Minggu, Januari 29, 2012

Pagi

Selamat Datang, Pagi!
Senyum menyinari
Titik embun
Di atas kaki kemerlip di bias hari

Ada ragu. Ada gentar
Ada nyali gegap dan kekar
Sejuta rencana
Seribu angan
Berseliweran coba diwujudkan
Jalanan ramai oleh langkah
Udara sesak oleh dahaga
Dan di ujung senja
Seratus juta manusia terdiam dalam tawa:
                    Akhirnya aku bisa mencoba...

Dan. Biarlah duka hari ini menjadi sejarah
Dan. Biarlah kemenangan hari ini menjadi bara
Di depan. Selaksa hari masih menanti
Hendak terlenakah kamu dengan kesemuan kini?

Bangun, Kawan!
Bangun!
Berdiri dan bergeraklah laun
Sebelum meraih dengan anggun...

Sumber Gambar: Kompasiana - Cahyadi Takariawan
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sajak Pendek

Entah
Ku tembangkan di tepi senja
Ketika jingga menyala
Dan jarak memisahkan kita

Semoga kita berjumpa
                   Lagi...

Sumber Gambar: eRepublik - The New World
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, Januari 28, 2012

Harap yang Busuk

Hampa Sudah
Tiba-tiba bau
Hati mendadak basau
Jalan yang terang
Seketika gelap menghadang
Cemara-cemara hijau
Mendadak gugur dan galau
Hampa sudah impian
Kering sudah harapan
Setitik angan menjadi kosong
Lalu menjelma menjadi gorong
Busuk dan gosong

Harapku
Laksana debu dan titik abu
Punah sudah yakin
Menyerbu kini dingin
Tuhan,
Mengapa Kau buyarkan?

Sumber Gambar: Secuil Catatan
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Bukan Hanya Mimpi

Jangan Gentar Berlayar!
(Kepada Dewaruci dan Para Pemimpi)

Dan segeralah angkat temali!
Jangkar. Sauh. Lipatlah dahulu!
Ke seberang kita kan melanglang
Menyapa benua dan terusan asing
Mengitari selat dengan hati yang bising:
                    Oleh ambisi dan emosi

Bukan hanya mimpi
Dan segeralah pasang kompas!
Rasakan hembusan angin panas
Dan cumbulah sesembab dingin yang mengupas
Cuaca. Ah. Apalah dia?
Gairah jauh lebih perkasa
                    Mengapa musti menyerah?

Bukan hanya mimpi
Di sini jejak kita pertama kali
Sendiri. Sepi
Dalam hening dan kemahabaruan alam raya
Kita mulai berpikir. Merintis
Dan mulai menarik garis:
                       Kemana catatan hidup ditulis

Dan bukan hanya mimpi
Segeralah beraksi!
Dan "biarkan mereka iri
         wajar bila mencaci maki..."
Jalan tak sependek bayang, Teman
Untuk apa kau galaui rintangan?
Majulah!
Majulah!
Terjang! Hadang!
Juang!
Selamat bertualang!

Sumber Gambar: Wikipedia

PS: Bagian yang dicetak miring dalam tanda kutip merupakan bagian terkutip dari lirik lagu Berikan Pijar Matahari karya Iwan Fals dalam album Sumbang (1983)
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Burung-Burung Pucat

Menunggu Cahaya
Terbangmu sayat
Merangkak
Di antara kepungan angin tak bersahabat
Kicau merisau
Teriakan jantan layu dalam parau
Seisi alam kau jelajahi
Seisi hati kau sambangi
Tapi. Sepi. Sunyi
Mati...

Burung-burung pucat
Melingkar di awang sesat. Hai!
Bersabarlah dalam gelombang!
Bertahanlah dalam kutukan ruang!
Kawan,
Duka tak pernah abadi...

Sumber Gambar: Dika21 Weblog
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kepinding Buana

Hama Nusantara
Jalanan mendadak sepi
Pesta rakyat semusim tadi
Menjadi hening dan serpih
Tak ada kata merdeka
Atau senyum sorot berjaya
Tirai jendela mengatup
Mulut-mulut mendesup
Hilang suara!

Di sebuah gedung
Bergelimpang manikam tanpa tudung
Seribu kepinding belatung bernyanyi dang ding dung
Sorakan jejingkrak buntung
Merayakan kemenangan dalam sejarah
Reformasi. Demokrasi
Menjadi rintis mimpi di atas tahta
Tak ada yang bisa menyanggah
Maka
Semakin malam meninggi
Dan semakin pagi mengulminasi
Nyanyian kepinding buana
Sumbang ceria dalam telinga
Dan kita hanya tertunduk pasrah
Sambil menunggu
Kapan karma itu tumbuh

Sumber Gambar: Sampirono Galeryku
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, Januari 27, 2012

Pesawat Terbang

Dipuja dan Dicela
Melayang
Terbang di langit terbentang
Angin menabur
Angan menyubur
Di ladang kering gemersang terkubur

Kemerlip pendar di malam hari
Antar anak dusun
Bersorakan di keliling api
Nyanyian daun-daun
Mengajak mereka menari
Tentang putaran nasib yang melambat dan laun

Kini
Gegapmu cacat dalam berita
Ketika perut lapar masih tak terisi
Dan peliknya dahaga mengundang gelisah
Seonggok pesawat mewah
Nyelempit di hanggar bandara
Kontan
Seratus juta orang miskin menangis darah
Kontan
Seratus juta pengangguran menjerit murka
Kontan
Seratus juta anak bangsa terkapar histeria
Dan kontan
Seratus juta pujangga menggurat kata
Menyampaikan kutuk dalam sajaknya
Seperti aku...

