Selasa, Desember 20, 2011

Ketika Malam

Gelap Malam
Jangan pedulikan lagi
Lolong anjing di lorong sepi

Jangan hiraukan lagi
Dingin sunyi menikam hati

Jangan lagi...
***
Jangan tulisi lagi 
Gelap langit dengan untaian puisi

Dan. Jangan kau hiasi lagi
Bintang bulan dengan asa yang nisbi

Sebab
Kita mampu melakukannya sendiri

Kita masih mampu:

... Ketika malam menyapu ...

Sumber Foto: Depot Seni Grafis
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Lepas Angan dan Asa

Mari. Kita berjalan ke sana
Mencari apa saja dan bertemu dengan siapa saja
Kita susuri apa yang bisa kita lalui
Dan mari kita jejaki
Segala yang mampu kita hadapi
Kembali

Tak perlu kepalan tangan yang kuat
Atau mungkin selera tinju yang hebat
Pun. Tak perlu suara yang lantang
Demi tumbang di karang jalang

Cukup kau sediakan: tutur lembut bak tembang
Begitu rancu menghadang
Dengan mesra bisikkanlah padanya: binasa!
Seketika ia kan sungkur di tanah
Kalah...

Kita, sudah saatnya kita:
Berpikir dengan otodidak
Berhentilah terpaku dengan buku-buku
Dan ceramah semu yang makin menjemu

Kita, sudah saatnya kita:
Bergerak di jalanan
Mengulurkan senyum kepada bisu
Dan menanam ilham di jidat yang lesu
Agar mereka tahu
Apa gunanya tangan
        Apa gunanya kaki
Apa gunanya lidah
        Apa gunanya wajah
Apa gunanya kepala
        Apa gunanya telinga
Dan. Apa gunanya kita

Jika kau telah menemukannya
Lepaslah kau dari perangkap angan dan asa
Karena kaulah sang penciptanya
Bagaimana Tuan terkurung oleh hambanya?
***

Mari. Kita berjalan ke sana
Mencari apa saja dan bertemu dengan siapa saja
Kita susuri apa yang bisa kita lalui
Dan mari kita tulisi
Segala inspirasi
Yang hadir tanpa kita panggili
Merekalah sahabat sejati
Ya. Merekalah sang pengundang mimpi
Mereka...
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Gugusan Rindu

Takkan Mampu Kau Halau Rindu
Mengenali lekuk rindu
Warna. Aroma
Dan sosok yang kini menggugus
Tak terumus

Ada sekeping asa
Melayang di puncak damba:
"Apa itu? tanyamu ku jawab gelengan bisu
Kau tahu apa itu

Lalu
Seuntai tembang mengalun membayu
Mencabik sepi
Menikamkan benih di ceruk-ceruk hati
Kau kembali bertanya: "Apakah itu?"
Dan masih: ku jawab dengan geleng dan bisu

Kau sudah tahu...
***
Sepayung sajak melagu
Mendarat di jalan setapak
Yang kering. Yang gersang dihajar terik tadi siang

Ia lalu turun
Anggun
Memijak kerontang rerumputan ilalang

Lalu
Kau bertanya: "Apakah itu?"
Dan ku jawab dengan lugu: "Kau tahu itu"
***
Maka
Kau pun termangu sendiri
Memandangi lengkung lembayung senja
Menikmati pesona nan rasa tak beriba

Maka
Kau pun lantas merunduk
Menerka isi bentuk
Gejolak. Gemolak di sudut kalbu

Dan. Maka
Kau teringat pertanyaanmu tadi
Dan. Sekali lagi: maka
Kau tahu apa jawabnya itu

Rindu...


Kita takkan merdeka dari 'kutukan' itu...

Sumber Foto: Catatan Indah
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

98,2 Kilometer

Jalani Saja. Tanpa Bertanya!
Sendiri
Dan memang itu yang ku sukai
Menjelajah dari sudut ke sudut
Melewati batas kabut
Menyeberang ke titian lembah zamrud

Dan hari ini
Ketika mentari tersenyum sendiri
Sesuatu memancing nurani: apakah gerangan?
Dan tiba-tiba
Gairah kembara mengalir begitu saja
***
      -Tajinan-

Aku tak melihatmu berbeda: Sama
Seperti pedesaan di kotaku dulu
Pencil. Mungil
Tersudut dari hingar-bingar kota yang dekil

Kelok melata. Hijau merata
Aku terperangkap dalam euforia jiwa
Menikmati gilasan roda dalam suara
Dipadu pepohonan: nyiur, cemara, dan pinus di kejauhan
Bersaksi: inilah hari terindah musim ini
Lalu. Ku pacu kuda mesinku
Melesat ke perbatasan
***
      -Tumpang-

Sekilas kunjung
Wajahmu tak pernah murung
Semarak dalam gemuruh suara jejak
Diam dalam ayunan alam perak
Tiada ada derita menyayat
Atau murka menebas, membabat
Kau: tampil seperti kisanak
Berbaju putih dengan tatap yang bijak
Sembari menunjuk arah: "ke sana jalan yang kalian tuju"
Tanpa merasa cemburu: kau sekedar lintasan semu
Bagi para pejalan kaki yang dicekam riang hati
***
      -Poncokusumo-

Salam kenal, Kawan!
Kali pertama ku pandang sosokmu
Selama ini
Ku dengar kamu lewat selentingan kabar berita
Ketika debu-debu membanjiri hidungmu
Dan salsa sang bumi membuat goyah persada permaimu

Kini
Dapat ku nikmati dengan mata sendiri
Hijau lereng dan setapak mendaki
Dan burung-burung yang menyusur bernyanyi
Kini
Dapat ku rasakan dengan telinga sendiri: betapa teduh ketenangan ini


Wahai. Selamanya kah kau begini?
***
      -Wajak-

Cukup gentar ku datangi rumahmu
Mengingat langit mulai pucat
Dan gerimis: satu demi satu
Menitis mengusik waktu

Ku coba mengenali kamu
Aromamu. Meski si mancung telah buntu
Kecantikanmu. Meski asing dan membisu
Ketegaranmu. Di sela sepi jalur yang mati
Kau coba bertahan
Dan masih kau lakukan...
***
      -Turen-

Ah. Bisa juga ku jejaki tualangku
Tepat di pelukanmu. Tepat di bibirmu
Wahai. Alangkah damba yang ku rasa
Wahai. Alangkah rimbun sukacita
Dan. Hujan yang guyur perlahan
Tak buatku surut tertawa: akhirnya aku bisa sampai juga


Lalu. Dimana soal gubuk ajaib itu?
Ah. Itu bukan soal
Suatu hari nanti
Barangkali ku bisa kembali
Dan menyusuri lekuk wajahmu: lebih dalam lagi

Maka. Nantikan aku kembali. Sobat...
***
      -Gondanglegi-

Ku akui. Aku menyapamu tanpa ku sadari
Aku salah jalan
Dan tak semestinya aku singgah kemari
Namun. Ku ucapkan terima kasih
Karena t'lah mau menerimaku
Di tengah kesesatan jalanku

Aku bersyukur pada penciptamu
Masih menajamkan naluriku
Untuk menerka jalan mana yang sebenarnya
Dan mana pula yang fatamorgana

Dan. Aku menemukannya...
***
      -Kepanjen-

Belasan kali ku ketuki rumahmu
Meski tak lama singgah
Cukup kuluman senyummu membenih inspirasi
Meneriaki semangat perjalanan tanpa pernah berhenti
Karena kau penuh mengerti: kehidupan takkan pernah terhenti
Sekalipun kiamat menghujani
Takkan pernah terjadi!
***
      -Pakisaji-

Aku mencium baunya: aroma rumah kedua
Aku pun mencium warna sajak yang ku simpan di komputer jinjingku
Masih tergeletak di sana

Aku bisa mencium suara berisik
Yang mendengus dari pusat kota
Akhirnya
Aku kembali lagi ke rumah
Terkungkung lagi...
***
Malam
Begitu sunyi. Begitu dengki. Begitu angkuh menikam
Rembulan hilang purnama
Tinggal sepi menggoresi memori indah sepanjang pagi

Aku terjaga menunggu mimpi
Mencoba mengilas balik
98,2 kilometer yang ku lalui hari ini
98,2 kilometer pengalaman yang ku temui
Dan 98,2 kilometer cinta kasih yang membelenggu dengan tulus

Ku pandangi tajam lampu 10 watt di atap kamar
Pada cahayanya aku bertanya: cintakah Tuhan padaku?
Sembari mengenang senyuman Angan yang melintas di tengah jalan
Lalu. Ku tutup mata
Setelah puas ku puji Dia
Dalam hatiku. Seratus juta kali

Alhamdulillah...

