqwa
Dulu. Bersama kidung-kidung pujangga teruntuk Dia Yang Maha Segala

Dulu. Ia dendangkan damai
Kini. Tinggal bias asa melerai : kegetiranku yang menyemai

Adakah bendera merdeka berkibar pesona?
Adakah ia menegak sentausa dalam lantunan puja?
Adakah?

Aroma senja mengutuk lamunku
Ada suara merdu memanggilku
Ada tawa riuh menyapaku
Mereka anakku. Mereka cucuku. Mereka benih bangsa penerus cita
Sayup angin menerpa; sayup laut mendamba
Ku pinta pada Tuhan Yang Esa
Merdeka bumiku : dalam langkah dan do'a
Kini. Nanti
Hingga lapuk jasadku di dasar bumi
Hingga sajakku tak didengar lagi

Sumber Gambar : Aa Gun - Jad!Berita - Hormat sama Bendera tu perlu gak sih?, menurut saya perlu!
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kamis, Agustus 15, 2013

Kebebasanku (Inilah Aku)

Diriku, Kodratku, Takdirku! Jejak Manyar
Dan Inilah Aku
Dan inilah aku. Inilah kebebasanku. Haruskah kutegaskan padamu?

Ku arungi langkahku sendiri. Tak peduli apapun pendapatmu. Persetan dengan segala hujatmu. Inilah aku. Inilah jalanku.

Kata. Rima. Nada. Mengalir dalam darahmu memuja segala. Buat apa mendengarkan petuahmu jika kau gentar menjadi aku? Gunakah menuruti ocehmu jika kau tak mengenal alur takdirku? Inilah aku. Inilah hidupku.

Ku tak mau menuruti arus gelombang. Biarpun ia menegaskan pada lembah elok yang memadang. Ku tak mau mengikuti laju sang bayu. Untuk apa begitu? Inilah aku. Inilah pikirku.

Agama. Sejarah. Pandangan kekuasaan yang kau sodorkan di jidatku. Mengapa ku harus mengikutinya? Bukankah aku punya jiwa? Haruskah kau paksakan mereka seakan aku tak bisa membedakannya : mana yang benar dan mana yang salah? Kau lupa dirimu sendiri sesat memandang mereka? Haruskah ku mengikutinya? Inilah aku. Inilah hatiku.

Ku lalui umurku dengan taqwaku. Asas. BisikanNya sudah menjelas. Setapak di muka sudah ku papas. Jarak, biarlah panjang dan meluas. Rintang melintang menghadang berulang-ulang. Coba, biarkan saja ku hadapi mereka. Ku jalani segala. Ku pangkas keraguan yang ada. Inilah aku. Inilah ambisiku.

Cinta. Kemanusiaan yang kau bawa-bawa. Mengertikah kau keduanya? Bibirmu celemotan dengan kemunafikan. Kini kau tawarkan padaku arti ketulusan? Bah, lelucon apa lagi yang kau tampilkan? Inilah aku. Inilah watakku.

Ku tak pernah peduli : nasib bagaimana yang ingin kau jilati. Ku tak akan pernah peduli : bagaimana kelak kau 'kan mati. Ku hanya ingin kau pahami : bisakah kau pahami nasib dan kematian yang kami ingini?

Bendera. Patriotisme. Nasionalisme? Aku punya makna tentang semuanya. Tak perlu kau berorasi di pantatku soal bela negara atau sekedar harumkan nama Sang Bunda. Aku tahu! Betapa gagahnya kau mengajariku. Apalagi menyodorkan di mulutku. Perlukah ku robek bibirmu? Inilah aku. Inilah juangku.

Ku mau mereka-termasuk dirimu yang menggila di sana-berhenti berceloteh tentang dunia di depan wajahku. Ku mau, mereka-termasuk dirimu yang masih saja banyak bicara di sana-menjauh seribu langkah dari usaha dan tawakalku. Aku sudah bisa berdo'a. Tanganku masih bisa menengadah. Perlukah kau membantu jariku mengangkasa? Inilah aku. Inilah yakinku.

Dan sajakku ini-mengalir ke dinding telingamu. Menggedori kesombongan batinmu. Mencolok otakmu yang dungu. Membutakan sepasang mata jalangmu di situ. Aku tak marah dengan tegurmu. Dan aku lebih takkan marah nasehatmu. Yang memuakkan bagiku, mestikah kau mencekokinya ke hidungku berulang kali ketika sudah ku mantapkan kaki hendak melangkah dan menari kemana? Diamlah! Atau ku lumatkan tulangmu. Atau ku hanguskan namamu. Atau ku lemparkan kisahmu bersama bayang-bayang hitam di kepekatan hari esok yang merisaukan. Inilah aku. Inilah murkaku. Haruskah ku buktikan padamu?

Padamu. Ku ceritakan semua itu.

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Senin, Agustus 12, 2013

Telah Lalu

Kesesatan Siap Terjadi (Lagi) Jejak Manyar
Ia Pergi; Jiwa Kita Pun Jua
Telah lalu
Ramadhan yang biru
Ramadhan yang setahun lalu ku rindu
Kini
Jejaknya menjadi sepi
Sepi menjadi buih
Buih menjadi repih : kenangan yang kembali dinanti

Habis sudah sepasang mata yang bersikerjap
Setiap kali terjaga dari lelap
Setiap kali sahur sunnah kita 'tuk bersantap

Habis sudah syukur di meja makan
Setiap kali gaung bedug mengusir senja
Setiap kali teja merah mengambang di udara

Habis sudah persinggahan ke rumah Tuhan
Setiap kali malam turun beriringan
Setiap kali gema Isya' bersahutan

Lihatlah mereka di kebisingan itu!
Lihatlah mereka di keglamoran!
Lihatlah mereka di persimpangan itu!
Kita kembali berkejaran dengan bayang-bayang
Kita kembali melesak menembus alam jalang
Dunia yang sejenak kita selipkan di tikar ketaqwaan
   kini kita kenakan
   kini kita sombongkan
   kini kita tunjukkan pada Tuhan
      yang bersigeleng penuh keheranan
Ah, Manusia. Beginilah manusia...

