Sabtu, November 10, 2012

No Reason to Keep Your Season (˘-˘)ง

It must!
KITA seringkali takut pada perubahan. Kita takut untuk memulai suatu hal yang baru atau "sekedar" mengubah keadaan lama dengan hal yang baru. Ada banyak alasan. Takut gagal, tak punya kepercayaan diri, tak punya nyali. Gengsi. Tapi, ada satu alasan yang menurut rasio saya paling parah : merasa nyaman dengan keadaan yang ada.

Kenyamanan, dalam hal apapun, merupakan situasi yang melenakan. Bagaikan surga rasanya. Namun, apakah kita tidak pernah berpikir bahwa ada surga yang "jauh lebih nikmat" daripada surga yang kita punya?

Seperti musim. Petani padi paling senang jika datang musim hujan karena dengan begitu usaha mereka berjalan dengan lancar. Selain faktor ketersediaan air, tentu saja bekerja di musim hujan "lebih melegakan" daripada di musim kemarau dengan terik cuacanya di saat mencangkul. Tapi, tentu saja berbeda dengan petani tembakau. Jika bisa, mereka lebih memilih kemarau sepanjang tahun agar bisa membudidayakan tanaman komersil mereka.

Masalahnya, Benarkah kebahagiaan itu diwujudkan dengan stagnasi kenyamanan?

Kita beranalogi : Seandainya kita disuruh memilih talenta di dunia musik, tanpa efek negatif apapun, menjadi seseorang dengan kemampuan bermain alat musik plus pandai bernyanyi atau hanya menjadi seseorang dengan salah satu bakat tersebut, MANA YANG KITA PILIH?

Rasio manusia normal pastilah akan memilih menjadi seseorang dengan bakat keduanya. Mengapa? Mudah saja. Dari sisi kewirausahaan, kita tidak perlu menyewa pemain musik hanya untuk mengiring nyanyian kita. Sebaliknya, kita tidak perlu seorang penyanyi untuk membawakan lagu-lagu yang kita hasilkan dari kreasi memainkan alat musik kita. Hemat ongkos.

Alasan lain. Dua kemampuan dibandingkan satu kemampuan sama artinya melengkapi tujuan. Artinya begini. Setiap manusia punya tujuan dalam hidupnya. Paling umum, sesuai ilustrasi analogi di atas, Ketenaran a.k.a Popularity. Logika lagi. Tanpa memperhatikan aspek moral, advertising, politik, dan konspirasi keartisan lainnya yang cukup sulit jika dijadikan variabel, mana yang lebih langka antara pemusik plus penyanyi dengan salah satu di antara keduanya? Anda bisa menjawabnya.

Dari dua alasan itu menunjukkan secara sederhana bahwa Transformasi Itu Harus Ada. Musim itu ada untuk melatih petani agar handal di lahan sawah sekaligus cerdas di lahan huma. Musim itu ada agar manusia cerdik bagaimana beradaptasi di saat kemarau dan bagaimana pula di masa penghujan. Jika manusia tidak dapat melakukan hal itu, barangkali kita jauh lebih buruk ketimbang kawanan unggas dan ikan paus yang bermigrasi saat perubahan musim. Jika demikian, Apa Manfaat Akal Pikiran Kita?

Manusia mesti dan harus mengalami perubahan. Dari sisi fisik, kita berubah. Dari pola pikir, kita berubah. Dari tingkah laku dan sosialisasi, kita berubah. Jika tidak, bisakah Sahabat membayangkannya?

So, in my opinion, there's no reason for you to keep your season. We must get all seasons that we must through. Kalian harus berlari ke luar sana. Mempelajari realita yang terjadi dan mengasah ketakutan yang menghampiri. Kalian harus membuka mata hati dan menyadari bahwa naik-turun itu pasti dan pasang-surut tidaklah abadi. Siapakah yang tahu kita menjadi surut ketika berubah? Dan siapa juga yang akan tahu bahwa kita akan pasang dengan berdiam diri?

Perubahan itu kodrat manusia. Barangsiapa tidak menyukai perubahan, maka menjauhlah dia dari ras manusia.
                                             Salam Perubahan!

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi


Anda Sedang Membaca: No Reason to Keep Your Season (˘-˘)ง

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...