Sumber Gambar: AirBus.Com
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Rabu, Januari 25, 2012

Kantuk

Have a Nice Dream...
Aku terserang kantuk
Mata memerah. Berair
Dan mendadak bening titik mengalir
Ku rebahkan kepala di bantal
Dan selimut di tubuhku melingkar
Telinga tersumpal. Lalu:
             tak terdengar lagi suara jangkrik,
             tak terdengar lagi kuda meringkik,
             tak terdengar lagi hujan rerintik
Ku pejamkan mata dalam-dalam
Nafas mengalun lambat
Jantung mendetak laun merambat
Dan. Aku transit ke alam mimpi
Berkejaran dengan fiksi

Sementara itu.
Selisih sekian ratus kaki dari beranda
Rombongan manusia malam berdansa di bawah bulan:
              menunggu penumpang,
              menunggu dagangan,
              menunggu impian,
              dan selusin do'a yang (mungkin) terkabulkan
Asap mengepul
Sarung menyumbat menggumul
Di atas becak
Seorang lelaki memandang langit perak
"Mungkinkah esok gemilang?"
tanya sang lelaki
            dijawab sunyi yang maki. Oh...

Selamat malam, Kawan
Semoga impian menyenangkan

Sumber Gambar: Waspada Online
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Nyanyian Cinta Sumbang Iramanya

Sampai Kapan Kau Mainkan Musikmu
Kau takkan pernah bisa
Meramu tuntas lagu cinta
Dan mengemasnya indah
Hingga rayu di ujung telinga
Sebab, kau tak pernah bisa
Menyelaraskan kata-kata
Dan mengalunkan iramanya
Karena
Kau tak pernah bisa memahaminya:
Kata. Irama
Keduanya

Sumber Gambar: Arthur Music Clipart
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Budak Cinta

Terborgol oleh Cinta
Menyembah bagai hamba
Merangkak, menerjang kabut pekak
Jalanan kian hampa
Kau titi sendiri
Kau titi sendiri
Kau titi: sendiri

Kau tak peduli
Berapa jauh jarak kau tumbali mesti
Kau tak peduli
Berapa dalam ngarai kau susuri musti

Kau tak mengerti
Betapa letih kesetiaan kau sembahkan akan
Dan kau lebih tak mengerti
Betapa luka perjalanan yang kau tempuhkan
Dan tak berujung balasan. Bahkan

Tapi kau
Menyembah bagai sahaya
Menjilat, menandak tolol di kilatan ludah
Kau terjerat nalar asmara
Kau rasai sendiri
Kau rasai sendiri
Kau rasai: dirimu sendiri
Sepanjang hari...

Sumber Gambar: Berita Terkini
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Di Kekal Malam Binal

Gulita dan Bencana
Cerobong mimpi menguapkan asap sepi
Bintang-bintang mati
Mendung jalang menutupi
Kuncup hati membusuk dalam hari
Waktu demi waktu
Waktu demi waktu...
Sejuta kutuk pun mengganyang tanpa ragu
Di kekal malam yang binal
Mendayung sampan impian
Kita terjungkir di tepi harapan
Memandangi puing,
Melirik bumi gunjing,
Meratapi takdir yang pucat dalam keping
Masihkah kau dengar geming?

Sumber Gambar: Wallpaper4Me
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Nyanyian Burung Gagak

Gerhana Hidup
Dengarkanlah sejenak
Nyanyian burung gagak
Sorak semarai di tanah bercak
Gemalau sajak yang kacau
Menebar berita dari seberang galau:
Seribu durjana tumbuh melata di dunia
Derita bagai lumut di musim hujan
Dan air mata
Bagai rentetan peluru yang jatuh '98 lalu
Koran-koran bising sendiri
Langkah tegap sebatas mimpi
Pagi cerah, senja berdarah
Siang terang, malam cekam melengang
Kokang senjata tumpul melawan musuh
Namun tajam begitu kaum kusam menari dan menggaduh
Lalu. Burung-burung gagak masih bernyanyi
Dan di sini
Jasad-jasad membangkai tanpa damai
Menanti dalam kekekalan
Dalam kutukan orde yang menyebalkan

Sumber Gambar: Indonesia Media
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Perjalanan Memburu Matahari

Kejar Dia!
Tak perlu lagi kau tangisi
Mendung dan badai
Di tanah kita mengusut dan menderai

Tak perlu lagi kau murkai
Banjir dan lahar
Ke dalam hati mendidih dan menyebar

Angkatlah dua kaki!
Genggamlah kepalan tangan dan jari!
Jalan masih panjang, Bung!
Untuk apa meratapi hari ini
jika kuntum esok masih menyeringai?
Gegaskanlah rencana
dan kumandangkanlah gairah
Matahari dan sinarnya masih membara
Dan sajak kita masih setia:
menemaninya
Dalam perburuan paling menyenangkan
Dalam perjalanan...

Sumber Gambar: Antobilang
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Senin, Januari 23, 2012

Ada Kepinding di Tugu Tani (3)

Ah. Dunia Terbalik Begitu Cepat
Sehari yang lalu senyummu begitu tumbuh
Kenapa pagi ini luruh?

Sehari yang lalu
Dengan gagah kau pacu mobilmu
Hai,
Apa kabar si mobil baru?

Sehari yang lalu kau bebas menghisap sabu
Dan berpora ria di ladang durjana
Lanjutkan lagikah nanti malam?
Ku rasa
Tirai besi menyapamu kini
Sampaikan salamku pada kawanmu di sana:
Kecoak. Cicak
Dan kepinding muka onak
Selamat berpesta lagi...