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, Agustus 10, 2013

Salam Tempel (Potret Seorang Bocah)

Jangan Salah Guna! Jejak Manyar
Ada Pesan di Balik Kekayaanmu
Seorang bocah
Duduk manis di ruang tamu
Jemari kecilnya yang lugu
Silap-selip hitungi uang di saku
Seribu, dua ribu
   lima ribu, sepuluh ribu
   ah, tiga puluh ribu
Alhamdulillah, gumamnya lepas
'Untuk bantu Ummi membeli beras'
Desau pikirnya yang bebas
Teringat sepiring nasi yang dilahapnya berdua
   hingga sunyi tak bersisa
Malam takbir yang lalu...

Subhanallah!

***

Seorang bocah
Bersijengkang di kamar remang
Jari kekarnya koreki dompet mewah
Mencoba jumlahi pemberian sanak saudara
Sepuluh ribu, dua puluh ribu
   seratus ribu, dua ratus ribu
   ah, sejuta
Pelit sekali mereka, gerutunya marah
'Tak leluasa ku beli potret gerak para bidadari jahiliah'
Makinya sendiri bergumul desah
Terbayang betina jalang di layar kaca syahwat,
Terkilas semu kenikmatan yang lewat
Terkenang ia akan tarian tangan yang leluasa
   hingga pagi silau mengingatkannya
Malam takbir yang lalu...

Naudzubillah summa naudzubillah!

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kamis, Agustus 08, 2013

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H

Maafkan Saya Ya Kalau Ada Salah Selama Ini! ^^ Jejak Manyar
Alhamdulillah
ALLAHU AKBAR... Allahu akbar... Allahu akbar...
La illaha illallahu allahu akbar...
Allahu akbar wa lillahilham...

Tak terasa Sahabat Manyar, tiba jualah kita semua di hari yang kita nantikan : hari kemenangan, hari kemerdekaan, hari yang fitri. 'Idul Fitri.' Dua kata yang kita sambut kedatangannya dengan berpuasa sebulan penuh di kala Ramadhan, tertib dan rutin menjalankan shalat tarawih, sedekah dengan ikhlas, menunaikan zakat fitrah, dan senantiasa memperbaiki diri serta memerangi hawa nafsu. The day has come, Sahabat Manyar. Perjuangan kita sebulan penuh Allah SWT. berikan ganjaran pada kita di hari ini. Insya Allah kita kembali dijadikan suci sebagaimana seorang bayi yang dilahirkan dari rahim ibunya. Insya Allah dosa-dosa kita yang menggunung telah Allah SWT. hapuskan dari diri kita. Insya Allah segala kebaikan dan ketaatan yang kita jalankan selama Ramadhan Allah SWT. ganjarkan pada kita di hari ini. Subhanallah... Alhamdulillah... La illaha illallahu... Allahu akbar... Allah Maha Suci... Segala puji bagiMu, ya Allah... Tiada tuhan selain Engkau, ya Rabb... Allah, ya Allah, Engkaulah Dzat yang Maha Besar...

Kita harus senantiasa bersyukur karena hari ini Allah SWT. masih memberikan kita umur panjang untuk menikmati keberkahan 1 Syawal 1434 H. Kita juga harus bersyukur telah diberikan kemudahan menjalani ibadah puasa Ramadhan kemarin. Di sekitar kita, barangkali ada saudara-saudara seiman kita yang harus bersusah payah melewati Ramadhan mereka dengan mencari sesuap makan. Sementara kita? Allah SWT. memberikan karunia pada kita untuk membeli seperangkat alat shalat baru, baju baru. Allah SWT. memberikan kita anugerah berkumpul dengan orang-orang tercinta di sekitar kita. Sementara mereka? Barangkali, saat ini, ada saudara-saudara kita yang bertakbir dengan hati yang getir karena tak bisa mudik. Entah karena tidak memiliki biaya. Entah karena kesehatannya terganggu. Atau, entah pula karena mereka harus memenuhi kepentingan dari kita. Petugas penjaga pintu perlintasan rel kereta api. Para sopir-sopir bus antar kota dalam dan antar provinsi. Antar pulau. Pilot-pilot maskapai penerbangan yang merelakan keluarga mereka demi memenuhi kepentingan kita. Dimana rasa syukur kita? Dimana?

Kita harus senantiasa bersyukur, Sahabat Manyar. Hari ini, alhamdulillah jika kita diberikan anugerah sehat sehingga masih bisa menunaikan Shalat Idul Fitri di masjid sekitar kita. Bisa mengenakan baju baru. Bisa silahturahmi kepada tetangga-tetangga dan sanak famili. Tengok sekitar kita! Ada saudara kita yang tebaring sakit. Jangankan memikirkan baju baru. Untuk membeli obat saja mungkin mereka harus berpikir dan memilih beberapa butir obat dari resep dokter yang harus mereka tebus. Atau, sadarkah kita akan saudara-saudara kita di pemakaman umum sekitar kita? Sedang apakah mereka? Pakai baju barukah mereka? Tidak! Sebagian dari mereka dalam keadaan khawatir akan disiksa kembali oleh malaikat setelah Allah SWT. memberikan keringanan akan siksa itu selama bulan Ramadhan. Ya Allah, tiada daya bagi kami mengingkari nikmatMu yang besar ini...

Saya tidak bermaksud merusak kebahagiaan Sahabat Manyar di hari raya ini dengan opini-opini yang memilukan. Tapi saya juga tidak bermaksud membiarkan Sahabat Manyar larut dalam euforia yang semu. Ingat, perjuangan sebenarnya dimulai hari ini. Ya, hari ini sampai bulan Ramadhan yang akan datang. Sudah cukuplah bekal pelatihan iman dan taqwa kita selama bulan Ramadhan?

