Senin, April 30, 2012

Bumi Padang Darah

Dendam Kelam
Suara murka. Suara durja
Melesak menembus angkasa raya
Wajah-wajah iba terantuk buntu
Harapan hitam abu-abu
Mencoba meraba meski tak bisa
Tapi. Daripada diam menunggu mati?

Alun radio kematian. Membisik membangkitkan
Arak-arak pasukan. Awan hitam permusuhan
Menggerus bagai tsunami tanpa mimpi
       Menerjang terjang. Tanpa tenggang
Tiba-tiba kemudian tubuh-tubuh bergelimpang
Dan. Mereka. Orang-orang tanpa sinar
Berlarian dari kejar
Bersembunyi mencari pendar
Meski : ribuan kali lagi mereka dilempar
Meski : jutaan kali ludah menampar
Meski...

                Siapa peduli?
                     Siapa mengerti?
                          Siapa kan pahami?

Tak ada kaki yang sudi melangkah
Amat sayang emas di genggaman
Amat sayang suara di tenggorokan
Kenapa harus dibuang?
Bukankah yang di sana-
        yang tersuruk menunggu punah
-bukan saudara kita?
Hening menjala...

Bumi memadang berdarah
Simbahan air mata
Memuncak menjadi palagan derita
Sejarah takkan pernah melupakannya
Semesta tak lepas trauma
Aroma jeritan wanita,
Tilas gentarnya bocah,
Dan kepala lelaki yang gelintir jatuh ke kali
        Siapa yang sanggup menghapusnya?

Sekian windu. Sekian waktu tertempuh
Masih bisa kurasakan pilu
Masih sanggup ku simak kebinatangan di situ
Tuhanku,
             Maafkan kami yang maha dungu...
             Semoga Engkau tak menyesal ciptakan spesies macam diriku...

Terinspirasi dari film Hotel Rwanda (2004) dan Sometimes in April (2005)

Sumber Gambar : Sitinusriyah's Blog - Bab 3 : Materi PKn Kelas X SMA (HAM)
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Minggu, April 29, 2012

Ku (Masih) Bisa Mengenangmu

Tak Lekang oleh Waktu
Aku bisa mengenangnya
Pagi dan surya
Sawah dan aneka serangga
Aku bisa mengingatnya
Lusinan tawa yang tercipta
Atau sepanggul cerita yang indah
Bila ku sanggup mengulangnya?

Sudut demi sudut merekam saksi
Titik demi titik menjadi bukti
Biarkan mereka bicara
Hanya kita yang memahaminya
Biarkan mereka meludah
Toh : mereka pula yang akan menjilatinya

Lintasan waktu. Ya
Lintasan waktu
Aku. Kamu. Menyatu
Maaf jika sempat ku tinggalkan dirimu
Maaf jika sempat ku punggungi senyummu
Maafkan aku

Kini. Lingkaran waktu memanggilmu
Kembali
Rebah di pangkuan Satu
Dan aku masih sanggup merekammu :
Suaramu
Wajahmu
Langkahmu...
Satu demi satu
Satu demi satu
Selalu...

Kapankah perjumpaan itu?

Sumber Gambar : Gen22.Net - Kenangan yang Terlupakan by Bella Danny Justice
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Memucat dan Berkarat

Jalan. Meniti begitu panjang
Kau. Aku. Dulu
Kita sama-sama tahu : apa bahagia itu
Kita sama-sama tahu : apa rindu itu
Suatu ketika
Awan hitam datang
Entah karena apa. Engkau pun hilang
Menjadi sosok asing yang murung dan lengang
Suatu saat
Sempat aku mengutuk
Meski segegas ku injak dan remuk
Sempat aku mengeluh
Meski ku sadar itulah kamu
Waktu demi waktu
Saat demi saat
Kau. Aku. Memucat dan berkarat
Jalan. Yang kita titi begitu panjang
Seketika hilang...

Senja menatap dengan hampa
Sinar jingga. Ufuk darah
Air mata tak lagi guna
Namun. Selaksa namun
Belum hilang jejakmu sirna
Kumpulan binatang merembuk dan berpesta
Entah apa di benak mereka
Entah apa di relung mereka
Aku. Kamu. Takkan bisa tahu
Kedunguan apa yang lahir di situ
Maka. Teruskanlah jalanmu ke situ
Tunggu
Tunggulah aku
Suatu saat. Di suatu tempat
Kita akan bertemu
Berjumpa. Bercerita. Tertawa
Membicarakan kegilaan demi kegilaan yang ada
Setelah kepergianmu
Tunggulah saat itu...
***
Jalan. Meniti kala senja : sayup dan rembang
Aku terpukau dalam bimbang
Oh, kamu
Semoga Ia memberikanmu tenang
Dalam damai yang terang
Aamiin...

Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Memoar Seorang Cucu : She was Gone

Kala Senja Menyapa...
SUDAH lama banget ternyata saya nggak update tulisan di blog ini. Maaf ya Kawan. Akhir-akhir ini saya ada begitu banyak urusan. Mulai dari kepergian nenek saya (Maaf kalau saya nggak bisa jadi cucu yang baik sampe hari ini ಥ_ಥ) sampe tugas-tugas yang mulai berdatangan (lagi). Pohon semakin tinggi diterpa angin yang semakin kencang. Ketika seseorang diposisikan dalam situasi menuju kedewasaan, mental dan kepribadiannya diuji. Sanggupkah ia menjadi sosok dewasa? Kejadian demi kejadian yang mampir pada kehidupan saya sejak wafatnya nenek saya membuat saya berpikir : Apakah saya sudah menjadi sosok yang dewasai? Begitu banyak ternyata ketidakdewasaan di sekitar saya. Saya semakin... merasa asing. Semakin saya tahu, semakin saya ragu. Hari ini saudara. Siapa yang bisa menjamin esok dia tidak akan menjadi musuh kita? Dan, jika saudara saja bisa menjadi sosok yang berbahaya, apalagi kawan yang baru kita jumpa? Saya mencoba percaya meskipun susah.

Masa rehat sekian hari ini saya gunakan untuk berbagai hal : memikirkan nenek saya 'di sana,' merenungkan kelanjutan kisah 'orang-orang di sekitar saya', nasib saya, masa depan saya. Semuanya. Sebelum nenek wafat, nyaris setiap detik di otak saya terbayang wajah Indonesia dengan sepercik harapan dan setumpuk masalahanya. Setelah beliau meninggal, kenapa saya jadi tidak peduli pada Nazaruddin dan vonis seumur jagungnya? Kenapa otak sinis saya hilang ketika AS dibui oleh KPK? Empat buah puisi yang saya buat tentang kritik sosial mogok di dalam tas. Kenapa begini?

Kepergian nenek saya yang begitu cepat, 14 April 2012 setelah sebulan lebih menderita stroke, menjadi babak baru dalam hidup saya. Saya merasa... ada sesuatu yang akan datang sebentar lagi. Entah apa. Sesuatu yang klimaks, datang dari partikel-partikel kelicikan, kesombongan, ketamakan yang beranak-pinak. Sikut tetap saja menjadi sikut. Suatu saat nanti di sebuah jidat ia akan tersangkut. Masalahnya, kapan? Jidat siapa yang akan menjadi korban?

Nyaris tanpa pesan nenek pergi. Seperti menyimpan sejuta kerinduan akan almarhum kakek dan anak perempuan yang mendahuluinya puluhan tahun silam, beliau pergi begitu saja. Beliau meninggalkan sejuta bukti pengorbanan pada anak-anaknya. Cucu-cucunya. Beliau meninggalkan sejuta bukti kasih sayang pada orang-orang di sekitar beliau. Dulu. Kini, bisakah kami yang tersisa ini mengikuti jejak-jejak kebaikanmu?

Penyesalan, memang dan selalu, datang di penghujung perjalanan. Kepergian beliau menyisakan banyak penyesalan bagi saya. Banyak! Yang paling saya sesalkan : saya tidak bisa menatap wajah terakhir nenek sebelum beliau dikebumikan... (╥﹏╥)

Saya tidak menyangka. Benar-benar tidak menyangka. Sungguh di luar dugaan jika Ramadhan tahun lalu adalah bulan puasa terakhir yang saya lewatkan bersama nenek. Di luar dugan jika Natal tahun lalu adalah natal terakhir yang beliau rayakan.  Saya tidak menduga jika perjumpaan di bulan Februari itu adalah perjumpaan terakhir saya dengan nenek. Ketika masih sehat dan tegar menjalani masa tuanya. Dan saya lebih tidak menduga lagi jika pepaya yang akan masak 3 hari lagi itu adalah pepaya terakhir dari saya untuk beliau. Ah, Tuhan... Mengapa seperti ini?

