Rabu, November 30, 2011

TIPS 01 - Puisi: Hm... Gimana Bikinnya?

Jujur sih. Kalo diliat-liat fenomena puisi di kalangan remaja saat ini lumayan bagus. Puisi nggak lagi cuma dipake di kelas-kelas pas lagi pelajaran Bahasa Indonesia. Parahnya lagi, siswa ngikutinnya sambil ketiduran. So, udah pasti nguap deh itu ilmu :)
Puisi, diliat dari sudut manapun sebenarnya fleksi banget. Artinya, puisi nggak melulu harus berkiblat pada gaya penyair dan penulis syair terkenal macem WS. Rendra (Alm.), Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, atau penyair abad jadul seperti Chairil Anwar (Alm.). Puisi nggak harus berbait-bait, berima tetek bengek pake model AAAA, ABAB, AAA--sampek Stasiun Jatinegara, atau sajak A-Z. Puisi, menurut saya sih, cukup memenuhi 3 unsur utama: PESAN, KESAN, dan KEINDAHAN.

Menulis? Kenapa Tidak?
Pesan. Kebayang nggak kita ngomong berbusa tapi nggak ada maknanya? Gitulah puisi. Sepanjang apapun kalo puisi kita 'hambar', berkutat pada persoalan di pikiran kita saja (baca: curhat gila-gilaan), pasti orang kabur baca puisi kita. Contoh aja. Orang lagi patah hati. Puisi yang pas sebenarnya cukup satu baris. Misal: Aku begitu lelah mencintai karena kau tak pernah lelah mengkhianati. Beres. Lha, ini nggak. Kadang saking emosionalnya bikin puisi sampe 3 halaman folio bergaris (pengalaman saya sendiri pas SMP. Hahahaha... Jadi malu!). Jelas aja pada ngabur. Yang terpenting puisi mampu memberikan 'intisari' tertentu yang bikin pembaca mampu bersimpati, berempati, atau larut dalam tulisan kita. Paling nggak, ya pembaca paham maksud tulisan kita sudah cukup.


Kesan. Karena HARUS meninggalkan PESAN, maka diperlukan KESAN. Kesan bisa diartikan sebagai 'bekas'. Puisi yang kita buat harus bisa meninggalkan 'bekas' itu di hati pembaca. Masalah nongol: caranya gimana woy? Lha. Ini yang agak susah.

Setiap penulis punya gaya tulisan yang berbeda. Kalo saya sih 'bekas' yang saya jadikan alat supaya Pesan bisa sampe ya lewat diksi dan rima. Saya olah diksi saya supaya agak elit dan memancing orang berpikir dengan puisi saya. Dari berpikir orang menjadi bertafsir, dan dari tafsir itu muncullah pesan-pesan tertentu. Apa hanya itu? Oh, tidak.

Kalian bisa coba dengan gaya humor. Mulai yang santun, ngeres, sampe yang vulgar. Saran saya, puisi harus murni: jangan diselipi pornografi, pornoaksi, dan radikal-radikal bebas lainnya. Memang sih itu hak, tapi sangat disayangkan kalo sastra dijadikan alat pengumbar nafsu. Apa nggak mudarat?

Sekedar contoh membuat kesan.

Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Aku takkan melukai aku. Karena aku adalah kamu. Apakah kau tega melukai aku?

Asyik kan? Penulis dalam puisi itu (saya ^_^) mencoba menggambarkan pasangan kekasih untuk tidak saling menyakiti karena keduanya adalah satu: insan yang saling mengasihi. Gampang kan?

Terakhir. Keindahan.

Aspek estetika bisa diliat dari banyak macem: tipografi alias bentuk susunan baris dan bait puisi, rima dan sajak, diksi, penggalan kata, seting dan nuansa, dan hal-hal lain. Penulis nggak bisa ngasih banyak contoh untuk yang satu ini karena ukuran keindahan itu amat-sangat-banget-luas sekali. Percaya kan? Tapi, buat saya sih indah itu diliat dari diksi dan sajak yang dipake. Sekedar tips, untuk mengukur puisi kita indah atau nggak ada dua cara:

Pertama: Studi Kontemplasi

Keren kan? Istilah gampangnya ngelamun. Hehehe... Tapi bukan ngelamun kosong atau mikir yang jorok-jorok. Dalam lamunan itu, pikirin setiap kata-kata yang kita buat. Sudah indah kah? Lalu sajaknya, rima, bait dan baris? Sudah ajib kah? Pakai unsur seni yang kita miliki buat ngukur menurut subyektifitas kita pribadi apakah karya kita sudah indah apa belum.