*Untuk mengenang perjalanan pertama kali sejauh 98,2 kilometer rute Tlogomas-Tajinan-Tumpang-Poncokusumo-Wajak-Turen-Gondanglegi-Kepanjen-Pakisaji-Tlogomas pada hari Minggu, 18 Desember 2011 Pukul 10.00-15.00 WIB

Sumber Foto: Bagi-Bagi Informasi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Minggu, Desember 18, 2011

Matahari Kelabu

Hutang Negara
Menyesak
Duka mendalam, mendegam. Menghantam
Di bawah kemucur sinar pagi
Lelaki itu
Sendiri menanggung sepi
Si sulung termangu memandang sekitar
Tanpa sadar: Adiknya mati di lantai gerobak
Milik sang Bapak

Tak ada yang mendengar jerit hatimu
Maka. Kau berjalan
Berjalan
Kembali berjalan
Memintasi lirih dan luka nyeri
Melintasi gigil kerdilnya kota yang culas
Bayang-bayang damba
Memunah menjadi ringkas: nelangsa
Sesal yang menggumpal
Membuatmu terus berjalan
Berjalan
Terus berjalan
Menembangkan derita dan kematian
Menuju Stasiun Kereta

Tapi. Entah apa maksud Tuhan
Belum habis sayatan kau sembuhkan
Karang terjang menghadang, menghalang. Menjengkang
Bapak Polisi: "Belum cukupkah nanah ini?"
Tapi ia tak pernah mengerti. Takkan cukup memahami
Dan. Dengan beban kau ikuti langkah mereka
Tertundalah tidur damai si Bunga Jelita

Namun
Lorong hitam yang kau datangi tak jua memancing duli
Engkau: dengan ikhlas mereka lepas
Lagi. Kau. Kembali berjalan kaki
Kembali menghitung: berapa ratus partikel sunyi yang mesti kau pangguli
Kau bimbang: "Kemana harus ku sandangkan beban?"
Dan negara satu-satunya makhluk yang sembunyi lebih dulu. Saat itu

Lalu. Bagai pengemis tua
Derma demi derma turun menjadi kilatan cahaya
Dengannya kau kembali menuntun langkah
Menuju entah kemana
Mencari entah siapa
Berharap Tuhan (masih) menolongnya
***
Maka. Memang
Demikianlah elegi anak bangsa enam tahun lalu
Juni-lima-dua ribu lima
Ketika negara dengan gagah "Kobarkan semangat para Pemuda!"
Maka dengan gagah pula ia sembunyi ketika satu anak rahimnya:
Telungkup mati tak ada yang mau peduli

Ketika negara dengan perkasa berkata: "Mari kita membangun negeri!"
Seketika itu pula ia berlari
Lantaran ngeri mencium aroma busuk mayat yang mati
Sang penerus cilik
Mati tanpa kafan menjarik

Di istana sana
Di pencakar langit pemegang trah
Dan. Kantor-kantor sohor para patih
Senopati
Mahapatih
Di rumah siput Tuan yang arif bijaksana
Apa kabar, Kawan?
Trenyuh kah kau mendengarnya?

Kini
Memang semusim telah lalu
Dan kini
Memang semusim telah membisu
Namun: luka hati takkan pernah lalu
Tragedi ini tetap akan menjadi mimpi terburuk kami
Menyusup dari celah pintu
Merayap ke dalam selimut dan mencekik harapan kami
Ketika kalian-Para Pemegang Tampuk-tak lagi mengerti: seberapa remuk hati kami tanpa bentuk
Saat itulah kami merajang namamu dalam pena
Dan mengumbarnya pada udara
Lantas berharap: halilintar mendengar
Agar bisa ia menyambar wajah kalian. Dengan kemarahan

Kuyakin Tuhan (akan) sepemikiran
***
Menyesak
Duka mendalam, mendegam. Mengelam
Di bawah kemucur sinar pagi
Lelaki itu
Sendiri berkawan sunyi
Ia pandangi daun kecipir di teras tetangga
Lalu. Lirih perih ia berkata:
"Nak,
Maafkan Bapak 'mengorbankan' dirimu..."
Sembari menyeka air mata yang tumpah

Langit pun berduka...


*Didedikasikan kepada Supriono dan orang-orang yang serupa dengannya. Tuhan tak pernah tidur...

Sumber Tulisan: Republik Madura, Tempo Online

Sumber Foto: Republik Madura
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, Desember 16, 2011

2012 (Makin Banyak Saja)

Menghitung Hari...
Makin banyak saja
Kegilaan di sekitar kita:
Kebobrokan sang Pengayom rakyat
Hingga keborokan para Wakil rakyat

Makin banyak saja
Keanehan di sekitar kita:
Si jongos baru mendadak jadi majikan
Atau Pahlawan Seberang yang mati tanpa kepedulian

Makin banyak saja
Teka-teki di sekitar kita:
Belum habis skandal bobolnya uang rakyat
Kini muncul kepalsuan wajah Tuan yang (Tak Lagi) Rahmat

Makin banyak saja
Ketimpangan di sekitar kita:
Si kaya dimana-mana
Kenapa kemiskinan makin menggila?

Makin banyak saja
Keculasan di sekitar kita:
VIP jelas bagi hartawan. Tapi...
Kenapa kami dinomor-sejutakan?

Makin banyak saja
Kutukan di sekitar kita:
Jembatan batu yang runtuh
Hingga darah di Andalas Tercinta

Dan. Makin banyak saja
Kedunguan di sekitar kita
Tanda-tanda senyala ini
Kenapa kita lalai begini?

Sepertinya
Sangkaan kiamat 2012 benar adanya
Maka. Bersiaplah sekoci dan sampan
Barangkali kau bisa terselamatkan
Seperti dalam impian

Sumber Tulisan: Various Resources
Sumber Foto: Ir. Coronk
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Menggenggam Tangan Tuhan

Tangan Tuhan
Ya. Ketika tidak tak mampu lagi berharap
Dan hari-hari begitu gelap dan pengap
Maka. Cobalah kau raih jemariNya
Barangkali. Di sana masih ada cinta...

Menggenggam tangan Tuhan
Ya. 'Pabila impian selalu dikebirikan
Dan kedukaan ditumpuk di laci kekuasaan
Maka. Cobalah kau sentuh ruas telapakNya
Barangkali. Masih tersisa duli padaNya...

Menggenggam tangan Tuhan
Kenapa tidak?
Ketika darah dan pelor menjadi sahabat karib,
Dan kelaliman menggantung harap di tiang salib,
Dan Tragedi: September 65. Tanjung Priok Jakarta.
Palagan Hitam Salemba. Santa Cruz yang Luka
Hingga Mesuji Gulana, menjadi banyolan dan dikebirikan
Maka. Cobalah kau rengkuh Dia
Barangkali
Ia mau menjatuhkan dakwaNya
Seperti Sodom dan Gomora
Atau cerita luka umat Saleh yang binasa

Saat itu
Kita baru bisa tertawa

Karma telah tiba...

Sumber Foto: Seaners Indonesia
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kontroversi

Murka. Jengah. Dan Bara!
Sontak
Langit terbelalak
Matahari, Bulan, Bintang. Beku. Kehilangan jernih suara

Burung-burung tercenung
Air danau tertenung. Siapa mengira? Siapa menduga?
Siapa menerka?

Berjuta pasang mata manusia baru saja terbuka
Ketika lembaran koran langganan
Melayang, menimpuk pintu teras rumah mereka
Headline: Pembantaian Puluhan Warga, Mesuji Berdarah
Sorot kamera menggantikan tatapan Tuhan
Bergerak ke seberang; berharap temukan kebenaran
Kontan
Kita lupa pada gejolak di Senayan
Kontan
Kita lupa akan gaduhnya Istana
Seketika itu kita terbelah: antara percaya dan memustahilkannya


Angin bercerita
Niskala tragedi berdarah
Membenih tujuh belas tahun silam
Ketika Bento Keparat masih bertahta
Dan Tuhan dilipat-lipat di laci meja

Angin juga berkata
Niscaya anyir prahara
Terpahati di atas rimba
Ketika mesin-mesin culas pertama kali menggegas
Dan pribumi dikebiri menjauh dari bumi kelahiran mereka
Maka itu juga
Seratus juta manusia bertanya:
Kulminasikah?