Tidak akan ada lagi nenek berumur 70 tahunan yang akan "memaksa" saya membelikan untuknya Paracetamol dan Cimetidine berlembar-lembar. Atau Counterpain. Atau menyuruh saya membayarkan tagihan telepon yang nyaris tak pernah beliau gunakan selama bertahun-tahun.

Tidak akan ada lagi nenek yang memaksa saya untuk terjaga dari lantai dan pindah ke dalam kamar di pagi hari ketika saya sangat malas membuka mata. Tidak akan ada lagi nenek yang mengingatkan saya untuk pulang tak larut malam meskipun saya sering kali mengabaikannya. Kini yang tersisa hanya kenangan. Kenangan. Semua kenangan yang saya bangun bersama beliau sejak kecil. Kenangan kenakalan masa kecil saya dulu, yang kadang kala membuat beliau menangis hingga sempat "menumbalkan" beberapa gigi beliau hingga terpaksa memasang gigi palsu (saya tidak akan pernah melupakan 'dosa besar' masa kanak-kanak itu ಠ﹏ರೃ). Kenangan kehebohan masa kecil saya setiap kali menghabiskan waktu menangkap capung di sawah bersawah nenek. Saya ingat getah nangka yang menempel di batang lidi saya. Saya ingat capung-capung yang masuk perangkap saya. Saya ingat perjalanan yang selalu kami tempuh tiap kali awal bulan. Saya ingat semua.

Nenek yang selalu melebihkan diri saya dari cucu-cucunya yang lain. Apakah saya sudah melebihkan nenek saya dibandingkan orang-orang di sekitar saya? Nenek memberikan perhatiannya pada saya meskipun dengan omelan dan kerewelan manusia pada umumnya di masa tuanya. Sudahkah saya memberikan kasih sayang pada beliau?

Dimensi sudah memisahkan antara saya dan beliau. Kini. Dua dunia merentang tanpa saling berkata-kata. Dengan apa saya tunjukkan penyesalan saya? Sanggupkah do'a saya memudahkan jalan beliau di sana? Andai "perbedaan" itu tak pernah ada, barangkali saya bisa menebus bakti saya hingga kematian saya nanti. Sekarang? Apa yang harus saya lakukan?

Nenek, terima kasih atas semuanya. Terima kasih atas hari-hari yang indah, atas semua kenangan yang engkau buat bersamaku dulu. Terima kasih atas kesabaran yang engkau pertahankan untukku. Terima kasih...

Barangkali aku telah kehabisan waktu untuk mengucapkan perpisahan atau sekedar kecupan terakhir di keningmu sebagai tanda kasih. Barangkali juga aku terlalu kehabisan waktu untuk memberikan kenangan indah di hari-hari terakhirmu. Maafkan aku... ⎝⎲⎵⎲⎠

Ku harap engkau bahagia di alam sana. Ku harap engkau bahagia telah berjumpa dengan kakek, bibi, dan orang-orang yang telah lama engkau rindukan di sana. Aku tahu, keyakinan kita berbeda. Namun perasaan cinta itu tak akan pernah berbeda. Meskipun sesekali sempat berubah.

Cepat atau lambat, kami semua akan menyusulmu. Anak cucumu kini akan melanjutkan kehidupan kami sembari tak henti-hentinya mengenang kasih dan sayangmu selama ini. Maaf jika kami tak sempurna. Maaf jika kami tak sanggup mencoba menjadi sempurna. Maafkan kami...

Selamat jalan. Selamat berbahagia di pembaringanmu yang damai, Nenek...
Cinta kami untukmu... Selalu!

Sumber Gambar : Katakatalina's Blog - Sembunyi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selasa, April 10, 2012

Duka dan Luka

Siapa sangka :
                        di balik surya tak ada mega?
Siapa duga :
                       malam purnama kan selamanya?
Yang mampu kita cerna :
                       kisah hari ini takkan sama esok hari
                       Bersiaplah untuk tawa
                       Siagalah 'tuk air mata

Karna takkan ada yang sanggup menerka.

                                                                    Takdir!