Kedua: Studi Komparasi

Bahasa kampungnya (Hehehe... n_n) nyontek dan nanya. Nyontek bukan plagiat tapi MEMBANDINGKAN puisi yang kita buat dengan puisi orang lain (yang mungkin jadi kiblat kita). Cocokin aja penggunaan diksinya gimana? Udah cool apa masih ambrul. Hehehe... Susunan bait dan baris apa sudah menarik ato nggak. Atau kalo nggak pengen pusing tanyain aja ke orang lain: ortu, guru, temen, sahabat, pacar, atau orang-orang nggak jelas di dunia maya. Soal respon negatif nggak usah diambil hati. Biasa aja. Namanya pemula. Daripada nggak nyoba?

So, the point is kita nggak perlu kaku menulis puisi. Nggak perlu... high opinion soal puisi. Nggak usah nganggep puisi harus bersajak dan pakem-pakem lainnya. Kecuali kalo di kelas lho! Nggak ikut pakem saya jamin dapet 20. Hahahahaha... Lanjut. Intinya, bebasin diri kalian menyusun puisi itu kayak apa pol menurut kalian. Dengan gitu, puisi nggak stagnan itu-itu aja tapi berkembang dengan model dan gaya yang beraneka ragam

Segini dulu ya tips kali ini. Tunggu ulasan berikutnya.

Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Selasa, November 29, 2011

01/12

Bersiap Melepaskan Diri
Menunggu itu menyakitkan

Aku diam mengingatnya
Lalu. Mengangguk lemah...

Menunggu, sebenarnya, tidaklah menyakitkan
Tapi: SANGAT meletihkan
Dipacu detik menjadi menit
Didera jam menunggu hari
Kita dipaksa berhitung
Seperti bocah PAUD di ujung kampung

Kita dipaksa mengkalkulasi
Berapa banyak detik; berapa banyak menit.
Berapa banyak jam yang terlewati
Kita dipaksa melakukannya
Sehingga. Kita lupa

Peristiwa besar siap menggelegar
***
Bayangan darah dan teriakan wabah
Dua-duanya menyatu menjadi phobia
Berita mengguncang mayapada. Antara fakta dan guyonan si orang gila
Senjata-senjata telah dikokang
Tentara turun ke garis muka
Api jiwa mulai resah. Mulai gelisah...

Carli dan entah siapa lagi.
Freeport dan birokrat bibir codot.
Haruskah terakumulasi?
Jadi bara dan meledak bersama-sama?

Haruskah sang Kejora memisahkan kita sebagai saudara?
Haruskah lelah membakar asa juang '45?

Haruskah kita buang jauh keringat Bung Yos Sudarso dan Macam Tutulnya?
HARUSKAH kita kebiri sejarah dan membuang Soekarno, Hatta, dan para pejuang ke kotak sampah?

Politik menjadi intrik
Jangan salahkah mereka, bangsa Pribumi: ketika membelot dan makar
Mereka tak bermaksud mengingkari legenda
Dan menutup fakta kebebasan mereka

Mereka lapar. Mereka haus
Mereka terkekang di rumah sendiri
Mereka hanya mau duli:
Telinga, mata. Hidung kita. Tangan dan kaki kita sebagian untuk mereka
Tak julaskah mengeruk mulut mereka dan meludahinya?

Maka. Tanggal satu bulan dua belas
Di bawah siluet getir bendera gerilyawan
Kita bersiap-siap memusnahkan
Meski
Jalan terang sudah semakin terang
Titik temu tak lagi bisu
Sayang. Politik masih terlalu jalang

Mereka kita tumbalkan lagi. Sekali lagi.

Sumber Foto: Kaskus
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Memandang Rembulan (Di Taman Hatimu)

My Love: I'll Never Let You Go...
