Sumber Gambar: Kaskus.us
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Ada Kepinding di Tugu Tani (2)

Sang Malaikat Pencabut Nyawa
Kau menatap dengan nanar
Seakan lupa
Sejam lalu. Enam puluh menit yang lalu
Kau larut dalam pesta dan sabu

Kau menatap dengan gemetar
Seakan lupa
Semenit lalu. Enam puluh detik yang lalu
Kau pacu langkahmu tanpa ragu

Dan. Kau menatap dengan kapar
Seakan lupa
Sedetik lalu. Sekejapan mata itu
Kau habisi nyawa delapan manusia tanpa iba

Kini
Kau berdiri seperti orang tolol
Menanti mukjizat bergerombol
Mengalir bagai air ke dalam botol
Sayang, sungguh sayang
Tuhan tak bebal alang kepalang
Dia tahu
Kapan anugerahNya tumbuh
Dan kapan kiamat menabuh dan gemuruh
Dan ku rasa
Inilah kiamat bagimu
Selamat menikmati, Kepinding Dungu...

Sumber Gambar: Kaskus.us
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Ada Kepinding di Tugu Tani

Saksi Bisu Tragedi Kelabu
Melesat seperti kilat
Memburu
Seperti setan dikejar waktu
Kau dengan mobil keparatmu
Melaju tanpa mata
Tanpa nurani
Tanpa otak yang cerdas dan berisi
Dengarlah!
Bum!!
Lihatlah!
Gradak!!
Rasalah!
Sunyi mencekam
Bumi mendadak diam
Duka gemuruh. Satu demi satu
Satu demi satu
           Satu demi satu...
Tugu Tani mendadak menjadi tragedi
Sosok-sosok kepala tanpa dosa
Tertumbal entah karena apa
Dan sebiji kepinding
Mondar-mandir di jasad mobil yang berkeping
Hei, Monyet!
Kemana otakmu, hah?
Dasat bangsat!
Puisiku menjadi kutukmu yang jemu
Sepanjang hidupmu
Sepanjang hidupmu
           Sepanjang hidupmu...
Ku tunggu ajalmu,
Wahai, Kepinding...!


Sumber Gambar: Arie Saksono - Saya Orang Indonesia
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Primitif

Like A Million Years Ago
Selalu. Singa memangsa rusa
Dan buaya tak berhenti mengejar kuda
Selalu. Serigala menelan anak kelinci
Seperti ular menghabisi induk merpati
Begitulah hukum alam semesta
Seperti kita
Anggota parlemen
Memangsa rakyatnya seperti permen
Kemunyah dan kemelutuk
Gemerus dalam kutuk...

Sumber Gambar: QBrushes
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Ruas Hidup

Bahagia Bukan (Selamanya) Harta dan Tahta
Jalani:
seruas demi seruas
        hidupmu
Dengan seni dan rasa cipta
Agar kau mengerti
Apa itu rupa
        dan apa itu warna

Dan jalani:
seruas demi seruas
        hidupmu
Dengan tulus jiwa dan cinta
Agar kau pahami
Apa itu damai
        dan apa itu bahagia

Sumber Gambar: Blog Santai
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Puisi Angin

Dengarlah Suaraku, Angin
Kibarkan senyummu, Angin
Rabalah dada kami yang sepi
Agar terusir sunyi ini
Agar tersingkir bimbang ini

Dan
Terbitkan murkamu, Angin
Bakarlah kemarau jiwa
             dan debu kalut ambisi raga
Agar tersadar fitrah kami
Agar terbuka mata kami
             tentang siapa kami

Tolonglah. Angin...

Sumber Gambar: Ari Software
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, Januari 21, 2012

Cinta, Jangan Kau Ragu Melangkah

Cinta, Ku Dambakan Kamu
Meniti jalanan yang sepi
Atau menanjak
Berliku dan penuh duri

Cinta,
Jangan kau ragu melangkah
Musim labil
Cuaca menari dengan dekil
Bertahanlah!
Dan di ujung dermaga kita kan bersua

Cinta,
Jangan kau ragu melangkah
Ombak selalu ada
Dan badai bukan legenda
Kenapa harus gentar padanya?

Dan. Cinta,
Jangan kau pernah ragu melangkah
Bunga kuncup
Surya merekah takjub
Wahai,
Jangan kau pernah surup

Sumber Gambar: BestLagu.com
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Ketika Akal Tumpul

Sesal Kemudian Tiada Arti
Tangan teracung
Suara lantang membumbung
Sepetak tanah prahara
Berbanjir darah dan air mata
Gumam gulana pancaran surya
Menjadi durja gemugus awan petaka
Habis sudah kesuburan sawah
Dan gemilang asa nuansa senja
Tak ada lagi bah'gia memantul
Terganti sesal gemuncul
                       Ketika akal tumpul...
 
Sumber Gambar: Catatan Sederhana
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jelang Lelap

Met bobok... ^^
Biarkan malam merayap
Dan hening berjalan menegap

Biarkan sepi menghadang
Dan bising setitik demi setitik menghilang

Biarkan cahaya melesap
Dan kekhidmatan kian lengkap

Selamat malam
Selimutkan mimpi di sekujur badan
Selamat malam...

Sumber Gambar: Fatchurr.com
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Thalia

Musnah Damba
Bagai impian
Hadirmu menyorot pandang kekaguman
Tak ada kemilau cahaya selain kau
Tak ada kesejukan selain nafas keabadianmu
Tak ada kedamaian tutur berdayu di aliran waktu. Kecuali kau

Thalia
Kau menjadi damba seluruh desa
Bunga dan gulma
Bersuka cita menyongsong setiap langkah
Kau tebar wangi aroma senja
Dan gemilang rona sinaran surya
Sayang
Lamunan kota membawaku beranjak ke sana
Dengan mimpi selebar ufuk
Jalanan penuh kutuk
Kau titi tanpa merutuk
Walau kini
                       Kau kusam hilang bentuk

Tak ada yang tahu
Suaramu dimana tersisa
Tak ada yang tahu
Wajahmu dimana berada
Di sebuah lorong kelam
Sosok gadis sisa-sisa
Menunggu entah di balik sepi
Ku pandang dari kejauhan
Ku nikmati dari titik sudut
Mungkinkah engkau di sana?