Sebelum saya menutup artikel di hari yang bahagia ini, mari kita bersyukur atas nikmat Allah SWT. pada diri kita, pada keluarga kita, pada sanak famili kita, pada agama kita, pada bangsa kita, pada negara kita, pada Bumi kita, pada alam semesta kita, dan pada segala hal yang masih bisa kita rasakan keberadaan dan kenikmatannya saat ini. Segala yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Segala yang datang pasti akan pergi. Syukurilah kebahagiaan yang datang dan ikhlaskanlah sebagian dari kebahagiaan itu yang pergi. Mari kita perbanyak bertasbih kepada Allah SWT. Bersedekahlah pada kaum dhuafa yang mencari sedikit kebahagiaan di Idul Fitri ini. Terlalu kikirkah kita untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka?

Akhirul kalam, Selamat hari raya Idul Fitri 1434 H. Semoga Allah SWT. senantiasa menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan. Semoga Allah SWT. mensucikan diri kita dan semoga Allah SWT. menjadikan kita sebagai golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat... Ja'alanallahu minal a'idin wal faidzin, taqabbalallahu minna wa minkum... Aamiin...

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

*READ MORE PLEASE :
  1. Buat yang belum tahu artikel edisi Jum'at Ramadhan, silahkan klik link berikut ini : 1) Hari-Hari Yang Mulia - Jum'at Pertama Ramadhan 1434 H, 2) Puasa-Tarawih dan Solidaritas Sosial - Jum'at Kedua Ramadhan 1434 H, 3) "Jebakan" di Bulan Ramadhan - Jum'at Ketiga Ramadhan 1434 H, dan 4) Mengisi Detik-Detik Perginya Ramadhan - Jum'at Terakhir Ramadhan 1434 H.
  2. Silahkan cek label RAMADHAN untuk membaca artikel seputar bulan Ramadhan, label ISLAM untuk artikel terkait seputar Islam, dan label SYAWAL untuk membaca artikel seputar bulan Syawal. Selamat membaca! ^^
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selasa, Agustus 06, 2013

Zakat

Kikir Zakat Jejak Manyar
Ketika Dunia Menguasai Hati Kita...
Detik menjelang
Batas akhir di ujung pandang
Bagai kilatan pedang
Senandung perpisahan sayat terdengar mengumandang
Sendu mengerang

Seratus juta wajah-wajah sayu
Berselaput mega kelabu;
   antri di barisan kaum layu
Asa damba menerka
Iman jua menyerba
Yakin surya esok secercah bagi mereka

Di sekeliling mereka
Selusin kepala memandang dengan kecewa
Tangan-tangan nista mereka;
   ragu-ragu sisihkan zakat jiwa
Kekikiran menitik nadir
Fakir; nurani mengerdil
Sementara itu
Antrian makin membelakang
Tengadah tangan-tangan harapan menjuntai ke langit
Dan firman turun susupi hati yang sempit
Dan... tiada terbangkit

Seratus juta wajah-wajah lesu
   menabur cemburu...


Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Minggu, Agustus 04, 2013

Sedekah Kini (Dan Kikir Nanti)

Lihatlah hari ini!
Berbondong anak manusia
Antri!
Berdiri di muka pintu orang-orang papa

Tanya : Kenapa? Jejak Manyar
Beginikah Kita?
Raut senyum sapa mereka
   bagai malaikat ambles dari surga
Raut ramah duli mereka
   laksana dermawan pujaan
Menyuguhkan tangan dan perasaan
Dan. Benar
Memanglah demikian
Untuk Ramadhan kali ini

Nanti
Ketika gema takbir Syawal menebal
Nurani mereka kembali batu
Curiga pada sosok wajah-wajah berdebu
Mengutuk mereka menjadi penuduh
Dengan jari menelapak angkuh
Menolak. Menghardik
Walau dengan hati mendelik
Ah.
RamadhanMu terlalu singkat, Tuhan...

Sumber Gambar : DuniaKorap dan Pejuang Mimpi dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar

Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, Agustus 02, 2013

Mengisi Detik-Detik Perginya Ramadhan - Jum'at Terakhir Ramadhan 1434 H

Sudah Cukupkah Amal Kita di Ramadhan Tahun Ini? Jejak Manyar
Kepergian Yang Disesali
SAHABAT MANYAR, tibalah jua di Jum'at terakhir di bulan Ramadhan 1434 H. Hari-hari yang mulia di bulan Ramadhan segera berlalu. Puasa Ramadhan dan shalat tarawih yang memperkokoh solidaritas sosial akan sirna. Tapi, kita harus bersyukur karena "jebakan" di bulan Ramadhan akan pergi untuk sebelas bulan ke depan dan selanjutnya... kita akan terjebak pada keduniawian lagi sampai sebelas bulan ke depan...

Sesuai judul artikel kita di pertemuan terakhir kita ini edisi diskusi Jum'at Ramadhan, saya akan mengajak Sahabat Manyar dimanapun berada untuk Mengisi Detik-Detik Perginya Ramadhan Tahun Ini.

Sementara itu... silahkan letakkan ponsel yang menyibukkan Sahabat Manyar dari berpikir dan merenung soal sisa waktu kita di bulan Ramadhan ini.

Silahkan matikan-atau setidaknya kecilkan-lagu yang melupakan Sahabat Manyar dari kekhusyukan ibadah di akhir Ramadhan tahun ini.

Terakhir, silahkan Sahabat Manyar tutup tab-tab atau jendela situs web Sahabat Manyar yang membuat Sahabat Manyar tertawa ria saat ini tanpa menangisi bayangan perginya Ramadhan tahun ini. Bahkan jika situs ini salah satunya, tutuplah. Saya ikhlas dibandingkan harus menanggung dosa karena melalaikan Sahabat Manyar dari mengingat Allah SWT. dan kekuasaan serta kerahmatanNya pada kita sampai saat ini.