Setangkup sinar lembayung senja
Mengundang malam turun berdansa
Sepi. Sunyi
Sendiri
Ku petik kata menjadi puisi. Sendiri

Di taman perdu
Ku tunggu bintang bernyanyi
Kerlip janji. Riang menari
Ku gumamkan rindu
Mungkin kau tak mendengarnya
Sebab. Kau jauh di situ
Berlarian dengan kehidupan yang harus digapai. Sama sepertiku

Maka. Aku terdiam
Mencari dan memetik sekeping awan
'Tuk ku sulam sejuta pesan
Dan ku terbangkan padamu

Sampaikah ia?

Jalan memang panjang, Sayang. Dan waktu begitu gersang
Penantian yang tak kunjung menjelang
Memuing seribu tanya bagimu:
Sanggupkah bertahan?

Maka. Ketika gentar menghadang
Kau tatap saja langit
Seperti malam ini
Ketika angkasa begitu cerah tak gelisah
Ada sebingkai bulan di sana
Pandanglah ia!
Jelilah!
Karena: Ku titiskan bayangku di sana
Ia akan merasuk melalui celah bening matamu
Mengalir bersama udara
Dan singgah
Di lautan teduh sanubarimu. Di taman hatimu

Maka. Simpanlah ia!
Jika hasrat jumpa membumbung resah
Sentuhlah dia dengan kasihmu
Maka: ia 'kan alir
Menyatu ke dalam pikir

Sejak itu aku 'kan selalu ada: di mata. Dan jiwa. Mu.
Wahai, Cinta...

(Presented with Love from Me for You, My Love...)

Sumber Foto: Koleksi Pribadi
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Tanpa Kata: Berjalanlah!

Tanpa kata: Berjalanlah!
Hari esok membuka mata
Tangannya merangkul, mencoba memeluk kita
Maka, Berjalanlah!

Mungkin. Sejuta cibir datang bagai banjir
Mungkin. Segudang dengki menusuk bagai belati

Tapi.
Lebih mungkin lagi. Surga mengguyur bagai hujan bulan Januari
Tapi
Lebih mungkin lagi. Damai menitis, membenih kasih
Maka. Berjalanlah!

Kau mungkin trauma
Dengan perosok-perosok masa lalu
Dan jejak-jejak noda yang tersisa
Lalu. Apakah kau kan diam
Dan menunggu noda baru membenam?

Maka: Berjalanlah!

Sepi di puncak. Sepi di hati
Sepi mimpi jauh lebih ngeri
Daripada sepi lorong sunyi yang paling sepi

Maka. Sekali lagi aku berkata
Tanpa kata: Berjalanlah, Bung!

(Kepada Pemuda dan Kebimbangannya)
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Kejora di Tanah Rinding

Simbol Harapan
Ada apa di sana?
Kabar angin menerpa dari pohonan
Wajah-wajah pun kusut dalam harap
Kau. Aku. Berbisik dalam gelap:
"Waktu semakin senyap"
Dan. Benar. Senyap.
Dan semakin senyap

Sepi pagi menghampiri
Ya. Memuncak, menjelma menjadi Matahari
Bukan sinar yang membasahi tubuh kita
Tapi: API!
Kecurigaan yang abadi
***
Keruh.
Semakin banyak orang memancing dalam keruh
Kau hanya berkata: "Tetaplah teduh!"
Sementara,
Hari-hari semakin lesuh 
Hari-hari semakin tak acuh 

Hari-hari semakin jenuh...

Lalu. Lihatlah di Puncak Jaya
Kejora itu begitu indah
Lahir dari hati yang hampir punah
Yang: bermimpi Kuncup Surga mekar di Ladang Nirwana
Dan, kau. Aku. Kita tahu betapa lelah:
Bergantung kepada cuaca
Dan Tanah Rinding di sana
Semakin terbanting dan berkeping
Diombang-ambing
Dikelakari politik compang-camping

Dan. Kau. Aku
Marilah kita menunggu. Sang waktu:
Menyihir Kejora berubah menjadi Atom Hiroshima
Meledakkan bendera kita...