Cemara-cemara berkisah
Seratus juta do'a berhamburan setiap malam
Cemara-cemara berkisah
Seribu juta sumpah mengutuki, menghujati
Dan
Hari-hari menjadi begitu nisbi
Hari-hari menjadi begitu sunyi
Ketika mereka dicekam belati dan sembilu berduri
Kita asyik dengan isu dan skandal tak berhati
Kita dipermainkan kekuasaan
Digoyang teka-teki konspirasi yang membingungkan
Sementara
Seratus juta manusia bertanya:
Kapan datangnya cahaya?


Kini. Entah berapa hari pasti
Sejak marah berkobar pertama kali
Aku. Di sudut kamar yang sepi
Duduk memandangi berita di alam maya
Mesuji. Rimba. Kuasa. Dan darah
Menjadi lingkaran setan yang mengerikan
Menjadi kekalutan yang berkepanjangan

Maka
Ketika alur terbelah
Dan opini nyaris dijadikan fakta
Aku berkata:
Cukup kontroversi sampai di sini


Karena
Matahari masih hangat
Dan bulan masih ayu dengan pelukannya yang erat
Haruskah kita biarkan mereka terbabat?

Padamu aku bertanya...

*Didedikasikan kepada korban Tragedi Mesuji

Sumber Berita: JPNN.Com, Kompas Online, dan berita terkait lainnya
Sumber Foto: Kompasiana
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sonata Malam Pertama

Damai Malam Kudus
Suara tawa: dimana ia?
Senandung biduan: kemana mereka?
Sunyi menyergap. Sunyi memerangkap
Sunyi mendekap. Gelap...

Di sini tak ada suara piring bertumbukan dengan sajian
Atau tapak kaki beradu berebut antrian

Di sini tak ada bincang nostalgi
Pun juga reuni silam yang lirih

Di sini tak perlu lagi pelaminan
Dan seragam pengantin yang mengagumkan

Di sini hanya ada segumpal sepi
Dan sepasang tubuh yang beradu, berkasih
Di bawah kejora malam abadi

Mereka tak perlu suguhan tembang cinta
Karena mereka telah menggubah: dengan sonata bah'gia dan sedawai desah
Mereka tak perlu teguk segelas madu
Karena mereka telah meramu: dengan pagut dan rayu

Dan. Suara serangga bernyanyi di luar sana
Mencoba meredam suara amuk hasrat sepasang anak manusia
Yang hanyut dibuai nuansa

Bulan tersenyum dan memandangi angkasa
Tuhan, telah kau ikatkan lagi benang asmara
Ujarnya sembari beredar sepanjang waktu
Sementara itu
Cerita masih mengalir
Entah di ujung mana menubir
Aku tak peduli. Dan takkan peduli

Wahai, Yang Bercinta...

Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Semarak Citra (Kepada Para Pemuda)

Bergeraklah!

(Kepada Petualang Baru dan Rencana di Kepalamu)

Tak perlu meragu
Tetaplah di jalanmu
Sementara seratus juta orang tua meludah
Tampunglah semua!
Barangkali suatu hari nanti: mereka kan menjilatinya lagi

Tak perlu bimbang
Setialah menerjang dalam lenggang
Mars gemertak yang risau bertembangan di awang
Kenapa harus ditakutkan?
Larutlah!
Menari, bernyanyilah!
Barangkali suatu hari nanti: lagu sepicis itu yang redup dalam derap sepatumu

Tak perlu gentar
Memang jalan kita papar dan bakar
Onak. Duri. Sepi
Berkombinasi dengan panas caci maki
           menjadi portal luka hati
Tak ada obat untuknya
Selain terus berjalan
Berjalan
Dan berjalan
Sampai menggumpal keberanian

Dan, Kawan
Tak perlu risau
Singkirkan pucat buram raut yang galau
Matahari masih jadi sandaran burung-burung berkicau
Dan bulan
Masih menyelam tambatan kekasih pahati janji dalam kerinduan
Ini hidupmu!
Ini waktumu!
Kenapa harus lunglai di ujung dakwa?
Mereka bukan siapa-siapa
Dan takkan pernah menjadi siapa-siapa
Kenapa kau harus mendengarnya?

Maka. Semaraklah dalam citra!
Larutlah dalam kelebat cinta!
Nikmati detik yang tersisa
Sembari mengguratkan noda pena
Di dinding-dinding majalah
Dan di ujung hidung si mulut kotak sampah
Katakan pada dunia: kita bisa!
Niscaya, kau pun bisa!

SALAM PEMUDA!
SALAM MERDEKA!
SALAM SELAMANYA!

Sumber Foto: Ramlan Nugraha
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Cemara & Ilalang

Damai Meski Berbeda
Kau cemara. Aku ilalang
Kau gemulai menyongsong fajar. Aku tersenyum menjaring sinar
Kau sipu kepada awang. Aku malu kepada ruang
Kau diam di tepi malam. Aku beku di pintu degam

Kau cemara. Aku ilalang
Kau menjulang. Di bumi tubuhku membentang
Kau gemuruh. Aku teduh
Kau biru. Aku membisu
Kau bicara. Aku juga
Dalam bahasa do'a

Ketika burung-burung pulang ke sarang
Kau cemara. Aku ilalang
Burung manyar singgah di dahanmu. Membawa setangkai bagian tubuhku
Di cabangmu sarangnya sembunyi. Di situ pula tubuhku menyelubungi

Maka. Ketika sejuta manusia berdebat soal besar dan kecil
Atau si necis dan yang dekil
Lalu mereka pun berlomba untuk membudaki saudaranya
Tepat di bawah tumit mereka
Kau cemara. Aku ilalang. Kita bertanya:
Bagaimana bisa?
***
Raut senja menyumba
Kau cemara. Aku ilalang
Di pintu malam kita berdendang
Tentang damai yang tenang...


Sumber Foto: Trip Advisor
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kamis, Desember 15, 2011

Dansa Ceria

Happiness Dance
Mari!
Ulurkan tanganmu kemari!
Kita belenggu dulu: kelesuan hati
Ini saatnya menari
Berdansa riang hati
Maka: menarilah!

Mari kemari!
Ketukkan langkah kaki dan jemari!
Kita vakumkan dulu: segala dendam dan dengki
Ini saatnya tertawa
Bergelak tentang apa saja
Maka: tertawalah!

Marilah, Kawan!
Dendangkan semarak jiwa!
Kita tutup dulu: telinga dan mata. Dari sorot keji dunia
Lupakan dulu prasangka
Dan kepenatan pada nestapa
Ini saatnya bernyanyi
Tentang kedamaian hati
Maka: bernyanyilah!

Dalam dansa ceria...

Sumber Foto: Just Another Stories
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Di Bawah Tembeliung Hujan

Deras Hujan Melibas
Ku arungi jalan
Sendiri
Di bawah ganas kasarnya tembeliung hujan
Langit Comboran setengah pekat
Mendung gemumpal menambat
Aku nyaris tercekat

Genangan tenggelami hati
Kekacauan seperti kawan
Disapa meskipun datang dan pergi
Wajah-wajah pasrah memandangi dahaga
Bertanya:
Kapan kemarau tiba?

Setapak demi setapak
Ku lalui impian tanpa beranjak
Kuakui: hujan semakin mendahak
Kusadari: kau pun mulai terdesak
Tapi, percayalah!
Cerah menyapa di ujung sana
Kenapa harus menyerah?

Sunyi memikat, menjerat
Hening mengusap ke lubuk jiwa memucat
Aku menepi sejenak
Menengok ke belakang
Mendapati seratus juta orang terbenam tak bisa berenang
Maaf. Aku tak bisa berbuat apa
Karena aku bukan siapa-siapa
Aku hanya bisa mendulang suara
Dan ku pahat menjadi kata
Sayang. Kau tak mendengarnya
Kau tak menyimaknya
Kau tak membacanya!
Maka. Maaf. Ketika kau berjuang di arus derita
Aku tak mampu mencegah
Karena ku sudah mencoba. Dan kau tak suka...

Ku arungi jalan
Sepi. Hanya tubuhku sendiri
Di akhir perjalanan cekam
Tembeliung hujan meredam dan silam
Ku tatapi langit
Dalam hati ku tanya dengan sengit:
Apakah kau guyurkan lagi suatu saat nanti?
Dan bias sang surya
Mengerling meng-iya
Aku diam mendesah...