Singkirkan semua gangguan untuk lima menit saja. Sudah? Jika sudah, mari kita isi detik-detik tersisa ini dengan sebuah pertanyaan : apa yang kita dapat sampai hari ini?
Silahkan direnungkan, Sahabat Manyarku...
***
Kurang lebih kita sudah menjalani ibadah puasa Ramadhan selama 23 hari dan saat ini kita memasuki hari ke-24 di bulan Ramadhan. Tiga Jum'at berlalu dan Jum'at terakhir di Ramadhan ini baru kita awali. Sudah sejauh mana perjuangan kita menjemput rahmat Allah SWT.? Perubahan apa yang kita alami? Positif? Atau malah... negatif?

Tanpa terasa, ya, tanpa terasa Ramadhan sebentar lagi akan meninggalkan kita. Sekali lagi, kita akan merindukan pertemuan dengan bulan mulia ini. Kita akan merindukan, sangat merindukan, bulan dimana Allah SWT. dengan begitu lembut membuka berbagai pintu kebaikan dan kesejahteraan bagi kita. Kasih sayangNya diberikan dan ditebarkan di setiap tarikan nafas kita. Sudahkah kita meraihnya? Mendapatkannya?

Ramadhan segera berlalu. Tak lebih dari satu minggu lagi. Kita akan-sekali lagi-dihantui pertanyaan yang sama seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya : masih hidupkah kita di Ramadhan tahun depan? Atau, "sedikit lebih halus," masih bisakah kita berpuasa, beribadah, pergi ke masjid untuk tarawih pada Ramadhan tahun depan? Terngiangkah pertanyaan itu di telinga kita sekarang? Atau, kita merasa tak peduli?

Bayangkan Jika Jawabannya 'Tidak' Jejak Manyar
Tanyakan Pada Hati
Saat ini, persis ketika Sahabat Manyar membaca alinea ini, barangkali saudara kita sesama muslim tak lagi bersama kita di dunia. Allah SWT. memanggilnya, mengajaknya bertemu karena waktu baginya telah tiba. Sudah siapkah jika yang Allah SWT. panggil itu kita? Sudahkah?

Barangkali, saat ini, sanak famili saudara muslim kita sedang menjalani detik-detik terakhirnya menikmati Ramadhan. Sebab, takdir mereka di Lauhul Mahfuhz menentukan usia mereka takkan sampai di Ramadhan yang akan datang. Bagaimana jika itu sanak famili kita? Sanggupkah kita kehilangan mereka?

Bagaimana jika hari ini, saat ini, artikel ini adalah artikel terakhir yang Sahabat Manyar baca dari situs Jejak-Jejak Manyar karena persis di Ramadhan yang akan datang, Sahabat Manyar tak lagi punya kesempatan untuk membacanya atau saya tak punya kesempatan untuk kembali berbagi pikiran saya karena Allah SWT. telah menentukan batas akhir perjalanan kita? Sudah siapkah kita? Astagfirullah aladzim... Panjangkanlah usia kami, Ya Allah... Jumpakanlah kami pada Ramadhan yang akan datang... Aamiin...
***
Hari ini, detik ini, barangkali 4/5 hati kita, atau bahkan 99/100 hati kita sudah meletakkan keindahan Ramadhan persis di bawah secarik kertas yang berisi nama-nama sahabat, rekan kerja, kolega yang akan kita kirimkan parsel ucapan Lebaran. Atau, keagungan Ramadhan kita biarkan di bawah tumpukan baju baru yang kita beli untuk menyambut kemeriahan Hari Idul Fitri, 1 Syawal 1434 H yang akan datang. Atau, kita bahkan melupakan Ramadhan sejak bulan yang mulia ini tiba?

Sungguh sayang, Sahabat Manyar, sungguh sayang jika kita mengabaikan Ramadhan di detik-detik akhir kepergiannya. Bayangkan seseorang yang kita cintai berada di ujung hayatnya. Akankah dia kita tinggalkan? Jika bisa, saya yakin kita akan melakukan apa saja agar ia tetap ada di samping kita. Mengapa tak demikian dengan Ramadhan? Apakah karena kita berpikir Ramadhan akan datang lagi tahun depan? Benar. Tentu saja benar. Ramadhan akan kembali datang tahun depan, dan ia akan singgah dua tahun yang akan datang, dan ia kembali lagi tiga tahun yang akan datang, empat tahun yang akan datang, lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh, empat puluh, bahkan seratus tahun yang akan datang insya Allah Ramadhan yang mulia ini akan datang. Masalahnya, apakah kita masih ada kesempatan tahun depan untuk menyambut kedatangannya? Ya Allah, ya Dzat Penguasa Alam ini... Panjangkanlah umur kami, ya Allah... Pertemukanlah kami dengan Ramadhan-RamadhanMu yang mulia di tahun depan dan tahun-tahun yang akan datang, ya Robb... Aamiin...
***
Allah SWT. masih memberikan kita sekitar 6 hari, termasuk hari Jum'at yang diberkahi Allah SWT. ini, untuk memaksimalkan diri kita, beribadah sebanyak dan sekhusyuk mungkin di bulan penuh kemuliaan ini. Allah SWT. masih memberikan kita waktu sekitar 6 hari untuk berlomba-lomba meraih keberkahan Lailatul Qadar. Allah SWT., Tuhan semesta alam, masih memberikan kita sekitar 6 hari untuk berbenah, lebih berbenah, dan terus berbenah diri. Haruskah kita menyia-nyiakannya?

Kita bersihkan hati kita selama 6 hari ini. Kita buang kotoran di hati bernama marah, iri, dengki, dan segala racun berbisa lainnya. Kita buang kesombongan intelektual kita. Kita remukkan keangkuhan spiritual kita. Kita bakar kutu-kutu yang membuat busuk emosi kita. Belajarlah dari Allah SWT. tentang kasih dan sayang. Belajarlah dari Allah SWT. tentang memberi. Belajarlah, belajarlah demi kebaikan yang tersisa dalam waktu yang singkat ini.