Sumber Foto: Republika
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Orang Tua. Anak Muda. Dan Manusia Sisa-Sisa

Suram Tanpa Cahya
Kita terperangkap di bawah sepatu penjajah:
Tak! Dia bukan Belanda
Tak! Dia bukan pula Negeri Sakura
Bah! Apa pula? Amerika? Bukan lah!
Mereka begitu dekat dengan kita:
Menguasai masjid dan mushalla,
Lalu turun ke kampung-kampung dan desa-desa,
Masuk ke kantor, instansi kotor,
Dan merayap di kampus-kampus

Kita tak punya celah: dan selalu saja begitu!
Kita dipandang sebelah mata
Mentang-mentang predikat remaja kontan saja dibilang tak tahu apa
Kita diukur dari banyaknya hari kita menghirup udara
Kita diukur dari lamanya kita membuka mata hingga berdiri saat ini
Pengalaman. Selalu itu jadi senjata mematikan

Negara berkata:
Dicari pemimpin usia 50an
Kita lalu berpikir:
Lha, yang muda tak adakah?

Negara berkata:
Pengalaman itu berharga
Kita lantas bertanya:
Kemana mencari jika tak ada celah?

Diskusi dan seminar
Podium dan meja-meja kekuasaan
Berapa banyak anak muda di sana?
Berapa banyak pembaharu di sana?
Berapa banyak sang penggerak di sana?
Belum habis tanya terjawab,
Manusia bungkuk beruban naik ke singgahsana
Jadi menteri. Ah...

Maka. Ketika coreng hitam tumbuh di wajah mereka
Dunia berkata: waspadalah, Anak Muda!
Dan. Ketika kaki mereka terseok karena menginjak beton-beton kehidupan dengan angkuh
Dunia kembali berkata: jauhilah, Pemuda!
Kita, untuk ketiga kali, bertanya:
Kenapa bukan kami yang menggantikannya?
Sekali lagi. Pengalaman. Selalu jadi senjata mematikan.

Maka. Tak perlu riset-riset itu:
Jumlah pengangguran bertambah
Angkatan kerja tak punya wadah
Total pengangguran sekian juta
Kau mungkin bertanya:
Mengapa?
Jawabnya mudah:
Tak ada ruang 'tuk ke sana
Kau kembali bertanya:
Mengapa?
Jawabnya sama: Pengalaman. Selalu jadi senjata mematikan.

Kita terpaksa harus membungkuk dan patuh
Sementara akhlak makin mengeruh
Dan jalan semakin gemuruh

Kita dipaksa untuk percaya
Dan berjalan di atas perintah
Ketika tebing mengaga
Kitalah korbannya...

Maka. Kita pun kehilangan masa muda
Bara yang menyengat dan api yang nyala
Menjadi puing di antara tumpukan sampah

Maka. Kita pun kehilangan cahaya
Pendar di dalam dada
Disiram hujat dan kata-kata
Menunggu detik: menjadi mati di antara pelik

Dan. Di akhir cerita
Takkan pernah ada lagi Anak Muda
Mereka telah dievolusikan oleh Teori Darwin
Menjadi Manusia Sisa-Sisa di Balik Hembusan Angin
Karena kalah saing: dengan Manusia Antik di birokrasi

Maka. Tak perlu lagi slogan itu:
Hidup Anak Muda!
Karena mereka sudah musnah
Menjadi keping. Menjadi titik
Partikel gemericik
Karena: Pengalaman. Selalu jadi senjata paling mematikan

Matahariku abu-abu...

Inspirasi dari: Dani Armanto - Orang-Orang Muda Yang Membangun Negeri
Linked by : Persinggahan
Sumber Foto: Click Clock of Imperefection

Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Meniti Kembali

Sendiri di Keheningan
Aku ingin:
Meniti kembali jembatan waktu
Menikmati silam
Dan menghapus coret hitam di sudut kenangan

Aku ingin:
Meniti kembali bukit harapan
Menyemai impian
Dan menutup jurang perisai luka

Aku ingin:
Meniti kembali jejak langkahku
Berjalan mundur. Teratur
Menghitung berapa banyak kekeliruan begitu saja terkubur
Tak terkontemplasi!