*Jangan pernah menangisi hari kemarin, hari ini, dan esok hari. Jalani saja!*
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Beranjak Dari Diam

Try to Build a New Life
Kurasakan tamparan pagi
Mendarat mulus tepat di hati
Jaringan pikiran tersulut impian
Membangunkan enggan
Membakar gumpalan kesal
Mendesak dan menjejal

Ada seribu cerita
Ada seribu nada.
Ada selaksa tawa
Apakah harus selaksa air mata?
Dunia penuh dengan nestapa
Tak bisakah memancing cahaya?
Ada sejuta gerak
Mengintip, mendadak menjadi ombak
Untuk apa meringkuk dan diam?
***
Ku rasakan belaian cakrawala
Mengibarkan bendera asa di pucuk logika
Ketika ku tanamkan sebiji tekad-
                membebat benih niat
-ku awali langkah yang sepi
Biarkan sejuta mata mengirisi
Biarkan sejumput lidah memaki
Ini kakiku. Itu kakimu
Untuk apa kau pandangi kakiku?
Buntungkah kakimu?

Oh, Angin...
Oh, Langit...
Jangan kau biarkan kembali ku terjepit

                                                      Di pikiran yang sempit

Sumber Gambar : Firman Firdaus - Bangkit (dengan perubahan seperlunya)
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Minggu, April 08, 2012

Perang Timur

jejak sang manyar
Maju!
Bara sudah nyala
Langkah : tapak kuda, berduyun-duyun dari Angkasa
Cakrawala baru dilumuri darah
Pedang berkilatan
Teriakan : bising menyobek keheningan
Maka. Ketika belum reda rindu di pelukan
Maka. Ketika belum pulas nikmat di kecupan
Dan. Maka. Ketika belum puas mata bertatapan
Seribu pasukan dikerahkan
Seribu tekad dibulatkan
Seribu artileri : untuk apakah itu?
Kita punya segengggam nyali
Letakkan saja di belakang pentas
Kepal dan dada baja kita sudah terlampau cukup
Untuk membuat rapat dan terkatup
Mulut-mulut sombong di ujung gorong

Tunggu apa lagi ?
Mari segera berlari!
   Sebelum tikus-tikus sembunyi
   Sebelum muncul konspirasi baru lagi

Kita gemakan revolusi!!

__________Teruntuk Para Pejuang Esok Hari Dimanapun Kalian Berada__________

             ◥*************8
            ███۞███████ ]▄▄▄▄▄▄▄▄▄▄▄▄▃ - - - - - - - ░ ▒▓▓█D
           ▂▄▅█████████▅▄▃▂
         I███████████████████].
       ◥⊙▲⊙▲⊙▲⊙▲⊙▲⊙▲⊙◤

***Kita gilas kebusukan dan kemunafikan***
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Two Weeks in Hell - Selamat Datang, UTS...

jejak sang manyar
Just for Tomorrow
HIDUP nggak pernah mungkin isinya melulu lempeng alias lurus mulus. Kadang kala kita harus menikung, kadang kala harus "disco," dan tak jarang di antara kita harus berbalik arah : kesasar. That's life. Hidup nggak selalu cheerful apalagi easily. Sering kali kita harus bertopang dengkul (khususnya akhir bulan ^.^) akibat beratnya beban yang harus dipikul. It's okay. Asal nggak punya niatan bunuh diri aja #bener kan?#.

Mungkin hari ini kita menangis. Tak ada alasan besok kita tidak tertawa. Mungkin hari ini bersedih. Barangkali besok kita bahagia. Roda selalu berputar. Hari ini kita ceria, barangkali besok giliran kita yang berduka #bukan ngedo'ain woy!!#.

Dan kemaren yang bahagia banget, sepertinya mulai besok akan menderita sampai dua minggu ke depan. Dan itu saya... v(ಥ ̯ ಥ)v

Namanya orang belajar nggak mungkin kan cuma ngapalin rumus-rumus dan segudang huruf bernama teori. Calon montir aja tiap hari kudu latihan ngerusakin ngebenerin motor orang supaya cepet handal. Nah, kini giliran saya lah yang harus mendapat ujian kayak gitu #bukan ngerusak merbaikin motor lho :D#.