Ramadhan 'Kan Pergi Jejak Manyar
Dan Ia Akan Pergi
Kita nikmati kebersamaan yang indah di bulan Ramadhan ini dengan iman dan taqwa. Kita isi sahur dengan keyakinan dan kita sambut saat berbuka dengan syukur dan pengakuan atas Dzat Allah SWT. yang memberikan kita limpahan rizki. Kita nikmati takbirnya shalat tarawih dan khusyuknya sujud di shalat witir. Kita sediakan zakat fitrah bagi mustahiq di sekitar kita. Kita sediakan sedekah di akhir Ramadhan yang kita punya ini. Bersegeralah, Sahabat Manyar! Bersegeralah berbuat kebaikan. Selagi Allah SWT. masih memberikan kita kesempatan...
***
Sebelum saya akhiri artikel terakhir saya di edisi Jum'at Ramadhan tahun ini, mari kita berdo'a supaya Allah SWT. memberikan kita rahmat untuk berjumpa lagi di bulan Ramadhan tahun 1435 H. nanti. Mari kita berdo'a supaya Allah SWT. menerima segala bentuk ibadah yang kita kerjakan di Ramadhan tahun ini dan menghapus kekurangan atau kekhilafan yang kita lakukan. Mari kita berdo'a agar Allah SWT. memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beruntung dan memperoleh keutamaan Lailatul Qadar. Mari kita berdo'a, Sahabat Manyar, agar Allah SWT. memberikan keberkahan Ramadhan tahun ini sepenuhnya bagi kita, keluarga kita, dan saudara seiman kita semua di dunia serta semoga Allah SWT. memberikan hidayah bagi umat-umatNya yang belum tercerahkan dengan menyebut keagungan Ramadhan tahun ini. Aamiin...

Bismillahirahmanirahim...
Ya Allah, ya Dzat Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
Subhanallah wal-hamdulillah wa laa illaaha ilallaahu wallahuakbar
Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim, ya Azis, ya Malik, ya Qudus, ya Rozak, ya Rabbalalamin...
Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah
Allahumma shall 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad... Kamaa shallaita 'alaa Ibrahim wa 'alaa aali Ibrahim... Fil-'aalamiina innaka hamiidum majiid...

Ya Allah, ya Tuhan kami...
Tiada daya bagi kami untuk mengingkari DzatMu, ya Rabb...
Tiada daya bagi kami untuk mengkufuri nikmatMu pada kami, ya Allah...
Engkaulah Tuhan semesta alam...
Engkaulah Dzat yang Maha Melihat, ya Rabb
Engkaulah Dzat yang Maha Mendengar...
PadaMulah kami mampu berdo'a
Hanya padaMu ya Allah kami sanggup bergantung...

Ya Allah, ya Tuhan kami...
Ampunilah diri kami... Ampunilah kekhilafan kami...
Bersihkanlah diri dan hati kami dari dosa ya Rabbi...
Mudahkanlah kami ya Allah...
Mudahkanlah kami untuk mengenali yang baik dan buruk
Mudahkanlah kami untuk membedakan yang halal dan yang haram
Yang manfaat dan yang mudharat
Yang Kau berkahi dan yang Kau benci
Yang Kau rahmati dan yang Kau laknati, ya Allah...

Dekatkanlah kami pada cintaMu, ya Allah... Dan jauhkanlah kami dari murkaMu...
Dekatkanlah kami pada berkahMu, ya Allah... Dan jauhkanlah kami dari siksaMu...

Berikanlah keridhaanMu ya Allah atas Ramadhan yang kami lalui pada diri kami
Berikanlah keberkahanNya pada kami ya Robb
Pada ayah, ibu kami...
Pada suami/istri kami...
Pada anak-anak kami...
Pada kakak dan adik kami...
Pada saudara muslimin dan muslimat...
Pada saudara kami kaum mukmin dan mukminat, ya Allah...
Pada saudara-saudara kami yang mengharapkan hidayah dariMu ya Allah...

Jauhkanlah kesia-siaan ibadah kami, ya Allah...
Berikankanlah ganjaran kebaikan yang Engkau janjikan pada kami...
Limpahkanlah, ya Allah...
Luaskanlah, ya Allah...
Panjangkanlah, ya Allah...
Lapangkanlah, ya Allah...
Dan jadikanlah manfaat, ya Allah...
Atas ampunan yang Kau berikan,
Atas rizki yang Kau berikan,
Atas waktu yang Kau berikan,
Atas usia yang Kau berikan,
Atas kesempatan yang Kau berikan,
Atas kesehatan yang Kau berikan,
Atas segala kebaikan yang Kau berikan pada kami, ya Rabb...
Baik yang ada di Bumi maupun di Langit...
Baik yang ada di dunia maupun di akhirat...
Baik yang ada pada diri kami hari ini maupun yang akan ada di kemudian hari...
Baik yang telah Engkau berikan, ya Allah...
Maupun yang Engkau janjikan dan Engkau tambahkan pada diri kami dengan kebesaran dan kekuasaanMu, ya Rabb...

Pertemukanlah kami dengan Ramadhan tahun depan, ya Allah...
Pertemukanlah pula kami dengan Ramadhan bertahun-tahun yang akan datang...
Kami rindukan kasih sayangMu di bulan Ramadhan ya Rabb...
Kami rindukan ampunanMu di bulan Ramadhan, ya Allah...
Panjangkanlah umur kami, ya Rabb...
Panjangkanlah ya Rabb...
Panjangkanlah... Ya Allah, Ya Illahi Rabbi... Tuhan kami dan Tuhan semesta alam...

 Ya Allah...
Engkaulah Dzat yang Maha Menerima Do'a
Ya Allah...
Engkaulah Dzat yang Maha Mengabulkan Do'a
Ya Allah...
Terimalah do'a kami... Kabulkanlah do'a kami, ya Rabbi...
Engkaulah tempat kami meminta...
Engkaulah ya Allah tempat kami berpasrah diri...
Tiada daya kami tanpa cintaMu...
Tiada daya kami tanpa kasih sayangMu, ya Allah...
Tiada daya kami tanpa pertolonganMu...
Ya Allah...
Hanya kepadaMu kami meminta...
Hanya kepadaMu ya Allah kami memohon...