Catatan: Tembeliung hujan adalah istilah Penulis untuk hujan deras yang disertai angin kencang

Sumber Foto: Okezone.com
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Rabu, Desember 14, 2011

Lintas Ruang (Tlogowaru - Comboran - Tlogojoyo)

Jarak Tak (Akan) Pernah Jadi Halangan
Sebuah Perjalanan Kecil di Siang Hari...

Mendung
Mengapa kau selalu murung?
Aku tak pernah melihatmu:
Tersenyum merentangkan tudung
Pun jua hari ini
***
Aku menyusuri jalanan
Sendiri
Di antara lingkup nafas keheningan

Aku pandangi tepian
Tak ada pendar keyakinan
Aku melangkah di atas kaki sendiri
Sementara sorot mata meragu
Menghujani, memalu, memaku
Aku terus melaju:
Menuju titik temu

Aku tak peduli
Betapa panas sengat sinar membakar
Aku pun tak peduli
Betapa deras hujan nanti menghajar
Aku hanya mau berkejar
Bersama waktu
Berlomba: siapakah yang akan tertawa lebih dahulu
Di ujung jalan sana...

Ya. Terus! Terus!
Jarak mil demi mil aku gerus
Terus!
Tak ku hiraukan kecam awan menghunus
Aku terus melaju. Melaju. Di depan perhentianku menunggu
***
Aku tertawa 
     –tersenyum tepatnya
     dalam perjalanan kembali

Aku tak peduli
Pada gemuyur hujan yang beku
Dan aku lebih tak peduli
Pada genangan dan kesemrawautan jalanan
Fly over, persimpangan, dan Comboran
Mereka saksi sunggingan bahagia di wajahku
Ku tuntaskan keraguan hati
Ku libas tebas kegentaran pada waktu
Aku sampai di ujung semai
Esok. Ku pasang janji pada udara untuk kembali
Apapun yang terjadi
Aku akan kembali
Akan kembali!
***
Malam menyergap. Dalam
Hitam
Aku lelap
Mimpi sunyi menyergap
Tlogowaru - Comboran - Tlogojoyo
Inspirasiku esok hari...

Sumber Foto: Ri32 Weblog
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Saksi Gerobak Tua

Gerobak Tua
Tanpa keluh
Dalam cinta mereka mengayuh
Gerobak tua saksi cinta
Ketika surup sinar senja membara
Mereka tenang dalam kisah asmara
Dan. Berbungkus nasi kuning terhidang merata
Bersaing penjaja dan bisingnya Ibukota

Mungkin tak ada yang memerdulikannya
Ketika kapitalisme menjadi Raja
Dan bisnis menjadi Tuhan yang terpercaya
Maka. Hadirmu adalah kutu di antara gemulainya surga
Adamu adalah ketiadaanmu
Dan suara pabrik menggilasmu dalam hilang
Lekang tanpa bayang

Dalam kesendirian menunggu anak dan istri
Di beranda sepi
Ku kenang lagi rapuh ringkih sang Suami
Dan tegar pasrah wajah sang Istri
Aku bertanya:
Tak adakah cahaya?
***
Gerobak tua masuk di mimpiku
Tuhan. KaruniaMu...

Terinspirasi dari Gerobak Nasi Kuning Biasa

Sumber Foto: Fotografer.Net
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

30 Menit

Damba
Dan ia menunggu
Menunggu
Menunggu kapan saat itu
Ia hitung. Sungguh. Ia sudah menghitung
Lembaran uang di tangannya hampir genap
Dan ia hanya perlu menunggu
Sekali lagi, menunggu
Maka: genaplah lembaran uang itu

Ayah. Betapa sosok yang ia damba
Tegar hati kecilnya berkata:
"Ayah menyayangi aku"
Atau
"Ayah merinduiku"

Setiap kali dingin mencibir
Dan kegelapan malam bertubir
Ia berteriak dalam hati: "Ayah mencintaiku"
Kepada sepi...


Kini. Ia hanya perlu menunggu
Setelah itu, semuanya akan tahu:
Kamar tidurnya yang hampa. Bantal guling berwarna
Hingga sepatu yang menghina kesendiriannya
Semua akan tahu:
Ia akan bercanda dengan Ayahnya. Sebentar lagi!

Deru mobil merayap di pelataran
Senyumnya kembang. Bagai bulan pecah di malam panjang
Ia mengintip dari jendela
Menunggu hadir sang Ayah tercinta
Dan menyambutnya dengan pelukan cinta

Ketika sepasang mata mungilnya bersitumbuk dengan mata sang Ayah
Ia berkata:
"Ayahku sayangku,
Boleh ku meminjam uangmu?"
Sayang. Lelaki itu teramat letih
Ia teramat lelah untuk mengerti
Keluguan si bocah rindu
Terantuk dingin hati yang beku
Maka. Tak ada lembaran penggenap
Tak ada recehan koin yang menenteramkan hatinya yang gegap

Mendadak. Ya. Mendadak
Hardik Ayah membuyarkan cita
Si bocah rindu menangis pulang ke sarang
Beralas bantal
Ia pandangi dinding yang tersenyum binal
"Puaskah kau?" tanya si bocah
Seisi kamar tertawa
***
Merayap di kesunyian malam
Ayah, dengan hati sesal, merangkak menuju kamar anaknya
Ia pandangi sosok manusia terbujur dalam nyenyak
Di atas meja, bertumpukan anak tangga, ceceran lembaran uang.
Dan secarik kertas

Tuhan, ku mohon
pinjamkan aku uang dari Ayahku, Tuhan
Uangku tak cukup
Untuk membeli seharian menit waktunya bagiku
Maka, Tuhan
Aku hanya ingin
30 menit saja waktunya bagiku
Dan kuserahkan uang sakuku minggu ini
Sebagai tebusan hutang uang Ayahku
Yang ku pinjam
Untuk menggaji 30 menitnya bagiku


Tuhan,
Kabulkanlah do'aku
Amin


Dan.
Lelaki itu berdiri diam
Tegap. Senyap
Dengan air mata merayap

Maafkan Ayah, Anakku
Batinnya bersama kesunyian ruang dan waktu

Terinspirasi dari Qu Kangen Ayah

Sumber Foto: Shohibul 223
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Bai Fang Li, Cahaya di Redup Senja

Bai Fang Li, sang Mentari
.....Cahaya di Redup Senja.....
 
Aku tak tahu
Atas dasar apa Tuhan meledek kami lewat dikau
Aku juga tak tahu
Atas dasar apa Tuhan memungut engkau dari kami
Yang kami pahami: kami tak mampu seperti dikau
Meskipun dikau lebih sanggup menjadi seperti kami: Tak berhati...
***
Bai Fang Li
Nyaris otakku menyangka namamu
Seperti nama jajanan
Atau toko penyedia nisan

Nyaris otakku
Mengira dirimu bukan sesuatu
Hingga akhirnya aku tahu:
Kamilah yang bukan sesuatu!

Keringatmu masih bisa kucicipi di udara
Renta, ringkih, membungkuk badanmu yang layu
Mencetak asa kau di atas becak kayuhan yang bisu
Tak ada kata putus asa
Tak ada rasa sesal
Sementara kami dari sini mencekal. Miris

Dan pundi-pundi emas mengalir dari jemari keriput
Tak ada dengkimu memagut. Tak ada irimu cerabut
Tak ada kutukmu memagut
Mengalir. Ya! Tulus hatimu mengalir
Tanpa sadar: embun sudah menjadi banjir
Membasahi jiwa kami yang kikir

Dan. Ketika kau mulai payah
Dan. Ketika becak tua tak sanggup lagi melayah
Kami sentak merasa: waktumu hampir tiba
Sementara kami akan kembali sesat di belantara lupa
Dan mengais kembali lentera
Dalam luka yang lama
***
Bai Fang Li
Sejarah mencatatmu menjadi legenda
Dipajang di situs dunia maya
Menjadi puja dan memancing mata berkaca-kaca

Bai Fang Li
Kau tinggalkan kami tepat 93
Ketika nafas terakhirmu sirna
Kami lupa: berlutut di bawahmu, berpinta
"Kelak, 'pabila kau telah bertemu Dia
Sampaikan pada Tuhan kita
Untuk menjadikan kami seperti dirimu
Dan membuka hati
Agar tak senantiasa terkunci
Terpencil. Kecil. Dan mati"
Kami lupa melakukannya