Ketika genderang matahari esok pagi menyala di ufuk timur # {(>_<)} Sumpah lebay!#, penderitaan panjang bakalan dimulai. Seperti yang udah-udah, tiap semester nggak bakalan lengkap tanpa tugas terstruktur, UTS, dan UAS. Tugas terstruktur udah kelar. Nah... UTS nongkrong deh lu di perempatan #Wakakakakak... Kayak polantas preman ngincer mangsa aja#.  Saya sih mau nggak mau harus ngadepin ini semua. Di sela segala keterbatasan (catatan dan materi) yang saya punya #◃┆◉◡◉┆▷#, saya harus pastikan nggak ada yang boleh kecewa terhadap saya semester ini! Saya nggak boleh bikin siapapun terluka karena kegagalan saya. The success just the end. No other choice. Dan saya harus buktikan itu. Tapi, gimana dengan Hukum Agr***a? (╥﹏╥)

Tuhan... Lindungilah Hamba dari godaan nilai yang terkutuuuuuuk... o(╥﹏╥)o

Kawan-Kawan Manyar di seantero jagat dunia maya,,,
Sudahkah kalian belajar untuk ujian esok hari?

Semoga kita diberikan kemudahan, ketenangan, dan kecerdasan dalam menyelesaikan setiap ujian yang kita alami sehingga mampu menghantarkan kesuksesan bagi oorang-orang tercinta di sekitar kita. Aamiin..

Salam Sukses bersama Sang Manyar ⎝⓿⏝⓿⎠
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, April 06, 2012

After Flood : Kemacetan Ngopak - Probolinggo (Part II)

Gimana? Siap dengan dokumentasi berikutnya? Hehehe... Foto-foto yang saya upload kali ini lokasinya kurang lebih 5-10 km sebelum Terminal Bayuangga. Nanti temen-temen bisa liat sisa-sisa banjir yang turun malemnya. Let's check it out!

Udah Ngojek, Becek, Macek lagi! Eh, Macet :D
Ngoboy lagi deh si ojek -_-"
Daripada nggak jalan, becek jadi deh
Tadi Kanan Macet Kan? Sekarang Giliran Si Kiri
Back to Aspal
Genangan. Kecoklatan. Kenangan.
Nih bekasnya. Keliatan kan?

Titik Klimaks Kemacetan
Ini kali keempatnya dengkul saya hampir ketemu ban truk -.-"
4 kilo to Bayuangga
Ini jembatan yang katanya tenggelem semalem
Liat deh sebelah kiri
Nah ini sisa-sisa banjirnya. Deres, Coy!
Keliatan kan bekasnya?
Hehehe... Sekarang giliran kiri yang (bener2) macet
Seconds to Bayuangga

Dan 5 menitan lah sejak foto terakhir saya ambil akhirnya saya nyampe di Bayuangga. Setelah (dengan berat hati >.<) membayar ongkos ojek, saya pun masuk ke terminal dan ngincer bus jurusan Bondowoso. Pengen tau kisahnya? Simak aja di artikel tempo hari saya  Travel to My Homeland (Part II) - Mereka yang Dirugikan. Oke, Guys. Gimana? Moga "terhibur" ya dengan dokumentasi perjalanan saya. Maaf kalo teknik shooting saya bener-bener jelek. Maklum. "Bakat" saya kan nulis. Bukan yang jepret-jepret kamera. Mana itu ngefotonya pake ponsel lagi. Hehehe... Ampun deh kalo menurut Kawan Manyar sekalian kualitasnya jelek. I just wanna share my experience to you. Moga bisa jadi pelajaran supaya kemana-mana jangan bawa uang mepet-mepet. Ya takutnya yang beginian ini. Oke? Satu lagi : Jangan lupa berdo'a! Kayak saya. Ribuan kali berdo'a supaya pak ojek nggak sukses ngejedotin dengkul saya ke truk. Hahahahaha... Peace!

NB : Buat tukang ojek yang nganterin saya, makasih udah mempercepat perjalanan saya. Saya pikir Rp. 50 ribu nggak sebanding lah kalo diukur pake waktu yang mesti saya buang nungguin macet di Ngopak waktu itu. Satu lagi, meskipun saya nggak tahu nama Anda, saya nggak akan pernah ngelupain Anda. Thanks for it! Semoga Allah memberkahi Anda sekeluarga. Aamiin.
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

After Flood : Kemacetan Ngopak - Probolinggo (Part I)

Hai, Kawan!!
Hehehe... Seneng banget akhirnya bisa post update lagi nih. Semua beban sudah lenyap. Tinggal satu lagi sih tugas tapi biarin dulu deh bentar. Agak lamaan gini. Sekarang saatnya having fun dulu mumpung ada waktu kosong 3 hari gini. Dan, kira-kira mau update apaan ya?
Hm...