Sumber Gambar: Baltyra.com
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, Januari 20, 2012

Cinta Rapuh

Cinta Tak Seteguh Nampaknya
Habis sudah kata puitis
Dan sejuknya pujian yang dulu manis
Usai pula tawa melapis
Berganti liris air mata tangis
Cinta yang rapuh
Membuka lembar kisah kelabu
Tak ada dendang suka cita
Tak ada tarian sorak gembira
Jutaan hamba
Terperangah dalam durjana
Di jurang nganga luka

Sumber Gambar: Wahnuar
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Nyanyian Kampung Halaman

Wajahnya
Menapaki perbatasan
Berbicara dengan kenangan
Tikungan demi tikungan yang dulu ku lalui
Kali ini
Bagai nostalgi ku hampiri kembali
Jejak roda si motor biru tua
Bagai menggiring putaran bola dunia
Membawa waktu; membawa rindu
Bertumpahan di atas ladang putih biru
Memang: tanahku tak segemilang rantau
Memang: kampungku tak semerba tanah hijrah
Tapi di sinilah ku punya rumah
Di sini pertama kali
Ku seduh segelas sinar surya
Dan seteguk bias rembulan 'tuk ku pendam menjadi asa
Di sini pertama kali
Ku ranumi langkah kaki
Hingga ku mampu berdiri. Berlari
Dan kini ku daki tangga titian langit tinggi
Bagaimana bisa ku pungkiri?

Menapaki perbatasan
Berbicara dengan pertemuan
Entah manis pahit ku rasakan
Di sinilah lagi
Ku semai damai dan inspirasi
Sebelum kembali ke medan api
Dan berkelahi
Dengan seratus ribu misteri
Dan beratus juta caci maki...

Menapaki perbatasan
Halo, Kawan....
                                                     Salam jumpa denganku lagi!

Sumber Gambar: Gambar Peta
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kamis, Januari 19, 2012

Cinta Pertamaku

(Catatan Lelaki di Malam Sepi)

First Love Never Dies
Eh, si dia datang!
Dengan langkah seanggun angsa
Pendar mata berkerling penuh pesona
Sosok rupawan juwita hati
Bilakah kau turun menyambut kasih?

Eh, si dia kemari!
Melintas dengan penuh goda
Segores senyum terumbar manisnya
Sekelumit tubuh yang lihai menawan
Dimanakah engkau labuhkan hati?

Eh, si dia bicara!
Sepenggal kata damai suaranya
Meniti rambatan udara
Menyusup telinga
Menghapus dahaga batin yang resah
Ah, aku tersiksa...

Dan
Semua itu masa laluku
Mengenang sejarah masa remaja
Dan ingatan silam yang memancingku tertawa
Dan dia
Entah dimana dia
Andai kau dengar laguku
Kenanglah satu
      Aku selalu merindu

Sumber Gambar: Nano Pertapan
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Suatu Hari (Khayalan Seorang Pemuda Desa)

Menunggu Waktu dan Tergusur
"Suatu hari
Ingin ku bangun desaku
Dengan keringat dan cucur air mataku sendiri
Akan ku sematkan cangkul
Menjadi pengabdian yang tunggul
Dan akan ku alirkan sungai
Membelah ladang-ladang kering
Dan rerumputan gulma yang tertawa bising"

"Suatu hari
Ingin ku bangkitkan semangat kawan-kawanku yang hening
Bergumul kembali dengan lumpur
Bersahabat lagi dengan kerbau dan warna hijau
Angin
Biarkan mereka berlarian
Menyentuh batang-batang padi dengan keramahan
Meninggalkan harapan
Ketika musim hujan di perjumpaan"

"Suatu hari nanti..."

Tiba-tiba khayalan terinterupsi
Suara sepatu pembangunan
Nyaring melengking menyusuri pepohonan
Suara mesin-mesin berhamburan
Burung-burung hilang sarang
Perlahan demi perlahan
Kebun dan huma tinggal kenangan
Petak sawah dan pekarangan
Tinggal potret jepretan masa penjajahan
Beton-beton dikirimkan
Besi cor ditumpukkan
Desain bangunan dipajang di papan pengumuman
Habislah angan pemuda desaku
Menjadi abu
Menggerus rapuh di antara sendawa kontraktor dan penguasa teror
Ia melangkah dengan layu
Layu
Sendu
Dan mengambang di tepi waktu
Menjadi setan
Di antara belantara perubahan
Menjadi sosok tak terhiraukan....

Sumber Gambar: Paman Dori
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Bunda

Meratap Dalam Sepi
(Merangkak di Bias Sunyi)

Siapa yang mengerti
Sosok lelah di muka cermin
Memandang sayu di keheningan malam dingin?
Siapa yang mengerti
Dia menutur pinta dalam diam
Meski mata memaksa pejam?

Siapa yang mengerti
Wanita yang letih di sana
Menumbal lelah dan memeras dahaga tanpa berkesah?
Siapa yang mengerti?

Kau bertutur tentang masa depan
Merancang tujuan
Menyusun gagasan penuh keyakinan
Di sudut rumah yang beratus kilometer jaraknya
Wanita itu merukuk dalam pasrah
Renjana jumpa. Senyum bahagia memandang yang didamba
Ia haturkan kepada sepi. Kepada sunyi
Karena tak ada lagi yang mengerti
Selain dinding bisu tembok kamar
Dan teras beranda yang kian hambar

Kau bermimpi tentang tahta
Dan berlian indah di pucuk mahkota
Di sudut rumah yang terpencil di sana
Dia tak henti mengamini impiamu
Dan kau semakin tak mengerti
Semakin tak mengerti
Semakin tak peduli...