Maka. Enam tahun kau pergi
Tuhan belum juga menyadarkan kami kembali
Sehingga: zombi-zombi masih berkeliaran
Sehingga: anjing binal masih terkucil dari kasih sayang
Sementara kami:
Berdasi, berjajar di lorong-lorong kantor dengan uang kotor
Berbaris, bercicit-cuit di ruang sidang dengan muka bengis
Sementara kami: bertumpukan harta di rumah
Membangun kerajaan temurun dan menggantungkan mimpi pada daun
Kami lupa: badai datang tak kenal tahun

Maka. Barangkali ketika saat itu tiba
Kami baru menyadarinya: kami tak punya apa di balik keapaan kami
Sebagaimana engkau yang memiliki apa di tengah ketiadaan apamu

Oh...
Tuhan. Lindungilah Kakek kami
Oh...
Tuhan. Jagalah Kakek kami

Wahai...
Tuhan. Jangan siksa kami..!
***
Aku (masih) tak tahu
Atas dasar apa Tuhan menguji kami dengan hadirmu
Dan. Aku juga tak tahu
Atas dasar apa Tuhan memilihmu. Sebagai nabi di tengah kekafiran kami
Yang kami pahami: kami memang kafir
Atau. Setidaknya murtad

Dan masih seperti itu. Ah.

*Didedikasikan kepada Bai Fang Li, kakek pengayuh becak yang dermawan dari Tianjin, Cina. Semoga arwahmu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Amin.

Sumber Foto: Resensi.Net
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Senin, Desember 12, 2011

Perjalanan ke Bukit Damai

Panderman, Puncak Kedamaian
 Menapaki jalanan sepi
Sendiri
Berpayung mentari dan kejernihan hati
***
Aku melenggang di bawah bayang-bayang langit
Ditemani angin yang sengit
Dan debu-debu yang melesak, menggigit

Aku merangkak tanpa arah
Berharap: menemukan sedikit cahya

Dan. Aku memang t'lah temukan ia
***


Sendiri
Perjalanan ke bukit damai
Aku tak lagi peduli:
Pada dengki yang membantai
Dan aku lebih tak peduli:
Pada hujat yang membingkai
Karena
Aku telah terkurung dalam Surga
Surgaku!

Ketika dunia disesaki tangan-tangan kotor berebut nanah
Aku hanya tertawa
Dalam hati aku bertanya:
Bagaimana bisa Nanah berebut nanah?
Sembari tertawa dan tenggelam di peraduan senja
Di pelukan Pelabuhan Jingga...

Sumber Foto: Malang Tour for Fun
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, Desember 10, 2011

Bermain Kata-Kata

Pertama: Berpikir
Seperti pujangga ternama
Melempar kata seenak jidat kepala
Tak kau timbang makna?
Tak kau hitung hikmahnya?
Maka. Tak heran dunia sambat membaca

Bermain kata-kata
Menyusun tanpa rencana
Bergantung pada intuisi yang tumpul
Dan jadilah tumpukan sajak modal dengkul

Bermain kata-kata
Bukan maksud aku menghina
Atau melecehkan daya upayamu menggubah
Tapi, tak mampukah kau memikirkannya sejenak:
tentang tema,
tentang diksi dan makna

tentang rima,
tentang klausa,
atau jejak pesan yang kau tinggalkan di dalamnya

Kau luputkan itu semua
Begitu titik terakhir tercipta
Kontan. Langit menangis darah

"Satu lagi orang bodoh lahir ke bumi," katanya

Aku hanya diam. Diam
Mendegam...

Sumber Foto: Poetry Irwin
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kerjapan di Silam Pagi

Di Kesendirian Masa Lalu
Mengerjap di silam pagi
Mengenang. Me-reka ulang dambaan yang lengang
Suaraku membungkus di gusar waktu
Terjerumus. Terjerebab di gelap gugus
Tiap kali aku bertanya:
Dimana Cahaya?
Selalu saja:
Tidak ada, jawabnya
Aku lalu diam. Diam
Dan... Diam

Maka. Ketika untuk sekian kali aku terpaku sendiri
Maka itu pula: aku putuskan untuk berdiri
Perlahan berjalan. Perlahan merangkak lepas dari kegelapan
Perlahan aku berlari. Berlari!
Lari! Lari! Lari!
Dan, LARIIIII!!!!
Ku terjang kebekuan itu!
Bah. Apa pula keperkasaan? Semu!
Kini. Dapat ku rasakan hangat mentari membakar isi hati
Dapat ku terima birama jiwa yang menyatu bersama simponi angin
Dapat segalanya!

Lalu. Aku dengar kamu bertanya:
Bagaimana dengan kerjapan itu?
Aku diam. Sesaat. Ku pandangi langit yang birunya semakin berat
Dan. Ku lempar senyum padamu. Aku berkata:
Yang lalu, biarkan berlalu
Sambil ku terus berlari. Berlari
Dan berlari...

Menuju Gerbang Hari Depan

Sumber Foto: Cyput-Rhyzae
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sembelit

Kutukan Dusta!
Dengan wajah sembelit
Kau berpidato di atas mimbar
Janji, keprihatinan. Sekali lagi kau tebar
Berharap menjadi sinar di saat sulit

Dan, sayang. Kami tak tulalit
Kami mengerti dengan pasti: ada apa di balik ini
Konspirasi. Dalang jalang dan script yang membajang
Semuanya kami sadari: menghantui kehidupan kami

Lalu. Ketika wajahmu semakin melilit
Dalam diam, dengan bisu, kami tengadah:
"Tuhan, sembelitkanlah pemimpin kami
Hingga ia sadar: langkahnya semakin kasar. Menginjaki wajah kami"

Amin!

Sumber Foto: itempoeti
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Terpasung Cinta

Aku Selalu Merindukanmu

Aku.
Terpasung cintamu
Terkurung di jeruji hati
Tak mampu terbang bebas
Lepas. Seperti kawanan unggas


Aku.
Terpenjara kasihmu
Mendekam dalam rindu
Sepanjang waktu tersiksa mengenangmu
Ini ku cumbu

Aku. Benar-benar
Menyendiri di sudut hatimu
Tak 'da yang tahu: sampai kapan aku di situ
Tak juga aku. Tak juga kamu
Atau mereka yang mendengki di lorong itu
Yang aku tahu:
Aku sungguh menikmati. Sungguh-sungguh ku nikmati

Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Ku Panggil Nama Mu dalam Diam

(Ketika Manusia Dijebak Dilema Antara Dunia dan Tuhannya)

Memuja NamaMu
Ya. Karena dunia terlalu bising
Dan suara puja-puji
Bersitumpuk dengan semangat memaki
Maka. Ku panggil namaMu dalam diam
Haruskah ku panggil Engkau bersamanya?

Ku panggil namaMu dalam diam
Ya. Karena hidup sesak penuh dendam
Dan suara ketulusan
Murtad diaduk pengkhianatan dan kecurigaan
Haruskah ku panggil Engkau di dalamnya?

Ku panggil namaMu dalam diam
Ya. Karena waktu semakin kejam
Dan menepi meski sekelebat pejam
Menuai cekal dan hantam
Haruskah ku panggil Engkau di baliknya?

Ku panggil Dikau dalam diam
Dalam sajak temaram
Ku sanjungi namaMu dalam-dalam
Wahai. Tiadakah jalan damai ku langsungkan penghambaanku padaMu?

Sumber Foto: Baltyra.com
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Mencari Pagi

Sesal Tak Pernah di Pangkal
Mencari pagi
Mengikuti jejak yang berganti
Aku mengais. Aku telusur di bawah gerimis
Dilapuki mimpi. Diguyur kesinisan langit dan bumi
Tapi. Bukan aku kalau hirau
Maka: aku pun terus berjalan tanpa galau
Sampai nanti. Sampai nanti
Ketika senja menghampiri
Aku terus mencari:
Pagi yang kusesali...