Ahaaaaa!
Baru inget deh kalo saya punya utang yang belum dilunasin#intip kiri kanan, takut ada debt collector :P#. Yap! Saya udah janji mau posting soal kemacetan panjang di Ngopak tempo hari (10 Maret 2012) yang belum sempat saya pajang hasil dokumentasi amatiran saya. Nah. Tunggu apa lagi? Check this out!

***
Seperti yang udah saya posting tempo hari di artikel berjudul Travel to My Homeland (Part I) - Kutukan Macet dan Travel to My Homeland (Part II) - Mereka yang Dirugikan, perjalanan mudik saya waktu itu bener-bener amazing dan nggak ada persiapan sama sekali. Full nekad. Ya, gimana lagi? Lha nenek saya sakit dan nyariin saya waktu itu. Masa iya saya nggak mau pulang?#Sekilas bersyukur saya kuliah "cuma" di Malang. Nggak kebayang deh kalo kuliah di Jogja...# Nah, tanpa ada perasaan apa-apa (kecuali parno tentang apa-apa#lho?#), berangkatlah saya menuju kampung halaman.

Perjalanan bener-bener nggak ada halangan sampe di Pasuruan. Di depan terminal kota, ada bus Tentrem di belakang ngoper penumpang ke Akaz yang saya tumpangi. Di sini saya agak heran. Kok pagi-pagi gini udah dioper? Tapi, sebagai bus mania Malang - Bondowoso, maklumlah sama yang beginian. Jadi korban malah dua kali. Hadeeeh... =_=""

Dan perjalanan berlanjut. Tiba-tiba, mulai rame. Jalan ke arah timur kayaknya padeeeeet banget. Dan, apa yang terjadi? MACET TOTAL! Asyeeeeem!!!
***
Lah. Singkat cerita (kalo pengen baca lengkapnya, klik aja link ini), jadilah saya naik ojek, untuk kali pertama, ke Terminal Bayuangga. Mau tahu dokumentasi sepanjang perjalanan? Nih saya kasih. Se-mu-a-nya. Hehehehe...

Ini nih titik start perjalanan gokil by ojek :D
Nggak ada aspal, jalan kerikil pun jadi. Hahaha


Liat? Truk semua bo'

Tu tangan pak ojek ngapain sih? Hehehe..

Pasang Strategi : Nyelip

 
Kanan Macet, Kiri Lancar. Tanya Kenapa!

Idem :D

Salah Jepret Nih. Maaf ya

Jangan Dikira Udahan Nih

Ah. Lumayan lah nggak macet-macet amat

Sumpah! Nih ojek mau mampusin saya apa?

Mulai Keliatan kan Jalur Kiri Macet?

Lagi-Lagi yang Kanan Macet -_-"

Selip Dulu ah...

Inilah manfaatnya naek motor :D

Belum Ada Judul (Kayak lagu aja. Hehehe)

Nah. Makin macet deh tuh sebelah kiri

Dan sekarang... Macet dua-duanya!

Udah? Segini aja? belum lah. Masih banyak nih foto-fotonya. Tunggu bentar ya? Kita sambung dulu entar. Ada sedikit urusan nih. Hehehe... See you soon...

(BERSAMBUNG)

PS: Buat Kawan Manyar yang pengen tahu sejarah awal gimana saya bisa kena macet beginian, bisa dibaca di Travel to My Homeland (Part I) - Kutukan Macet dan Travel to My Homeland (Part II) - Mereka yang Dirugikan.
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kamis, April 05, 2012

Air Mata

Awan hitam. Dendam
Langit cekal dan binal
Ada selaksa wajah tersakal
Ada sejuta hati terjungkal
Tersuruk ke lumpur hitam. Kelam...
Tears

Air mata. Tangisan wanita
Air mata. Geram cekal hati pria
Air mata. Putus asa bunda dunia
Air mata...
Matahari kehilangan cahaya : musnah

Rumput hijau serentak galau
Hujan. Kering menjadi kemarau
Burung-burung rontok nyanyinya
Angin luntur jejaknya
Di sisa detik senja yang rintik
Air mata. Air mata. Air mata
Gema menitik
Kelabu dan bisu...