Wanita itu terus meminta:
"Tuhan...
Ijinkan ku pandangi wajah lembut putraku
Sekali ini lagi
Sebelum ku pasrahkan diri
Kembali ke pangkuanMu"
Dan entah. Tuhan yang tak mengabulkannya
Atau kau yang menelapaktangani bisikan firman di dalam hati
Wanita itu terus menanti
Menanti. Menanti
Hingga senja memasung duka warna kesumba
Dia terus menanti

Suatu malam
Ketika mata terasa begitu rindu terpejam
Dan keletihan
Bagai seribu bongkahan membebani badan
Bunda
Atau apalah kau memanggilnya
Menatap lampu kamar dengan gemetar
Bayangan wajahmu. Senyummu. Tawa yang terakhir ia dengar dari bibirmu
Pelukanmu. Angguk patuhmu. Kehadiran terakhir kalimu di beranda rumahnya
Bagai gambar silam
Satu per satu hadir
Satu per satu mengalir
Satu per satu menyingkir

Dengan lunglai yang teramat lunglai
Bunda
Menatap hampa awang yang purba
Perlahan sinar matanya redup
Redup
Redup
...
...
Dan kuncup
Disusul kelopak yang rapat tertutup
Alam seketika hening
Sementara kita
Di kota asyik dengan bising
Tak sadar. Dan takkan pernah sadar
Nafas perempuan paling berharga di dunia
Terbang ke langit raya
Menyatu bersama surga
Yang tak lagi asing
Dan takkan pernah mengasingkannya: seperti dirimu...

Inspirasi             : Bunda Tercinta, dipopulerkan Chrisye, album Aku Cinta Dia
Sumber Gambar : Sang Mujahid Pena... Insya Allah
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Pre Wedding

Kembang Cinta Bersemi
Senyum sepanas matahari. Hehehe...
Bahagia rupanya
Selaksa cinta menumbuh bagai ilalang di musim penghujan
Kuncup bunga mekar. Dan sosok kumbang yang kekar
Dunia seakan berhenti berputar
Menunggu hari. Menunggu jam
Menunggu menit
Menunggu detik!
Dan. Penantian panjang kan kau petik

Silauan tatap semesra rembulan. Hehehe..
Kasmaran lagi ternyata
Gelombang pancaran kasih menembus selubung bumi
Dan amukan samudera damba nyaris membelah dada
Waktu (terasa) begitu lambat
Dan kesabaran menipis begitu cepat
Begitu cepat. Begitu cepat
Begitu cepat! Hahahaha...
Tak sabar merayakan Malam Gemilang
Begitukah?

Aku dan kejauhan
Di persaksian gelora asmara sepasang anak manusia
Aku tersenyum sendiri
Tertawa sesekali
Dan menung, masygul jutaan kali
Berapa banyak akhir bahagia semacam ini?

Senja menyala warna kesumba
Mereka-sepasang kupu-kupu cinta
-kepakkan sayap dam mulai merayap
Menyusuri jalan menurun
Menuju lembah
Menyingkir dari puncak bukit cemara
                              yang hampir gulita....

Sumber Gambar: IanPhotoGraph
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Teruntuk Masa Remaja

Warna (Semestinya Selalu) Menjadi Warna
Warna. Raut pesona menyaput dunia yang lelah
Bertebaran mereka dengan seribu gaya
Seribu senyum. Seribu murung
Seribu hati yang lurus meski terkadang lengkung
Seribu damba
   meski sakal di tengah coba

Setiap hari bagai sisi belati
Tumbuh di antara kelakar musim
Mencoba segarnya waktu
Walau kusut dan layu
Seribu dada yang gairah. Seribu jiwa yang gundah
Seribu yakin bahana. Seribu gentar menggema
Seribu kata
   menggumam hati yang pasrah

Kuncup-kuncup mulai rekah
Dan kumbang merangkak dewasa
Semarak ladang oleh kicauan suara
Ada tawa. Ada segukan tangis menggila
Ada yang menung. Ada yang lonjak dengan gagas menyala gegas
Seribu rencana. Seribu pasrah
Seribu uji coba
    diangan dalam langkah

Ya! Ini gerombolan pemula!
Ya! Ini barisan pemuda!
Ya! Ini tumpuan sejarah!
Ya! Kemanakah kalian melangkah?

Wahai...
Surya boleh berjuta kali
Naik turun dari kulminasi
Wahai...
Rembulan boleh berjuta rupa
Mengedar senyum dalam rotasi
Wahai...
Aku bertanya:
    mungkinkah umur kembali?

Wahai...
Sudikah kau putuskan
   dimanakah kau tetapkan tujuan?

Inspirasi             : Masa Remaja, dipopulerkan oleh Chrisye (alm.), album Aku Cinta Dia,
Sumber Gambar : Setitik Inspirasi dari Saya
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selasa, Januari 17, 2012

Damai Setengah Tiang

Benih Itu Muncul Lagi...
Dengar!
Letup senjata mulai menggelegar
Dengar!
Derap sepatu makin gelepar
Dengar!
Seseguk tangis di sudut kamar
Tak lama
Darah akan tumpah di sini
Dan luka. Dan air mata
Dan nanah. Dan marah
Dan gelisah. Dan sejuta kecamuk hati yang tak terkata
Menebar bagai ranjau paku di sabana kusta
Kepada langit mereka menengadah
Memberi penghormatan terakhir kalinya
Untuk sang damai
Yang berkibar setengah tiang
Dikecamuknya dendam dan garang...