Rabbighfirlii wa liwaalidayya warham humaa kamaa rabbayaanii shaghiiran...
(Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka memelihara ketika aku masih kecil)

Allahumma as-alukal hudaa wat tuqaa wal 'afafaa wal ghinaa...
(Wahai Tuhanku, aku memohon kepadaMu petunjuk dan taqwa serta mawas diri dan kekayaan)

Allaahumma aghninii bil'ilmi wa zayyinii bil hilmi wa akrimnii bit taqwaa wa jammilnii bil 'aafiyati...
(Wahai Tuhanku, limpahkanlah aku dengan ilmu pengetahuan dan hiasilah aku dengan sifat lemah-lembut, serta muliakanlah aku dengan ketaqwaan dan baguskanlah kesehatanku)

Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba'da idzhadaitanaa wahablanaa min ladunka rahmatan innaka antal wahhabbu...
(Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau goyahkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk dan berilah kami rahmat dari sisiMu, Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Memberi)

Rabbanaa taqabbal minnaa innaka antaas sami'ul 'aliim..
(Wahai Tuhan kami, terimalah amal dari kami, Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)

Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanatan wafil aakhirati hasanatan 'adzaaban naari...
(Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jauhkanlah kami dari siksa api neraka)

Subhaana rabbika rabbil-'izzati 'ammaa yashifuun, wa salaamun 'alal-mursaliina wal-hamdu lillaahi rabbil-'aalamiin
(Maha suci Engkau, Tuhan segala kemuliaan, Suci dari segala apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir, Semoga kesejahteraan atas para rasul dan segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam)

Aamiin...
Aamiin, ya Allah...
Aamiin ya Robbal alamiin...

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

*READ MORE PLEASE :
  1. Buat yang belum tahu artikel Jum'at minggu lalu, silahkan klik link berikut ini : 1) Hari-Hari Yang Mulia - Jum'at Pertama Ramadhan 1434 H, 2) Puasa-Tarawih dan Solidaritas Sosial - Jum'at Kedua Ramadhan 1434 H, dan 3) "Jebakan" di Bulan Ramadhan - Jum'at Ketiga Ramadhan 1434 H.
  2. Silahkan cek label RAMADHAN untuk membaca artikel seputar bulan Ramadhan dan label ISLAM untuk artikel terkait seputar Islam. Selamat membaca! ^^
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Senin, Juli 29, 2013

Kau Ketuk Kami

Engkau Dzat Penerang Jalan Kami Jejak Manyar
Nikmat Mana Lagi Yang (Bisa) Kami Ingkari?
Lama kami meninggalkan kenangan kami tentangMu
Dan...
Kau ketuk pintu hati kami, Ya Rabb
   yang angkuh memandang barzah
   yang sombong merengkuh dunia
Kau ketuk ia. Dengan cinta yang memelita

Lama kami melupakan kehadiran DzatMu
Dan...
Kau ketuk mata hati kami, Ya Allah
   yang silap mengejar harta
   yang bakhil sekedar menderma
Kau ketuk ia. Dengan kemurahan rizki yang setia

Terlalu lama kami mengacuhkan sinar terangMu
Dan...
Kau ketuk jalan hidup kami, Ya Kariim
   yang sesat menapaki bumi
   yang bodoh menghiasi hari
Kau ketuk ia. Dengan petunjuk dan hidayah nan bergelora

Ya Ghaffar...
Untuk alasan apakah kini kami mengabaikanMu?

Sumber Gambar : Wholles dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, Juli 26, 2013

"Jebakan" di Bulan Ramadhan - Jum'at Ketiga Ramadhan 1434 H

Bersiagalah, Kawan!
Ramadhan's Traps
ALHAMDULILLAH, kita sudah tiba di Jum'at ketiga bulan Ramadhan 1434 H. Artinya, kita sudah sampai di pertengahan Ramadhan yang penuh rahmat ini. Artikel sebelumnya kita sudah membahas seputar solidaritas sosial yang terkandung dalam ibadah puasa Ramadhan dan shalat tarawih. Sebelumnya, dua Jum'at yang lalu, kita sudah membahas hari-hari mulia yang terkandung dalam bulan Ramadhan. Hm... kira-kira, topik apa yang tepat untuk pertemuan kita kali ini? Hm... Bagaimana kalau soal jebakan? Yap! "Jebakan." Tapi, bukan sembarang jebakan. "Jebakan" ini khusus kita jumpai di bulan Ramadhan, khususnya. Penasaran? Mari kita mulai topik kita kali ini. Silahkan dibaca, Sahabatku! ^^
***
'Puasa adalah menahan diri dari hawa nafsu.' Itu konsep besar yang melekat di otak kita, maksudnya Sahabat Manyar yang berusia di atas 13 tahun atau sekitar usia sekolah menengah pertama (SMP) ke atas. Mengapa? Karena kajian keagamaan di tingkat ini mulai kompleks. Begitu menurut pengalaman saya dulu saat sekolah. Ketika sekolah dasar (SD), kita hanya mengenal puasa sekedar menahan makan dan minum dari imsyak sampai maghrib, meskipun buku-buku diktat kita mengajarkan lebih dari itu. But, children's mind. Kepolosan mereka belum mengenal arti lebih dalam puasa Ramadhan.

Ketika SMP barulah kita didadar lebih keras lagi. Buku-buku literatur pendidikan agama kita merinci berbagai dasar hukum soal puasa Ramadhan, pahala, larangan, dan ancaman bagi pelanggarannya. Kebiasaan makan diam-diam saat SD menjadi kenangan masa silam ketika SMP. Kita mulai belajar mengerem ucapan. Walaupun, sebatas bulan Ramadhan saja. Tapi, manusia tetap manusia. Selalu saja beberapa di antara mereka terperosok dalam celah-celah tertentu.

