Kamis, September 06, 2012

Transenden

Inilah Kita
(Tentang Kemalangan yang Tak Pernah Berkesudahan)

Aku melihatmu
Keluh dan pilu
Bagai menanggung derita sembilu
Kau bawa dukamu
Menyusuri ruang dan waktu

Aku melihatmu
Seperti tak berdaya
Begitu teganya mereka
Mengalungkan luka,
   meninggalkan derita dalam canda dan tawa

Ku harus apa?
Ku harus bagaimana?
Tanganku tak mampu menjangkau
Mereka membuih sehamparan danau
Haruskah ku tanam ranjau
   dan ku martirkan diriku bersama parau?

Aku melihatmu
Telanjang dan melintang
Dikebiri zaman
Kau merintih dilindasi perubahan
Nyanyian sejarah menampari wajahmu
Prosa harapan meludahi jidatmu
Sementara puisiku
Terdiam di sudut bisu
Menunggu giliran menginjakimu

Ku harus apa?
Ku harus bagaimana?
Kakiku tak sanggup menggebu
Kutu-kutu berselinapan di bawah pakaian
Dengan licik menghindari tangkapan
Haruskah ku teteskan darah
   dan memanggil setan gantikan pekerjaan?
Tapi. Bukankah mereka seburuknya setan?

Dan aku melihatmu
Tertawa sendiri meniti langkah
Mengikuti peredaran masa,
Mengikuti kesunyian asa :
Mengitari kecurangan bangsa
Wahai,
Bersabarlah!
Ya. Bersabarlah!
Masalah ini di luar kemampuan kita
Berdoa saja semoga ada orang kafir
Membebaskan kita dari pertarungan majir
Walau
Jasadmu tak lagi milikmu
Walau
Jiwamu tak lagi milikmu
Walau...

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi


Anda Sedang Membaca: Transenden

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...