Dan. Aku ingin:
Meniti kembali penciptaanku
Menemui Tuhan dalam do'a
Dan bertanya:
"Tuhan,
Sudahkah aku di JalanMu?"
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Senin, November 28, 2011

Pandora Bencana Nusantara

Kotak Bencana
Kau dengar?
Gemerincing petaka memusing di udara
Kau dengar?
Ada sehembus awan lapar
Kau dengar?
Ada rintihan menggelepar
Adakah kau dengar?

Jembatan yang menimpa kepalamu hari Minggu itu
Kau pikir bencana?
Itulah salahmu
Andai. Ya. Andai kau peka:
Bencana sebelumnya sudah mewabah
Andai. Ya. Seandainya kau terjaga:
Derita panjang sejak kemarin meradang
Mungkin. Ya, mungkin. Tak perlu jembatan batu itu runtuh

Oh, Tuhan. Ya. Mungkin Tuhan
Mungkin Dia sedikit muak
Ketika makhlukNya lapar dan merangkak
Kau dengan perut tambun melahap bakul nasi sambil bergelak
Ketika makhlukNya terbata mencoba membaca
Kau dengan kacamata malah mengubah plot cerita

Mungkin. Ya. Barangkali
Tuhan sedikit jengah
Berkali-kali Ia teriak
Tetap saja telinga kita congkak
Beratus kali Ia menghela
Kita justru tertawa dan menuding langit seraya berkata:
"Kami perkasa"

Maka.
Jembatan pun merekah. Tiang pancang musnah
Temali luntur menari: menyambut Sang Mati

Pandora mulai menganga
Wabah merekah dari Utara
Bersiaplah: Timur dan Barat jingga
Waspadalah: Selatan dan Penjuru Sisa-Sisa
Jika kau masih membutakan mata; menulikan telinga; menumpulkan indera

Maka. Berjagalah!
Kau akan lumpuh tuk selamanya

Oh, Angin Sabana!

Nusantara di Ladang Musibah..

Sumber Foto: Bilogizma
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Muka Parut dan Nyanyian Butut

Di mata kalian: ia begitu tampan
Tapi. Kenapa tidak di mataku?

Ia begitu gemilang di depan microphone
Kata  menjadi nada. Dari sana bertransformasi menjadi album perdana
Toko kaset memajangnya dengan segan
Dan perusahaan rekaman pajang muka setengah badan
Kenapa begitu terburu?
Dan. Mengapa pengamen bersuara merdu di luar jendela itu kalian tinggalkan, hah?

Aku, sungguh, tak bermaksud mengebiri bakat siapapun
Tapi. Ibarat ranting penyangga daun
Kenapa harus menjadi cagak?
Bukankah ada sang dahan?

Sungguh, ya. Aku bersungguh-sungguh
Aku tak bermaksud menghalangi cita-cita
Atau bakat menurut bahasamu
Tapi. Untuk apa memetik gitar dan bersenandung
Sementara di balik punggung: 
         Seribu orang mati membusung. Lapar
         Seribu orang lenyap tergulung. Terdesak mall dan waralaba cemar
        Seribu orang buntung dan murung. Memikirkan jembatan masa depan yang tak membelukar
Sanggupkah nadamu membenahi?

'Muka Parut dan Nyanyian Butut'
Sebingkis sajak ku cipta dalam larut
Tentang kegemaran seorang pembesar
Dan penyakit negeri yang akut. Coba ia sembuhkan dengan lagu kalang kabut
Lalu. Aku bertanya, ketika karya kesekiannya muncul lagi:
"Berapa orang yang memasang ringtone-mu?"
Ah. Sial.
Pasti mereka orang-orang yang malang...
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jalanan Pun Bersaksi

Bahwa. Keringat itu basah
Dan baunya menjadi wabah
Namun. Ketika itu tubuhmu yang demikian
Kenapa menjadi gairah?

Jalanan pun bersaksi
Bahwa. Pengabdian itu luka
Terjerat sangka dan durjana
Namun. Ketika itu kau yang terjun ke dalamnya
Kenapa ulasan senyum yang ku temukan?

Jalanan pun bersaksi
Bahwa. Roda tak selamanya berputar
Ada kalanya ia bertahan di atas; sering pula terpahat di bawah
Namun. Kenapa kau justru tertawa: saat kau terjerebab di sana?