Nah. Saya hidup di Bumi kurang lebih sudah 22 tahun. Sepanjang usia ini, segudang hal membuat saya berpikir, merenung, dan menemukan sebuah petak-petak "muslihat". "Jebakan," istilah lainnya. "Jebakan" ini memiliki beragam wajah. Secara umum, "jebakan" ini terdiri dari dua kata, empat suku kata, lima konsonan dan empat vokal, dengan beberapa makna. Kita lazim menyebutnya : HAWA NAFSU.

Hawa nafsu terdiri dari kata 'hawa' dan 'nafsu.' Bicara tentang hawa, terdapat beberapa makna yang bisa kita tangkap. Pertama, bunda umat manusia dan istri dari Nabi Adam A.S. Kedua, kaum wanita atau perempuan. Ketiga, udara atau campuran dari berbagai gas. Keempat, nafsu atau keinginan.

Nafsu sendiri memiliki makna 'keinginan atau kecenderungan atau dorongan hati yang kuat, dorongan hati yang kuat untuk berbuat sesuatu yang buruk, selera atau gairah atau keinginan makan, dan keadaan panas hati atau marah atau geram.' Bisa disimpulkan hawa nafsu adalah keinginan yang kuat untuk melakukan keburukan. Demikian pemahaman dari kata per kata tersebut. Sederhananya.

Bulan Ramadhan adalah bulan pengekangan hawa nafsu. Sebagai bulan pengekangan hawa nafsu, kita jumpai banyak "kelucuan" yang dilakukan manusia. Hal itu timbul tak lain karena manusia masuk dalam "jebakan." Terperangkap. Maka, perlu dipertanyakan : puasakah mereka hari itu?
***
Ada beberapa "jebakan" yang sangat lazim terjadi di bulan Ramadhan. Secara umum, saya kelompokkan berdasarkan organ tubuh yang masuk ke dalam "jebakan" tersebut. Dari keseluruhan anggota tubuh yang ada, saya bagi menjadi tiga kelompok besar : Kepala, Alat Gerak, dan Hati. Ketiga anggota tubuh ini yang sering terjebak di bulan Ramadhan. "Jebakan" seperti apa yang mengancam masing-masing anggota tubuh kita tersebut? Simak berikut ini.
Buat Sahabat Manyar yang merasa cowok atau laki-laki atau pria atau kaum adam atau gentlemen. Bayangkanlah :
Ada seseorang perempuan idaman Sahabat berdiri di depan tubuh Sahabat...
Cantik.... ramah... baik hati...
Wajah manis... anggun... sangat mempesona...
Rambut diurai...
Tersenyum di depan kalian sekarang juga..."
Sudah Terbayangkan? Jejak Manyar
Jelita Idaman
Sudah bisa dibayangkan? Tahan sebentar! Sekarang giliran Sahabat Manyar yang merasa cewek atau perempuan atau wanita atau kaum hawa atau ladies. Bayangkanlah :
Ada seorang laki-laki. Idaman Sahabat... seorang laki-laki macho,...
Wajah tampan dan manis,... ramah...
Senyum memikat,...
Kesan rendah hati terpancar dengan begitu jelas,...
Dan sekarang... dia berjalan mendekati Sahabat! Lalu dia tersenyum... maniiiis sekali!
Dan dia menganggukkan diri tanda dia begitu menghormati Sahabat."
Sudah terbayang sosok laki-laki dimaksud? Sudah? Bagaimana? Tampan sekali, bukan? Dapat gambarannya? Tahan dulu. Imajinasikan terus dalam pikiran Sahabat.

Sekarang giliran para ikhwan dan akhwat yang masih mencari sosok akhwat atau ikhwan idaman. Bayangkan sekarang juga :
Ada sesosok akhwat atau ikhwat yang Sahabat ikhwan dan akhwat idam-idamkan, dia benar-benar muncul saat ini! Persis tiga meter di depan Sahabat....
Senyumnya memikat... Baik hati...
Busananya memukau walau terkesan sederhana.
Wajahnya teduh,... aura agamis kental dari sosok yang ada di hadapan ikhwan dan akhwat sekarang itu."
Bayangkan Mereka! Jejak Manyar
Rupawan Pujaan
Bayangkan. Bayangkan! Bayangkanlah terus. Sudah? Sudah terbayang jelas?

Nah, sekarang, buat Sahabat Manyar yang cowok, masih ada 'kan sosok cewek pujaan Sahabat? Buat Sahabat Manyar yang cewek, sosok cowok gantengnya masih jelas kan? Buat ikhwan dan akhwat, bagaimana? Sudah tergambar sosok akhwat dan ikhwan idaman Sahabat? Semua sudah dapat gambaran sosok-sosok yang rupawan itu? Menarik, bukan? Tampan dan cantik, bukan? Bayangkan dia benar-benar ada di hadapan Sahabat Manyar sekarang juga. Persis! Persis di hadapan Sahabat! Ah, dialah dewa atau dewi yang selama ini Sahabat Manyar nanti-nantikan. Benar, bukan

Pertanyaan saya : kira-kira sudah berapa anggota badan Sahabat Manyar yang masuk "jebakan"? Hahahahaha... Bingung? Saya yakin Sahabat Manyar tidak paham atau setidaknya belum sadar. Kita bahas berikut ini."
Seandainya Sahabat Manyar benar-benar mengikuti kegiatan imajinasi di atas, organ tubuh atau anggota badan Sahabat Manyar yang masuk "jebakan" dua. Apa saja? Pikiran dan hati. Pikiran berkaitan dengan stimulus atau rangsangan atau sugesti yang saya tuliskan di atas. Hati? Tentu saja perasaan senang akan sosok perempuan atau laki-laki atau akhwat maupun ikhwan idaman Sahabat Manyar di atas. Ingat, itu baru sebatas imajinasi. Seandainya pertemuan Sahabat Manyar dengan sosok idaman itu terjadi di dunia nyata, riil, bukan sekedar bayangan, organ atau anggota badan mana saja yang masuk "jebakan." Jawabannya simpel : banyak! Mulai dari mata, mulut, telinga, pikiran, hati, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya.