Sumber Foto: Ruang Kata Doni Al Siraj
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Rindu

Tiada Letih Menanti, Mencari!
Menunggu. Ditunggu
Dicari. Mencari
Selalu saja alur kisah semacam itu
Orang terpaku di hening sepi: menanti rembulan menelan sunyi
Orang berlarian ke segala penjuru: mengejar cinta yang tak kunjung tertemu
Maka. Jadilah prosa-prosa
Maka. Jadilah sajak dan irama
Bising di antara rima nafas manusia

Aku dan kamu
Kita sepakat: diam
Hati dan pikiran terlalu gemuruh
Hingga. Sulit bagiku mengucap kata
Hingga. Susah bagimu menyusun nada
Hingga. Senja datang, pergi, dan datang lagi
Kita masih seperti ini: di lingkup bimbang yang lirih

Aku tahu kau rindu menatap hatiku
Pun. Kamu tahu aku mendamba sapa cintamu
Tapi: tak mungkin ku turuti syahwati. Bisik rayu sanubari
Karena. Dunia kita masih menganga dalam jurang petaka
Alam pikiran kita masih terpancang jarak yang luka
Dan. Cambuk takdir menari mengejeki
Bertanya: Kau lawan tembok tirani?

Maka. Kau dan aku
Kita sepakat: menunggu. Mencari
Menjalani dulu kehampaan yang memalu-memaku
Menikmati dulu kegersangan waktu
Barangkali. Suatu saat nanti
Tuhan menggeser takdir. Dan sejarah berbalik mengalir
Ketika itu, mungkin, kau dan aku dapat meramu:
Kehadiran yang kita mau

Jika tak. Ku pahat do'a di ujung langit
Ketika dunia meretak dan sirna dalam Sabda
Dan surga terbuka, neraka menyala-nyala
Ku harap di sana kita berjumpa
Sekalipun lebur dalam belanga siksa
Aku rela. Aku rela
Aku. Rela...
***
Menunggu. Ditunggu
Dicari. Mencari
Selalu saja alur kisah semacam ini
Tuhan. Tak sudikah Engkau memenuhi?

(Kepada Sang Penanti dan Sang Pencari. Waktu dan Jalan pasti berujung. Berjuanglah!)


Sumber Foto: Denny Palace
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Roda Sejarah

Roda Sejarah
Tak perlu berkata
Tak perlu bersuara. Diam saja
Sejarah di tangan mereka
Menurut sajalah
Atau kau akan ditembaknya jua

Tak perlu mengeluh
Apalagi berniat meneluh
Kita tak punya senjata. Atau sekedar belati tua
Mereka punya kuasa
Wajar kalau seenaknya

Tak perlu geram
Apa pula hendak menghantam
Tunggulah saja
Ketika legenda berkutat di atas kawah kebenaran
Bumi akan guncang. Hati akan terang
Dan. Kenyataan kembali pada singgahsana
Ketika itu: semua membisu
Kebohongan baru saja dimusnahkan

Dan. Kawan kita tertawa menangis di Surga sana
Keadilan akhirnya datang juga. Akhirnya...

*Didedikasikan kepada seluruh korban manipulasi sejarah. Keadilan akan datang, Kawan!

Sumber Foto: Dita's Pensieve
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jumat, Desember 09, 2011

TIPS 02 - Ada Apa Dengan Kritik?

Kalau ada survey yang melibatkan 100 remaja cewek+cowok plus 100 wanita dan pria dewasa tentang pendapat mereka soal kritikan orang terhadap mereka pasti mayoritas mereka jawab: sewot. Hahaha... Andakah salah satunya? merajuk

Kritik. Jujur, saya sih juga pasti bakal dongkol kalau ada orang ngritik saya. Apalagi si tukang kritik nggak kenal-kenal amat. Rasanya kayak pengen ngelempar botol aja ke muka tuh orang. Setuju? Hehehe... Masalahnya, penting nggak sih kritik itu?

Jangan Antri-Kritik!
Kritik, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline (unduh dari ebsoft. Hehehe,,,), adalah "kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk thd suatu hasil karya, pendapat, dsb." Lain KBBI Offline, lain lagi si WikiPedia mendefinisikan "hama" satu itu. Lebih halus, WikiPedia menjelaskan bahwa kritik adalah "masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan." Dari dua definisi saja sebenarnya bisa ketemu kenapa kita ogah banget dapet kritikan.

Pertama, versi KBBI Offline. Setuju ato tidak dengan definisi tersebut, kenyataan memang menunjukkan bahwa seringkali makhluk bernama kritik selalu memberikan sesuatu yang tidak sedap pada kita. Coba aja liat komentar juri acara penjaringan bakat di televisi. Pastilah kita tau salah satunya penyanyi cowok yang comment-nya minta ampuuuun pedes banget pas lagi ngritik kontestan yang tampil. Di sini menjadikan obyek kritik down begitu dapat "berkah" yang satu ini.



Kedua, versi WikiPedia. Penggunaan "pengevaluasian" menunjukkan bahwa dalam suatu hal is uncompletely. Nggak sempurna. Dan memang begitu adanya. Kaitannya dengan manusia anti kritik, lahirnya suatu "suara sumbang" atas kinerja, karya, ato apalah tentang tindakan mereka menunjukkan, entah realita ato sekedar prasangka si penerima kritik, ada sesuatu yang salah dengan mereka. Kontan keadaan ini memicu pikiran bahwa "kita gagal!" Keadaan ini kemudian dapat berdampak pada justifikasi yang berlebihan karena penerima kritik menerima kritikan tersebut sebagai suatu vonis terhadap diri mereka. Hal ini kemudian menjadi "obat pemusnah karir" bagi mereka karena fokus berlebihan terhadap kritik tersebut.

Ketiga, ego dan gengsi. "Enak aja disalahin. Emang dia bisa kayak gue?!" ato "Sialan! Ngomong aja dia pinter. Coba aja lakuin. Pasti sama kayak gue." Itu sekilas cuplikan reaksi manusia ketika mendapat kritik. Sisi ego dan harga diri adalah alasan tersembunyi mengapa mereka tidak mau dan tidak suka atas kritik. Dicarilah kemudian pembenaran-pembenaran yang sejatinya tidak benar sebagai upaya menjauhkan kritik tersebut atas mereka. Inilah awal kehancuran karir di kemudian hari.

Kritik, diakui ato tidak, adalah obat dan racun. Bukan pengkritik yang memberikan (baca: menentukan) obat dan racunnya, tapi sang penerimalah yang memutuskan menjadikan kritik itu sebagai obat ato racun. Sebagai obat, kritik diposisikan sebagai cermin untuk merefleksikan diri. Benar atau tidak hal yang dikritik dan pemecahan atau solusi perbaikan yang tepat adalah fokus utama mereka yang legowo terhadap kritik.

Sebaliknya. Kritik akan menjadi racun ketika kritik yang datang pada mereka dianggap sebagai penghinaanlah, pelecehan, sikap tidak menghargai, ato paling parah anggapan kritik sebagai bentuk dengki terhadap usaha kita. Akibatnya, penerima kritik bisa menjadi frustasi atas kritik yang mereka terima atau bentuk kedua mereka tidak memperdulikannya dengan konsekuensi mengulang kesalahan yang sama berkali-kali dan menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk lepas dari kekeliruan. Hal ini tentu menurunkan image atau citra diri mereka sendiri pada akhirnya.

Kritik, utamanya yang datang dari cyberworld, sesungguhnya adalah berkah yang paling besar. Tanpa mengeluarkan uang kita sudah menerima penilaian orang atas tindakan dan perbuatan kita. Yang kita butuhkan hanya dua: kesediaan hati menerima kritik plus kejernihan nalar untuk mengkritisi. Dua syarat ini mutlak untuk menjadikan kritik sebagai manisan paling enak sealam raya.

Kita pasti bertanya, bagaimana cara menjadikan kritik tidak menyakiti kita? Hm... Gampang-gampang susah jawab pertanyaan begini karena: 1) kadar kepekaan tiap orang beda-beda, terutama yang namanya PEREMPUAN. Hati-hati mengkritik makhluk yang satu ini :D!, dan 2) situasional pikiran manusia dan tingkat kedewasaan akal. Maka, saya coba ngasih beberapa tips yang sifatnya universal aja. Selebihnya, pas-pasin n modif dikit lah sesuai kehidupan teman-teman sekalian.


Pertama, jangan emosi. Kenapa? Karena dengan emosi cenderung kita bertindak reaktif dan kampungan ketika kritik datang pada kita. Siapa yang malu? Kita, bukan?


Kedua, bagaimana supaya nggak emosi? Gampang. Anggap kritik seperti angin. Eits, jangan lama-lama. Cukup lima menit pertama (maksimal kalo bisa) ketika kritik itu mampir ke kita. Menit berikutnya gunakan kritik itu sebagai bahan evaluasi. Jangan lupa kombinasi di awal: hati yang lapang and pikiran yang matang.