Dan. Jalanan pun bersaksi
Putaran laju becak membawamu pergi
Mengisi malam yang sunyi. Menebar impian
Menilasi jejak rezeki 'tuk anak terkasih
Wahai. Begitu juang dirimu, Kawan!

Terinspirasi dari Sugeng, guru honorer yang mengisi waktu luang sebagai penarik becak

Sumber Foto: JPNN.Com
Berita Terkait: Gaji Guru Tak Cukup, Sugeng Merangkap Jadi Tukang Becak
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jejak Sang Manyar

Melayang di ambang. Sepi. Tanpa suara bernyanyi
Aku menerka: kemanakah dia pergi?
Dan. Ia tak menjawab selain siulan yang tak ku mengerti
Ia tak menjawab selain meneruskan kepakan sayapnya: menuju titik yang mistis
Aku memandang dalam gerimis

Sang manyar merambati celah waktu
Mengintipi: satu demi satu
Manusia yang katanya hampir binasa oleh mulutnya sendiri
Ia singgah di cabang dedahan
Berkicau sebentar lalu terbang lagi dengan ranting kering di paruh
Menuju kerimbunan kau teduh

Aku menunggu. Ya. Aku masih menunggu
Jejak sang manyar masih jelas tergambar
Walau hujan runtuhkan jembatan batu di seberang desa
Merdunya masih terasa. Meski telinga sesak oleh retorika
Aku sudah berjanji: menunggu ia kembali
Tak peduli berapa windu ku menanti
Dan sebasah apa hujan mengguyuri
Sang manyar
Ku tunggu dia dengan sabar

Dengan tegar...

Sumber Foto: Dunia Kicau
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Minggu, November 27, 2011

Bingkai Rinduku

Pada siapa aku bertanya?

Banyakmu jauh di seberang
Ribuan mil jarak membentang
Wajahmu perlahan kabur dan surut
Dimana harus ku tabur lagi benih rinduku?
Kemana lagi harus ku ku jala kangenku?
Wahai. Adakah kau mendengarku?

Daratan yang asing. Di sana kata sang bayu kau berada
Menyusun rencana hari depan
Meniti skema-skema untuk membangun alam asa
Aku diam. Bagaimana dengan gubuk cintaku?
Bilakah kau membangunnya?


Pada siapa aku bertanya?
Pada siapa?
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Puisi Malam Pertama

Tanpa cahaya. Tanpa lentera. Sunyi merangkak, menanjak.
Sepasang manusia berpeluk berdua. Menghitung jarum waktu, menunggu reda gejolak di dada.
Mata mereka bertatapan. Wajah mereka berhadapan.
Hening di luar, sunyi di dalam.
Kemelut malam menjadi suram.
Jernih bernyanyi tanpa nada.
Ketika rembulan bertahta di kulminasi, dan angin menjadi bisu tak lagi berlari,
Sang Pangeran berkata pada Sang Putri:
"Izinkan aku memilikimu, Kasih..."
Lalu. Setetes air mata menganak sungai menjadi gairah.
Tunailah satu darma anak manusia...
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Bumi Menangis

Dan. Bumi pun kan menangis
Luka dan sayat berjejalan dalam ritmis
Angin gelisah lari tak tahu kemana
Senyap. Dingin wajah alam menyergap
Jejak duka makin panjang
Ketika matahari meninggi dan mendung kabung di langitku menggantung
Dan. Sepi makin menggila...

...Jika Kau Pergi Dariku...
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Memanah Matahari Pagi

Berjalan di padang sunyi
Pagi ini. Ketika mendung sembunyi di balik hati
Ringin derita mengurai dihembus angin
Dingin memilin
Jejak hampa berjalin dalam cermin
Semesta sepi. Semesta iri. Semesta dengki
Wahai, dimanakah percik api?

Aku ingin: memanah sang matahari
Membiarkan ia terluka
Dan darahnya berceceran di atas Bumi
Agar: bukan darah adik dan kakak kami yang berbanjiran
Agar: bukan darah ayah-ibu kami bertumbalan
Cukuplah kami berkorban selama ini
Bersujud takluk pada tirani
Dan bersumpah setia pada Iblis berwajah bengis
Haruskah kami melakukannya lagi?