Sumber Gambar: Tips Dia
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Senin, Januari 16, 2012

Ketemu Deh! Ebook Maker: Thanks RemoXP ^_^,,,!

Satu Software, Mencerahkan Segalanya n_n

Jujur, bertahun-tahun sejak "menikmati" Internet tepat umur 16 tahun, saya semakin berharap suatu saat saya bisa membuat buku. Paling nggak buku elektroniklah. Yap. Buku elektronik. Tak terkendala mencari penerbit A, B, Z; negosiasi royalti. biaya ini, anggaran itu; dan tetek bengek lainnya, buku kita sudah berada di tangan orang lain dan memberikan berbagai manfaat yang tak dapat dihitung (kalo itu buku berguna ya. Hehehe...).

Memang, kendala dari buku semacam ini adalah: mudah menyebar dan tidak ada keuntungan langsung untuk kita. Semua orang bebas mengunduh dan menyebar-luaskan ebook kita ke segala penjuru jika tidak terproteksi dengan baik. Kebayang nggak satu ebook yang dibuat di Malang bisa nyampe ke Alaska dan kita tidak menerima pembayaran sepeserpun dari ebook tersebut? Itulah "kutukan" sebuah ebook. But, lepas dari dilematika itu, kita harus sadar betul resiko membuat ebook. Buku cetak saja bisa dibajak, lha apalagi cuma ebook. Iya nggak?

Intinya, jika kita lebih menyukai keuntungan immaterial, kepuasan berbagi dan ganjaran pahala (sekali lagi, kalo itu ebook ente berguna. Oke? Xixixi... Peace!), ebook merupakan jalan termudah untuk membagi ilmu kemana saja, kapan saja, dan untuk siapa saja. Dan kesempatan itu pun terbuka bagi saya ketika membuka situs RemoXP "secara tak sengaja" di engkong Google.

Dan yang lebih mengejutkan (ngalay dikit nggak papa kan? Heee..), Remo menyediakan paket ebook maker secara cuma-cuma! Hehehehe... Bisa ketebak kan kelanjutannya? ^_^

Namanya Ncesoft Flip Book Maker. Kebetulan yang disediakan adalah Ncesoft Flip Book Maker version 2.8.1.0. Komplit alias Full Serial Number. Tinggal nyedot, pasang email+serial number, nge-full version deh. Gampang? Gampang banget! Hehehe...

Fitur yang disediakan cukup menarik (menurut testimoni saya lho ya! Xixixixi). Kita bisa leluasa memilih format akhir ebook kita: swf, exe, maupun html. Ragam style yang menarik menjadikan kita seakan-akan nggak mau berhenti menciptakan ebook-ebook produksi kita sendiri. Lihat screenshoot Ncesoft Flip Book Maker di bawah ini:

Gambar Depan: Add File
















Gambar Tengah: Style














 Gambar Akhir: Publish











PERLU DIINGAT!
Untuk menciptakan ebook dengan software ini, bahan material yang dibutuhkan (bahan material??!! Bikin pos kamling kali bahan material segala -_-!) harus berwujud photo file type, FLV, atau pdf. Simpelnya gini, Anda harus bikin ebook dulu yang formatnya salah satu dari tiga file type di atas. Nah, kalo udah baru deh bisa di"modernisasi"kan pake NCESOFT FLIP BOOK MAKER version 2.8.1.0.

Penasaran? Pengin nyobain?

Tunggu apa lagi sih? Silahkan preview lebih jauh plus sedot tuh software di situs RemoXP. Klik link di bawah dan jangan lupa: stay visit to my blog, Jejak-Jejak Manyar! Bersama kita semarakkan dunia menulis Indonesia. Salam Sang Manyar!!

Link:

Sabda Sang Manyar
"Setitik kebaikan akan menjadi lautan kebahagiaan jika digoreskan dengan kuas kesucian di atas kanvas kebenaran. Dan, sebiji kebajikan akan menjadi samudera kedukaan jika ditabur dengan jemari kenistaan di atas ladang kesesatan."

Pesan Sang Manyar, gunakanlah ebook maker ini untuk menyebarkan hal-hal positif yang membangun kedewasaan kita sebagai makhluk yang (katanya) berakal, karena... 1 saja KEBUSUKAN lahir dari TANGAN KITA, 1000 TAHUN TIDAK AKAN sanggup MENGHAPUS bayang-bayang DOSA dari HIDUP kita. Salam!
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

02.20

Selamat Tidur, Dunia...
Sunyi menggilas. Tanpa batas. Tanpa bahas.
Angin berteriak memanggili wajah-wajah yang pulas:
           dalam baringan. dalam tenda. dalam pos ronda
           dalam kesendirian. dalam dekapan. dalam pertanyaan
Begitu sunyi malam ini?

Dalam kamar aku menggumam sendiri
Nyanyian Cretu dan irama kata ku gubah dalam rencana; ku konversikan dalam agenda membangun The New Indonesia Order. Tatanan negara tanpa dusta. Tatanan negara tanpa derita
Tatatan negara tanpa raja

Langit begitu dendam dengan gelantungan awan kelam
Aku tertunduk dalam iri. Memandangi sekitar dengan dengki:
          Bagaimana bisa mereka nyenyak sementara aku terjaga sendiri?
Lalu ku jumput roti dan ku lahap sesenti demi sesenti
Ganjalan sahurku esok hari

Tepat. Jarum sang waktu tepat merujuk angka 02.20
Ku bersihkan remahan angan dalam keranjang
Dan ku jinjing sepatu juang ke sudut ruangan
Ku tebar selimut seruas ranjang. Mataku meremang
Langit-langit kamar terang, aku mulai melayang
Terbang. Mengawang. Dan semua begitu cepat menghilang

Aku tak peduli lagi
Sampai dimana Bung Cretu sesahkan lagunya
Aku pun tak peduli lagi
Berapa liter air turun dari gerimis yang (lagi-lagi) turun lagi
Aku sudah melesat ke negeri mimpi
Merasakan yang sejati apa itu mimpi
Karena di Bumi hakku selalu diinterupsi
Dengan lecutan bidik dan tapak kaki tirani
Jadilah khayalku onani


Selamat Malam.
Selamat Tidur.
Jangan lupa mendengkur. Sebelum kau tersungkur...