Ketiga, tanamkan sugesti di pikiran kita bahwa kritis=nasehat master feng shui, pakar astrologi dan tarot, akuntan ternama, pengacara handal, ato sekalian aja bisikan malaikat. Hehehe... Lebay kan? Tapi perlu. Kenapa? Karena kritik itu penting. Udah gratis pol, kita bisa tau sisi kelemahan kita dengan terang-terangan. Jadi, kita bisa mengubahnya ato merenovasi kekurangan kita dengan terang-terangan juga. Iya gak?


Keempat, simbol perhatian. Kita harus menyadari bahwa orang yang mengkritik kita adalah sosok yang perhatian pada kita. Kalo nggak, mana mungkin dia mengkritik? Artinya, eksistensi kita sudah diakui walau hanya sisi negatifnya. It's okay. Alon-alon asal kelakon. Nggak mungkin candi semalam jadi n Jalan Daendles sebulan kelar. Semua ada proses. Kalo kita mau diakui secara utuh, mulailah bagian demi bagian hingga menjadi utuh dengan sendirinya. Nggak akan ada samudera kalo nggak di awali dari tetesan air. Nggak percaya? Buka aja guru geografi SMP situ. Hehehe...


Terakhir, cari momen yang pas buat menganalisa kritik. Usahakan nggak menanggapi kritik waktu kritik itu datang, kecuali respon-respon sewajarnya, misal ucapan terima kasih. Alasannya karena psikologis manusia cenderung reaktif begitu datang "serangan dari luar." Untuk itu, tidak disarankan menanggapi saran dan kritik serta-merta karena dapat berekses buruk pada si penerima kritik.


So, kritik sejatinya adalah jembatan pembangun kualitas diri kita. Dari sana kita tau sisi kelemahan kita dan menguji kedewasaan kita terhadap respon lingkungan pada kita. Jika kita adaptif, pribadi yang matang akan tercermin pada diri kita. Sebaliknya, jika kita reaktif, sok kebal kritik, dan menutup mata dan telinga dari kelemahan kita sendiri, jadilah kita katak dalam tempayan. Dicap kekanakan, bahkan kampungan. Ckckckckck... Mau dicoba?


Akhir tips kali ini dari saya, sedikit "petuah" sepertinya pas menjadi renungan kita semua: Dunia tidak mungkin lepas dari kritik. Tuhan pernah melalukan kritik atas Nabi Daud, Musa, Yunus, dan Muhammad SAW. Jika sang Utusan saja pernah mendapat kritik, mengapa kita sebagai ummat justru memusuhi kritikan?


Demikian tulisan saya. Tunggu posting tips berikutnya! See you next time!


_____>>>Orang yang Gila adalah Orang yang Tidak Pernah Dikritik, tapi Orang yang Paling Gila adalah Orang yang Tak Pernah Mendengarkan Kritik<<<_____

Referensi:
*WikiPedia
*ebsoft
*Kucoba.Com

Sumber Foto: Andaners
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kawan Datang, Kawan Pergi

Pengkhianatan
Kawan datang, kawan pergi
Seperti angin. Seperti dingin sepi malam hari

Mereka seperti hantu
Hadir merapat tak pandang waktu
Ketika dunia riuh: mereka mengulurkan tangan untuk bersuka
Ketika hening: kemana wujudnya?

Kawan datang, kawan pergi
Aku tak pernah memaki
Pun sekedar menyesali
Aku hanya, selalu, maksudnya, bertanya:
"Mengapa?"

Dan. Aku takkan pernah peduli
Ketika mereka datang dengan senyuman
Berharap keniscayaan cinta dariku
Karena. Hatiku beku
Dan tak ada ruang bagi tegur sapa itu
Maka. Ketika kawan datang lalu mereka pergi
Aku takkan pernah menghalangi

Dan. Dalam puisi aku bersaksi:
Aku kan hidup sendiri. Damai di atas kakiku sendiri!

Langit. Bumi. Hati. Merekalah saksi...

Sumber Foto: PuspitaDee, See My Little World
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kamis, Desember 08, 2011

Ku Cari Bunga yang Lain

Ku Cari Bunga Hatiku
Ku cari bunga yang lain
Bunga yang tulus
Memandang cinta tanpa rumus

Ku cari bunga yang lain
Bunga yang suci
Menatap kasih tanpa materi

Ku cari bunga yang lain
Bunga yang bijak
Memilih kumbang tak sekedar menebak

Akan. Ku cari bunga yang lain
Bunga yang indah
Menerima cinta tanpa sandiwara. Tanpa dusta...

Sumber Foto: IndonesiaIndonesia.com
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Ku Cintai Kamu

Ku cintai kamu tak seperti lagu
Menderap. Mendayu. Lalu hilang di ujung waktu
Cintaku seperti alunan nafas
Mengalir tanpa batas. Kau rasa kah?

Ku cintai kamu tak seperti bunga
Harum di muka. Kuncup layu di pintu senja
Cintaku seperti surya
Menerangi langkah ketika resah. Kau sadari kah?

Dan. Ku cintai kamu tak seperti dia
Memujimu sepenuh jiwa. Namun, di balik punggung ia goreskan luka sedalam kawah
Cintaku seperti air. Rasalah alir!
Rasalah! Rasakanlah alir!
Ia hidangkan damai tanpa dusta
Kenapa kau tak menyambutnya?

Ku cintai kamu sepanjang waktu. Selalu...
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

SenandungKu Cinta

Kunanti Dirimu
Senandungku cinta
Bukan dusta. Atau belati luka

Senandungku rindu
Ke dalam hatimu bertemu

Senandungku kasih
Tak dapatkah kau mengerti?

Senandungku puja
Setulus surya pada dunia

Senandungku damba
Pada hadirmu dalam pelukku

Senandungku do'a
Semoga Tuhan menyadarkan hatimu: Akulah malaikatmu...

Sumber Foto: Amor Vincit Omnia
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Rabu, Desember 07, 2011

Sang Manyar & Langit yang Lapar

Tegarlah dalam Gegar!

Sang manyar tak peduli
Beribu kali. Berjuta kali maut hampir mengungguli
Ia tetap melayang. Melayang
Di udara ia terbang

Sang manyar makhluk yang gagah
Ketika mendung cemar dan halilintar bergelegar
Ia tak pernah gentar
Ia melintas dalam gegas
Mengisi sela rongga ruang tersisa
Mengisi jalan hidup yang digariskan Dewata padanya

Dan. Ketika langit yang lapar
Semakin lapar! Semakin sangar!
Semakin ambyar!
Manyarku terus berburu dengan waktu
Debu benci disikutnya; kerikil dengki dipendam
Ditinggalkan tanpa dendam
Ia terus melaju. Melaju! Melaju!
Mengukir kisah dan merekatkannya sebagai sejarah
Yang, mungkin, bagi anak cucu manusia nanti:
Dianggap legenda
Atau mitos pahlawan imajiner
Khayalan yang luber
Karena. Satu dalam semesta. Langka...

Manyarku!
Teruslah kepakkan sayapmu!
Merdekalah!!

Sumber Foto: WikiPedia
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selamat Malam!

Usah kau hiraukan ancaman pagi
Dan teriakan sombong siang hari

Malam yang Sunyi
Usah kau pandangi cibir bibir matahari
Dan binalnya debu kalahari

Usah kau dengarkan angkuhnya jalanan
Dan keganasan mesin-mesin kendaraan

Usah kau benci tatap dengki
Dan lusinan timpang yang kau sesali

Usah kau kutuki nasib yang berganti
Dan jalan takdir yang tak kunjung pasti

Dan.
Usah kau cemaskan kehidupan
Selagi masih ada kesempatan

Selamat malam!
Mimpilah yang dalam!

Sumber Foto: Pinxbombyxmori
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Koneksi

Kepada mereka yang keliru mengartikan persahabatan...


Murnikah?











Dan
Semua sibuk menjalin koneksi:
Mulai networking hingga bokong njengking
Semua dibangun secara sistematis.
Praktis. Dan miris.

