Jumat, Februari 03, 2012

Hujan

Petaka Hujan
Dan Bumi basah
Langit menumpahkan liurnya
Tak ada Angin
Tinggal Dingin ke rusuk menusuk
Cekal jemari tak mampu bernyanyi
Beku bibir tak bisa menulisi:
                                             kusam suram hari ini

Aku dengar seorang lelaki
Terbatuk. Tercekat di ujung hari
Ia biarkan Halilintar tertawa
Dan ia biarkan Rintik membasahinya

Aku dengar perempuan baya
Tergugu memandang Huma
Merdeka Kemarau lalu
Sirna diguyur Badai dan bisu
Ia hilang tawa. Hilang pula senyumnya
Goda suami di sebelah
Tertutup hambar gairah
Di tepian waktu dia mendesah:
                                             mengutuk pancaroba

Dimana Perawan yang terkubur di padang Bunga?
Dimana Perjaka yang memburu Purnama?
Dimana Bocah yang menantang Udara?
Kemana sirna?
Kemana sirna?
Kemana?!

Dan Bumi semakin basah
Langit terus meneteskan ludahnya
Danau-danau luap
Rawa tinggi merayap
Sungai. Tiba-tiba hilang damai
Air Bah menyapu desa
Dan di sisi Atap
Tersisa sesobek Bendera
Tinggal Merah-Putih seruas jari
Menunggu detik terakhir:
                                              disapu bersama alir

(didedikasikan kepada Ibu Pertiwi yang 'sakit kanker'. Semoga lekas sembuh)

Sumber Gambar: Future Corner



Anda Sedang Membaca: Hujan

2 komentar:

  1. Kata-katanya kerenn !! kombinasinya pas gituuu ..
    salut bangett ! hehehe :-d

    btw, kalo ngga keberatan, mampir blogku yaa
    http://callmemilii.blogspot.com/2012/04/bouilabasse.html
    tentang cerpen2 gituu
    thanks ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Unknown_User : **p Thanks gan udah mampir, juga buat apresiasinya. Segera nih meluncur ke TKP :rolled:

      Hapus

Komen apa aja: Monggoooo.
Yang penting harus SOPAN dan Say No to SPAM

Salam Manyar... ヾ(●⌒∇⌒●)ノ

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...