(Sementara di kejauhan terdengar suara orang bercinta. Ah. Paling-paling kecoak parpol sedang beraksi. Menyiapkan headline berita esok lusa. Dasar bedebah.)

Sumber Gambar: Kaskus
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Melepas Nostalgi

Badai Harus Berlalu!
Berjalan
Mengenang silam yang rindu dan dendam
Aku. Sepasang sepatu. Dan ransel biru yang sama
Menyusuri tanjakan
Mengikuti suara hati yang gelisah
Menerka: dari mana datangnya warna
Dan: kemana ia sirna
Hingga

                Aku kelabu dan membisu

Tak ada anak tangga. Hanya jalan mendaki
Mulus, meski kerap mengundang haus
Dan dulu. Kita tak pernah peduli
Kita hanya terus mendaki. Mendaki
Berharap pucuk-pucuk cemara

Melemparkan senyum semanis surga. Di atas sana

Kini. Hening bagai lagu yang sunyi
Biru
Terasa sayat, hitam, dan belenggu
Di puing puri yang sama
Aku memandangi kumpulan mega
Membayangkan selustrum lalu
Dan kenikmatan kecup yang bertumbuh
Kasih,
                Tak inginkah kau mengulanginya lagi?

Ah. Apa guna ku reka luka lama?
Apa guna ku sesali air mata jiwa
                dan gemuruh marah yang buncah?
Mengapa harus menahan dendam tak berpias?
Kenapa harus menyimpan dengki membekas?
Kenapa?

Di belakangku
Gundukan bukit membisu
Ceruk hijau berganti tanah kecoklatan
Dan ilalang subur di pendakian
Aku memandangi mereka
Aku berbisik padanya
                Bolehkah aku melangkah lagi?
Dan jingga tiba-tiba menyapa
Mengajakku pulang ke rumah
Menyusun rencana:
                Bandit kantoran mana yang akan ku giring ke penjara...



Sumber Gambar: Black Shiny Bird
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

My First Banner

Tentu yang masuk situs ini bakal bertanya-tanya: "Buat apa banner? Sepi juga. Lagian kan blog pribadi."
Jawabannya gampang: Kreasi! Sekedar menuangkan inspirasi

Sempat bingung awalnya gimana cara bikin yang namanya banner. Sekali coba, dua kali ganti, dan yang ketiga, jadilah banner di bawah ini (kalo "sedikit error" harap maklum. Kesalahan teknis :D):

Jejak-Jejak Manyar

Harus diakui: that's not perfect. But, apa sih yang sempurna di dunia ini? Nobody's perfect and absolutely there is no anybody's creation which be a perfectionist thing. Apa ya mungkin sebuah ciptaan sukses sekali jadi? Dan itu, bannerku, apa yang mungkin langsung bagus dalam 3 kali pembuatan? Nggak mungkin lah. Tapi yang pasti, JANGAN PERNAH MALU DENGAN HASIL KERJA KITA. Seburuk dan sejelek apapun itu, mereka adalah hasil keringat kita. Hasil kerja keras kita. Mengapa harus malu dengan kegagalan di awal langkah. Itu sekedar sinyal: kita harus lebih berusaha lagi. So, keep spirit! Teruslah mencoba dan mencoba!
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, Januari 13, 2012

Dahaga & Jelaga

"Aku Ingin Kembali..."

Kau merangkak
Membelah hening sunyi yang pekak
Kau meraba seakan tak kenali:
   dimana dirimu kini
Kau bertanya kepada entah
Seakan kau tak kenali:
  siapa dirimu kini

Angin berhembus dari utara
Dingin basah
Lengkap sayup mengiba
Anak lembah bercerita
Tentang gaduhnya suara: pinta
Kepada jati dan pinus yang jelas-jelas tak punya lidah
Kau terus merangkak. Terus merangkak
Terus merangkak...
Kau coba menggapai
Awan. Angan. Impian
Namun. Kau kembali merangkak. Kembali merangkak
Dan kembali: merangkak

Kau yang dulu dahaga
Mengharap kemucur air surga
Kini
Semakin dahaga. Semakin dahaga
Semakin dahaga...
Yang kau sesap pancuran kala itu
Buka kesejatian berkah yang kau mau
Dia morfin
Kesemuan yang dingin
Dan dengan tolol
Kau hisap ia bagai sang bayi dan sebiji botol
Kini
Kau semakin dahaga. Semakin dahaga
Dan. Semakin dahaga...

Jelaga hitam
Melumuri jalan yang kucil dan kelam
Demerap hati rapuh
Menikam batas damba yang keluh
Kau. Semakin muram. Semakin muram
Dan. Muram...

Hari makin malam...

Sumber Gambar: Hanya Inspirasi Sesaat
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Pena-Pena Asmara

Kugubah Syair Cinta












Ku luncurkan kata dalam selembar kertas
Hening. Sepi
Namun gemerincing
Ketika nuansa mengalir kesudut bening

Dengan bebas aku memuja
Dengan lepas aku terpesona
Tak ada nganga membelah
Tak ada jurang ragu menengadah
Dan pena asmara
Ku rebahkan di samping meja
Karena sajakku
Dicuri angin. Ditiupkan berpusing, melayang di udara
Menggelantung di awan
Dan
Di ujung senja
Dia akan turun di depan beranda
Ku harap kau mau memungutnya...