Ketika jalan menyempit dan takdir seakan menjepit
Tatkala kehidupan serasa begitu menggigit
Tak ada jalan selain bergantung
Payahnya, dunia tak mengenal ketulusan
Pamrih menjadi bayangan yang tersembunyikan
Maka. Bukan aku menyumpahi persahabatan
Tapi. Aku mengutuki mereka yang menyusun persaudaraan demi kemuslihatan
Ketika semesta membutuhkan uluran
Mereka menengok dan berkata:
"Kamu siapa? Aku tak mengenalnya."
Sembari menjauh menggandeng kenalan sejati

Maka. Dunia pun terbelah
Kubu-kubu menjadi sekutu
Sekutu menjadi hama bagi sekutu lainnya
Dan. Perang tinggal menunggu waktu:
Ketika koneksi lemot dan copot.

Sumber Foto: Rudisumariyanto Blog
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Ketika Tuhan Diperebutkan

Kita Memanggili Tuhan Lalu Mengacuhkannya
Dalam dalil. Dalam taklid yang labil

Tuhan pun diseru dengan kampak. Pedang.
Dengan pistol dan tank-tank baja

Semua siap mengibarkan bendera prahara
Demi pengakuan:
Tuhanku-lah yang paling benar

Sementara itu. Ketika kita sibuk berkubu-kubu
Membangun camp pengungsi dan bunker perlindungan
Lalu menyiapkan taktik membela nama Tuhan...

...Kita lupa. Kita baru saja menyembelihNya
Dengan kemunafikan dan kedustaan
Yang mengundang darah. Membanjiri sepatu kita
Pagi ini...

Didedikasikan bagi kelompok-kelompok anarkis-fanatistik. Berkacalah sebelum bertingkah!

*Sebaik-baiknya Tuhan adalah Dia yang mampu memberikan keyakinan bagi umatNya bahwa: Dia ada!-SANG MANYAR*

Sumber Foto: Bethany IHAKA
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Lonceng Gereja

Sang Penanda Waktu

Dentang sang lonceng
Tepat ketika bias surya hilang dari lereng
Semesta diam
Aku pun diam
Langit merah
Aku marah. Kenapa pedih begini?

Orang-orang berjalan menunduk
Ketika hari hilang bentuk
Dan musim berlanda dalam kutuk

Orang-orang menangis dalam hati
Menyesali: tangan, kaki. Lidah yang tajam menggores nurani
Tapi. Kenapa kau ulangi lagi?

Jutaan detik berganti. Kau pasti menyadari
Dan. Jutaan kesempatan terlewati. Kenapa tak kau halangi?
Jalan kembali terbuka-tertutup berulang kali
Kenapa mesti kau ketuki ketika ia terkunci?

Maka. Ketika lonceng gereja berdentang lima kali
Malam turun menjadi sunyi
Langit makin merah. Aku makin marah
Orang-orang semakin parah:

Membingkai hidup dalam payah

Sumber Foto: Panoramio
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Usah Kau Dengar Keledai Bernyanyi

Nyinyir
Berjalanlah!
Teruskanlah berjalan!
Tak perlu kau risaukan
Dentuman dengki menggedor dinding hati
Tak perlu kau simak
Ranjau maki. Ke dalam mimpi bersarang dan menari
Karena. Merekalah yang akan menangis nanti

Usah kau dengar keledai bernyanyi
Berlarilah!
Teruskanlah berlari!
Tak perlu kau cemaskan
Kutukan dan himpitan pandang yang menyakitkan
Sebab. Kita lebih lapang: menatap horison di sudut ruang dengan hati yang nyalang
Sedang mereka begitu sibuk
Meneliti satu, dua, tiga juta tapak kakimu di Bumi yang ambruk
Tanpa melihat senyuman abadi sang Matahari
Bangga kau hiasi Dunia dengan pesona

Hai! Kawanku!
Usah kau dengar keledai berpuisi
Di pajang lewat mimbar dan pamflet cemar
Memenjarakan dikau dalam isu yang galau
Kau gubah saja sajakku ini
Dan kau bumbui dengan petikan gitar dan harmoni
Lalu. Kau dendangkan kepada pagi ketika mata mereka mulai terjaga
Dan. Di kelebatan sinar surya
Mereka akan menyadarinya:
Pagi. Dan kelembutannya hanya untukmu semata,
         Wahai, Sang Tangguh...

Usah kau dengar keledai bernyanyi. Usahlah...

Sumber Foto: Real Whitby Magazine
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

TitianKu Rapuh & Mati

(Ketika Persahabatan Menguji Sisi Nurani Kita)

Di Suatu Persimpangan

Merangkak. Menyusuri lautan onak. Suara-suara begitu nyaring berteriak.
Aku. Kamu. Berjalan dalam cita yang berbeda.
Aku kemari. Kamu kesana.
Aku menjalani darma. Kau berkejaran dengan dunia.
Akal dan tujuan menuntun kita menuju kiblat yang tak sama.


Suatu hari. Tuhan. Atau apalah Kau menyebutNya.
Tanpa disangka Ia pertemukan Kita di sudut jalan. Di persimpangan. Di antara bimbang dan keraguan.
Kita lalu sempat bercerita. Tentang rantau. Tentang tanah asing yang memancing galau.
Tentang tatapan miring dimana hati kontan terbanting. Berpusing. Dan bising.

Kita bercerita: Kita berada di arena yang sama
dengan sisi ring yang berbeda.
Ada kerisauan ketika suara Langit memintaKu mencabut pedang dan menghunus mulutMu dengan tegas. Ada keresahan ketika Matahari menunjukkan sinarNya untuk membakarMu dengan pidana dan sejuta nelangsa. Ada kegelisahan ku rasa.

Maka. Aku berlarian di padang sunyi.
Maka. Aku mendayung di hilir yang kekar dan cemar.
Maka. Aku bertanya kepada semua:
"Haruskah Ku habisi kawanKu sendiri?"

Maka. Aku kembali menyusuri misteri.
Maka. Aku terjebak nurani.
Maka....
Aku mengalah. Dan kalah.
Kugadaikan kelelakian demi sebuah persahabatan.
Dan. Musnah sudah Cahaya Tuhan di Ingatan.

TitianKu rapuh dan mati.
Ketika Kau dengan tenang menjejaki Bumi.
Dan Ku dengar selaksa kutuk dan maki.
Hujan mengguyuri telinga dan hati.

JalanKu pudar dan remang.
Aku terpapas dalam kabut.
Terjepit di antara tumpukan sesal dan kalut.
Ketika Aku berpikir tentang Jalan Kembali.
Kontan, Angin meniup di telingaKu:
"Maaf. Yang hilang takkan pernah kembali."
Maka. Aku lunglai.
Terperosok di curam ngarai. Masai...

Sumber Foto: Sejambak Mawar
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Senin, Desember 05, 2011

Petualangan Baru

Chapter III
Ya!
Nahkoda sudah bertopi
Jangkar diangkat; Kapal berangkat
Ke lautan hati tertambat
Menuju temanjung sepi

Dan
Seribu curiga mengarah
Bagai anak panah
Melesat tiada suara
Di sela badai; Di antara kepingan damai
Mengapa begitu telak Nahkota bertahta?

Tapi,
Kita tak boleh bertanya
Karena pasokan misteri yang kita miliki
Sudah banyak. TERAMAT banyak
Mulai asal-muasal PKI dibantai,
Darah dan nyawa di ujung milenia,
Sejarah Munir dan lentera noda,
Hingga kini: mengapa kita papa di negeri yang kaya
Semuanya tak terjawab dengan mudah
Haruskah menambah dengan bertanya:
"Mengapa Nahkoda terpilih begitu mudah?"

Tolong. Jangan...

Selamat Datang! Ini Perjalanan Baru kita
Simpanlah dulu tanda tanya yang menggudang di jiwa
Biarkan waktu. Ya. Biarkan saja dia:
Membuka apa yang seharusnya terbuka
Dan mengumumkan
Kebenaran mana yang tersembunyikan
Kelak. Ketika semua rahasia bicara
Langit akan tersenyum
Seberkas sinar turun
Dan hanguskan kepala si mulut binasa
Maka. Tak akan ada lagi dusta
Takkan pernah lagi...

Sumber Foto: BPP Candipuro
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Malu

Ku pikir:
Wajahku satu dalam seribu
Ternyata. Tujuh di antara sepuluh
Ku pikir
Hatiku sekepal di antara titik
Ternyata. Debu di antara bongkah
Ku sangka:
Kau. Dia. Mereka

Jauh di bawah kaki
Nyatanya. Aku lah yang terinjak sepi
Mungil di dalam kerdil

Ah. Malu ku mengakui...

Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>