Wahai, Yang Katanya Maha Segala
Dengarlah keluhan kami!
Sediakanlah tangan kami: kekar dan berapi
Agar: bisa kami bakar siapa saja
Yang menggantikanmu di dunia
Menjadi raja dalam gulita
Dengarlah kami!
Dengar!
Ya, dengar!
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Peluit Kereta Demokrasi

Yap! Bersiap
Nyaring peluit kereta demokrasi berbunyi
Aba-aba keberangkatannya merangkak ke jagat buana
Ramai-ramai: kau, dia, dan mereka menaikinya
Tak peduli duduk di atas kursi. Atau berdiri di kaki sendiri
Tak peduli berjejal di koridor. Atau di atap telentang dalam teror
Berdesakan keberangkatan kali ini
Tapi:
Tak demikian seorang anak kecil
Bertubuh dekil di pinggir peron
Aku bertanya:
"Kenapa kau tak mengikutinya?"
Ia tersenyum lalu berkata,
"Sebab kereta itu akan jatuh dalam jurang di tengah jalan."

Aku terdiam

Belum habis kesadaran sempurna
Peluit kereta kembali menjerit
Kereta melangkah. Setapak demi setapak. Sedepa demi sedepa
Aku menunggu dan menunggu
Nasib gerangan apa di ujung situ

Dan. 13 menit berlalu
Kabar pilu menyeruak, membunuh
Kereta celaka
Di kilometer 13. Tepat pukul 13
Kabar angin berkata mereka masuk jurang
Yang gelap. Yang pengap
Dingin merayap
Kau tahu apakah itu?
Orang bilang: KKN namanya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Mencari Damai

Merangkak di tepian gelap
Merayap. Mendaki menghunus senyap
Ku cari teduh dimana saja
Di antara tumpukan sepi. Di lusinan dingin yang mencemari
Tak ada kata bicara. Tak ada nada bersuara
Semua diam. Semua kelam
Semua temaram

Seorang Tua Bijaksana berkata:
"Jalan damai di depan sana
Menanjak luka dan nyeri
Dan tenggelam di pasir berduri"
Aku bisu. Merenung. Lalu bertanya:
"Sesusah itukah?"
Sambil memandang ke langit lalu pada kedua tanganku yang berlumuran tinta usai menggubah sonata
Aku menemukan damai darinya
Berbekal kata-kata
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Jangkar Sudah Dilempar

Dan perahu sudah turun ke pesisir. Tunggu apa lagi? Untuk apa kalian berdiri di buritan? Turunlah! Daratan menunggu kita dalam rentangan pelukan. Ah. Tak sabar aku mencicipinya.

Jangkar sudah dilempar. Dan perbekalan sudah dibongkar. Tenda-tenda berdirian dan koloni sudah bersusun di siitus mereka masing-masing. Nyala api hangat ke hati. Mengirim asa: cahaya kan terbit di sini.

Jangkar sudah dilempar. Okupasi dipetakan dan dipapar. Sementara itu, jauh di dalam hutan, sesosok bayi manusia pedalaman menangis menjerit. Hatinya sakit: firasat berderit. Ayah ibunya bercumbu di kamar. Tak sadar: kematian segera menyebar. Mengetuk. Dan menular...

Terinspirasi dari Sejarah Kedatangan Bangsa Eropa dan Pemusnahan Suku Indian
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Sabtu, November 26, 2011

Sajak Tembang yang Hilang

Ku mencari. Kemana titian pagi?
Ku mendaki. Dimana puncak bersemi?