Mata, Sahabat Manyar terpesona memandangi sosok idaman Sahabat itu. Wajahnya yang membuat Sahabat Manyar terlena, tubuhnya yang membuat Sahabat Manyar tak sabar ingin berdampingan di pelaminan dengannya. Mulut, Sahabat Manyar tanpa terasa mengucapkan sesuatu yang memuji sosok idaman Sahabat Manyar itu. Entah wajah cantiknya, entah gaya lakunya yang menawan. Entah suaranya yang merdu, entah senyumnya yang tulus. Telinga? Sahabat Manyar mendekatkan telinga Sahabat hanya untuk mendengar suaranya yang merdu, yang enak didengar.

Tangan Sahabat Manyar terjulur, ingin berkenalan. Kaki Sahabat Manyar mengantarkannya ke tempat yang ia ingin tuju. Hati dan pikiran? Sahabat Manyar lebih tahu daripada saya ;)

Bagaimana? Dari satu kejadian saja sudah banyak "jebakan" yang "memakan" kita. Ini baru sekedar sosok lelaki atau perempuan atau akhwat atau ikhwan idaman, sosok yang ingin Sahabat Manyar jadikan kekasih, suami atau istri, ayah atau ibu bagi anak-anak Sahabat Manyar. Masalah akan bertambah ketika sosok itu pacar Sahabat Manyar, saat bulan puasa, mengajak Sahabat Manyar pergi kencan atau ngapel. Masalah bertambah lagi.
***
Bagaimana dengan kejadian atau sosok yang tak kita sukai? Itu "jebakan" juga untuk kita. Mulut kita tak segan menjelek-jelekkan, mengumbar isu, mengumpat. Tangan kita tak segan memukul. Kaki kita tak segan menendang hal-hal yang tak kita sukai itu. Begitu banyak "jebakan," bukan? Pertanyaan saya sekarang : sampai hari ini, Sahabat Manyar masuk "jebakan" apa saja? Congratulations, Sahabat Manyar sudah masuk dalam... Ramadhan's Traps! Hahahaha...

Begitulah kurang lebih. Esensi puasa kita untuk menahan hawa nafsu ternyata seringkali jebol karena ketidaksadaran kita dengan hawa nafsu di sekitar kita. Ini sebatas yang lazim. Yang tak lazim masih banyak, seperti melihat gambar-gambar atau video maksiat. Paham maksud saya, bukan? Atau malah barangkali ada yang dengan sintingnya berhubungan badan di siang hari, bahkan dengan pasangan yang bukan muhrim dan yang haram untuk dikawini. Innalillahiwainnaillahirojiun... Semoga saja sebatas bayangan buruk semata.
***
Sabar Aja Boy! ^^ Jejak Manyar
Jaga Hati+Jaga Diri=Sukses Ramadhan
Tulisan ini saya buat bukan untuk berceramah karena saya sendiri toh masih belum bisa melawan hawa nafsu secara sempurna. Saya menulis artikel ini semata-mata menjadi pengingat bagi diri saya sendiri, khususnya, untuk senantiasa menjaga puasa saya. Agar saya senantiasa mempertahankan maksud dan tujuan saya puasa. Jika tidak, bukan hal aneh jika puasa Ramadhan saya selama kurang lebih 30 hari ini hanya mendapat lapar, haus, dan letih lesu semata. Ironis bukan di hari-hari bulan Ramadhan yang mulia hanya mendapat lapar, haus, dan letih lesu? Sebuah perjuangan yang sia-sia dalam pertempuran kita selama sebelas bulan ke depan, sampai Ramadhan tahun depan.

Semoga artikel Jejak-Jejak Manyar kali ini memberikan manfaat bagi saya, Sahabat Manyar sekalian, serta keluarga, dan saudara muslim dan non-muslim kita dimanapun berada. Kebenaran hakiki semata milik Allah SWT., Dzat Yang Maha Besar, Sang Illahi Robbi. Saya hanya menguasai sepersekian milyar-atau bahkan kurang-kebenaran nisbi. Andai kata ada diksi yang keliru atau hal-hal yang tak menyenangkan, saya minta maaf. Kesalahan adalah milik manusia, khususnya saya sebagai muslim yang senantiasa harus terus belajar.

Selamat malam, Sahabat Manyar. Salam sukses. Selamat berbuka puasa!

NB : Jika Sahabat Manyar jeli, pasti merasa aneh mengapa artikel tentang Jum'at Bulan Ramadhan kali ini muncul menjelang atau bahkan saat berbuka puasa. Benar? Sengaja saya buat demikian agar tulisan ini tidak membuat batal atau "sekedar" mengurangi amalan puasa Sahabat Manyar hari ini. Lupa ya ada sugesti sableng di atas? Hehehe... Seandainya saya publish tadi pagi atau siang hari, saya pasti digugat di akhirat nanti dan dituduh menjadi dalang berkurangnya pahala atau batalnya puasa Sahabat Manyar karena tulisan ini. Jadi, harap maklum. That's my reason. ^^

Sumber Gambar :
  1. Dokumentasi Pribadi
  2. G.A.T.E.L dan muslim dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar
  3. menjelma dan Earn Money for Sharing File dengan modifikasi Jejak-Jejak Manyar

*READ MORE PLEASE :
  1. Buat yang belum tahu artikel Jum'at minggu lalu, silahkan klik link berikut ini : 1) Hari-Hari Yang Mulia - Jum'at Pertama Ramadhan 1434 H dan 2) Puasa-Tarawih dan Solidaritas Sosial - Jum'at Kedua Ramadhan 1434 H
  2. Silahkan cek label RAMADHAN untuk membaca artikel seputar bulan Ramadhan dan label ISLAM untuk artikel terkait seputar Islam. Selamat membaca! ^^
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>