Sumber Gambar: Sastra Langit
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Dan Hanya Rasa

Bersemayam di Hati


Yang mengalir ke dalam jiwa
Bersatu rindu
Bersama darah merasuk menuju aorta
Menikam jantung dan paru

Kita tak pernah tahu
Bagaimana rangkaian terjadinya
Yang kita (selalu) tahu
Ketika ia sudah berwajah
Dan mengganggu mimpi dengan senyumnya
Ketika itu
Kita akan menyebutnya
Sebagai...

      CINTA...

Sumber Gambar: OmRudy
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Mengejar Matahari Cinta

Kudambakan Sinarmu
Mengejar sinarnya
Merasakan hangat mengujur di lubuk jiwa

Cakrawala hati
Melebar lebihi jengkang kaki
Aku. Kau. Selalu terkubur di jurang luka
    Pongah. Lupa. Merasa benar adanya
Dan kita (terus) terseret arus yang sama
Tercengkeram nuansa
Memunggungi cinta demi ego kita yang jengah
Selalu: itu dan itu saja...
Dari waktu. Ke waktu...

Mengejar senyumnya
Mendambakan pelukan selembut surga

Jalanan (memang) tak pernah "sepi"
Ranjau berduri tersebar di kanan-kiri; Di tengah makadam yang terjal dan kekal
Apakah kita harus berhenti
    dan menanti cuaca memperbaiki?
Atau. Kita mesti mencoba
    dan mencoba: membenahinya dengan tangan kita
Dengan keberkahan kasih yang kita bina
Tak peduli: berapa ratus abad lamanya. Tak peduli!

"Jalan masih teramat jauh
Mustahil berlabuh bila dayung tak terkayuh...
Maaf... Cintaku
Aku nasehati kamu..."

Mengejar matahari cinta
Berharap sekuntum asa mekar darinya

Tak perlu kita kembali
Menengok nanah yang berdarah
Dan lusinan air mata
Yang tumpah di awal langkah
Hari esok masih menyapa, Cinta
Haruskah kita menghalanginya
     dan menajamkan kepal laksana bungkal?
Haruskah kita menyangkal: kita tak membutuhkannya
     dan menyusun rumus untuk menggusur dia?
Kemari!
Jalan masih beribu mil lagi
Dengan janji
Kita kejar sang surya asmara di sana
Dialah sang nahkoda
     dimana iman cinta
     tertambat dan mencuat
Dialah imam kita
Dialah sang pelita
Dialah:

                             Sang Matahari Cinta

Sumber Gambar: Surrender2God
*Syair empat baris dalam tanda kutip menyadur lirik lagu Maaf Cintaku karya Iwan Fals
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Minggu, Januari 08, 2012

Pelita Tak Terang Lagi

Kau Tak Hangat Lagi
Pelita tak terang lagi
Sinarnya redup
Surup
Hampir mati

Pelita tak terang lagi
Nyala setengah hati
Tatap mata kusam dan kelam
Memandang ruang pekat dan semburat

Kita tak bisa
Menggantungkan hati padanya
Karena
Ia tak mampu lagi berdiri
Bagaimana bisa kita sandari?

Mari!
Kita cari pelita baru
Yang lebih teguh
Yang lebih mengerti
Isi hati kita

Mari...

Sumber Gambar: Syalala Notes
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jamban

Ingin Ku Kencingi Mulut Om-Om Di Sana!
Kau sibuk menyusun rencana
Membangun jamban
Dan memilah
Darah rakyat mana lagi
Yang akan kau jadikan bahan bangunan

Kau sibuk menghitung
Berapa keuntungan yang akan kau dapatkan
Sambil membayangkan
Berapa banyak nyawa berjeritan

Kau sibuk menimbang
Saudara mana yang akan kau bikin kenyang
Sementara ku yakin kau pasti melupakan
Cemberut Tuhan yang kau  tertawakan
Karena tak kuasa
Menahan langkahmu yang durja

Kau sibuk mengira, menduga
Merancang alasan yang paling membenarkan
Sama seperti aku
Di sini
Tak kalah sibuk mencari jalan
Modus terbaik menghabisimu
Menikam lidahmu dengan belati
Dan menghujam hatimu dengan api

Saat ku tunaikan dendamku
Ku yakin takkan pernah ada yang tersakiti
Dan jamban yang berdiri
Takkan lagi terisi oleh kotoran
Yang terbuang
Tanpa sanggup membersihkan

Hati dan pikiran...

Sumber Tulisan: DetikNews.Com
Sumber Gambar: Bed Room
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Bias Tanah Kesumba

Kucumbui Engkau Dalam Dendam
Terperangkap dalam damba
Kupandangi ruang: hampa cahaya
Senjakala ku lumat dalam kata
Ku kunyah
Ku telan bersama derita

Ku pandangi bias Tanah Kesumba
Menyala
Menyiratkan luka di cakrawala
Aku hening cipta
Merasakan aroma darah mengucur dari Utara
Ku pikir: hari ini akhir derita
Ternyata: ini sambungan nestapa

Kau. Aku. Takkan ada yang tahu
Kapan cahaya benar-benar membasuhi tanah yang basah
Kita takkan pernah tahu
Kapan hangat surya
Mengeringkan genangan air mata
Kita hanya tahu: esok kita kan terluka. Lagi
Dengan setangkup mimpi terobek di ujung dahi
Patah. Sayat. Sesat.

Dan kita hanya mampu merayap

Dalam gelap! 

Sumber Gambar: TanoBatak
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>