Aku bernyanyi. Apa itu siluet sepi?
Aku menari. Tentang nada dan tawa

Aku menyusun puisi
Tentang tembang yang hilang
Dan. Sajakku terikut hilang. Hilang...
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>

Dari Sebuah Nama

 Ploceus philippinus Manyar Tempua
Aneh memang dengan nama blog aku: JEJAK-JEJAK MANYAR. Kenapa 'Manyar'? Kenapa bukan Rajawali, Elang, atau mungkin nama hewan lainnya?
Sebuah pemikiran yang agak panjang untuk nentuin nama sebuah blog. Awalnya, aku terispirasi dengan kata 'Mayang' yang memiliki arti sebuah perahu pukat. Aku bayangin sosok sebuah perahu pukat yang menjadi tumpuan harapan bagi nelayan dan keluarganya untuk mencari nafkah. Aku membayangkan kegagahannya menerjang badai dan ganasnya samudera. Tapi, di sisi lain, bukankah 'Mayang' identik dengan nama orang? Nah! Itulah kenapa aku nggak pake nama itu. Daripada multitafsir dan menyulut api kemarahan (note: cewek gue cemburuan. Dikiranya blog-ku special for someone nantinya. Bisa berabe -_~), saya putuskan dengan weight heart (baca: berat hati. Xixixixixi) untuk mencari nama lain. Bye-bye, Mayang... Hehehe (Ngalay!)

Lalu, nama apa yang pantas?

Setelah bersemedi selama 3 jam (semedi apaan tuh!!O~O. Hehehe..), akhirnya terpilih sebuah nama: 'Manyar', jenis burung yang selalu aku kagumi setiap kali aku menghabiskan sore hari di alun-alun kota.

Burung Manyar adalah burung yang solidaritasnya tinggi banget. Liatin aja! Tiap sore kalo nggak mau dibilang rombongan, ya sebut aja keroyokan. Yup! Tiap sore burung-burung ini terbang menuju sarang secara berkelompok. Nggak jarang burung walet harus menyingkir waktu kawanan manyar datang dari depan. Burung ini juga paling nyaring kalo disuruh berkicau. Tiap kali kita masuk hutan atau asyik jalan-jalan di pematang sawah, burung-burung inilah yang sering menyapa kita dengan kicauan mereka.

Burung Manyar nggak pernah menyerah buat "ngambil" sedikit saja butir padi buat jatah makan mereka setiap hari. Bukan simbol korupsi, Burung Manyar nggak pernah ngabisin bulir padi dalam satu tangkai. Dia hanya ambil sebagian lalu terbang lagi. Burung Manyar juga paling pintar kalo disuruh nyari batang rumput atau jerami buat bangun sarang. Bagaimana dengan kita? Manggil tukang kan? ^o^

Burung Manyar bebas nentuin kemana dia mau terbang. Nggak ada beban. Begitulah seharusnya kita. Jangan setiap langkah dan tarikan nafas kita selalu dibayangi perasaan takut dan gelisah. Jalani saja seperti si Manyar dan kawanan mereka. Kenapa mereka bisa sebebas itu? Karena mereka menuruti KODRAT mereka. Mereka nggak nolak djadikan burung dan tuh masih asyik saja kelayapan ke sana ke sini. Bagaimana dengan kita?

Manusia memang makhluk paling komplit. Akal punya (hewan?), hati yang beriman punya (kayak malaikat cuma 50% aja. Sisanya cari sendiri. Hahahahaha... n_n). Ketinggalan satu: nafsu, perangkat yang diandalin setan buat njerumusin kita. Semuanya ada manfaatnya. Dengan akal kita bisa mempertimbangkan tindakan kita. Dengan hati kita bisa berintrospeksi diri. Dengan nafsu, kita punya ambisi yang membuat Bumi saat ini
180 derajat dibandingkan 100 tahun yang lalu. Setuju?

Pertanyaannya: apa kita sudah make ketiganya dengan sinkron? Tetot! Jawabannya pasti nggak.

Karena itu, JEJAK-JEJAK MANYAR datang untuk mengajak kita semua kembali mengenali siapa kita. Untuk apa kita ada di dunia. Mengapa. Dan kemana kita harus melangkah.

JEJAK-JEJAK MANYAR nggak lebih dari sebuah blog yang ditulis manusia yang pasti nggak pernah lepas dari khilaf dan salah. Kalo nggak diingetin, gimana mau sadar atau tahu kalo udah ngelakuin kekeliruan. So, let's share about Us. Give your coment kalo tulisanku ada "sesuatu" yang keliru. Itung-itung nambahin stok pahala kita. Iya gak?

Sumber Foto: All Bird Photos
Pengen Baca Lebih? Klik Nih ƪ(ˆ▽ˆ)ʃ >>