Sumber Gambar : Dunia Remaja Uptodate - Puisi Air Mata Cinta
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Tugas

Tanggung Jawabku
Tugas. Satu kata. 5 huruf dengan konsonan dua dan vokal tiga. Tugas. Sapa sih yang nggak paham? Dari balita sampe orang jompo udah pada tau apa itu tugas walau pemahamannya macem-macem. Misal aja. Anak kecil. Kira-kira umur 4 tahunan. Mereka udah mulai paham kalo habis mainan harus diberesin. Ya walaupun sering nggak-nya dari pada iya-nya. Hahaha... Tapi, itulah pemahaman. Wajar kan? Naek dikit. PAUD, TK, SD. Udah mulai kenal yang namanya "PR". Bukan pagerank! Lu kira ngeblog apa? Hehehe... Maksudnya "Pekerjaan Rumah." Macem-macem bentuknya. Mulai dari ngapalin do'a, berhitung, membaca, sampe perkalian buat bocah-bocah SD. Begitu lah buat jenjang usia selanjutnya. Semua orang punya tugas. Mau yang sekolah, mau yang nggak. Mau yang kerja, mau yang nganggur. Semua punya tugas. Masalahnya, sering kali kita lupa: tugas kita apa.

Jujur deh. Tugas itu sebenernya enteng. Kalo dikerjain. Tugas kayak apapun deh. Tugas jadi begitu berat karena dua hal. Pertama, cuma dipantengin alias dipelototin alias dibengongin. Kedua, ditumpukin ampe kayak gunung. Nah, beginian ini yang bikin tugas kesannya jadi beban di bahu kita. Akhirnya, kita mulai ngasal deh ngerjainnya. Yang penting beres. Bodo' bener atau salah. Anda kah salah satunya? :D

Pengalaman saya vakum semingguan lebih ini nggak lain buat menuntaskan tugas-tugas yang saya punya. Sebenernya nggak saya tumpuk sih. Cuma datangnya aja yang bergerombol. Kontan deh panik. Mana dulu coba yang harus diselesaiin?
Makin Banyak, Makin Pusing (?)
Tugas, sebenernya, adalah alat supaya kita makin mahir. Yap. Tugas itu jalan. Jalan kesuksesan kita. Gimana mau sukses kalo nggak ada tugas yang mengasah kemampuan kita? Seandainya kita perhatian dikiit aja sama tugas kita, menghilangkan kesan terbebani, dan mencoba sejiwa, pasti deh kita menemukan banyak kebahagiaan dari tugas-tugas kita. Dan itu saya alami sendiri lho pas ngerjain tugas-tugas kemaren. Awalnya beraaaaat bener. Bayangin. Dua minggu harus ngumpulin 4 tugas terstruktur pertama dan 2 kuis. Mana tugasnya nggak jauh-jauh dari makalah. Jari-jari saya rasanya mau nangis diplonco begituan. Tapi, karena udah saya mantepin buat ngebagusin tugas-tugas saya, kesan pegel pun (mau nggak mau) saya tahan-tahanin aja. Nah, sekarang? Everything feel so free. Bebas banget. Tinggal sebiji aja tugas yang nunggu dikelarin. Hari Sabtu rencananya saya habisin sampe akar-akarnya. Setelah itu, dua minggu saya bakal bertempur dengan ujian tengah semester. Hm... Moga aja deh saya sukses semester ini.

Nah. Postingan perdana saya ini nggak mau bicara panjang lebar deh. Lagian saya udah nyiapin materi posting yang super panjang. Insya Allah abis sholat Jum'at bakal nongol di blog saya. Postingan itu buat memenuhi hutang saya ke Kawan-Kawan Manyar tempo hari buat ngasih dokumentasi perjalanan mudik saya. Kalo lupa, coba deh liat di sini. Besok siang hutang itu akan lunas. Dan, itu juga salah satu bentuk TUGAS lho. Hehehe... Tugas saya buat menghibur temen-temen yang datang ke blog saya. Dan sebelum postingan ini saya tutup, saya hanya mau titip pesen: Jangan merasa terbebani dengan tugas. Laksanakan sebaik mungkin. Itu salah satu batu pijakan kesuksesan kita. Kecuali temen-temen nggak mau sukses. Hehehe...  See you.

NB : Mau tau nggak keuntungan garap tugas sesegera mungkin daripada ditunda-tunda? Nih liat deh di bawah ini ^_^
Mimpi indah tanpa kebayang tugas :D
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>